
...Selamat membacaš¤...
......................
Tanpa disadari oleh Senja maupun eyang. Ada sepasang mata memperhatikan mereka dari arah tangga. Senyumnya mengembang sempurna, dia merasa sangat bahagia memandangi dua orang yang dikasihinya terlihat begitu akrab dan saling menyayangi. Meskipun dia tak mendengar apa yang dibicarakan, tapi dia yakin itu adalah suatu hal yang menyenangkan karena sudah terlihat dari tawa keduanya.
"Mas Andra tumben pulang sendiri? Mas Bayu ndak ikut to?" Teguran dari Mbak Asih hanya dijawab dengan anggukan oleh Andra. Kepalanya tak berpaling sedikitpun dari Senja dan eyang. Juga senyum yang masih tersungging di bibirnya membuat Mbak Asih ikut menengok kearah objek yang sejak tadi dipandangi Andra.
Ya! Sepasang mata itu adalah milik Andra, berarti Andra sekarang sedang berada dirumah neneknya atau bisa disebut rumahnya juga.
"Oh. . Lagi lihatin ndoro sama Mbak Senja to Mas? Mereka memang akrab begitu. Sejak Ndoro bertemu dengan Mbak Senja beberapa tahun lalu, Ndoro jadi terlihat lebih bugar, sumringah dan bersemangat, makan juga lahap. Asalkan dari sayuran yang ditanam dari keluarganya Mbak Senja." Ucapan dari mbak Asih sontak membuat Andra menoleh.
Ia mengangkat kedua alisnya.
"Sampai segitunya eyang sama Senja?" Gumamnya.
"Eh, bentar. . Bentar. .Beberapa tahun yang lalu, Mbak? Berarti mereka udah kenal lama? Dan Senja udah sering kesini? Kenapa aku gak pernah tau ya." tlTanya Andra bertubi-tubi.
Mbak Asih tertawa pelan dan segera menutup mulutnya, mendengar pertanyaan Andra yang terdengar sangat tertarik dengan hal tersebut. Pasalnya baru kali ini ia melihat anak yang sudah diasuhnya sejak kecil bersikap seperti itu, dia yang biasa cuek dan kaku bisa sesemangat itu menanyakan tentang perempuan.
"Ya gimana bisa tau to Mas! Wong Mas Andra saja tinggal di Jakarta dan baru kembali setahun ini kok. Lagipula pas sudah disini saja Mas Andra juga jarang ada dirumah to?" Mbak Asih menjelaskan.
"Hehe . . Iya juga ya." Andra menggaruk kepalanya yang masih bertopi.
"Kenapa Mas Andra kelihatan seneng banget begitu? Mbak Asih tahu nih! Mas Andra naksir ya sama Mbak Senja? Hayo ngaku. ." Goda mbak Asih.
__ADS_1
"Mbak Asih apaan coba. ." Andra berusaha untuk mengelak
"Mas Andra itu ndak bisa bohongin Embak! Mbak sudah kenal Mas Andra sejak masih TK lho! Sampek sekarang sudah mau naksir sama cewek."
"Terserah Embak ajalah! Do'ain aja yang terbaik, oke? Aku mau keatas dulu Mbak, mau mandi. Mbak bikinin makanan kuah yang panas dan pedes dong! Kayaknya enak tuh dingin-dingin gini makan yang panas-panas." Pinta Andra.
"Shiyap Mas Andra. .Laksanakan!" Balas mbak Asih sembari hormat dan segera menuju dapur.
Andra baru saja akan beranjak dari tangga, tetapi eyang sudah lenih dulu berjalan ke arahnya. Ia segera berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas itu. Baru saja ia membuka pintu kamar hendak masuk, tiba-tiba ada yang nenarik daun telinganya. Ekor matanya menangkap siluet seseorang yang sangat dihormatinya.
"Ampun Eyang. .ampuuun." Teriaknya meringis.
Eyang melepaskan jewerannya. "Dasar anak nakal! Kenapa pura-pura nggak kenal sama Eyang?"
"Kalau memang bukan pura-pura nggak kenal sama eyang, terus kenapa kamu ndak nyapa eyang daritadi pas baru saja sampai? Malahan Senja juga nggak tau nama kamu, ada apa sebenarnya, Le?" Ucap eyang geregetan.
"Ceritanya panjang eyang. .
Andra gerah nih! Biarin Andra mandi dulu deh, besok kapan-kapan Andra ceritain semuanya sama eyang. Ya eyangku yang paling cantik. ." Rayunya.
"Enak aja kapan-kapan! Ceritain sekarang juga!" Eyang segra menahan lengan Andra yang sudah mau berlalu ke kamar mandi.
"Kalau sekarang, kasihan itu Senja Eyang tinggal sendirian."
"Oh. . Iyo yo? Yowes nak ngono. (Yaudah kalau negitu). Berarti kamu nginep disini terus nanti cerita semuanya sama Eyang!"
__ADS_1
"Lhoh?! Kalau Andra nginep disini terus Senja pulangnya bagaimana dong?"
"Senja nanti biar diantar sama si Santo!" Tegas eyang
"Enggak! Nggak boleh! Andra nvgak setuju, Andra nggak rela!" Penolakan Andra telak tidak dapat diganggu gugat.
Eyang kaget dengan penolakan Andra, baru kali ini cucunya bersikap posesif seperti itu selain pada dirinya juga ibunya. Apalagi itu seorang wanita. Eyang jadi merasa curiga pada Andra.
"Kenapa aku bisa tidak tahu apa-apa mengenai cuxu kesayanganku ini? Aku harus mencari tau segera." Ucap eyang dalam hati.
.
.
Lanjut yuuukš
Mohon dukungannyaš
Kritik juga saran. .
Likeš
Favoritā¤
Terimakasihš
__ADS_1