
"Hai, Nek. Dedek bayi pamit ya, mau pulang dulu sama Tete Senja dan Om Andra, " ucap Senja yang menyuarakan seperti anak kecil saat berpamitan kepada ibunya.
Gadis itu terlihat sangat kikuk dan masih kaku menggendong bayi. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi kebaikan bersama.
"Iya, Sayang. Mirip banget sama kamu ya, Lukman, " jawab Bu Retno.
Lukman tersenyum, " ya 'kan emang anaknya Lukman, Bulik, "
Bu Retno kemudian mengalihkan pandangan pada anak dan menantunya yang sudah siap untuk pulang.
"Oh ya, kalian mau pulang kemana? Maksud Ibu, mau ke rumah Ibu apa eyang? "
Senja menoleh pada Andra yang bemaksud agar suaminya saja yang menjawab pertanyaan dari ibunya tersebut.
"Kalau pulang ke rumah Ibu, Ibu sama bapak gak di rumah, lagi disini (rumah sakit) semua. Kalau pulang ke rumah eyang, sama juga, eyang juga lagi gak di rumah 'kan masih di Semarang, "
"Terus, gimana? " tanya Senja dengan kening mengerut.
"Emm, tapi kalau di rumah eyang 'kan ada Mbak Asih, Mbok Munah dan Pak Santo juga yang bisa bantu ngurus Dedek bayi kalau pas kita mau ngapa-ngapain, " terang Andra.
"Iya juga ya, apalagi kita juga sama sekali belum bisa ngurus bayi, masih belajar. Aku bisa belajar sama Mbak Asih dulu juga lah, " sahut Senja.
"Yasudah kalau begitu, kalian hati-hati ya. Nanti kalau semua sudah lebih baik, Ibu bakal ikut urus bayi nya, "
"Iya, Bu. Sekarang Ibu temenin bapak dulu, kuatin hatinya. Bapak pasti sangat sedih atas yang terjadi sama bude ini, "
"Iya, Nduk... "
"Maaf ya, kalau saya dan keluarga saya ngrepotin," ujar Lukman.
Lelaki itu menundukka kepalanya, matanya kembali berkaca-kaca. Benar-benar merasa tak percaya atas kejadian yang telah menimpa keluarganya secara bertubi-tubi.
Dan itu semua terjadi karena ulah ibi dan bapak mertuanya sendiri. Lalu hebatnya lagi, yang membuatnya kian malu dan merasa bersalah adalah, keluarga yang semulanya di dzolimi dan diperlakukan dengan jahat oleh kedua mertuanya.
Justru keluarga itu pulalah yang kini membantu mereka. Dari mulai menunggui, merawat, sampai-sampai bersedia merawat bayinya untuk sementara waktu.
Sungguh Lukman tak bisa membayangkan jika keluarga adik dari mertuanya itu bukan keluarga yang baik dan menyimpan dendam, entah akan seperti apa nasip mereka sekarang.
__ADS_1
"Kami pamit dulu, Buk, Mas Lukman. Tolong nanti di salamin aja sama bapak ya, Buk, " ucap Andra berpamitan.
"Iya hati-hati kalian, nanti Ibu sampein salamnya. Kasih kabar kalian sudah sampai ya, " pesan ibunya.
"Nggeh, Buk. Ibu juga jangan lupa kasih kabar kalau ada perkembangan apa-apa, " ucap Senja yang kemudian menyalimi tangan ibunya serta bercipika cipiki.
"Duluan ya, Kak Lukman, "
"Iya, titip anak saya ya, sekali lagi maaf ngrepotin, "
"Enggak sama sekali kok, Kak, "
"Yaudah, nanti kalau nakal dijewer aja, " ucap Lukman setengah bercanda untuk menghibur dirinya sendiri yang sebenarnya merasa sangat sedih.
"Masih bayi, Kak.. "
"Masih bayi ini, Mas, " ucap Andra dan Senja bersamaan dengan sedikit gemas pada ayah dari bayi yang mungkin beberapa waktu ini akan mewarnai hari-hari mereka.
"Becanda, " Lukman mengusap sudut matanya.
"Yaudah ah, pamit beneran nih. Assalamu'alaikum, " pamit Senja sambil langsung melangkahkan kaki.
"Waalaikumsalam, " jawab Bu Retno dan Lukman.
