Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Bude? Kok Bisa?


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang, membangunkan sesosok lelaki yang merasa tidurnya sangat nyenyak semalam suntuk tanpa adanya gangguan sama sekali. Baru malam ini rasanya ia bisa tidur dan bermimipi indah tanpa ada yang mengusik selama menjabat sebagai asisten pribadi Andra.


Bayu menguap dan meregangkan tubuhnya. Otot-ototnya yang kemarin kaku, kini terasa mengendur setelah mendapatkan tidur yang berkualitas.


Ia melirik pada ponselnya yang berada di atas nakas, masih tercolok pada kabel carger. Bayu menggeser layar benda pipih tersebut lalu memasukkan kata sandi. Benar-benar sepi tak ada kabar atau berita apapun dari Andra membuatnya senang, karena itu berarti lelaki yang menjadi sahabat serta bosnya itu tengah menikmati setiap detik waktunya dengan sang istri.


Senyum tipisnya tersungging, "heppi-heppi ya, Bos!" Gumamnya seorang diri saat melihat isi pesan pada aplikasi hijau yang Andra kirimkan kemarin.


Setelah menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, Bayu keluar kamar dan langsung menuju halaman untuk berolahraga atau berjalan-jalan pagi sebentar untuk menikmati sejuknya desa itu. Sampai di halaman, ia bertemu dengan mbah kakung dan mbah putri yang juga sedang berjalan-jalan santai.


Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran raga, mbah kakung juga mbah putri memang selalu rajin untuk berjalan di pagi hari seusai subuh, dengan catatan jika tidak sedang hujan atau sakit. Usai jalan-jalan pagi di sekitaran kampung, biasanya mereka meminum ramuan jamu yang sudah disiapkan oleh Bulik Asih.


Bayu yang baru menampakkan batang hidungnya langsung mendapatkan pertanyaan dari Mbah Harso atau yang lebih sering di panggil mbah kakung.


"Dimana Andra sama istrinya, Yu? Apa mereka memang ndak pulang semalam?" Mbah kakung bertanya karena pada saat makan malam kedua pasutri itu belum kembali dari acara jalan-jalan mereka sejak pagi.


Bayu menggeleng sembari berjalan mendekat, "enggak, Mbah. Mereka nginep di hotel, mungkin," jawabnya santai.


Mbah kung mengerenyit, "kenapa nginep di hotel? Mana ndak bilang-bilang lagi sama Akung sama mbh uti,"


"Bayu aja baru tau pas Bayu telpon kemarin siang kok, Mbah. Katanya cuma mau jalan-jalan, tapi nggak pulang," Bayu terdiam sebentar, lau tersenyum lebar, "mau bikinin cicit buat Akung sama Uti pasti!" Seru Bayu sambil menjentikkan jarinya.


Mbah kakung dan mbah putri saling pandang, tak lama senyum lebar juga tersungging di bibir masing-masing lansia yang masih bugar itu.


"Tapi kenapa harus di hotel, di rumah juga bisa." Ucap Mbah Kakung.


"Mbah Kung kayak nggak pernah muda aja. Ya biar lebih romantislah, terus biar nggak keganggu juga,"


"Heh, memangnya siapa yang mau ganggu orang begituan?" Seru mbah kakung.


Bayu menaikkan alisnya sebelah, "begituan apa, Kung?" Tanyanya sok polos.


Mbah uti yang sejak tadi hanya diam menyimak pun bersuara, "sok-sok'an ndak ngerti kamu, Yu. Padahal tadi kamu sendiri yang bilang kalau Andra mau bikinin cicit buat Akung sama Uti,"


Bayu merenges dan menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal, "ya.. ya katanya kalau pengantin baru begitu, habis nikah terus bikin anak. Nah, soal bikinnya gimana kan Bayu juga nggak tak. Kan Bayu belum pernah."


"Makanya, buruan nyusul sana!"


"Nyusul kemana, Uti? Hotel?"


"O.. Cah gemblung! Ya nikah to, Bayu. Kalau mau punya bayi,"


Lagi-lagi Bayu merenges merasa geli dengan diri sendiri yang mendadak bego. Entah memang polos atau hanya sok polos Bayu ini.


