
Usai menerima telfon dari ayahnya, Senja mencari dimana keberadaan sang suami tercinta. Tak tau saja dia kalau yang dicari sedang tidak ada di rumah itu.
"Kak Bayu.. liat Mas Andra, gak? " tanya Senja pada Bayu saat melihat laki-laki itu melintas di hadapannya.
Bayu berhenti dan menoleh pada Senja, "Andra ya? " lelaki itu mengernyit dan tampak berfikir.
"Si Bos kemana sih? Tumben gak ngajak Senja? atau minimal ngabarin lah, masak sampe istrinya aja nggak tau dia dimana," monolog Bayu dalam hatinya.
"Kak? Kak Bayu?!" Senja menepuk-nepuk pundak Bayu menggunakan spatula yang kebetulan berada di dekatnya.
"Kok malah ngalamun sih! Tau Mas Andra dimana nggak?" tanya Senja kembali.
"Aa.. emm.. ada kok, Nja. Andra ada, " jawab Bayu tak jelas, Senja sampai bingung dibuatnya.
Meski sudah mendengarkan dengan seksama, tapi Senja tetap saja tidak tau bagaimana yang dimaksud oleh Bayu dengan jawabannya itu.
"Iya tau kalau ada, pertanyaannya sekarang, Mas Andra dimana? "
"Di.. itu, Nja. Itu loh.. emm, itu.. " jawab Bayu kembali tak jelas, entah kenapa dia enggan menjawab tidak tau pada istri bosnya itu.
Lelaki itu celingukan mencari ide bagaimana akan menjawab agar tak membuat wanita di hadapannya itu kecewa.
"Naah.. itu Andra! " seru Bayu kemudian sambil menunjuk Andra yang baru saja datang dari arah depan.
Andra mendongakkan kepalanya dengan berisyarat 'kenapa' pada Bayu.
Bayu membalas isyarat tersebut menggunakan mata dan bibirnya yang menunjuk-nunjuk Senja.
Andra menangkap maksud Bayu dan mengangguk satu kali lalu berjalan mendekat ke arah sang istri.
"Kenapa nyariin Mas Andra? " tanya Andra pada Senja.
"Ada yang mau Adek omongin sama, Mas Andra," balas Senja yang langsung menggandeng tangan Andra dan menariknya pelan, mengajak suaminya itu pergi menjauh dari Bayu.
"Duluan, Kak Bay, " Bayu mengangguk dengan menunjukkan jari telunjuk yang melingkar dengan ibu jari.
Sedangkan Andra mengangkat ponsel kearah Bayu, Lagi-lagi sebagai tanda jika Bayu harus memeriksa ponselnya. Karena ada sesuatu yang sudah Andra pertanyakan melalui benda pipih tersebut.
"Mati aku, " gumam Bayu dengan reflekmenepuk jidatnya.
Sepertinya Bayu melupakan sesuatu dari Andra karena terlalu asyik bermain dan melihat ikan baru milik mbah kakung bersama Rudi.
"Hadeeehh.. kok gue bisa lupa tugas dari bos Andra sih, gegara tuh ikan-ikan. Eh ralat, gara-gara Rudi," gerutu Bayu saat melihat kelebat Rudi.
"Segala Rudi kamu salahin Bayu, padahal kamu sendiri yang lupa gara-gara terlalu asyik mengamati ikan hiasnya mbah kakung, " sahut mbah kakung sambil lalu.
Bayu merenges memamerkan deretan giginya, tangannya menggaruk kepala yang tak gatal.
"Yaudahlah, cuss laksanakan aja tugas dari si bos sekarang, daripada ntar lupa lagi, " gumamnya sambil berlalu dari dapur pula.
Sesampainya di kamar, Andra menatap sang istri yang sudah nampak tak sabaran ingin berbicara padanya.
"Ada apa? " tanyanya lembut.
"Emm.. Mas Andra darimana? "
__ADS_1
"Dari taman, " melihat Senja yang mengernyit membuatnya sedikit merasa bersalah karena pergi tanpa pamit tadi.
"Maaf, bukannya maksud Mas gak mau pamit, tapi tadi Adek lagi sibuk telfon, jadi- " Senja menggeleng, lalu memotong perkataan Andra.
"Nggak papa, Mas.. kalau cuma ke taman juga, "
"Tapi kan, Adek jadi nyariin Mas Andra.. karena gak tau Mas dimana'kan? " balas Andra.
"Iya sih.. yaudah, berarti ntar besok lagi kalau mau kemana-mana mesti bilang dulu, meskipun lewat WA, oke? " Andra mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya.. " ucap keduanya bersamaan.
"Adek duluan aja, "
"Mas duluan aja, " ucap mereka bersamaan lagi, lalu terkekeh.
"Adek dulu deh, " pinta Andra.
