
...Selamat membaca😊...
...----------------...
Di saat Nick dan Lala sedang menunggu-nunggu kedatangan Senja, dan Senja yang di tunggu sedari tadi malah sudah asyik makan nasi goreng seafood sambil berbagi cerita dan bercanda ria dengan Angga. Di tempat lain ada seorang pemuda yang sedang memanas hati dan pikirannya, ia melempar ponsel yang di genggamnya. Lelaki yang berada di sampingnya pun tak percaya dengan apa yang ia saksikan baru saja. Biasanya, se-marah apapun Andra, ia selalu bisa mengontrol emosinya. Tapi sekarang ia seperti bukan Andra lagi.
Ya, pemuda itu adalah Andra, sedangkan lelaki yang di sampingnya tentu saja asisten setianya, Bayu. Andra baru saja melihat laporan Lala pada ponsel Bayu yang menampilkan foto Lala dan Senja sedang berada di dalam mobil, tentu saja Andra mengenali mobil itu karena mobil tersebut tak lain tak bukan adalah milik eyang Kumala. Tak berapa lama setelah ia melihat foto itu, ponselnya berbunyi dan terdapat notif pesan. Sebuah foto yang menampilkan Senja dengan Angga dari sisi kiri mereka, meskipun hanya nampak sebelah wajah dari kedua orang tersebut, Andra dapat melihat dengan jelas bahwa kedua orang itu sedang berbagi tawa. Hal yang sangat di bencinya membuat dia tak bisa lagi membendung amarahnya, dan akibatnya ponselnya lah yang menjadi korban.
Jika lelaki itu adalah orang lain, mungkin tak akan separah itu sakit yang di rasakannya. Tetapi dia adalah Angga, yang tak lain adalah kakak kandungnya sendiri yang sudah mengetahui tentang perasaannya pada Senja. Sedangkan ia juga tak bisa sama sekali menyalahkan Senja yang tak tau apa-apa mengenai isi hatinya, bahkan gadis itu tak tau jika dirinya sedang bersama dengan kakak dari Andra.
Bayu mencoba menenangkan lelaki itu, tapi seakan sia-sia. Andra tak mau lagi mendengarkan perkataannya. Andra malah menoleh kearahnya dan menatapnya tajam. Sorot mata yang menampakkan kemarahan besar, yang baru pertama kali ia lihat dari sahabatnya itu, membuat nyalinya menciut dan menunduk dalam-dalam.
"Lo pasti tau sesuatu kan, Bay?" tanya Andra dengan suara pelan namun dengan tuduhan. Lelaki itu nampak menggemertakkan giginya menahan amarah yang siap kapan saja untuk meledak. Bayu menelan ludahnya dengan susah payah. Apa yang harus di katakannya pada bosnya itu? tidak mungkin jika dirinya berkata jujur. Lelaki yang sedang di penuhi amarah tersebut pasti akan lebih terluka dan merasa terkhianati berkali-kali.
"Gu- gue.. em.." jawaban gagu Bayu membuat Andra semakin yakin jika orang kepercayaannya itu pasti juga mengetahui sesuatu. Saat dia ingin membuka mulut kembali, tiba-tiba ponsel miliknya yang sudah retak layarnya itu berbunyi kembali, kali ini adalah dering panggilan. Mereka melirik benda pipih itu sekilas, Andra berbalik dan berjalan ke arah ponsel yang tadi sudah di lemparnya hingga rusak pada layarnya, namun mesinnya masih berfungai dengan baik. Ia memungut benda itu, tapi dia tak tahu siapa yang menelpon karena sudah tak terbaca, mau mengangkatnya pun sudah tak bisa.
Bayu mempergunakan kesempatan itu untuk segera mengirim pesan pada majikan besarnya, Pak Herman atau eyang. Segera ia meminta pertolongan kepada para oramg tua itu agar bisa membujuk Andra dan menghentikan amarahnya. Tapi tak ada jawaban dari mereka.
Andra kembali membuang ponselnya karena merasa sudah tak berguna, lalu ia kembali menatap Bayu yang masih diam mematung. "Oke kalau lo gak mau ngomong apa-apa sama gue, Bay. Gue harap, lo gak lagi nyembunyiin sesuatu dari gue dan menyalah gunakan kepercayaan gue." Setelah mengucapkan kalimat itu, Andra langsung mengambil kunci motor di atas meja dan meraih jaketnya yang tersampir di sofa.
Bayu merasa ada suatu pedang yang sangat tajam menghunus dadanya, begitu sakit dan sesak. Ia tak menyangka jika keputusannya untuk turut mendukung rencana Angga akan menjadikan kerenggangan dalam hubungannya dengan Andra. Bahkan ia hampir saja akan kehilangan kepercayaan dari sahabat sekaligus bosnya itu. Sesaat kemudian ia tersadar dan langsung meraih kunci motornya juga dan menyusul Andra secepatnya.
Sampai di parkiran basement, ia sudah tak mendapati motor Andra. "Kemana lo, Bos? Jangan sampe lo berbuat yang gak seharusnya." Bayu meremas rambutnya kasar, ia harus segera menemukan Andra. Hanya itu fokusnya saat ini.
Tapi saat sudah menaiki motornya, tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Darimana bos Andra dapet foto Senja sama Bang Angga? Bukannya Lala sama Nick lagi di restoran.
