Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 76. Ngunduh Mantu


__ADS_3

...Selamat membaca😊...


...----------------...


Setelah empat hari berada di rumah orang tua Senja dengan segala macam keunikan, ksederhanaan, keseruan dan keramah tamahan. Kini pada hari Rabu wage, pas sepasaran atau hari kelima pernikahan Andra dengan Senja, kedua pengantin itu beserta pengombyong / pengiring yang meliputi seluruh keluarga besar, kerabat beserta tetangga terdekat Senja menuju kediaman eyang Kumala, dimana disana akan dilaksanakan acara ngunduh mantu untuk menyambut Senja sebagai anggota baru dalam keluarga besar eyang Kumala.


Setibanya di kediaman eyang, rombongan Senja di sambut dengan Ghending Boyong Pengantin. Sebuah dekorasi indah nan menyejukkan mata tersaji di halaman luas rumah eyang, acara kali ini memang di lakukan di luar rumah agar berbeda dengan suasana yang sebelumnya. Juga sebagai bentuk rasa begitu mereka menyayangi Senja hingga menghadiahkan pesta bertema outdoor yang di yakini sangat disukai Senja dan membuat gadis itu merasa nyaman.


Dan benar saja, ketika gadis tersebut baru saja turun dari mobil dengan di sambut uluran tangan sang suami, netra hitamnya langung menatap takjub dekorasi di hadapannya. Senyum indah mengembang dengan sempurna di bibir yang terpoles pipstik berwarna soft pink tersebut. Andra yang hanya berfokus pada sang istri, seketika ikut tersenyum dan terpesona melihat wajah yang kian cantik dengan senyum sempurna itu.


Begitu bahagianya kamu hanya dengan sesuatu yang sederhana. Sungguh kau wanita luar biasa yang telah Tuhan anugerahkan untukku Senja.


Memang acara itu lebih sederhana bahkan sangat sederhana jika di bandingkan dengan acara pertunangan mereka 2 bulan yang lalu. Tetapi justru Andra melihat Senja yang begitu sangat nyaman dan menikmati serangkaian acara yang berlangsung saat ini, daripada saat hari pertunangan mereka. Manakala Senja terlihat sangat menjaga diri, canggung dan kaku waktu itu.


Aku sangat tau, kamu memang bukan gadis yang menyukai kemewahan. Kamu menyukai kesederhanaan, apalagi yang berbau alam. Akan ku lakukan apapun yang aku bisa untuk mempertahankan senyum tulus dan indah di wajahmu itu, Senja.


Andra terus mengagumi sosok yang nerada di sampingnya sampai tak memperhatikan acara yang sedang langsung, mulai dari saat Imbal Wicara atau dialog dari perwakilan keluarga Senja kepada pihak keluarga Andra dengan maksud menyerahkan Senja kepada keluarga tersebut. Hingga sebuah tepukan mendarat di pahanya barulah ia tersadar dan mengerjapkan mata. Ternyata bukan hanya satu kali, melainkan sudah ketiga kalinya Senja menepuk paha Andra dengan frekuensi yang berbeda. Karena ayah Herman akan memberikan mereka dua cangkir air minum yang akan di minumkan oleh kedua orang tua Andra secara bergantian kepada kedua mempelai. Unjukan tirto wening begitulah istilah yang di gunakan untuk acara satu ini.


Tujuannya sendiri ditujukan sebagai lambang kasih sayang orang tua. Dan air sendiri sebagai simbol dan harapan prang tua agar kedua pengantin kelak selalu diberikan kejernihan dalam berfikir dan memutuskan sesuatu, seperti beningnya air yang mereka minum.


Kemudian masuk ke acara berikutnya, yaitu Sindur binayang. Ayah Herman menyampirkan sebuah kain sindur di pundak kedua mempelai, sambil memegang ujung kain, sang ayah kemudian menuntun keduanya hingga duduk di pelaminan. Ayah Herman berjalan di bagian depan barisan, dengan diikuti oleh kedua pengantin. Kemudian bunda Ratih berjalan di belakangnya dengan memegang pundak kedua pengantin tersebut. Prosesi ini diikuti oleh Gending ketawang boyong basuki atau pelog barang.


