
Andra memencet bel berkali-kali namun tak mendapat respon apapun dari dalam toko Senja, padahal ia sangat yakin jika suara bel tersebut menggema di seluruh penjuru toko, bertujuan agar para karyawan dapat mendengar jika ada tamu yang berkunjung. Karena terkadang jika terlampau asyik dengan pekerjaan dan sibuk mengemas barang, dengan mengobrol dan bercanda ria maka tak akan mendengar suara panggilan dari luar meski orang itu sudah berteriak sekuat tenaga.
Ia kemudian teringat bahwa Senja pernah mengatakan jika Lala meletakkan kunci cadangan yang di bawanya di dalam pot bunga yang dilapisi rumput sintetis, yang berada di pojok pintu kaca toko tersebut. Dan benar saja, Andra menemukan kuci tersebut dan bisa masuk ke dalam. Ruangan toko yang sudah sunyi sepi dan hanya di terangi oleh lampu malam saja menyambut Andra, kemudian lelaki itu menoleh le arah lantai atas dimana kamar Senja berada.
"Dek, kamu di dalem?" tanya Andra setelah mengetuk pintu. Hening tak ada suara apapun yang tertangkap di pendengarannya. Ia mencoba membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.
Lelaki itu sangat terkejut mendapati kamar Senja yang sudah berantakan tak beraturan setelah menyalakan lampu utama ruangan tersebut. Bantal, guling dan selimut yang berserakan, lalu ia juga menemukan bingkai foto yang kacanya sudah hancur berkeping-keping. Mendadak kekhawatiran merasuki hatinya, apalagi saat ia melihat darah di salah satu pecahan kaca tersebut. Pikirannya mengembara entah kemana, yang jelas ia hanya teringat istrinya, ia hanya mampu berdoa dalam hatinya semoga sang istri baik-baik saja. Kini ia menyadari jika ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang tak jauh dari letak pigura itu.
Tok tok tok
"Kamu di dalam kan, Dek?" tanya Andra dengan resah, tak ada jawaban. "Senja, Mas tau kamu di dalem. Apa kamu mandi? kenapa nggak jawab pertanyaan Mas Andra?" Andra bertanya dengan setengah berteriak untuk memastikan Senja mendengar suaranya. Lelaki itu semakin cemas, karena hanya suara air dari shower yang terdengar beraturan, sama sekali tak ada suara lain.
"Senja, kamu bikin Mas khawatir. Kalo Mas hitung sampai 3 kamu nggak jawab, Mas buka paksa ya pintunya," Andra mulai menghitung lirih.
"Satu," tak ada pergerakan.
"Dua," Ya Allah, lindungilah istriku.
"Tiga," seru Andra. Tetap sama tak ada jawaban ataupun pergerakan dari hendle pintu seperti yang di harapkannya. Sekarang ia terpaksa membuka pintu kamar mandi tersebut, yang ternyata juga tak di kunci oleh Senja.
"Astaghfirulloh..." Betapa terkejutnya lelaki itu saat melihat kondisi istrinya yang sudah terbaring lemah di lantai kamar mandi masih dengan pakaian lengkap di bawah guyuran air shower yang deras mengalir. Tanpa pikir panjang Andra langsung mematikan shower dan meraih tubuh sang istri yang sudah dingin dan memucat.
Andra membaringkan Senja di kasur dan segera mencari handuk untuk mengeringkan tubuh istrinya itu. "Sejak kapan kamu didalam sana, Dek? kenapa kamu kayak gini?" ucap Andra yang sudah berderai air mata. Melihat keadaan Senja yang lemah, pucat dam tanpa kesadaran itu membuat memori lamanya kembali dalam ingatan. Senja kecil yang berjuang melawan sakitnya, sekarang ia harus kembali melihat orang yang sangat di cintainya itu kembali seperti keadaan yang dulu.
"Aku benar-benar suami yang nggak berguna, aku nggak bisa menjagamu, aku gagal menepati janjiku sendiri," lirihnya sambil memeluk Senja erat, "sebenarnya apa yang terjadi sampai kamu seperti ini Dek?" kekhawatiran yang mendalam membuatnya tak bisa berfikir jernih, ia mencoba menahan isaknya dan beristighfar untuk menetralkan rasa takutnya yang mendarah daging.
"Astaghfirulloh hal adzim.." di ucapkannya berulang-ulang hingga ia sedikit tenang. Kemudian ia mulai mampu memikirkan langkah awal untuk menolong kekasih halalnya tersebut. Ia mulai membuka hijab yang masih melekat di kepala Senja meski sudah tak beraturan, lalu ia membungkus rambut panjang istrinya itu dengan handuk.
__ADS_1
"Maafin Mas Andra ya Dek, Mas harus gantiin baju kamu yang basah. Disini nggak ada orang lain, dan nggak mungkin Mas ngabarin eyang tentang keadaan kamu sekarang ini," ucapnya sambil menatap wajah Senja yang pucat, bibirnya membiru karena kedinginan.
Dengan perasaan tak menentu, Andra mulai membuka kancing baju yang di kenakan oleh Senja, beruntungnya sang istri tadi memakai setelan kemeja dan celana jeans, kalau tadi Senja memakai kaos, akan susah baginya melepaskan pakaian Senja. Kemudian ia membuka celana Senja dengan tertutup selimut, walau bagaimanapun saat ini istrinya itu sedang tidak sadar, tidak mungkin ia mencurangi sang istri seperti itu. Ia tau Senja akan sangat malu jika mengetahui dirinya membuka pakaiannya dan melihat tubuhnya secara langsung.
