Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 61. Otw Lamaran


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


...----------------...


Di malam yang sudah semakin larut, tak membuat dua anak manusia berbeda jenis kelamin itu merasakan kantuk. Andra dan Senja. Di tempat yang berbeda, keduanya tengah kalut dengan pikiran dan prasangka masing-masing. Andra yang masih memikirkan perkataan Senja, dan Senja yang masih terbayang ucapan eyang sebelum beliau pamit tadi.


Setelah lelah memikirkan ucapan yang mengusik kedamaian hati, mereka sama-sama teringat masa kecil mereka. Saat pertama kali bertemu, waktu Senja menyelamatkan Andra, lalu berjalan sesuai ìngatan masing-masing. Andra yang mengingat senyum manis gadis kecil yang berpenampilan mirip anak laki-laki saat menerima hadiah-hadiah yang ia berikan kala berkunjung ke Semarang. Senja yang kembali tersenyum saat membuka kotak-kotak hadiah dari Mas Gantengnya saat kecil, kotak yang sampai detik ini masih selalu tersimpan rapi di dalam lemari Senja, bahkan kotak-kotak itu mendominasi isi lemari dan mengalahkan pakaian Senja yang hanya beberapa lembar saja di sana, karena sebagian besar sudah ia bawa di rukonya.


Hingga fajar menjelang dan adzan subuh berkumandang, keduanya sama-sama tak memejamkan mata barang semenitpun. Mereka memilih segera mandi dan melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Setelahnya Andra segera kembali ke rumah eyang, dan Senja menghubungi Lala jika dirinya tak bisa datang ke toko hari ini. Ia juga mengatakan kepada Lala untuk segera mengirimkan pesanan Angga beberapa waktu lalu yang sudah siap di kemasnya. Lala mengiyakan semua perkataan Senja pada sambungan telepon pagi itu.


"Hoaam, Mbak Senja jam segini udah telpon aja sih," Lala melihat jam pada ponselnya yang masih menunjukkan angka 5:00.


"Bentar, ini ada WA juga dari Mbak Senja," Lala mengernyit melihat notif foto dari Senja.


'La, maaf ya hari ini Mbak gan bisa ke toko, soalnya di rumah masih repot beres-beres, terus tangan Mbak juga lagi luka nih'


Lala segera membuka foto yang di kirimkan Senja dan betapa terkejutnya saat melihat foto telapak tangan Senja yang nampak melepuh. "Ya Allah Mbak, kok bisa kayak gitu sih?" komentarnya di mulut juga ia ketik sebagai balasan pesan Senja. Tak lupa ia segera melaporkan hal tersebut pada Bayu tanpa ingat jam berapa sekarang ini, ia pasti mengganggu pemilik ponsel di seberang sana.


Andra sampai di rumah eyang saat semua penghuni rumah itu sedang mengobrol serius di ruang keluarga. "Wah, panjang umur anak Ayah. Sini Nak!" Ayah Herman melambaikan tangan pada Andra dan menepuk tempat duduk di sampingnya, seakan tidak terjadi apa-apa pada putranya itu selama seminggu ini. Andra menurut mendudukkan bokongnya pada sofa di samping Pak Herman.


"Kami semua punya kabar gembira buat kamu," ucap Ayah Herman bersemangat dengan senyum lebar tersungging di bibirnya, begitupun Bunda Ratih yang tersenyum lembut sembari mengusap pundak putra bungsunya tersebut.


Andra mengernyit dan meneliti satu persatu wajah orang yang ada di sana, semuanya tampak bahagia. Tapi tak terlihat adanya eyang juga Bayu, dimana mereka, pikir Andra. "Apa Yah?" tanyanya setelah mampu menyiapkan hati.


Pak Herman segera mengatakan maksudnya tanpa basa basi dan langsung pada intinya. "Kamu akan segera Ayah nikahkan dengan seorang gadis cantik, baik hati, ramah, mandiri,"


"Iya sayang, seminggu lagi kami akan melamar gadis itu untukmu. Tapi kalau kamu sudah gak sabar, kami bisa mempercepatnya kok, ya kan, Yah?" Bunda menyahuti ucapan suaminya dengan antusias bahkan sebelum Pak Herman menyelesaikan kalimatnya. Ayah Herman hanya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan istrinya.


Andra menatap ayah dan ibunya bergantian, "Andra gak salah denger?"


"Enggak dong sayang, kemarin kami sudah membicarakannya pada orang tua gadis itu, dan mereka setuju," balas Bunda Ratih masih dengan senyum merekah.


Andra menggeleng, "Andra nggak percaya, kalau Ayah sama Bunda ternyata gak ngertiin perasaan Andra sama sekali, kalian egois!"

__ADS_1


"Maksud kamu apa, Nak?" senyum Bu Ratih memudar seketika mendengar perkataan Andra. Begitupun yang lainnya yang seketika ikut menegang.


"Kalian mau nikahin Andra sama gadis lain, padahal kalian tau hati dan hidup Andra cuma buat satu orang gadis saja dari dulu." Andra beranjak dari duduknya dan dengan cepat meninggalkan semua orang dengan keterpakuannya, ingin menjelaskan tapi tak di beri kesempatan oleh Andra yang dengan cepat menghilang.


"Ini yang salah siapa kalau kayak gini?"


"Emang kita salah ngomong ya?"


Kedua orang paruh baya itu saling pandang dan mencerna ucapan putranya berusan.


