
Pagi kembali menyapa umat manusia yang sudah memulai hari mereka. Meski masih menyisakan mendung di wajah Angga, tapi tak lantas membuat mereka urung beraktifitas.
Kini semua semua orang yang masih berada di kediaman mbah kakung itu tengah sarapan bersama di ruang makan. Suara hujan yang deras yang masih mengguyur sejak subuh, beriringan dengan suara obrolan orang-orang itu di sela makan mereka.
Dengan senyum jahil, Bayu menggoda Angga yang tampak tak bernafsu menyantap hidangan di hadapannya.
"Bang, Angga.. itu makanan meski Abang aduk sampai ntar dzuhur juga nggak bakalan berubah jadi Seruni, " ucap Bayu pelan yang menarik atensi semua orang.
Bayu segera melipat kedua bibirnya dan menyembunyikan senyumnya saat mendapat lirikan tajam dari Angga.
"Sabar yo, Laron Sulungku.. " ucap eyang sambil mengelus kepala Angga lembut.
Senyum mbah Putri mengembang, "kamu masih juga memanggil Angga dengan sebutan itu, Jeng? "
"Iya, Jeng.. suka inget pas masih kecil dulu, " balas eyang tersenyum juga.
Sementara orang-orang saling mengobrol kesana kemari, Senja justru merasa gelisah karena ponselnya mendapatkan telfon terus menerus dari Lala. Entah apa sebabnya hingga gadis yang merupakan karyawan Senja di olshop nya itu terus menghubungi di pagi ini.
"Ada apa ya Lala nelpon terus daritadi? Apa ada sesuatu yang mendesak, tapi apa? Ah, aku memang sudah lama nggak kesana sih, " monolog Senja dalam hatinya.
Andra yang sejak tadi memperhatikan raut khawatir istrinya yang berulang kali melirik ponsel, mengerutkan keningnya. Ingin rasanya segera menyudahi acara makannya dan bertanya pada sang istri.
Setelah beberapa waktu, acara sarapan dan juga ngobrol pagi itu usai juga. Senja segera merogoh ponselnya yang berada di saku, mencari nomor Lala dan kemudian menelponnya.
"Halo, La.. " sapa Senja begitu telfonnya di angkat.
"Assalamu'alaikum, Mbak Senja.. " ucap Lala dari seberang.
"Astaghfirullah.. maaf, La, Mbak lupa, " Senja menepuk keningnya sendiri atas keluhannya mengucapkan salam.
Lala terkekeh pelan, "nggak papa, Mbak, "
"Oiya, ada apa kamu nelpon-nelpon Mbak terus daritadi? Apa ada sesuatu yang darurat? "
"Emm, itu.. anu, Mbak, "
"Ada apa, La? Ngomong aja,"
"Eee.. Mbak Senja jangan gimana-gimana ya tapinya, "
"Emang kenapa sih, La? kamu bikin Mbak penasaran aja deh ah.. "
"Jadi gini, Mbak, semalem ada cewek berpenampilan seksi dateng kesini, dia bilang ada perlu sama, Mbak Senja, "
"Siapa, La? "
"Nggak tau, Mbak, dia cuma bilang ada perlu sama, Mbak aja tanpa mau ngasih tau namanya, "
"Oo.. gitu, ciri-ciri orangnya kayak gimana? " tanya Senja.
"Pake make up full, pakaiannya ketat, terus itu Mbak, dia ngerokok elektronik gitu, " jawab Lala menggambarkan.
Deg.
__ADS_1
"Reya.. " gumam Senja lirih, namun masih juga, terdengar di telinga Lala.
"Reya siapa, Mbak? "
"Mau ngapain lagi orang itu? Nggak puas apa udah bikin aku salah sangka sama Mas Andra, " batin Senja.
"Mbak? " tegur Lala lagi saat tak mendapat jawaban dari Senja.
"Eh, maaf, La, aku ngelamun barusan. Dia nggak bikin keributan, kan? Atau nge gangguin kamu sama temen-temen yang lain? "
"Gak ada kok, Mbak.. Mbak gak usah khawatir, "
"Syukurlah kalau begitu, nanti kalau dia datang lagi mintain aja nomor hapenya, biar telfon Mbak langsung, oke? "
"Oh, oke, Mbak kuu.. shaapp 45," sahut Lala cepat.
Keduanya terkekeh bersama lalu segera menyudahi panggilan tersebut.
Tanpa Senja sadari, sedari tadi ada yang mendengarkan dengan seksama acara telfon-telfonanya dengan Lala. Orang tersebut berfikir bagaimana caranya untuk bisa membantu Senja. Ya namanya juga pengagum rahasia, selalu bertindak dibalik layar.
Bayu berjalan santai menuju teras belakang untuk melihat ikan hias peliharaan mbah kakung yang baru saja di beli oleh Rudi menggunakan uang dari Angga. Sesuai dengan janjinya, Bayu mengganti semua ikan milik mbah kakung yang mati karena tertimpa dirinya dan juga Rudi. Namun entah bagaimana ceritanya, ia bisa mendapatkan dana dari Angga untuk menggantikannya.