Begitu tiba di pelaminan, kedua pengantin tersebut beserta para orang tua berdiri sejajar sambil menyaksikan tari gembyong. Kemudian sebelum duduk di pelaminan, kedua mempelai harus melakukan proses sungkeman.


Acara selanjutnya setelah kedua pengantin berada di pelaminan adalah penyambutan atau ucapan terimakasih dari pihak keluarga Andra. Dilanjutkan dengan tausiyah dan doa oleh pak ustadz. Kemudian acara di tutup dengan sesi foto dan makan-makan.


Acara berlangsung dengan khidmat dan lancar. Rombongan keluarga Senja pamit untuk kembali ke rumah setelah memberikan pesan-pesan kepada Andra dan Senja. Entah kenapa air mata mengalir begitu saja melepas keluarga besarnya, suasana haru meliputi.


Setelah rombongan keluarga Senja meninggalkan kediaman eyang, Andra membawa Senja ke kamarnya setelah eyang menyuruh mereka untuk beristirahat. Dengan pelan Andra membimbing Senja menaiki tangga menuju lantai atas dimana ada kamar Andra yang sekarang menjadi kamar mereka berdua. Tiba-tiba Bayu datang dan meraih kain kebaya Senja yang menjuntai panjang ke bawah. Kedua orang tersebut kompak menoleh dan mendapati wajah polos tak berdosa milik Bayu yang di tangannya terdapat untaian kebaya Senja. Sontak Andra memelototkan matanya pada sahabatnya itu.


"Santuy Bos.. gue'kan cuma bermaksud bantuin aja. Itu berat terus ribet banget loh Senja jalannya," ucap Bayu yang dirasa memang benar oleh Andra.

__ADS_1


"Yaudah sini biar gue yang pegang," Andra menyahut untaian kebaya Senja dari Bayu. Senja menggelengkan kepala melihat kejadian tersebut, hal sepele aja di bikin ribet, pikirnya.


Senja melenggang begitu saja tanpa memedulikan kedua lelaki itu, ia merasa badannya lelah dan lengket setelah hampir seharian memakai kebaya berat, sepatu highhills dan hiasan kepala yang lumayan berat dan menjubel di jilbabnya. Meski baru pertama kalinya ia melangkahkan kaki di lantai atas rumah tersebut, Senja dapat mengenali yang mana kamar Andra. Karena di daun pintunya terdapat tulisan-tulisan ucapan selamat yang terbuat dari untaian bunga beserta nama mereka berdua. Juga beberapa hiasan hang lainnya.


Gadis itu tertawa kecil membaca setiap tulisan yang ada disana. Mulai dari Happy wedding, selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga samawa, beserta banyak ucapan dan doa untuk keduanya. Foto-foto pernikahannya dengan Andra juga ada beberapa yang sudah terpampang hampir memenuhi dinding sepanjang kamar yang ada di lantai dua tersebut. Senja berbalik dan menatap bertanya pada Andra yang sudah berada di belakangnya sejak tadi ia membaca tulisan di daun pintu dengan senyum yang terus tersungging.


Senja mengarahkan ibu jarinya pada pintu tersebut, bermaksud bertanya apakah itu benar kamar mereka. Andra menganggukkan kepala, kemudian tangannya meraih hendel pintu yang kini sudah bercat salem itu. Ia membuka dengan pelan pintu tersebut, hingga mulai tercium semerbak bunga mawar tampaklah pemandangan yang ada di dalamnya. Nuansa romantis terpampang nyata, jutaan kelopak mawah pink bertaburan di seluruh kamar, dekorasi kamar pengantin yang sangat indah membuat Senja terpaku di tempat.



Rangkaian bunga melati yang membentuk inisial nama mereka terpajang di sebelah kanan kamar. Senjq tak habis pikir dengan ide yang keluarga itu punya. Semua itu sungguh melebihi ekspektasinya.


