Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
Mulai Nyaman


__ADS_3

Pagi hari yang indah kembali menyapa dua insan manusia yang tengah dimabuk asmara. Hampir semalaman mereka terjaga untuk membahas sesuatu yang dulu pernah mereka lalui mersama. Dari saat mereka berjumpa hingga keduanya terpisah oleh jarak.


Setelah sholat subuh, baru mereka terlelap. Bukan karena menghabiskan malam panas atau malam bergairah. Namun malam nostalgia yang rasanya masih belum cukup untuk mereka mengungkapkan perasaan bahagia masing-masing.


"Astaghfirulloh," Senja memekik tertahan melihat jam dinding menunjukkan jam 6. Itu artinya dirinya baru terlelap sekitar satu jam.


Tapi sadar jika ia tengah berada di kediaman nenek dari sang suami, ia bergegas membersihkan diri di kamar mandi dan buru-buru keluar setelah siap. Meskipun tak tau harus melakukan apa dan bagaimana kebiasaan di rumah tersebut, ia memilih menuju dapur dan mendapati sang bibi sedang repot menyiapkan sarapan pagi.


"Asalamu'alaikum, Bulik. Selamat pagi, ada yang bisa aku bantu?"


"Eh, waalaikumsalam, Nil. Nggak usah, kamu disitu aja temenin Bulik kalau mau, kalau nggak ya kamu boleh ngapa-ngapain aja yang lain,"


Walaupun Senja kink sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang anggun, tapi panggilan Cenil tetap melekat pada dirinya dimata orang-orang yang mengenalnya dahulu.


"Ya maksud aku, bantu-bantu doa gitu." Senja terkikik dengan omongannya sendiri.


"Emang kamu masih belum bisa maska juga, Nil?" tanya Bulik sambil memasukkan daging sapi kedalam sup.


"Bulik kan tau sendiri, kalau aku lebih memilih benerin genteng ketimbang masak,"


"Udah punya suami, masih saja seperti itu kamu," Bulik Sri geleng-geleng kepala mengetahui sisi tomboy ponakannya itu belum hilang sepenuhnya. Penampilannya saja yang terlihat lebih feminim, tapi jiwanya masih full tomboy ternyata.


"Ya alhamdulillah suami aku mau nerima apa adanya, Bulik. Bahkan boro-boro masak, mau ngupas apel aja nggak dibolehin sama eyang,"


"Eyang?" Bulik menoleh pada Senja.


"Iya, eyang. Neneknya Mas Andra yang di Jogja, yang rumahnya kita tinggalin. Eh, maksudnya aku sama Mas Andra tinggal disana gitu, sama Eyang Kumala," jelas Senja.


Bulik mengangguk-angguk mengerti, "memangnya kenapa kok sampai segitunya neneknya Mas Andra ngelarang kamu?"


Senja mengendikkan bahu, "nggak tau, katanya sih itu udah pekerjaan Mbak Asih sama Mbok Minah, kalau aku ngerjain tugas mereka, ntar mereka bakal di berhentiin sama eyang, kan kasihan, Bulik."


Lagi-lagi bulik mengangguk, "kayaknya eyangmu itu sayang banget ya sama kamu?"


"Alhamdulillah, selama ini aku kenal sama beliau sih seperti itu. Beliau orang yang sangat baik, lembut dan hangat. Nggak jauh beda sama mbah uti."


"Alhamdulillah ya, Nil. Bulik ikut seneng kamu dapat keluarga yang baik dan sayang sama kamu,"


"Iya, Bulik."


"Suami kamu juga ganteng, baik, dan kelihatan sayang banget sama kamu," Bulik menggoda Senja yang mulai merona kala teringat suaminya.


"Emm, itu aku juga nggak nyangka sih bisa dapet suami seganteng dan sebaik Mas Andra. Dia terlalu sempurna buat aku, Bulik."


"Ekhem.. pada ngomongin apa, nih?"


Tiba-tiba suara yang sangat Senja kenal terdengar di telinga. Senja menoleh dan melihat suaminya tengah bersandar pada dinding sambil bersedekap.


"Mas Andra, udah lama disana?" Basa basi Senja menutupi rasa terkejutnya.


"Lumayan, sejak kamu bilang nggak nyangka bisa dapet suami kayak Mas Andra, gitu."