Baru saja kakinya melangkah keluar pintu, Bayu merasa ada yang menarik kerah belakangnya.
"E e e eehh.. apa-apa nih? " tanyanya yang hampir saja terjengkang.
Bayu menoleh, dan mendapati wajah Andra di samping kepalanya, "eh, Si Bos.. ada apa, Bos? "
"Urgent, " jawab Andra singkat lalu memberi kode pada Bayu untuk mengikutinya.
"Oke, Bos. Tenang aja, semuanya akan beres di tangan Bayu, "
"Oke, gue andelin lo, Bayu! "
Bayu mengangguk dan tersenyum. Dia tetap ditempat sampai Andra yang lebih dulu pergi tempat itu.
"Hufft.. ada-ada aja sih, baru juga adem ayem bentar, udah mulai lagi. Lagian apasih mau tuh cewek, bener-bener minta dikasih mapel dia. Eh, pelajaran yak, " gumam Bayu, lalu terkekeh sendiri.
Disisi lain desa itu, ada Angga yang masih terdiam dengan sejuta pikirannya. Tatapannya kosong menerawang ke depan, meski di hadapannya kini terdapat lima ekor ular yang telah berhasil di pindahkan ke kandangnya dari tangan Seruni.
"Gimana ya keadaan Seruni sekarang? Semoga aja dia udah baik-baik aja, "
Angga mendesah pelan, tangannya mencabuti rumput Jepang yang terhampar di area taman itu.
"Gue pengen nemu ini dia, tapi gimana kalo dia histeris lagi kayak kemarin? " galau Angga.
Memang kemarin begitu Seruni tersadar dari pingsannya usai bermimpi buruk tentang masa lalunya bersama Angga yang terganggu dengan kehadiran Amanda, gadis itu kali histeris setelahelihat wajah Angga.
Kelebat-kelebat masa lalu yang sangat menyakiti hatinya hadir bagai kilasan video kenangan yang diputar secara otomatis di otaknya.
Seruni berteriak-teriak hingga mengamuk dan mengusir Angga. Maka dari itu, gadis itu segera di jauhkan dari Angga dan di antarkan pulang ke rumah Pak Edi selaku orang tuanya.
Jadi sudah sepatutnya jika Angga kembali galau, karena belum berhasil menyembuhkan sangat pujaan, mungkin masih perlu banyak waktu dan kesabaran dalam hal itu.
__ADS_1
"Aku harus bisa temuin orang yang bisa menangkal mantra dari wanita jahat itu, kalo enggak, bakal sulit buat gue kembali sama Seruni, "
"Hah, boro-boro balikan, ketemu aja gak bisa, " Angga merebahkan tubuhnya di rerumputan hijau itu.
Selang beberapa menit, Angga merasakan ada seseorang yang ikut berbaring di sampingnya.
"Ngapain lo disini? " ucapnya setelah menoleh sekilas untuk melihat siapa yang menyusulnya disana.
"Kenapa? Ini kan tempat umum, "
"Gue lagi males debat ya, Ndra! " Balas Angga pada orang yang ternyata adalah Andra.
"Siapa juga yang ngajak Kakak debat? Gue cuma mau nemenin Kakak aja disini, "
"Istri lo? "
"Lagi sibuk sama Eyang sama Uti, urusan wanita katanya, " jawab Andra lesu.
"Gitu aja lesu lo, " cibir Angga.
"Ck, dari pagi abis sarapan gue belum ketemu sama istri gue lagi tau, boro-boro mau ngobrol, liat aja gak di bolehin sama nenek-nenek, "
"Hush, nenek sendiri lo katain nenek-nenek, " tegur Angga yang kemudian terkekeh.
"Ya emang nenek kita itu nenek-nenek kan? terus lebih dari satu juga, gimana nyebutnya kalau bukan nenek-nenek? "
Angga mengernyit, nampak berfikir, "iya juga ya, " balasnya.
"Haish, kenapa malah bahas nenek-nenek coba? "
"Yaudah sih bahas yang lain, " sahut Andra.
"Lo harus temenin gue cari dukun! " ucapan Angga mendapat pelototan Andra yang langsung terduduk dari tidurannya.
"Maksud lo? Dukun? Buat apa? "
"Jangan ngedadak lemot deh lo, Ndra! " Angga memutar bola matanya, merasa malas jika harus kembali menjelaskan pada saang adik.
"Oke-oke, "
.
.
.
Bersambung...
Maaf ya manteman, aku lama gak up lagi, bukan karena kesengajaan tapi karena ada hal sangat-sangat darurat yang mendadak.
Terimakasih yang udah selalu setia sama karya receh ku ini, aku ucapkan banyak- banyak terimakasih pokonya🙏
Jika berkenan kalian bisa mampir dulu ke karya aku yang lain sbari menunggu PRS ini up. Mohon dukungan, kritik juga sarannya juga buat novel ku yang lain🙏
__ADS_1
Terimakasih, terimakasih, terimakasih🙏
Salam sayang buat semuanya...