Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Jalan Berdua Kepanikan Melanda


__ADS_3

Sementara Andra dan Senja sedang asyik berpacaran, Bayu celingak celinguk diantara orang-orang yang sedang sibuk memanen lele. Ia merasa tak melihat adanya Andra. Kecurigaan mulai mememuhi ruang kepalanya saat ia pun tak melihat juga adanya Senja.


"Pada keman tuh anak berdua? Mencurigakan," gumamnya yang terdengar oleh telinganya sendiri.


Bayu kembali ke rumah dan mencari sang sahabat di segala penjuru arah, "Bulik lihat Andra sama Senja?"


Ia bertanya pada Bulik Sri yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang saat tak juga menemukan lrang yang dicarinya.


"Mereka berdua jalan-jalan kan? Tumben Mas Bayu ndak tau, biasanya kemana-mana ikut to?" heran bulik mengalihkan sebentar pandangannya dari jemuran.


"Jalan-jalan kemana katanya? Andra juga nggak bilang apa-apa sama aku,"


"Kemananya sih nggak bilang sama Bulik. Cuma tadi agak buru-buru aja Mas Andra pas ngajak Si Cenil, eh maksudnya Senja,"


"Mqu Cenil ataupun Senja sama saja orangnya kan, Bulik?"


"Iya to, masak beda,"


"Yaudah, Bayu telfon aja deh. Makasih ya, Bulik," Bayu masuk kedalam rumah.


Ia merogoh kantong celana yang terdapat ponsel miliknya, beberapa kali panggilan tak ada jawaban dari seberang sana. Bukannya khawatir, Bayu justru tersenyum senang.


"Syukur deh kalau lo emang udah bisa mengatasi semuanya sendiri, Ndra. Gue takutnya lo masih gugup aja ma Senja, tapi kayaknya udah enggak deh," ucap Bayu yang masih menatap layar ponselnya, terdapat foto Andra yang ia gunakan sebagai wallpaper pada nomor milik Andra.


"Kalau gini kan tugas gue berkurang satu, Ndra." Ponsel kembali ia masukkan ke kantong celananya.


Ia mengambil piring untuk melakukan ritual sarapannya yang tertunda karena telah merasa kenyang oleh tujuh potong pisang goreng dan secangkir kopi, ditambah setengah botol jamu yang dibelikan oleh mbah putri tadi pagi.


•••


"Bebek ya, Dek? Yang dikayuh itu?"


"Iya, emang kenapa, Mas?" Melihat raut lelah diwajah tampan sang suami membuat Senja merasa kasihan sekaligus geli.


Segitunya lelaki itu tak bisa menolak keinginan sang istri, hingga rasa lelah yang mendera setelah mendayung perahu berkeliling tadi tak ia rasakan. Sebenarnya Senja juga tak begitu serius dengan keinginannya, ia hanya mencoba mengalihkan perhatian saja dari pembahasan yang semakin memanas di cuaca yang kian panas.


"Nggak papa, ayok! Kayaknya seru juga," semangat Andra dengan menampilkan senyuman tampan sedemikian rupa.


Tangan Senja sudah di gandengnya dan diajak berlari kecil menuju tempat dimana perhau bebek terparkir.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah kembali berada diatas air dwngan perhu bebek sebgai sarananya. Setelah agak jauh dari tepian kayu, Senja berhenti mengayuh membuat Andra menoleh.


"Capek, Dek?"


"Enggak sekali,"


"Terus, kenapa berhenti?"


"Pengen aja, menikmati segarnya udara disini dengan tenang,"


Senja membuka satu botol air mineral dan meminumnya langsung hingga habis setengah, lalu menawarkan botol yang baru untuk Andra. Suaminya itu menolak dan memilih botol yanv sudah dibuka Senja yang masih tersisa setengah.


"Kenapa milih bekas Adek sih, Mas? Kan masih ada yang baru," seru Senja hendak melarang Andra meminum bekasnya, namun terlambat karena Andra dengan cepat meneguknya hingga habis.

__ADS_1


"Yang ini lebih manis, bekas kamu lebih enak tau,"


'Apalagi ini? Kenapa kamu semakin membuatku meleleh si Mas? Omaigat!' Senja kepanasan sendiri dengan kata rayuan gombal Andra.


Andra selalu menutupi kegugupannya dengan mengucapkan kata-kata yang terdengar seperti rayuan gombal, padahal itu memanglah tulus dari dalam hatinya. Kalian pasti tau kan bagaimana cintanya laki-laki itu pada Senja?


Senja tersenyum, ia menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Andra menegang, ia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan-lahan beberapa kali. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk menghilangkan rasa nervousnya.


Cuaca yang cerah menggelap secara perlahan namun pasti, awan-awan yang semula tersenyum mulai mengumpulkan air yang siap untuk ditumpahkan. Sepasang kekasih yang sedang terbuai dalam gelora cinta kini panik seketika.


Posisi perahu mereka yang agak jauh berada ditengah tidak memungkinkan jika bisa kembali ke tepi dalam waktu yang singkat. Bisa jadi mereka akan terkena guyuran air hujan sebelum mendarat.


