
...Selamat membacaš¤...
...----------------...
Masih di Ibukota, tepatnya di kediaman mewah milik ayah dan ibunda Andra. Mereka terlihat kaget, heran, heboh juga panik dengan apa yang baru saja mereka saksikan dalam layar datar yang masih dipegang erat oleh Pak Herman itu.
"Itu artinya . ."
"Andra sama Senja . ."
"Sama gadis yang sedari dulu dicarinya"
"Udah ketemu?"
"Kenapa Andra nggak ngomong apa-apa sama Bunda, kalau dia itu udah ketemu sama gadis yang dicari-carinya?"
"Dan sekarang,"
"Mereka?"
"Pengantin baru?"
"Maksudnya apa ini?"
Ucapan Ayah Herman dan Bunda Ratih bersahutan.
"Ibu! Ya, Ibu pasti tau tentang ini" Ayah dan bunda Andra panik, mereka segera beranjak dari duduk dan berlari kearah lift untuk menuju ke kamar mereka secara kompak.
Angga mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, dan hanya menatap punggung kedua orangtuanya dengan penuh tanda tanya dan bingung. Karena dirinya yang paling tak tahu menahu tentang situasi yang sedang terjadi.
Sesampainya di kamar lantai dua milik mereka, Pak Herman langsung menyambar ponselnya yang sedari tadi masih tergeletak diatas nakas dan segera mencari kontak dengan nama 'Kanjeng Ibu'. Ia sudah akan memencet tombol hijau kala nama tersebut muncul. Tetapi sang istri menghentikan aksinya dengan cepat.
"Sebentah deh Yah, apa nggak tanya dulu aja sama Bayu?" Tanya Bu Ratih sambil memengang tangan suaminya yang menggenggam ponsel. "Bunda lihat kan tadi, di video itu sama sekali nggak ada Bayu." Jawab Pak Herman.
Bu Ratih nampak berfikir, kemudian mengangguk "iya juga ya, apa Bayu nggak ikut di acara Andra itu?"
__ADS_1
"Lagipula Bun. . Kalau Bayu memang ikut, dia pasti sudah menghubungi Ayah, memberitahu kita."
Sekali lagi Bu Ratih mengangguk, membenarkan perkataan suaminya. "Berarti Bayu nggak tau menahu juga ya tentang ini, yaudah deh terserah Ayah aja kalau mau nanya sama Ibu. Tapi ingat, hati-hati nanya nya!" Pak Herman hanya mengangguk dan hendak kembali memencet tombol hijau pada ponselnya, "Jangan terlalu kelihatan kalau kepo lho. . Tau sendiri Ibu gimana." Bu Ratih kembali mengingatkan.
"Iya, iya Bun, Ayah tau."
Pak Herman menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan guna menetralkan rasa gugupnya, sebelum kembali menghubungi seseorang yang paling dihormatinya diseberang sana. Setelah dirasa siap, dia kembali menekan tombol hijau itu.
Tuuut. . Terdengar suara panggilan yang terhubung.
Dan diseberang sana, ditempat eyang dan Bayu berada. Mereka sedang tertawa bersama karena membicarakan Andra yang sedang dilanda demam asmara. Tiba-tiba ponsel yang masih dipegang eyang berbunyi dengan nyaringnya, terdengar nyanyian dari grup girl band yang sedang naik daun itu, Black Pink-How You Like That.
Bayu terlonjak dengan suara ponsel yang tiba-tiba dan berbunyi sangat kencang tersebut. "Tuh kan. . Bener Bay!" Eyang menunjukkan layar ponselnya pada Bayu yang terlihat ada panggilan masuk dari 'Cah Bagus Herman', anaknya. Begitu nama kontak dari Pak Herman yang ada di ponsel eyang. "Sekarang kamu diem aja ya, dengarkan pembicaraan Eyang baik-baik." Baru saja Bayu hendak membuka mulut, eyang sudah berkata kembali, "Kamu jangan ngomong apa-apa, nggak usah komentar dulu!" Bayu segera melipat bibirnya kedalam dan menutupnya dengan tangan rapat-rapat, satu tangannya memberi kode menyleretingkan mulutnya sendiri pada eyang dan mempersilahkan eyang segera mengangkat telponnya tersebut.
Eyang tersenyum lalu menggeser timbol hijau pada layar ponselnya. "Assalamualaikum Cah Bagus Herman, anakku yang paling ganteng sejagat Jogja. ." sapa eyang dengan suara lembut dan mendayu-dayu saat baru saja mengangkat telponnya.
