
Senja yang baru saja sampai di toko miliknya yang sudah lumayan lama tak di datangi olehnya. Dirinya langsung disambut oleh Lala dan karyawannya yang lain dengan gembira.
"Mbak Senjaa.... " seru Lala dan teman-temannya yang lain seraya berhamburan memeluk Senja.
"Kangen banget sama, Mbak. Mbak lama banget sih honeymoon nya?" tanya Lala nyeplos.
Tapi kemudian gadis tersebut menepuk dan menutup mulutnya saat melihat sosok yang muncul di belakang Senja, sosok tersebut mendorong troller bayi.
"Selamat pagi, Pak Andra.." sapa Lala membungkukkan badan yang diikuti oleh Rina dan lainnya
Andra hanya tersenyum tipis, setipis tisu dan mengangguk kecil sebagai balasan sapaan dari karyawan istrinya tersebut.
"Eh Pak Bayu juga, selamat pagi, Pak, " ucap sapa Lala lagi satu melihat Bayu berlari kecil menyusul Andra dengan tentengan di tangannya.
"Omo.. ini bayik siapa, lucu banget, kecil mungil, " Rina hampir saja terpekik namun tertahan karena takut membangunkan bayi mungil itu, juga desisan dari Bayu yang menginterupsi.
"Sst... kalo bayinya bangun, mau nyusuin kamu? " tegur Bayu berbisik.
Rina menunduk dan melipat bibirnya, antara takut namun ingin juga menjawab.
"Saya mana bisa nyusuin, Pak. Kan saya belum punya anak, " jawab Rina pelan yang terdengar seperti gumaman di telinga Bayu.
"Ngejawab ni bocah, " sungut Bayu.
"Bayu... " panggilan Andra yang sudah berjalan terlebih dulu membuat Bayu segera berjalan mendekati lelaki itu.
Begitu mendengar suara Rina yang hampir memekik tadi, Andra langsung kembali berjalan dan mendorong troli yang berisi bayi Lukman agar tak terbangun, karena baru saja bayi itu tertidur pulas usai dirinya dan Senja bergantian menimang nya tadi.
"Mbak kesana dulu ya, La. Bentar... kalian lanjut aja dulu kerjaan kalian tadi, " Senja pun turut menyusul Andra yang sudah terduduk di sofa ruang tamu toko milik Senja tersebut.
Lala, Rina dan Rani, satu teman mereka yang lain pun mengangguk dan kembali dengan aktifitas mereka semula, meskipun banyak tanda tanya dan hal yang ingin Lala sampaikan pada Senja terkait hal yang kemarin sempat utarakan pada Senja vita telepon namun baru versi singkatnya.
"Mas Andra mau disini dulu apa langsung ke depan? " tanya Senja begitu tiba di hadapan Andra dan turut mendaratkan dirinya di sofa sebelah Andra.
"Emm, Mas disini dulu bentar deh. Soalnya ntar kalau udah ke depan langsung mulai kerja, " Andra memposisikan dirinya bersandar di sandaran sofa, berusaha mencari kenyamanan disana.
"Adek bikinin minum dulu ya, " pamit Senja yang langsung beranjak dari duduknya yang belum genap lima menit.
"Aku juga sekalian ya, Nja," pinta Bayu, Senja mengangguk.
"Thank, Nja.. " Senja membalas dengan acungan jempol sembari berjalan menuju dapur mini di rukonya itu.
Lala yang melihat kelebat Senja berlalu ke dapur, segera menyusul bosnya itu. Ia sudah tak sabar ingin mengatakan masalah yang menurutnya sangat-sangat urgent. Hingga dirinya tak bisa lagi bernanti-nanti untuk menyampaikannya.
__ADS_1
"Mbak, " panggil Lala.
"Eh kamu, La," Senja menoleh ke arah datangnya Lala.
"Mau bikin minum juga? " tanyanya kemudian.
Lala menggeleng, "enggak, udah kok tadi, "
"Terus,? "
"Aku mau nyampein masalah yang kemarin sempet aku omongin sama Mbak Senja di telfon loh, "
"Ya ampun, La. Nggak bisa nanti dulu apa? "
"Enggak, Mbak! Ini tuh urgent banget, udah jam segini. Pasti bentar lagi tuh mbah lampir dateng, "
Senja mengernyit, "Mbah Lampir? "
"Ck, yang kemaren aku bilang, Mbak. Yang waktu itu pernah dateng bikin keributan loh, " terang Lala mengingatkan.
