Pengagum Rahasia Senja

Pengagum Rahasia Senja
PRS 42. Kecurigaan Andra


__ADS_3

...Selamat Membaca🤗...


...----------------...


Lelaki yang belum di ketahui namanya itu menatap ke sekeliling ruangan kerja atau toko Senja. Ia melihat ada banyak bingkai foto yang menunjukkan foto-foto Senja dengan berbagi gaya dan style, itu adalah foto untuk promosi juga. Karena Senja tak memiliki budget yang mencukupi untuk menyewa model, atau takut di denda jika menggunakan foto artis/model ternama untuk produknya tanpa izin, jadi ia memutuskan menjadi model bagi produk yang di jualnya sendiri.


Tidak terlalu cantik, tapi manis dan menarik. Pikir lelaki itu.


Senja turun dengan Lala dari lantai atas untuk menemui tamunya itu, Senja mengangguk dan tersenyum ramah ketika sudah sampai di hadapan pria tadi. Lelaki itu berdiri saat melihat kedatangan Senja, tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya, tetapi Senja menangkupkan kedua tangannya di depan dada, " Saya Senja, pemilik toko ini, dengan Bapak siapa?" bukan bermaksud sok alim, hanya saja semenjak ia memutuskan untuk hijrah, ia banyak mengurangi kontak fisik dengan lelaki yang bukan muhrimnya.


Si pria menarik kembali uluran tangannya dan ikut menangkupkan kedua tangan di depan dada seperti yang Senja lakukan. Senyum tipis tadi berubah menjadi senyum lebar, jadi ini yang bikin lo suka sama ini cewek. Gumamnya dalam hati. " Saya Angga," pria tadi memperkenalkan dirinya.


"Baik Pak Angga, silahkan duduk.." Senja lebih dulu duduk yang lalu diikuti oleh Angga, "Ada yang bisa kami bantu, Pak Angga?" lanjut Senja setelah mereka sudah saling duduk berhadapan.


Sangat ramah, senyumnya memang menarik. Sebenarnya apa yang membuat gadis ini terlihat begitu menarik, batin Angga.


"Begini Bu Senja," Senja mengernyitkan kening mendengar panggilan itu di tujukan padanya, pasalnya baru kali ini ia di panggil dengan sebutan bu. "Saya kemari ingin mencari satu set perlengakapan hadiah pernikahan untuk adik saya."


"Bapak mau hadih berupa apa ya?" belum Angga menjawab, Lala datang dengan membawa dua gelas teh hangat dan menghidangkannya di meja untuk Senja dan Angga. "Makasih La, kamu bisa mulai cek pesanan yang masuk ya.. ntar Mbak nyusul," Lala mengangguk dan berlalu dari hadapan keduanya, matanya sempat melirik ke arah Angga sebelum dia benar-benar pergi darisana.


"Silahkan di minum, Pak!" Senja mengambil teh di meja depannya dan meminumnya sedikit, Angga melakukan hal yang sama lalu menjawab pertanyaan Senja tadi. " Saya mau paket komplit," ucapnya to the poin.


Senja menautkan kedua alisnya, bingung dengan jawaban Angga yang terdengar ambigu, memangnya pesan bakso apa. "Maaf Pak, bisa di jelaskan maksud dari komplit itu?"


"Saya mau satu set perlengkapan tempa tidur seperi yang di depan tadi lengkap, satu set peralatan dapur seperti contohnya juga lengkap, dan satu set taman buatan seperti yang saya lihat di depan tadi lengkap." Angga menjelaskan detail pesanannya, Senja melongo tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya itu. Seumur dia membuka toko, baru kali ini ada konsumen yang memborong banyak sekali barang sekaligus. Bahkan eyang saja kalah saing sekarang.

__ADS_1


"Leng..kap, Pak?" tanya Senja terbata, Angga mengangguk mantab. Senja tak dapat menyembunyikan keterkejutannya, Mimpi apa aku semalam? kemarin di belanjain Mas Andra banyak banget, dan hari ini aku dapet orderan banyak banget juga. Bentar, kenapa wajah Pak Angga agak mirip sama Andra ya?


"Bu Senja, bagaimana?" Senja segera mengerjapkan matanya mencoba menyadarkan diri, "Ah.. iya Pak Angga, insyaallah akan saya siapkan."


"Terimakasih.."