Dan benar saja, mwskipun keduanya sudah sekuat tenaga mengayuh perhau bebek tersebut, tetap saja lebih cepat air yang jatuh membasahi bumi. Agak menakutkan karena ditambah langit yang semakin gelap. Tetesan aur yang deras terasa sangat kencang di atap perahu bebek kecil itu.


Ingin tertawa atau menangis, kencan pertama yang sejak pagi sudah berjalan mulus harus terkena sedikit ujian dengan adanya hujan, disaat mereka di tengah air pula.


Sampai di tepi, Andra melepas jaket yang semula ia lilitkan di pinggangnya untuk memayungi mereka berdua.


Senja tertawa pelan, "main hujan-hujanan yuk, Mas Ganteng,"


"Dingin Dek, ntar sakit loh!" cegah Andra pada Senja yang sudah hendak menghindar dari jaketnya.


"Enggak akan Mas! Kita nostalgia kayak jaman dulu, inget gak?"


Andra berfikir, "Nggak nggak!" tolaknya tegas.


"Mas Ganteng gak seru! Dari dulu selalu aja begitu, masih takut juga sama air hujan," Senja nekat berlari untuk menghindar dari cekalan Andra lagi.


"Dek, awaaass!!" Teriak Andra yang juga reflek melempar jaketnya ke sembarang arah saat melihat sang istri terpeleset dan hampir jatuh ke dalam air.


Grep


Dengan cepat ditarik tangan sang iatri hingga terjatuh dan menempel dalm dekapannya. Dibawah derasnya guyuran air hujan mereka saling memeluk erat disaksikan oleh sekumpulan orang yang sedang berteduh.


"Seperti adegan film India,"


"Uu, so sweet,"


"Jadi pen ikut ujan-ujan,"


"Dingin ga sih?"


"Eh, tapi angetlah, kan peluk-peluk ma ayang,"


Begitu kira-kira celoteh masing-masing netizen. Tak sedikit pula dari mereka yang mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka, memotret ataupun mengabadikan dalam video. Bahkan ada juga yang melakukan siaran langsung.


"Dilihatin orang kan, viral-viral lagi deh," Gumam Amdra masih lagi terdengar sang istri yang berada di pelukannya.


"Maaf, Adek nggak maksud,"


"Udah gak papa, cari tempat laim, yuk!"


Merasa menjadi sorotan, kedua anak muda yang sedang dilanda cinta itu pergi dari sana. Menghampiri penjual baju yang ada, memilih dan membeli pakaian apa saja yang sekiranya muat dan sopan dikenakan oleh mereka dan berlalu kedalam toilet.

__ADS_1


Tak ada penjual payung, mantel plastik pun jadi pilihan, yang terpenting bisa sedikit mengurangi tetesan air hujan yang semakin deras. Paling tidak sampai di parkiran. Sepertinya tadi ada mantel di dalam jok motor matic yang dikendarainya, pikir Andra.


Sesampainya di parkiran motor, dan beberapa menit meneliti dimana letak kendaraan tersebut berada, akhirnya sampailah keduanya pada motor milik mbah putri. Karena tak dikunci stang, petugas parkir bisa demgan mudah menyiapkan motor tersebut agar bisa dengan mudah dikendarai langsung oleh pemilik.


Belum lagi naik, Andra celingukan mencari sesuatu, ia baru menyadari setelah membutuhkan barang tersebut.


"Mas Andra nyari apaaan sih?"


"Adek inget Mas Andra tadi pakai jaket kan?"


"Iya inget, terus?"


"Jaketnya mana?"


"Bukannya tadi Mas Andra lempar pas-"


"Astagfirulloh," pekik Andra ketika menyadari sesuatu.


"Kenapa sih, Mas?"


"Kunci motornya di jaket tadi, Dek!"


"Hah?" Senja ikut terkejut mendengar penuturan sang suami.


"Lhoh, Mas Andra mau kemana?" panggil Senja sedikit berteriak saat melihat Amdra berbalik demgan terburu-buru.


"Mau cari jaket buat ambil kunci,"


Senja menepuk keningnya pelan, sepertinya Andra tak sadar sudah melempar jaketnya kemana.


"Udah gak bakal ketemu juga Mas cari,"


"Kenapa?"


"Jatohnya ke air, mending kalau kolam. Nah ini,"


"Iya juga ya," ucapnya kemudian setelah ingat kearah mana ia melempar jaketnya saat panik ingin menyelamatkan Senja tadi.


"Mas mau ngapain?" Senja sudah waspada saat melihat Andra mengeluarkan ponsel dan mencari kontak seseorang.


"Mau telfon Bay-"


Senja menghentikan pergwrakan tangan Andra yang sudah hampir memencet tombol hijau.


"Nggak nggak! Nggak ada Pak Bayu lagi untuk kali ini, kita harus bisa menyelesaikan masalah kita sendiri,"


"Terus Mas harus gimana, Dek? Mas nggak mau kamu kedinginan lama-lama, ntar kamu sakit," kecemasan melanda diri Andra.


"Segitunya kamu mikirin aku, sampai nggak mikirin diri kamu sendiri sih, Mas?"


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2