"Mas Andra ih.."


"Kenapa? Lagian Mas Andra lagi yang paling beruntung dapat istri sesempurna kamu," ucapan disertai senyuman Andra yang menawan selalu berhasil membuat Senja berdebar tak karuan.


"Mas, jangan bikin Adek terbang pagi-pagi dong! Belum sarapan nih, tapi udah kenyang," pipi Senja semakin merona mendapat pujian dari sang suami.


Andra mencubit gemas pipi Senja yang merona itu, "nggak perlu masak dong kalau kamu udah kenyang sarapan ucaoan dari Mas,"


"Dasar ih, Mas Andra gitu ya sekarang,"


"Yaudah enggak, Mas Andra serius kok dengan ucapan Mas. Mas sangat beruntung bisa nikah sama kamu,"

__ADS_1


"Beruntung dari mana, masak aja nggak bisa lho istrimu itu, Mas." Bukan lagi Senja yang menjawab, tapi Bulik Sri yang sedari tadi ikut tersenyum melihat interaksi kedua pasutri yang saling melempar pujian itu ikut menggoda mereka.


"Nggak papa, Bulik. Kan Andra cari istri, bukan cari tukang masak." Jawab Andra enteng seraya mendudukkan diri di kursi yang ada disana.


Bulik tertawa senang mendengar jawaban Andra, sedangkan Senja sudah berbunga-bunga.


"Oh ya? terus yang masakin kamu siapa dong kalau istrimu nggak bisa masak?" Belum menyerah, Bulik Sri kembali melontarkan pertanyaan.


"Kalau disini, ada Bulik Sri. Kalau di Jogja, ada Mbak Asih sama Mbok Minah."


"Kalau nggak ada kami semua?"


"Bisa beli, timbang soal makan aja nggak jadi masalah buat Andra, Bulik."


"Kalau nggak ada yang jual?"


"Jaman sekarang yang jual makanan tiap meter ada Bulik di pinggir jalan, di restoran, warung makan, cafe dan masih banyak lagi. Tapi kalau emang bener-bener nggak ada, Andra bisa masak kok buat kita berdua."


Dalam hati Bulik Sri tak hentinya memuji kesungguhan cinta dari suami keponakannya itu, ternyata ada laki-laki yang mau menerima gadis seperti Senja yang notabene jauh dari kata sempurna itu dengan apa adanya.


"Mas Andra bisa masak?" Sahut Senja.


"Kamu lupa?"


Senja mengernyit, "maksud, Mas?"


"Kan dulu terakhir Mas Andra dateng kesini, pas kamu belum pindah. Mas pernah masak buat kamu?"


Senja tampak mengingat-ingat, "benar juga, waktu itu Mas masak mie 'kan, ya?"


Andra menghela nafas, "itu spaghetti, Dek. Bukan mie,"


"Oouh, sama-sama mie'lah. Bedanya kriting sama nggak doang," balas Senja sembari mengaduk lemon hangat untuk sang suami.


Andra dibuat geleng-geleng kepala oleh tingkah laku sang istri. Ternyata setelah ia lebih terbuka pada Senja, istrinya tersebut kini bersikap lebih natural dan lebih nyaman ia rasa terhadap dirinya. Ia merasa Senjanya yang dulu telah kembali.


Tidak seperti saat awal-awal mereka menikah, Senja merasa sangat canggung untuk bersikap kepadanya. Bicara pun hanya seperlunya, seolah mereka baru saja kenal.


"Terimakasih istriku, hangat dan segar kayak kamu,"


"Apanya?"


Andra mengangkat cangkir di tangan kanannya, "ini loh,"


"Oh, kirain.."


"Apa?"


"Apa hayo, pagi-pagi udah bahas yang hangat-hangat aja mentang-mentang penganten baru," sahut Bayu yang baru saja datang.


"Ini Mas Bayu yang hangat, pisang goreng bikinan Bulek," jawab Bulik sembari menuangkan pisang kedalam piring.


Mata Bayu berbinar, "waah, cocok nih Bulik. Apalagi ada kopi hitam yang menemani, tambah nikmat pasti," lelaki itu menaik turunkan alisnya menatap Bulik Sri dan Senja bergantian.


"Modus lo! Bilang aja minta dibikinin kopi!" Sambar Andra.


