
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Bayu dan pasukannya yang sudah menemukan keberadaan Andra beberapa waktu lalu, dan ia segera menjalankan rencana yang telah mereka susun sebelumnya untuk membawa Andra ke rumah Senja dengan segera, seperti apa yang telah Pak Herman amanahkan kepada dirinya.
Sementara rombongan eyang sudah tiba di kediaman sederhana Senja. Kedua orang tua serta para tetua juga tetangga Senja yang ada, menyambut rombongan Eyang Kumala dengan baik dan ramah. Mereka mempersilahkan rombongan eyang untuk duduk lesehan di karpet yang telah di siapkan, karena ini baru acara lamaran, jadi keluarga Senja tidak menyewa tenda dan kursi. Namun senyum Senja nampak yang paling buruk, karena tak mendapati adanya Andra dalam rombongan eyang tersebut. Sangat kentara jika Senja sangat mengharapkan kedatangan Andra. Sekarang ia benar-benar merasa kecewa yang sesungguhnya, karena merasa yakin jika lamaran yang datang adalah dari Angga, dan bukannya Andra.
Senja menghela nafas berulang kali, dalam hatinya terus beristighfar, mencoba menenangkan perasaannya sendiri. Acara sambutan dari tuan rumah yang di wakili oleh ketua RT setempat, menandakan jika acara lamaran itu akan segera dimulai. Senja terus memaksakan senyum di bibirnya, walau hatinya kecewa. Sedangkan keluarga Andra masih harap-harap cemas menunggu kedatangan Bayu beserta pasukannya untuk membawa Andra tepat pada waktunya.
Di tempat lain, Bayu sudah bergerak cepat, ia memerintahkan pasukannya untuk mendandani Andra sesuai dengan apa yang telah di siapkan. Setelan jas lengkap berwarna silver yang senada warnanya dengan kebaya yang telah dikenakan oleh Senja segera mereka kenakan pada Andra yang memberontak, dengan sedikit ancaman akhirnya Andra menurut. Ya memang cafa tersebut sangatlah extrim, tapi mau bagaimana lagi jika mengingat Andra yang masih ngambek, kalau tidak di ancam dan di paksa, dia tidak akan mau menurut.
Setelah selesai mendandani Andra lengkap dengan style rambutnya bak penata rias professional, Bayu dan anak buahnya segera berganti pakaian juga. Kemeja batik berlengan panjang yang sudah di diapkan dengan berseragam, membuat mereka semua tampak kompak dan rapi. Dengan mata Andra yang masih terikat, mereka segera membawa Andra ke tempat acara yang sedang berlangsung, yakni rumah Senja.
Sesampainya disana, Bayu membuka penutup mata Andra. Tatapan nyalang langsung di dapatnya dari sepasang iris milik Andra. Tapi ia mencoba cuek dan tanpa basa basi ia membawa Andra ke depan Senja dengan sopan santunnya yang tetap di jaga. Semua keluarga bisa bernafas lega dengan kedatangan Andra, karena mereka bisa melaksanakan acara lamaran dengan lancar sesuai rencana.
Andra celingukan melihat adanya banyak orang, dan tak jauh di hadapannya ada Senja yang sedang duduk bersimpuh dengan menundukkan kepalanya. Antara malu dan juga kecewa. Andra menatap bingung ke arah orang-orang, ingin bertanya tapi kini ia berada di tengah-tengah banyak orang dengan di apit oleh eyang dan juga bunda. Begitupun Senja yang di apit oleh kedua orang tuanya. Yang menjadi perhatian Andra berikutnya adalah paket peniset/hantaran yang berjajar di tengah. Membuat ia tau, jika itu adalah sebuah acara lamaran, tapi untuk siapa, apakah Kak Angga, pikirnya.
__ADS_1
"Lebih baik aku tidak ada di sini daripada harus menyaksikan orang yang ku cintai akan menjadi milik kakakku sendiri." Hati Andra miris, ia menunduk dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Begitu juga Senja yang masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri hingga tak mendengar erangkaian acara bahkan kata-kata sambutan dari para tetua dan wakil keluarga Andra. Hingga ucapan tegas dari Pak Herman menyadarkan keduanya.
"Maksud kedatangan keluarga kami kesini adalah, yang pertama untuk bersilaturrahim dengan keluarga Bapak Sapto, dan yang kedua saya ingin melamar putri Bapak Sapto, yaitu Senja Amalia untuk putra saya.." Pak Herman menjeda kalimatnya untuk mengambil nafas panjang, hati Andra dan Senja mencelos mendengar perkataan Pak Herman yang belum selesai, "putra kedua saya, yakni Andra Pradipta."
Saat mendengar nama Andra disebutlah keduanya tersentak dari pikiran mereka dan reflek kepala keduanya mendongak. Tatapan mereka bertemu, jantung keduanya bertalu-talu, keringat dingin mulai bercucuran. Merasa salah dengar, keduanya kompak menoleh ke arah orang tua mereka masing-masing. Dengan tatapan dan senyum lembut, ibu dan bunda keduanya mengangguk. Membuat kedua insan yang beberapa saat lalu merasakan sakit di hati mereka, kini berganti dengan perasaan senang, bahagia, tak percaya dan membuat keduanya menjadi salah tingkah.