"Kamu suka?" kalimat pertanyaan yang terlontar dari Andra membuatnya mengerjap dan dengan antusia menganggukkan kepala. Apa saja yang bertema tanaman, bunga-bungaan, memanglah disukai oleh Senja. Meskipun dia tomboy, namun semenjak berkiprah di dunia pertanaman dan menjadikan sumber penghasilan bagi keluarganya, gadis itu mulai menyukai hal baru tersebut. Meski memang sejak kecil ia sudah terbiasa dengan istilah bercocok tanam.


Senja menghambur kedalam pelukan Andra, "makasih banyak ya Mas.."


Andra menyambut pelukan tiba-tiba itu dengan senang hati, namun tak dapat di pungkiri jika jantungnya mulai berdebar tak normal setiap kali melakukan kontak fisik dengan Senja.


"Maaf Dek, Mas Andra masih belum terbiasa.." ucap Anda diliputi rasa bersalah.


Melihat raut wajah Andra yang sedih, Senja tak tega untuk berpura-pura kesal lagi.


"Nggak papa Mas. Nggak usah minta maaf terus, kan Mas Andra nggak salah," ujar gadis itu tersenyum. "Senja bahagia banget punya suami kayak Mas Andra," lanjutnya sambil berjalan ke arah pintu kaca yang terhubung dengan balkon kamar tersebut. Sebelumnya ia melepaskan dulu sepatu hills setinggi 10cm yang sejak pagi di kenakannya, dan meninggalkannya begitu saja.


Andra meriah sepatu itu dan meminggirkannya agar tidak terinjak nantinya, kemudian ia mengikuti langkah Senja.


"Disini pemandangannya indah ya Mas, halaman depan dan samping kelihatan," ujarnya tanpa membuka pintu.


Andra mengangguk membenarkan, lalu bermaksud untuk membuka pintu agar Senja bisa lebih leluasa menikmati lemandangan, tapi Senja mencegahnya.


"Jangan di buka dulu Mas, Senja mau nglepasin ini semua dulu terus mandi, udah gerah banget daritadi." Cegahnya sambil memulai membuka kebaya bagian bawahnya.

__ADS_1


Mendengar kata melepas dan mandi membuat Andra menelan ludah kasar. Tubuhnya menegang dan mulai gemetar, keringat dingin perlahan bermunculan.


Aku harus segera periksa, sepertinya aku memang nggak sehat.


"Mas Andra.. bisa tolongin nggak?" panggilan Senja yang kesekian kalinya membuatnya tersadar.


"Y-ya Dek, apa yang bisa Mas bantu?" jawab Andra sambil berjalan mendekati Senja yang kini sudah duduk di depan meja rias.


"Tolong lepasin semua hiasan di kepalaku ini, rasanya berat banget," Senja menunjuk mahkota di sertai rangkaian bunga yang bertengger di kepalanya.


Dengan telaten Andra membantu melepas satu persatu benda yang menghiasi hijab di kepala Senja. Hingga terakhir Senja melepaskan hijab serta dalaman hijab yang di pakainya. Kini gadis itu mulai mencoba meraih kacing belakamg hijabnya yang berjajar banyak, Andra terpaku di tempat. Sampai lagi-lagi Senja harus memanggilnya dulu agar laki-laki itu membantunya.


Tangan gemetar di sertai peluh yang bercucuran, Andra mengeluarkan satu demi satu kancing bulat dari lubangnya. Tanpa disadari, lelaki itu menghitungnya hingga mencapai angka 30 dan mengenai punggung bawah Senja.


"U-udah D-dek,"


"Makasih ya Mas.." Senja tersenyum geli melihat ekspresi suaminya dari kaca di hadapannya.


Kemudian Senja meraih lengan kebaya yang dikenakannya dan mulai melepaskan secara perlahan. Belum juga kebaya tersebut terbuka dengan sempurna, ia sudah tertawa melihat sang suami yang sudah terduduk lemas di lantai. Entah bagaimana ceritanya sampai sauami tampannya itu bisa berada disana.


Ya Allah, kuatkan hamba..


.


.


Bersambung..


Apa maksudnya Mas? Memangnya Mamas mau ngapain?


Tolong tinggalkan jejak kalian ya, meski sekedar like atau komentar, itu sudah membuat Hafsa bersemangat menulis.

__ADS_1


Terimakasih🙏🥰


__ADS_2