"Emang," jawab Bayu enteng.


"Makannya nikah! Biar ada yang bikinin minum tiap pagi,"


"Belum waktunya," sahut lelaki yang tengah asyik mengunyah pisang goreng itu hingga memenuhi mulutnya.


"Nih! Kopi hitamnya, Pak Bayu," Senja menyodorkan secangkir kopi dengan uap mengepul ke hadapan Bayu.

__ADS_1


Namun saat Bayu hendak mengambilnya tangannya menggantung karena ada seseorang yang sudah lebih dulu mengambil cangkirnya.


"Loh loh, itu kopi gu- e," ucapan Bayu terjeda saat mengetahui milik siapa tangan yang telah mendahuluinya itu.


"Mbah Kung, itu kopi Bayu! Mbah Kung bisa minta Senja buat bikinin sendiri,"


Tanpa memperdulikan ocehan Bayu, lelaki tua yang masih tampak bugar itu menghirup aroma kopi hitam di tangannya, ia tersenyum dan dengan sangat hati-hati mulai menyesap kopi tersebut.


"Hmm, mantab seperti bikinan mbah putri. Sangat pas rasanya," puji mbah kakung membuat Senja tersenyum malu.


"Nih, Mbah balikin. Nyicip saja pelit kamu!" Mbah kung kembali meletakkan kopi yang hanya diseruputnya tersebut pada Bayu.


"Itu udah bekas Mbah Kung," gerutu Bayu namun tetap meminumnya karena yakin kakek dari sahabatnya itu tak memiliki riwayat penyakit menular.


"Gedumelan tetep aja diminum juga," gumam Amdra melirik Bayu disampingnya.


"Mbah biar dibikinin yang spesial sama menantu ayu Mbah Kung ini,"


"Namanya Senja Amalia, Kung. Bukan Ayu!" Masih sempat-sempatnya Bayu menyahuti ucapan Mbah Kakung saat mulutnya kembali penuh dengan potongan pisang goreng kedua.


"Mbah tau, maksudnya cucu perempuan Mbah ini cantik, berparas ayu begitu,"


Mendapat omelan mbah kakung, Bayu hanya nyengir dan terus melanjutkan aksi makannya dengan lahap. Pasalnya pisang goreng memang makanan kesukaannya, katanya mengingatkannya pada almarhumah sang ibu tercinta.


Saat semuanya sedang asyik menikmati minuman masing-masing dengan pisang goreng hangat hasil karya Bulim Sri. Mbah putri datang dengan Rudi yang mengekor di belakangnya sambil membawa dua keranjang belanjaan yang penuh.


"Mbah Uti dari pasar?" Andra bertanya pada sang nenek saat wanita tua yang masih terlihat ayu itu duduk di kursi berhadapan dengannya.


"Iya."


"Kok nggak ngajak Andra sih, Uti?"


"Emang kamu mau ngapain ke pasar? Yang ada nanti kamu alergi lagi kena cipratan air becek di pasar, belum lagi kalau bau ikan, ayam, daging,"


"Iya juga sih," balas Andra menggaruk kepala belakangnya meskipun tak gatal.


"Ya kan anak mami, mana bisa dia ke pasar, Uti. Makannya dia bikin supermarket yang bersih dan higienis," sindir Bayu.


"Gue anak bunda, bukan anak mami. Lagian kamu juga seneng kan ngelola supermarket, coba kalau lo gue suruh kelola pasar, mau lo?"


Bayu nampak berfikir, ia menggeleng lengkap dengam cengiran kudanya.


"Sok-sok'an ngatain gue, lo!"


"Sudah-sudah, kalian ini sama saja! Cuma Cenil yang tahan banting disini, ya kan, Nil?"


"Pasti, Uti," jawab Senja cepat.


"Tuh, nggak malu sama yang perempuan. Laki-laki kok takut kotor,"


Bayu Ingin kembali menjawab perkataan mbah putri, namun urung karena merasa ucapan neneknya itu benar adanya.


"Ini, Mbah Uti beli jamu buat kalian bertiga. Mbah sudah suruh penjualnya kasih nama masing-masing biar nggak keliru,"


Ketiga anak muda itu saling pandang. Jamu apa itu, kenapa sampai takut tertukar?


.


.


Emang jamu apa, Uti?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2