"Apa sih mau itu orang sebenrnya, "
Lala menoleh jam dinding bergambar sepatu hils yang menempel di dinding dapur tersebut. Jam itu memang biasanya dijadikan patokan saat istirahat agar tak lupa waktu.
"Tuh kan, udah jam setengah sepuluh, " ucap Lala panik.
"Kalau itu Mbah Lampir dateng dan bikin keributan, huh! Langsung bikin mood ancur tau gak, Mbak. Bawaannya mau nge jambak tuh orang, "
"Emang sekarang banget nih, tuh orang mau dateng? " Lala mengangguk cepat menjawab pertanyaan Senja.
"Waduh! gawat dong, " Senja ikut panik.
Gadis itu langsung mondar mandir, hingga Lala bingung dibuatnya.
"Lah.. tadi aja, Mbak santai banget kek di pantai, kenapa sekarang tiba-tiba panik gitu? " heran Lala.
"Masalahnya ada suami Mbak sama Kak Bayu disini, La. Mbak tuh nggak mau kalau sampai mereka tau masalah ini, bisa makin runyam semuanya, " terang Senja.
Lala mengerutkan kening, "bukannya malah bagus ya, Mbak. Kalau Pak Andra sama Pak Bayu tau? Biar mereka bantu urus Mbah Lampir itu, jadi itu Mbah Lampir nggak kesini-kesini lagi gangguin kita, khususnya Mbak Senja, "
"Aku nggak mau bikin Mas Andra khawatir, La. Itu cuma bakal bikin dia nggak fokus kerja nanti, " tutur Senja.
"Ya terus, sekarang gimana dong? Kan Pak Andra sama Pak Bayu disini, kalau tiba-tiba tuh Mbah Lampir dateng gimana? kan mereka juga bakal tetep tau, "
__ADS_1
"Makanya, itu yang sekarang lagi Mbak fikirin, gimana caranya bikin mereka cepet pergi dari sini, tapi nggak terkesan mengusir, " Senja kembali mondar mandir seraya berfikir.
"Siapa yang mau di usir? " kedua gadis itu terkejut mendengar pertanyaan dari seseorang yang tiba-tiba saja datang.
"Pak Bayu, "
" Kak Bayu. Kok Kak Bayu nyusul kesini, kenapa? " tanya Senja mengalihkan perhatian Bayu.
"Aku keburu haus, kelamaan nunggu minum, jadi aku susulin aja. Ternyata lagi ngerumpi, pantesan aja lama, " Bayu membuka kulkas dan mengambil satu botol minuman teh dari sana.
"E eh.. itu punya Rina, Pak, " seru Lala mencegah.
Bayu mengembalikan botol tersebut, lalu beralih pada botol lainnya.
"Yang itu punya Rani, Pak, " ucap Lala lagi ketika Bayu akan membuka tutup botol bergambar jambi biji, yang mungkin isinya jus jambu kalau belum berganti air mineral.
"Ck, kalu yang ini? " Bayu menunjuk botol bening yang berisi air berwarna putih pucat, yang ternyata adalah minuman isotonik.
"Hehe.. yang itu punya saya, Pak, " Lal menyengir dengan mengangkat tangan seperti murid hendak menjawab pertanyaan guru.
"Ck, aelah.. mau minum aja susah bener ya, " keluh Bayu.
"Nja, kamu nggak kasih uang jajan buat mereka apa? buat ngisi kulkas buat para pelanggan gitu?"
"Emm, " Senja nampak berfikir, "udah belum sih, La? " Lala menggeleng.
"Ya ampun, Nja. Jangan kikir-kikir amat napa? Laki lo nggak bakal bangkrut cuma gara-gara menuhin kulkas mini lo doang ini, " Bayu segera menepuk mulutnya, merasa keceplosan berbicara bahasa gaul pada Senja.
"Sori, Nja. Keceplosan, " Bayu mengangkat dia jari membentuk huruf V.
"Ngga papa lagi, biasa aja, "
"Yaudahlah, aku orderin makanan sama minuman noh buat menuhin kulkas ini, " Bayu menutup kulkas yang memiliki tinggi sebatas dadanya itu agak kasar, ia merasa kesal karena harus menahan minum.
Sementara Senja terlupa pada air yang di rebusnya hingga...
"Astaghfirullah, La. Airnya, " pekik Senja terkejut.
"Gosong, Mbak... "
Bayu terpingkal melihat kejadian langka tersebut, dan hal itu berhasil membuatnya melupakan kekesalan nya.
.
__ADS_1
.
Bersambung...