"Yah.. Bun.. " Angga membuka mulutnya setelah puasa mbisu sejak tadi, "kalian gak sadar ya gak nyisipin nama Senja di semua paragraf kalian tadi?"


"Hah?"


"Iya Paman, Bunda.. kalian tidak bilang kalau akan menikahkan Andra dengan Senja, sepertinya Andra salah paham dengan itu." Nick ikut mengemukakan pendapatnya.


"Astaghfirullah.." Pak Herman dan Bu Ratih beristigfar bersamaan.


"Kita harus segera meluruskan kesalah pahaman ini sebelum semakin rumit, Bun."


♡♡♡


Seminggu berlalu, dan kini tiba pada hari dimana telah di tetapkannya rencana kunjungan keluarga Andra ke kediaman Senja, guna melamar gadis itu untuk putra mereka. Semua persiapan sudah siap 100%, tinggal berangkat saja malam nanti setelah isya'. Semua peningset atau hantaran lamaran sudah di siapkan sejak seminggu yang lalu, mulai dari jarik/kain batik bercorak sidomukti, karena batik bercorak sidomukti mengandung makna harapan untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin.



Sumber gambar google


Lalu seperangakat alat makeup.


Kemudian perlengkapan mandi,


pakaian dan aksesoris juga

__ADS_1


satu set lengkap perhiasan lengkap. Mulai dari gelang, kalung, anting dan cincin berlian.


Kemudian eyang juga menyiapakan pisang raja, buah jambe serta kapur sirih, katanya pisang raja itu wajib dibawa untuk lamaran adat jawa. Soalnya pisang raja merupakan simbol harapan kesuburan sehingga setelah menikah di harapkan pasangan ini bisa memiliki keturunan. Yang muda-muda hanya bisa mengangguk menurut dengan adat kejawen eyang, karena pengetahuan mereka tak seluas pengetahuan eyang tentang adat jawa. Lalu jajanan pasar berupa kue jaddah dan madu mongso atau jajanan pasar berbahan dasar beras ketan. Dan yang terakhir adalah bunga, Angga dan Nick saling pandang dan menggaruk tengkuk mereka, memangnya mau ziarah apa bawa bunga juga? apalagi bunganya kayak gitu. Begitu kira-kira isi pikiran mereka.


Walaupun Angga pernah melamar gadis dan menikah, tetapi ia tak memakai hal-hal seperti itu, karena mantan istrinya dulu bukanlah orang jawa apalagi Jogja. Jadi dia sama asingnya dengan Nick tentang hal tersebut. Bunganya pun tak sembarangan bunga, hanya ada dua jenis, yakni bunga kenanga dan melati putih. Itulah sebabnya Angga maupun Nick, jika itu seperti hendak ziarah ke makam.


Eyang menjewer telinga kedua cucunya tersebut kala mereka protes kenapa bukan buket bunga mawar atau bunga lili. Kata eyang, kedua bunga itu perlu di letakkan dalam keranjang kecil dalam jumlah ganjil. Karena harapannya, semoga kehidupan rumah tangga mereka, adekmu nanti terus mewangi layaknya bunga-bunga di taman. Kedua lelaki itu mengangguk-angguk mengerti setelah mendengar penjelasan dari Eyang Kumala. Sedankan lainnya hanya menahan senyum melihat Angga juga Nick di ceramahj habis-habisan oleh eyang akibat protes mereka.


Sore menjelang, tetapi semua orang masih nampak kebingungan, mondar mandir kesana kemari lantaran yang menjadi subyek inti acara tersebut belum juga menampakkan batang hidungnya sampai sekarang. Ya, Andra kembali menghilang setelah kesalahpahamannya seminggu yang lalu. Selama satu minggu pula Bayu bersama pasukan khusus dari Pak Herman berusaha keras mencari keberadaan Andra, kini adalah puncaknya, dan sepele karena Andra hanya berada di tempat yang justru tak terpikirkan oleh Bayu sebelumnya.


"Gimana, Bay?" tanya Pak Herman pada sambungan teleponnya dengan Bayu.


"Insayaallah siap, Pak."


"Bagus, bisa langsung ke tkp kan?"


"Ya, Pak."


"Oke, kami akan berangkat sekarang, kamu segeralah menyusul." Pak Herman mematikan sambungan telponnya saat mendengar jawaban siap dari Bayu.


Rombongan eyang yang berjumlah dua mobil itu segera berangkat menuju rumah Senja karena isya sudah berlalu sejak setengah jam yang lalu. Mobil pertama berisi eyang, Pak Herman, Bu Ratih serta Pak Santo sebagai supir. Sedang mobil kedua di isi oleh duo jomblo juga dua asisten setia eyang, yaitu Mbak Asih dan Mbok Monah, serta semua seserahan mereka. Seluruh penghuni rumah eyang ikut dan hanya menyisakan dua orang satpam saja untuk menjaga rumah seperti biasa.


"Semoga acaranya lancar yo, Jo. Biar rumahnya jadi rame lagi seperti dulu, dan Ndoro putri ndak kesepian lagi," ucap Kang Tejo pada Pak Bejo saat kedua mobil majikan mereka keluar dari gerbang.


"Aamin," jawab Pak Bejo, lalu keduanya mengusapkan telapak tangan pada wajah mereka masing-masing.


.


.


Bersambung


Mohon selalu dukungannya teman-teman, klik like, komentar positif, dan vote juga hadiahnya, biar makin semangat up.

__ADS_1


Terimakasih🙏😊


__ADS_2