"Apa Pak Angga menargetkan waktu untuk pesanan Bapak?" Senja mencatat pesanan Angga pada tablet yang biasa digunakannya sebagai catatan orderan para pelanggan. Angga nampak berfikir sejenak, "sepertinya tidak," lalu menjawab dengan singkat. Karena pernikahannya saja belum ditentukan, tapi aku akan membuatnya segera terjadi. Batin Angga. Tanpa sadar tersungging senyum penuh arti dari bibirnya. Senja menatap bingung Angga, apa yang membuatnya tersenyum seperti itu? apa ada yang aneh dariku?


"Kalau begitu, saya permisi dulu Bu Senja. Terimakasih atas kerjasamanya," Angga berdiri dan menganggukkan kepalanya, " Oh iya, untuk pembayaran saya akan segera mentrasfernya, Permisi.." ia segera akan berbalik badan. " Sama-sama Pak Angga, tapi masalah pembayarannya bisa nanti saja setelah barang pesanan Bapak di kirim ke alamat Bapak."


"Ah, iya. Saya hampir lupa, alamat Bapak dimana ya?" Angga tersnyum lalu memberitahukan alamat yang sangat Senja kenal bahkan hafal, "Itu kan alamat eyang, siapa pria ini? Apa cucu eyang juga? terus siapa adiknya yang mau nikah itu?" begitu banyak tanya di dalam benak Senja, tapi ia tak sampai hati untuk menanyakannya pada pria yang baru saja di jumpainya itu. "Baik Pak, saya akan segera memproses pesanan Bapak. Terimakasih atas kunjungan Anda di toko kami," Senja kembali menangkupkan kedua tangannya seraya membungkukkan badan. Angga hanya tersenyum mengangguk dan berjalan keluar.


Saat keluar dari toko Senja, senyum lebar tersungging di wajah Angga, ia bersiul dan berjalan santai menuju kendaraannya. Tanpa ia sadari, Andra melihatnya dari kamarnya yang berada di lantai atas seberang toko Senja. "Kok, cowok itu kayak Kak Angga ya.. bener gak sih?" gumam Andra, "Kenapa eyang gak kasih kabar apa-apa kalau Kak Angga dateng? terus kenapa coba dia ke tokonya Senja? " Andra galau memikirkan hal itu, ia segera menghubungi asistennya yang serba tau.


Hosh.. hosh.. hosh..


Bayu ngos-ngosan tiba di kamar Andra karena dia berlari dengan cepat menaiki tangga untuk menuju kesana. Andra yang kaget mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar segera berbalik ke arah pintu tersebut, dilihatnya Bayu yang menenteng keranjang belanja sedang membungkuk mengatur nafas. "Lo kenapa, Bay? abis belanja kenapa sama keranjangnya lo bawa?" tanya Andra polos tanpa dosa.


Bayu menatap Andra sinis. " Lo gak nyadar kenapa gue kayak gini?" ketus Bayu seraya meletakkan kernjangnya pada meja lalu merebahkan badannya di sofa panjang.


Andra mengambil minuman dingin yang ada pada keranjang tersebut, membukanya lalu menyerahkannya pada Bayu. Bayu menyambarnya cepat dan segera meminumnya, " bisa gak kalau nyuruh orang gak usah pakek kata cepet? bikin gue panik tau gak, kirain lo kenapa-kenapa." Omelnya setelah meneguk setengah minuman dalam botol tadi. Andra tertawa singkat mendengar omelan Bayu, " sorry Bro.. " menepuk pundak Bayu pelan.


"Ada hal penting apa sampe nelpon gue kayak gitu? belum juga setengah jam gue turun, udah kangen aja lo." Andra menatap malas Bayu, "waras lo!" ucapnya kemudian.


"Canda! kenapa?"

__ADS_1


"Lo tau abang gue dateng kesini?"


Bayu mengernyit, "Angga maksud lo?"


"Abang gue siapa lagi kalau bukan dia.." sahut Andra menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Kok gue gak tau sih.. bapak juga gak kasih kabar apa-apa," ujar Bayu mengecek pinsel pintarnya.


"Apa dia kesini diem-diem, tapi buat apa? eyang juga diem aja," gumam Andra yang masih di dengar oleh Bayu.


"Mungkin dia baru aja sampe, Bos. Lo tau darimana kalau dia dateng?"


"Nah.. itu yang bikin gue curiga Bay, dia itu tadi baru aja keluar dari tokonya Senja sambil senyum-senyum gitu."


Bayu mengangkat sebelah alisnya, "lo yakin itu Bang Angga?" Andra mengangguk mantab.


"Coba gue VC eyang."


.


.


Bersambung,


Mohon dukungannya terus ya😊

__ADS_1


__ADS_2