
Bayu tengah berkemas, rencananya ia akan kembali ke Jogja esok hari sehabis subuh agar tak terkena macet karena hari minggu menyapa. Karena ia merasa jika Andra tak ingin di ganggu acaranya dengan Senja. Itu adalah kesimpulan Bayu sendiri, yang tak dihubungi oleh Andra sejak kepergiannya tempo hari hingga kini.
Sedangkan di Jogja, para penghuni rumah eyang juga tengah berkemas untuk segera meluncur ke Semarang esok hari. Setelah Angga mengutarakan maksud dan tujuannya yang l membuat ketiga orang yang mendengarnya terkejut. Mereka setuju dan akan mendukung untuk tujuan baik Angga.
Akankah Bayu dan rombongan Angga bertemu? Atau malah saling berselisih di jalan?
Kasiannya Bayu.
•••
Kembali ke rumah sakit dimana Pak Sapto dan Bu Retno berada, kedua pasutri itu tengah menunggu Ningsih, keponakannya yang harus menjalani oprasi caesar karena ada masalah pada kandungannya, plasenta previa. Kasus ini lumayan sering terjadi pada sebagian ibu hamil, dan jalan yang harus di tempuh adalah operasi caesar.
Lukman ikut berada di ruang operasi menunggui istrinya. Karena hari telah sore dan rasa lapar juga tengah melanda. Pak Sapto pun mengajak Bu Retno untuk ke kantin rumah sakit guna mengisi perut mereka. Tidak mau jika nantinya akan ikut sakit kalau sampai telat makan.
"Hujan-hujan begini enaknya makan soto saja, Bu," usul Pak Sapto pada istrinya.
"Iya juga, Pak. Biar badan anget juga, dari pagi abis sarapan sampai nggak ke isi apa-apa gara-gara panik," balas Bu Retno.
"Semoga saja Mbakyu Muti dan Mas Minto segera pulih ya, Bu. Terus operasi Ningsih juga berjalan lancar, " ujar Pak Sapto.
"Aamin, Pak, " Bu Retno mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
Keduanya lalu menyantap soto yang masih mengepulkan uap tersebut ditemani oleh suara hujan dan petir yang sesekali menggelegar.
"Hmm.. seger ya, Pak. Langsung anget di perut, " ucap Bu Retno.
"Iya ya, Buk. Di tambah perkedel kentang ini, Buk. Pasti makin mantab, " sahut Pak Sapto yang menyomot perkedel yang terhidang.
Obrolan ringan pun turut menyertai suasana sore di rumah sakit itu. Membicarakan tentang segala hal dari mulai diri mereka sendiri, sampai pada anak-anak nya.
Berbeda dengan adik-adiknya yang tengah santai bersantap dengan mengobrol ria, Bu Muti tengah kejang-kejang dengan mata yang masih terpejam.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui dan menyadari hal itu karena memang tak ada seorangpun yang menjaganya. Suaminya yang berbaring di brankar sebelahnya juga masih terpejam efek dari obat bius pasca operasi pagi tadi.
__ADS_1
Sedangkan anaknya, Ningsih yang merupakan anak semata wayang, juga tengah berjuang antara hidup dan mati dalam perang sabil. Maksudnya melahirkan cucunya di ruangan yang berbeda. Dan menantunya sedang menunggui putrinya tersebut.
Saudaranya hanya Pak Sapto dan Bulik Asih, yang tak pernah dianggap saudara olehnya. Kini saat ia sedang dalam kesusahan, siapa tempatnya meminta pertolongan? Bahkan Tuhan pun ia lupakan.
Masih baik Pak Sapto yang ia sebut adik tiri, dan selalu ia perlakukan buruk itu masih mau berbaik hati dan mau menungguinya. Jika tidak, tak ada lagi yang mau perduli dengannya yang tamak itu.
Entah apa sebenarnya yang terjadi pada kedua orang itu, padahal para dokter sudah mengambil tindakan secepatnya pada kedua pasien tersebut. Harusnya salah satunya sudah sadar dan segera dilakukan pemeriksaan lanjutan agar bisa dengan cepat di jadwalkan oprasi lanjutan jika masih di butuhkan.
Di dalam alam bawah sadarnya, Bu Muti merasa jika dirinya berada di tengah-tengah lautan, ia yang tidak bisa berenang mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakinya agar tak tenggelam, mulutnya mencoba bersuara untuk meminta pertolongan.
"To-loo-ng.. to-loo-ng.. " ucapnya berulang kali saat kepalanya menyembul di permukaan air.
Ada beberapa kapal yang sangat besar lewat, namun tak terlihat dirinya yang hanya menyembul sesekali waktu, itupun hanya ujung kepala.