"Emang, Mas Andra ngapain ke taman? Terus.. kok cuma bentar? " Senja urung menanyakan kenapa tidak mengajak dirinya, padahal dia juga sangat ingin pergi ke taman yang katanya di buat, dan di rancang oleh Angga dan Seruni dahulu.
"Lihat ular-ularnya Kak Seruni yang kemarin di pindahin ke taman, sama Kak Angga juga tadi. Tapi Kak Angga masih disana, " Senja mengangguk-angguk mendengar jawaban Andra, tapi kemudian bergidik saat ingat kelima ular besar peliharaan Seruni.
Andra duduk di samping Senja, "kenapa nyariin, Mas? Kangen ya? " goda Andra menaikkan kedua alisnya.
Senja tersipu, "itu sih selalu.. "
Kini gantian Andra yang malu dengan jawaban istrinya, walau bagaimanapun dadanya masih selalu bergetar hebat jika berdekatan apalagi saling melemparkan rayuan satu sama lain.
"Tapi ada hal penting lain yang mau Adek bahas sama Mas Andra, " lanjut Senja.
"Tadi habis Lala telfon, bapak juga telfon, katanya.. " Senja lalu menceritakan apa yang dikatakan oleh sang ayah di telepon tadi.
Pak Sapto menelpon Senja memberitahukan mulai pasal Bu Muti yang ditemukan sadar namun telah terjatuh dari ranjangnya dan harus di operasi kembali, bahkan sampai saat ini pun operasinya masih berlangsung.
Lalu dilanjutkan dengan kakak sepupunya, Ningsih yang sudah berhasil melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki melalui operasi cesar, dan sampai keadannya yang saat ini tengah koma.
Berlanjut hingga kegalauan Lukman yang bingung harus bagaimana mengurus bayinya disaat dirinya harus mengurus istri juga kedua mertuanya yang masih dirawat secara intensif di rumah sakit.
"Innalillahi WA inna ilaihi roji'un.. " gumam Andra mendengar cerita Senja.
"Terus, Adek mau gimana? " tanya Andra lagi pada siang kekasih hati.
"Kalau menurut Mas Andra gimana? "
Andra berfikir sejenak, "kalau kita cariin baby sitter aja, gimana? "
"Kalau sama baby sitter, terus mereka mau tinggal dimana? Kan rumah mereka di Semarang? "
"Rumah bapak sama ibuk? Atau, rumah eyang juga boleh, atau.. kita sewain rumah, "
"Terus Mas Andra bisa percaya sama baby sitter gitu aja? "
"Maksudnya? "
"Mas.. ini jaman udah gak bener loh. Itu buktinya Pakde Minto sama Bude Muti aja sampe di begal dan terluka parah kayak gitu, "
__ADS_1
"Ntar kalo anaknya Mb Ningsih di apa-apain sama baby sitter itu gmna? Apalagi gak ada orng lain yang jagain, ntar kalau dijual gimana?"
" Jadi itu yang jadi kekhawatirannya, "
"Yaudah.. tenang! Sekarang maunya Adek gimana? hemm? Mas ikut deh, "
"Emm.. Gimana kalau kita yang rawat sementara? Selama Mbak Ningsih masih dirawat di rumah sakit. Tapi kita pake jasa beby siter juga, tapi dibawah pengawasan kita juga, gitu, " jelas Senja.
Andra mengangguk-angguk, "Mas ikut aja kalau emang itu yang menurut Adek yang terbaik, gak papa, "
"Oke, makasih Mas Andra.. makin sayang deh.." reflek senja memeluk Andra dan mencium pipi lelaki itu.
Deg
Gadis itu berhenti saat menyadari apa yang baru saja dilakukan olehnya.
"Maaf Mas, Adek terlalu bersemangat, "
"Kenapa minta maaf? Mas Andra seneng kok, "
"Diulang-ulang terus juga.. boleh banget," ucap hati Andra girang.
Senja terkekeh pelan sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Dek, kenapa?" Andra memiringkan kepala mencari celah untuk melihat wajah Senja.
"Nggak papa, " Senja menggeleng-gelengkan kepala saat Andra mencoba membuka tangannya yang menutupi wajah.
"Hey.. kenapa sih? " Andra tertawa geli melihat tingkah istrinya.
"Duuh.. kenapa rasanya malu banget gini sih sama Mas Andra? Padahal'kan emang mau banget peluk terus.. abis Mas Andra wangi, "
Cup
Cup
Cup
Andra mengecupi tangan Senja yang masih saja menutupi wajah gadis itu.
Cup
Cup
Di hujani ciuman bertubi-tubi pada kedua punggung tangannya, lama-kelamaan Senja merasa gemas juga. Dengan cepat gadis itu membuka tangannya, dan..
Cup
Kali ini kecupan itu tepat mengenai bibir Senja. Mata keduanya membola.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..