"Semoga semuanya cepat membaik ya, Lukman. Kamu yang sabar, ikhlas ... memohon kepada-Nya yang terbaik untuk semuanya, "
"Iya, Bulik. Terimakasih banyak, Bulik, "
Sepeninggal Andra, Senja dan juga Bayu. Lukman dan Bu Retno kembali terduduk diam di depan ruangan yang di dalamnya terdapat Bu Muti yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Pak Sapto memandang wajah kakak perempuannya tersebut. Wajah yang karin saat datang ke rumahnya berhias make up dan gincu tebal, kini pucat tanpa sentuhan apapun. Malah ada beberapa bekas luka tergores di sana sini.
"Sebenarnya apa yang terjadi to, Mbakyu? Kenapa Mbakyu bisa jadi seperti ini?" Pak Sapto berusaha mengajak berbicara kakaknya meskipun ia tak yakin jika sang kakak akan mendengar ucapannya.
"Mbakyu cepet sembuh yo, soalnya Ningsih sudah melahirkan. Kamu sudah menjadi mbah Putri, Mbak. Cucumu laki-laki, ngguanteng tenan (ganteng banget), "
Pak Sapto terdiam, dan keadaan kembali hening. Hanya suara mesin alat-alat penunjang hidup Bu Muti yang menjadi pengisi keheningan ruang ICU tersebut.
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu tampak menghela nafas sebelum kembali berucap, "jujur ya, Mbak. Kemarin itu sungguh sedih dan kecewa atas apa yang Mbakyu perbuat padaku dan keluargaku. Tapi, walau bagaimanapun, kamu tetaplah saudaraku, Mabkyuku. Jadi aku sudah memaafkanmu, "
"Ndang mari yo, Mbak! Opo ra pengen nggendong-nggendong putumu? "
(Cepat sembuh ya, Mbak. Apa tidak ingin menggendong cucumu?)
"Aku do'ain ... semoga, Mbakyu, Kang Minto, sama Ningsih cepat sembuh seperti sedia kala. Dan bisa berkumpul lagi seperti hari-hari kemarin, "
Pak Sapto mencium tangan kakaknya yang terpasang selang, air matanya mengalir karena tak kuasa melihat Bu Muti terbujur dengan keadaan yang memprihatinkan seperti itu. Tanpa dia sadari, dari ujung mata Bu Muti yang masih terpejam itu juga mengalir air mata.
Sementara dari sisi mimpi Bu Muti, wanita yang memiliki usia di atas Pak Sapto itu tengah menangis meraung-raung meratapi nasipnya. Dia kini tengah merasakan penyesalan akibat dari perbuatannya.
Bu Muti seperti berada di tengah lautan, terombang-ambing tak tentu arah. Tak terlihat daratan atau apapun yang bisa ia jadikan harapan untuk selamat.
"Apa ini adalah akhir dari hidupku?"
"Apa ini suatu hukuman bagiku karena selalu bertindak semena-mena selama ini? "
"Apa aku sudah tak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertaubat? "
Ratap Bu Muti dalam perjuangannya mencari pegangan agar ia tak tenggelam dalam lautan yang tak memiliki batas tersebut. Ia merasakan sekujur tubuhnya perih karena luka-luka yang terendam dalam air laut. Badannya lemah karena terus berusaha berenang.
"Aku tak kuat lagi ... jika aku harus mati, matikan aku ... " ucap nya yang entah pada siapa.
Namun sedetik kemudian ia kembali berfikir, jika ia mati dalam keadaan belum bertaubat, apakah ia akan lebih baik di alam sana. Ya, entah alam apa dia pun tak tau.
Bu Muti hanya sering mendengar dari ucapan orang-orang yang di tindasnya. Bahwa, dia akan menerima balasan atau ganjaran atas apa yang dilakukan nya selama hidup di akhirat nanti.
"Akhirat apa? Hidup itu ya di dunia ini, kalau mati ya sudah, mati saja, " ucapnya dulu saat ia di sumpah serapahi oleh para nasabahnya.
Tapi kini ia takut saat merasakan hal yang tak pernah di bayangkan nya sebelumnua. Ia seperti di permainkan oleh alam. Hidup tidak, mati pun tidak.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Bu Muti ini di hidupin, apa di matiin aja nih kisahnya?