Bayu segera melaju dengan kecepatan yang tak normal, tempat pertama yang ia tuju adalah rumah eyang. Ya, disana dia akan mendapatkan bantuan dari para orang tua.
__ADS_1
"Bapak . ."
"Ibu . . "
"Eyang . ."
Teriak Bayu saat baru saja membuka pintu rumah eyang dengan keras, karena ia tak mendapati motor Andra disana. Dia berlari ke dalam rumah mencari-cara keberadaan tiga orang tua yang sangat di hormatinya itu.
"Bapak . ." teriaknya kembali saat belum mendapat jawaban dari seorang pun penghuni rumah itu.
"Eyang . ." lupa sudah siapa orang yang sedang ia panggil itu, karena sangking panik dan khawatirnya terhadap Andra.
Mbak Asih dan Pak Santo berlari dari arah belakang mendengar teriakan Bayu.
"Ada apa to, Mas Bayu?"
"Kenapa teriak-teriak, Mas Bayu?"
"Bapak, Ibu, sama Eyang kemana?"
"Di kamarnya, Mas. Ada apa to?"
Bayu segera berlari menuju kamar Pak Herman, sudah tak mendengarkan lagi pertanyaan-pertanyaan yang trlontar dari kedua orang yang ikut berlari di belakangnya.
Tok tok tok tok tok. . .
Dengan tak sabar Bayu mengetuk pintu kamar Pak Herman. Kala pintu terbuka, Bayu langsung bersimpuh di lantai. Bu Ratih yang yang baru saja membuka pintu pun terkejut mendapati anak asuhnya itu yang sudah bersimpuh di depan pintu. "Maafin Bayu.." tutur Bayu lirih.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Bayu?" Bu Ratih meraih pundak Bayu mencoba mengangkat tubuh anak lelaki yang sudah dewasa itu, tapi Bayu bergeming di tempat. Jika saja Bayu adalah anak kecil, beliau pasti sudah meraihnya dan ia bawa dalam gendongannya.
"Kenapa, Bun?" Pak Herman yang baru keluar karena baru saja dari kamar mandi bertanya pada istrinya yang hanya di jawab dengan pandangan Bu Ratih pada Bayu yang masih bersimpuh di bawah kakinya.
"Bayu.. kamu ngapain duduk di situ?" Pak Herman yang mengira Bayu sedang bercanda seperti biasa, bertanya dengan gaya santai.
"Dia itu sedih, Yah.." bisik Bu Ratih pada suaminya. Mata Pak Herman membulat mendengarnya, ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Bayu.
"Ada apa, Bayu? cerita sama Bapak ya," Pak Herman meraih kepala Bayu menghadapkan wajah lelaki itu padanya, tapi Bayu menoleh ke arah lain. "Sini, ayo duduk di sofa, jangan disini.. Bapak akan mendengar semua keluh kesahmu, Nak. Ayo.." pria paruh baya itu membujuk Bayu. Sedangkan yang lainnya menatap Bayu iba sekaligus bingung.
"Yasudah kalau tidak mau, kamu tenangkan dulu dirimu. Nanti kalau sudah te-"
"Maafin Bayu Pak, Bayu salah.." Bayu memotong ucapan Pak Herman dengan suara bergetar. Ia takut jika majikannya itu akan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Andra, meskipun beliau sudah menganggapnya sebagai anak, tapi tetap saja Andra adalah anak kandungnya, begitu pikir Bayu.
"Memangnya kamu salah apa, Nak?" tanya Bu Ratih lembut, ia ikut berjongkok di samping suaminya. Dibelainya kepala pemuda itu dengan penuh kasih sayang. Ia tak membedakan antara Andra, Angga, Bayu, juga Nick, baginya mereka sama-sama putranya yang ia kasihi.
"Bayu gak bisa jagain Andra, Bayu bikin Andra marah, dan sekarang.." Bayu meneteskan air matanya yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya. Meskipun dia laki-laki dan sering bertindak konyol, tetapi perasaan Bayu itu lembut. Ia adalah seorang yang perasa, terutama yang menyangkut tentang kejujuran dan kepercayaan. Sebab dirinya pernah mengalami hal tak mengenakkan untuk di kenang di masa lalunya, hingga menyebabkan trauma yang mendalam pada dirinya. Oleh sebab itu, ia selalu berusaha jujur dan menjaga kepercayaan orang lain dengan baik.
"Sekarang apa, Bay?"
"Andra pergi sambil marah, Bayu gak bisa nemuin dia." Tangis pria itu mulai pecah, "maafin Bayu, Pak.. Buk," hampir saja Bayu bersujud di kaki kedua orang tua Andra jika eyang tak segera menghentikannya.
"Ada apa ini?" Eyang datang dari kamarnya dan mendekat pada sekumpulan orang yang sedang menangis berjamaah, bukan karena khawatir terhadap Andra, tapi orang-orang itu merasa terenyuh dengan tindakan Bayu yang dramastis dan terkesan berlebihan. Tapi untuk seseorang yang pernah mengalami trauma, hal itu tidaklah berlebihan.
.
.
__ADS_1
Huaaa...😭 kenapa aku ikut nangis sih, Bay.
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, biar Bayu seneng.🥺