"Nanti lah, Uti. Gampang nyusulin aja kalau udah ada calonnya dan siap semuanya. Jangan asal nyusul-nyusul aja, yang malah ujung-ujungnya kayak Mas Angga, emoh aku," Bayu bergidik mengingat kejadian yang dialami Angga.


"Iya juga, Yu. Sebagai lelaki, kamu juga harus bisa memilah bukan hanya memilih," ucap mbah kakung membenarkan.


"Memilah wanita bukan yang hanya cantik di wajahnya saja, tapi budi pekertinya. Yang benar-benar tulus, bukan hanya sandiwara," wejang mbah kakung selanjutnya.

__ADS_1


"Hmm, iya. Mangkel (jengkel) aku kalau ingat sama istrinya Angga dulu, tau seperti itu ndak bakal aku restui pas kesini minta doa restu," timpal mbah putri.


"Sudah, Uti. Biarkan semua itu menjadi pembelajaran untuk adik-adiknya, khususnya untuk Angga sendiri. Biar dia itu ndak melihat kecantikan rupanya saja, tapi ndak punya tata krama,"


"Mentang-mentang orang kota, seenaknya saja," sungut mbah putri.


"Jangan menyalahkan orang kota, ndak semuanya seperti wanita itu," tegur mbah kakung mengingatkan.


"Iya-iya, sudah jangan mbahas orang itu lagi makanya. Bikin sebel aja," mbah putri menyudahi pembahasan yang bagi mereka sudah tak penting lagi.


"Bayu mau joging dulu deh. Assalamu'alaikum, Akung, Uti. Siapa tau nanti Bayu ketemu sama calon tulang rusuk di kampung ini," pamit Bayu dengan cengengesan.


"Tulang iga malah ada, Yu. Di depan sana itu, banyak malah, tinggal milih iga kambing apa mau iga sapi, iga kerbau juga ada," sahut mbah kakung.


Rudi yang baru datang tertawa mendengar ucapan mbah kakung. Dengan segera Bayu menyambar tangan lelaki bertubuh gempal itu.


"Bawa iganya Rudi aja deh, Kung. Assalamu'alaikum," Bayu pamit sudah dengan menarik pelan tangan Rudi dan segera berlalu.


Rudi yang dadakan ditarik oleh Bayu hanya bisa menurut dan mengekor di belakang pria itu.


Sementara kedua orang itu berjalan santai di pagi hari, di kota lain yang tepatnya di kediaman Pak Sapto dimana Andra dan Senja menginap semalam, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dimana Bu Retno sudah selesai menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


Andra menyusul ke meja makan yang menyatu dengan dapur, lelaki itu sudah nampak segar dengan rambut yang masih basah. Namun uniknya, pakaian yang dikenakannya tidka seperti penampilan Andra biasanya. Andra kini memakai hodie berwarna putih dengan celana joger warna hitam. Penampilan yang keren karena memang Andra yang tampan dan cocok memakai apapun.


Hanya saja, lengan panjang dari hodie itu ia tarik hingga ke bawah siku, juga dengan celana jogernya yang tertarik hingga betis. Bukan tanpa alasan ia melakukan hal tersebut, karena jika ia menurunkannya akan terlihat aneh. Sebab pakaian itu agak pendek di tubuhnya yang tinggi.


Pak Sapto mengernyit melihat Andra, "pakai bajunya Senja, Nak Andra?"


"Kenapa nggak pake punya Bapak aja, Nak?" sahut ibu yang sedang meletakkan jus mangga di meja.


"Tadi kata Dek Senja suruh pakai ini aja, Buk. Katanya pasti muat dipakai Andra, emang muat cuma agak pendek aja. Tapi gak papa, Andra nyaman kok," jelas Andra.


"Yasudah, yang penting kamu nyaman saja,"


Bapak celingukan mencari putrinya, "istrimu mana?"


"Dek Senja masih istirahat, Pak. Sakit perut lagi kedatangan tamu, makanya Andra mau cari rempah-rempah yang biasanya dibikin jamu buat diminum Dek Senja,"


Bu Retno juga Pak Sapto tersenyum senang mendengar penuturan Andra, merwka sama sekali tak menyangka jika menantunya yang merupakan anak kota mau saja mengurus istrinya hingga bersedia membuatkan jamu.


"Memangnya Nak Andra bisa membuatkan jamunya Senja?"