Para orang tua tersenyum dan menggeleng menyaksikan putra dan putri mereka kini tersenyum bahagia. "Bagaimana Nak Senja, apa kamu menerima lamaran putra bungsu Bapak, Andra Pradipta?" pertanyaan yang terlontar dari Ayah Herman, membuat Andra juga Senja kembali menunduk. Andra yang deg-degan merasa harap-harap cemas apakah Senja akan menerimanya atau tidak. Sedangkan Senja merasa malu di perhatikan oleh banyak pasang mata di sekelilingnya, pipinya memanas dan kalau ia bercermin pasti akan melihat semburat merah yang timbul di kedua pipinya tersebut.
Senja menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan, mencoba menetralkan rasa nerveus yang menghinggapi. Bismillah hirrahmaanir rokhiim.. dengan memantapkan hati, Senja mengangguk dan berkata, "ya, saya terima." Sontak semuanya mengucapkan syukur alhamdulillah.
Lalu Pak Sapto juga menjawab lamaran tersebut guna meresmikan acara lamaran itu. "Saya selaku orang tua Senja Amalia, menerima pinangan dari putra Bapak yang bernama Andra Pradipta untuk menjadi calon suami putri pertama saya."
Mereka semua bernafas lega dan mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan yang ada sambil mengobrol santai. Tetapi kemudian Pak Herman menanyakan kapan mereka akan bertunangan, membuat semua orang dari pihak Senja saling berpandangan, bukankah baru saja ini tunangan? begitu pikir mereka. Karena biasanya hanya seperti itu, setelah lamaran lalu segera mencari hari baik untuk pernikahan, sedangkan ini masih harus bertunangan lagi.
"Maksud saya, para tetangga disini kan sudah tau kalau Andra dan Senja sudah saling terikat, tetapi di komplek ibu saya belum ada yang tau, masak iya tiba-tiba menikah." Pak Herman menarik nafas sebentar dan melanjutkan perkataannya kembali. "Nah, maka dari itu kami ingin mengadakan acara pertunangan di rumah kami, agar para tetangga kami tau kalau mereka berdua ini sudah lamaran, sehingga tak menjadi bahan gosip disana nantinya." Semua yang ada di acara tersebut mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, kami hanya menurut saja dengan Njenengan (Anda), Pak, Bu.." jawab Pak Sapto menanggapi permintaan calon besannya. "Lebih cepat, lebih baik.." lanjutnya membuat calon keluarga barunya itu tertawa bahagia.
__ADS_1
"Benar kata Njenengan calon besan, lebih cepat memang lebih baik." Ucap Pak Herman melirik Andra, "apalagi kalau melihat dari anaknya yang sudah nggak sabar itu.." tawa mereka pecah bersamaan melihat wanah Andra yang sudah semerah tomat walau ia sudah berusaha menyembunyikannya.
Lalu para tetua mencari hari dan tanggal yang baik secara jawa untuk melaksanakan pesta pertunangan di kediaman Eyang Kumala. Dan di temukanlah tiga minggu dari sekarang, lalu untuk acara pernikahannya akan di tetapkan setelah hari pertunangan nanti. Tak lupa, Pak Herman turut mengundang semua tetangga Pak Sapto untuk hadir dalam acara tersebut. Mereka semua nampak senang, karena ternyata calon besan dari Pak Sapto yang merupakan orang kota tidaklah sombong, bahkan sangat ramah dan besikap sangat baik dan membaur dengan mereka yang notebene hanya orang kampung dan berprofesi sebagai petani.
Mereka tidak tau saja bagaimana tegasnya Pak Herman saat di perusahaan, mungkin mereka takkan berani menatap wajahnya apalagi sampai tertawa bersama seperti saat ini. Tapi itulah yang Pak Herman sukai dari orang-orang dari kota kelahirannya, yakni ketulusan, kejujuran, keramah tamahan yang susah di dapatkannya di Ibukota, yang orang-orangnya sebagian besar bertopeng dan merupakan seorang penjilat.
Acara selesai dengan di tutup do'a, lalu rombongan Eyang Kumala berpamitan. Andra seperti tak kuat menopang berat tubuhnya sendiri untuk beranjak dari sana karena rasa berdebar pada jantungnya dan tubuhnya yang gemetaran, belum bisa percaya dengan apa yang baru saja di alaminya, hingga Bayu dan Angga harus membantu memapahnya.
.
.
Bersambung
Heddeh si Andra, Othor dah baik nih lamarin si Senja buat kamu, eh kamunya malah shok.. gimana sih.
Jangan lupa ketik like dan komennya yang positif ya teman-teman, biar semangat up🥰
__ADS_1
Terimakasih🙏