Gleg
Ini pertama kalinya Andra melihat tubuh sang istri tanpa pakaian, meski masih ada bra yang melekat pada dada gadis tersebut.
Ya Allah, kuatkan hamba. Diri ini, hati ini, iman pada diri ini, dan... Senja lagi sakit.
Walau bagaimanapun Andra adalah lelaki normal yang baru pertama kalinya melihat secara langsung dan dekat tubuh dari lawan jenisnya, dan itu merupakan istrinya sendiri, wanita yang halal baginya untuk ia sentuh.
Ini gimana nglepasnya ya? Andra merasa bingung untuk melepas bra yang di kenakan Senja. Ia coba memiringkan tubuh gadis itu, "maaf ya Dek, maafin Mas.." ia membuka pengait bra sambil menutup mata.
Mau sampai kapan ini bakal lepas kalau gini caranya, Ndra? melek napa. Kalo pun nanti Senja marah, hadapi nanti. Yang penting dia nggak kedinginan gara-gara pake pakaian basah. Lelaki itu mensugesti dirinya sendiri.
"Jadi ini penyebab darah di kaca itu," ia pun mulai membersihkan dan mengobati luka itu dengan hati2. Ia juga meminta Bayu untuk datang kesana guna membereskan kekacauan yang ada, tidak mungkin ia memaggil orang lain disaat seperti sekarang ini yang akan menimbulkan banyak tanda tanya di benak mereka. Setidaknya Bayu bukanlah orang lain lagi baginya.
Setelah selesai mengobati luka di kaki Senja dan membalutnya dengan kasa, ia menyelimuti istrinya itu hingga sebatas leher dan mulai mengeringkan rambut Senja dengan hair dryer. Kemudian ia kembali memakaikan jilbab instan guna menutupi rambut panjang sang istri. Karena sebentar lagi Bayu akan tiba disana. Usai memastikan sang istri hangat dan nyaman dengan posisinya, ia turun ke bawah untuk mencari baju ganti dirinya yang juga basah karena menggendong Senja tadi. Disaat yang bersamaan Bayu tiba sampai di toko tersebut.
"Kenapa lo basah gitu, Bos? dari rambut, baju, celana, sepatu juga. Abis ngapain lo sama Senja? basah-basahan ya?" goda Bayu yang belum tau menau mengenai Senja.
Andra menatap Bayu malas, "lo bisa diem dulu kan? biarin gue ganti dulu dan kita sama-sama ke atas. Bayu diam dan hanya mengangguk melihat ekspresi Andra yang serius saat bicara dengannya, membuatnya paham jika situasinya sedang tidak baik-baik saja.
Wait, apa-apaan nih. Kenapa ni kamar kayak kapal pecah gini, mereka abis perang atau apa sih?
"Mending cepetan lo beresin semuanya Bay, daripada cuma bengong kayak gitu," Andra tau ekpresi Bayu yang heran dan bertanya-tanya itu. Tapi dia akan bercerita setelah tempat itu kembali rapih.
__ADS_1
"Shap," Bayu mulai merapikan tempat tersebut dengan cekatan. Sedangkan Andra mengambil foto pernikahannya yang berada di tumpukan pecahan kaca pigura, meletakkannya kembali ke atas nakas, lalu menyapu dengan teliti pecahan kaca tersebut.
"Ini juga, Bos?" Andra sedikit terkejut dengan pertanyaan Bayu yang tiba-tiba, ia menoleh sekilas dan menjawab "hem," tanpa mau melihat ekpresi Bayu yang penih arti. "Bos, lo baru-?" pertanyaan Bayu terhenti oleh tatapan heran Andra, "maksud lo apa sih Bay?" Andra baru sedikit paham dengan maksud Bayu setelah ia melihat sprei dengan bercak darah Senja.
"Taroh itu di keranjang biar gue cuci ntar," jawabnya membiarkan Bayu dengan kesalahpahamannya.
Mereka berdua kompak membereskan kamar tersebut hingga rapih seperti semula, bahkan menambahkan accesoris yang sekiranya di sukai Senja, juga mengganti pigura dan menggantungnya di dinding atas agar tak terjadi hal seperti tadi lagi. Meskipun Andra juga belum mengetahui apa penyebab Senja seperti itu, namun ia mencoba berfikir positif, ia akan sabar menunggu cerita dari istrinya.
"Bay, lo ke seberang deh, cariin kompres buat Senja, takutnya ntar dia deman. Sama makanan kalau sewaktu-waktu dia sadar, pasti dia belum makan. Abis itu kita cari tau penyebabnya, lo bisa tanya sama karyawan Senja, pasti ada yang nggak beres disini tadi."
"Oke Bos, ada lagi? mungkin kopi gitu biar kita betah melek," ujar Bayu coba menghibur sahabatnya.
"Serah lo deh, suka-suka lo. Gue mau nemenin istri gue," jawab Andra mendekat ke ranjang Senja dan ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
Bayu menatap cengo ke arahnya, dan memilih segera berlalu dari sana daripada hanya menjadi obat nyamuk bagi Andra dan Senja.
.
.
Bersambung
Semoga cepet clear ya Senja, suami kamu itu perfect. Sudah tau apapun yang kamu butuhkan tanpa kamu mengatakannya 😌.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman, likenya, favorit, komentar positifnya juga🥰.
Terimakasih🙏
__ADS_1