Lalu datang lagi kapal yang lebih kecil, tapi tak ada niat nahkoda kapal tersebut untuk menolongnya. Bahkan penumpangnya pun hanya menertawakannya, bahkan ada yang mencibir nya.
Dan terakhir ada sebuah sampan kecil dengan seseorang di atasnya, orang itu berpenampilan sederhana dengan topi lebar melindungi tubuhnya dari terik matahari yang membakar kulit.
Sosok itu menghentikan kayuhan sampannya, di ulurkan nya tangan yang telapaknya kasar dan kulitnya hitam, pertanda jika lelaki itu seorang pekerja keras.
Dalam hati Bu Muti kegirangan, ia merasa dirinya akan selamat, di gapai-gapainya tangan yang terulur tersebut dengan sekuat tenaga yang tersisa, hingga akhirnya dirinya mampu terangkat hingga naik ke atas sampan yang kecil dan sederhana itu.
Beberapa saat kemudian setelah dirinya mampu menguasai diri, setelah kembali berhasil mengumpulkan oksigen kedalam paru-parunya, ia menatap sang penolong. Terbuka lebar lah mata dan mulutnya, kala di hadapannya tengah tersenyum sosok adik lelaki yang selama ini tak di anggap olehnya sebagai saudara.
Bahkan saat dirinya meminjamkan uang untuk pengobatan orang itupun, dirinya pamrih. Kini rasa sesal menyeruak memenuhi rongga dadanya.
"Sapto.. maafkan aku.. " ucap Bu Muti lirih yang disertai isakan tangis.
"Maafkan Mbakyumu yang selama ini selalu semena-mena terhadapmu, juga terhadap Asih, "
"Selama ini, aku hanya dibutakan oleh harta dunia, hingga lupa pada sang pencipta dan makhluk lainnya, "
"Hidup susah sejak kecil membuatku benci akan kemiskinan, membuatku benci pada orang miskin yang mengingatkanku dengan masa kecil kita yang miskin dan serba kekurangan, " ratapnya pilu.
__ADS_1
Pak Sapto tersenyum, "aku sudah memaafkanmu, Mbakyu. Mari kita mulai lagi lembaran hidup kita yang baru, hidup yang lebih baik. Yang lebih mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, "
"Iya, To, " balasnya sesenggukan.
"Hilangkan sifat tamak, hindari riba. Jangan lagi jadi rentenir! Mulailah usaha yang lebih berkah dan halal, jangan menghalalkan segala cara untuk menjadi kaya, itu hanya akan menyesatkanmu di akhirat nanti, " nasehat Pak Sapto kepada kakaknya.
Kemudian Pak Sapto mengayuh lagi sampannya ke tepi, dengan perlahan namun pasti sampan itu akhirnya sampai juga pada daratan. Dan disana keluarga mereka sudah menunggu dengan senyum merekah.
Bu Muti yang beberapa saat lalu berperang dengan malaikat maut, kini membuka matanya perlahan. Samar-samar dilihatnya sebuah ruangan dengan nuansa serba putih. Air matanya masih mengalir membasahi pelipisnya.
Ia merasa dirinya baru saja selamat dari ambang kematian. Kilasan-kilasan balik tentang kehidupannya selama ini berputar di ingatannya seperti sebuah video kenang-kenangan.
Bagaimana kehidupannya saat kecil, saat dirinya dan adik-adiknya harus berusaha terlebih dahulu guna mendapatkan sesuap makanan.
"Sapto.. Asih.. adik-adikku.." gumamnya lirih.
Ingatan tersebut terus berputar hingga terakhir pada saat dirinya mengalami hal buruk dan berakhir di rumah sakit seperti saat ini. Ia kembali terisak sampai merasakan sakit pada dadanya, sakit seperti ditusuk benda tajam.
"Maafkan aku.. maafkan aku.. huu.. "
Barulah teringat lagi olehnya jika di area itu mendapatkan tusukan yang lumayan dalam. Ia yang sejak tadi terisak kembali tersengal-sengal.
Waktu berlalu dengan Pak Sapto dan Bu Retno yang masih asyik mengobrol dengan sesekali tertawa jika ada yang lucu. Hingga keduanya pun tak menyadari bahwa hari sudah menjelang maghrib.
Mereka langsung melaksanakan ibadah sholat maghrib di mushola rumah sakit tersebut, sampai sekalian isya'. Dikarenakan ada pengajian mujahadah ba'da maghrib di mushola rumah sakit tersebut. Hingga keduanya memutuskan untuk kembali ke ruangan Bu Muti nanti saja setelah pengajian usai, mungkin selesai isya, pikir mereka.
.
.
Bersambung..
Sabar ya Bude Muti, semoga kau diberikan kesembuhan dan panjang umur, aamin 🤲
__ADS_1