"Emm udahpernah liat Mbak Asih bikinin sih, cuma Andra belum pernah bikininnya sendiri," jawab Andra jujur.


"Oh, biar ibu saja yang bikinkan. Kamu sarapan saja sama Bapak, ya?"


"Nggak usah Bu, biar Andra aja yang bikinin,"


"Mau belajar bikin? Yaudah Ibu ajarin, yuk!"

__ADS_1


Sementara ibu mertua dan menantunya membuat jamu untuk Senja, Pak Sapto menghidupkan tv sembari menyantap sarapnnya yang ia bwa ke depan televisi. Daripada sarapan seorang diri di meja makan, pikirnya.


Baru suapan kedua, tiba-tiba lelaki paruh baya itu tersedak karena terkejut melihat berita yang ditayangkan pada layar di hadapannya.


"News update pagi ini. Pada pukul 06.00 pagi ini, sepasang suami istri ditemukan dalam keadaan terluka oleh senjata tajam di beberapa bagian tubuhnya."


"Pasangan suami istri yang diperkirakan umurnya sekitar 55 tahun tersebut ditemukan oleh seorang tukang sapu yang hendak menyapu jalanan, namun ia dikejutkan dengan suara rintihan seseorang, dan setelah dicari ternyata suara tersebut berasal dari seorang wanita paruh baya yang meminta tolong."


"Dari pengakuan tukang kebersihan tersebut, pasangan suami istri yang diketahui bernama Muti dan suaminya bernama Minto ditemukan di semak-semak di pinggir jalan xx, keadaannya yang mengenaskan membuat tukang kebersihan itu menghubungi kepolisian."


"Kini kedua korban telah dibawa oleh pihak kepolisian ke rumah sakit xx untuk segera mendapatkan pertolongan,"


"Untuk mendapatkan keterangan berikutnya, kepolisian menunggu kedua korban tersadar dari pingsannya. Demikian news update pagi ini."


Pak Sapto meletakkan piringnya di meja begitu saja dan langsung berlari menuju dapur sambil memanggil-manggil sang istri.


"Buk! Bu'e! Gawat, Buk. Gawat," panik Pak Sapto,"


Bu Retno dan Andra yang sedang fokus membuat jamu menghentikan aktifitasnya dan beralih pada Pak Sapto yang berlari kerah mereka.


"Ada apa to, Pak? Pelan-pelan, ndak usah lari-lari, apalagi sambil teriak-teriak kayak gitu, nanti kedengeran Senja, kan kasian. Pasti semalem ndak bisa tidur,"


"Itu Buk, anu. Mbakyu anu, Buk! Itu," Pak Sapto yang panik menjadi gugup dan bingung bagaimana akan menjelaskan.


Bu Retno mengambil air minum dan memberikannya pada suaminya, "ini minum dulu biar Bapak tenang, pedesnya juga biar ilang. Wong kepedesen kayak gitu kok teriak-teriak lho,"


Pak Sapto menerimanya dan meminumnya hingga habis, setelah tenang daei rasa pedasnya, ia mulai berkata.


"Mbakyu, Mbakyu Muti sama Mas Minto dibawa ke rumah sakit,"


"Memangnya kenapa, Pak? Bukannya semalam mereka baik-baik saja? Bahkan sangat baik-baik saja," heran Bu Retno. Hatinya saja masih terasa sakit jika ingat perlakuan dari kakak iparnya itu kemarin saat di rumahnya.


"Mereka terkena luka senjata tajam,"


"Astaghfirulloh hal adzim," ucap Bu Retno dan Andra berbarengan.


"Siapa Pak yang kena senjata tajam?" Senja yang mendengar keributan di luar kamarnya memutuskan untuk bangun dan bertanya ada pa gerangan yang membuat sang ayah heboh di pagi hari.


Gadis itu masih sesekali meringis sambil memegangi perutnya, sudah merupakan hal umum jika di hari pertama kedatangan tamu akan terasa sangat menyiksa untuk sebagian wanita.


"Itu-" Pak Sapto menjeda ucapannya.


"Budemu," sahut Bu Retno.


Mata Senja membola seketika, "Bude? Kok Bisa?"


.


.

__ADS_1


Bersambung


Ya bisalah Senja, ๐Ÿ˜Œ


__ADS_2