"Waalaikumsalam. . Kanjeng Ibu, yang paling cantik sejagat dunia maya. Gimana kabar Ibu?" jawab yang diseberang sana tak kalah lembutnya dengan sedikit menekan rasa panik serta penasarannya.
"Waah, masih pintar juga kamu menyembunyikan rasa kepo dan kepanikanmu Her. . oke Ibu ladeni." Batin eyang dengan senyum yang tersungging dibibirnya.
"Ah. . emm, Herman tidak kemana-mana Bu, masih di Jakarta kok ini." Benar saja dugaan eyang, Pak Herman mendadak terserang rasa gugup kembali akibat sindiran dari eyang.
"Oh. . Ibu kira sudah pindah ke Jepang buat jadi Biksu atau ke Korea ketemu Black Pink, kok nggak pernah ingat sama Ibunya lagi."
"It.. itu anu Bu, gara-gara pekerjaan di kantor lagi banyak banget akhir-akhir ini. Rencana pembukaan cabang baru di Jogja, insyaallah dalam waktu dekat kami akan kesana, untuk meninjau cabang baru kami. Dan pastinya kami akan menginap di istana Ibu dong"
"Yang bener? Bukan cuma akal-akalan kamu aja to biar Ibu tak jadi ngambek." Mata eyang sudah berbinar bahagia, tapi dia masih berpura-pura biasa saja.
"Tidak Bu, tidak mungkin to Herman ngakalin Ibu. Takut durhaka, dosa nanti." Pak Herman meyakinkan eyang.
"Oke..oke Ibu percaya." Terdiam sebentar, dan melanjutkan lagi "Terus kenapa kamu tiba-tiba telpon Ibu? Pagi-pagi begini lagi, bukannya kamu harus ke kantor? Kan pekerjaanmu lagi banyak to." Pancing eyang.
"Emm, masalah kantor sudah ada Angga yang menghandle untuk hari ini Bu,"
"Terus, memangnya kamu mau ngapain kalau tidak ke kantor?"
__ADS_1
Pak Herman saling pandang dengan Bu Ratih, memberi kode bagaimana caranya untuk menanyakan perihal video Andra kepada sang ibu. Bu Ratih mengangkat kedua bahunya "Tanyakan pelan-pelan" berkata tanpa bersuara.
Pak Herman bedehem sebelum berucap "Begini Bu, sebenaranya Herman sama Ratih telpon Ibu pagi-pagi karena ada suatu hal yang ingin kami tanyakan pada Ibu.." Ada nada bergetar dan takut pada suaranya. Berbicara dengan ibundanya sendiri, serangan rasa gugupnya melebihi saat sedang presentasi proyek milyaran rupiah di depan orang-orang penting. Ya, itu karena Pak Herman amat sangat menghormati kedua orangtuanya.
"Apa itu?" Eyang pura-pura tak tahu. "Apa segitu pentingnya sampai-sampai kamu rela untuk datang terlambat ke kantor" eyang sudah menahan tawanya.
"A..anu Bu-"
"Ngomong yang jelas Her! Ibu ndak mudeng kalau kamu cuma anu, anu aja daritadi" eyang menutup mulut dengan satu tangannya yang lain, jangan sampai tawanya lepas dan terdengar sampai di seberang sana.
Pak Herman kembali menghela nafas panjang sebelum menanyakan inti dari pembicaraannya itu. "Ini soal video Andra yang viral di berbagai media sosial itu Bu,"
"Video apa to?" eyang kode-kode'an mata dengan Bayu. Bayu tersenyum melihat keisengan eyang kepada anaj dan menantunya.
"Video yang lagi trending saat ini Bu, yang di pantai Gunungkidul kemarin malam. Disana ada Andra sama Senja, terus ada Ibu juga beserta para dayang-dayang Ibu." Ucap Pak Herman menjelaskan. "Ibu.. Pasti tahu'kan?!" Lanjut Pak Herman hati-hati.
"Oo. . . Yang Ibu liburan di pantai Gunungkidul bareng sama bocah-bocah kemarin itu to?"
"Leres (Benar), Bu" Pak Herman mengangguk meskipun tak terlihat oleh eyang, karena mereka hanya telpin biasa.
"Memangnya ada apa sama videonya? Apa ada yang salah?"
"Bu-bukan begitu Bu, cu-cuma..."
"Cuma apa?"
"Cuma.. keterangan yang ada pada videonya kenapa seperti itu?"
"Seperti itu gimana to maksudmu? Ibu kok pusing sama omongan kamu yang muter-muter aja dari tadi.."
.
.
Mohon dukungannya ya semuaš
__ADS_1
Terimakasihš