Penjara Suci

Penjara Suci
PS 10 - Murah Betul


__ADS_3

“Mbak, mau ke mana?” tanya Farha. “Mbak, kan lagi sakit.” kata Farha lagi. Dia mengikutiku.


Katakanlah aku gila. Karena beberapa waktu lalu aku masih menangis di kamar yang ada di Rumah Umi atau yang biasa di sebut Ndalem Abah. Dan kini aku keluar ke jalan tak tentu arah. Aku bertanya-tanya apa yang bisa kulakukan di sini. Cara terbaik memang hanya bunuh diri. Namun, hampir segala cara telah aku lakukan namun tak ada satupun caraku yang berhasil.


Aku tak mau menangis lagi. Tak mau. Aku harus melakukan sesuatu, setidaknya bisa kumulai dengan melakukan pemberontakan kepada Mama. Salah satu caranya adalah dengan tidak memakai pakaian yang disiapkan oleh beliau. Pada pemberontakanku ini akan kutunjukkan, kalau tanpa siapapun aku akan tetap baik-baik saja.


“Di sini ada toko baju?” tanyaku.


Aku akan mengirimkan baju-baju yang Mama siapkan ke Jakarta. Lagi pula rasanya aku tidak sudi memakainya. Katakanlah aku durhaka. Tapi rasanya aku sudah tidak peduli lagi.


“Ada, Mbak. Mbak mau aku antar?” tanya Farha.


“Iya.” kataku.


“Nanti saja ya, Mbak. Tunggu Mbak sembuh. ” kata Farha.


“Kalo lo gak mau nganterin juga gakpapa, gue bisa sendiri.” kataku. Langsung berjalan meski aku tak tau keberadaan toko baju itu.


“Eh, i-iya Mbak aku antar.” kata Farha.


Sepanjang perjalanan, Farha bercerita banyak tentang pesantren. Aku hanya mendengarkan. Jujur sebetulnya hampir semua hal yang di ceritakannya menarik. Hanya saja dalam situasi seperti ini membuatku acuh tak acuh terhadapnya, bahkan aku hanya sesekali menggumam.


Ia bercerita tentang toko baju yang kami tuju, ternyata toko baju tersebut masih berada di dalam komplek pesantren ini. Dan menurut cerita Farha pula, ternyata mereka para santri putri tidak boleh sembarang keluar pesantren. Mereka hanya diberikan izin tiap hari Jumat ketika salat Jumat berlangsung, itupun harus melakukan proses yang katanya rumit, sebab harus mengurus surat-surat ke pengurus. Kalau untuk santri putra Farha tidak tahu. Karena santri putri dan putra dilarang saling berhubungan, jadi tak ada yang bisa dia jelaskan. Paling hanya pengurus saja yang dibolehkan itupun hanya untuk menanyakan kegiatan di pondok pesantren yang sering mereka singkat dengan ‘ponpes’.


Satu hal yang hampir luput kuceritakan. Di pesantren ini hanya ada satu toko baju. Beberapa toko baju lainnya berada di luar ponpes. Nah, karena dia tidak bisa mengajakku keluar karena mengingat hari ini hari senin, maka kami hanya datang ke toko baju yang ada di pesantren. Kata Farha, ia takut kena takzir. Masih katanya, 'takzir' itu merupakan sanksi bagi santri yang tidak menaati aturan, sanksi tersebut bisa berupa hukuman maupun denda, tergantung kesalahan yang diperbuat.


“Nah, di sini, Mbak.” kata Farha.


“Hah? Disini? Lo gak salah?” tanyaku pada Farha.


Tempat yang dimaksudkan oleh Farha adalah sebuah rumah yang disulap menjadi toko baju sederhana dengan mesin jahit di sebelah kanan pintu masuk. Melihat mesin jahit, mukena, renda, dan pita, aku mulai menyimpulkan bahwa semua mukena santri di pesantren ini sengaja di renda di tempat ini. Mungkin ini yang mereka sebut trend.


Bagi yang belum paham dibagian mana renda dipasang, aku akan jelaskan. Renda itu dipasang di bagian atas mukena, tempat pet. Jadi, bisa dikatakan bahwa renda itu pengganti pet untuk mukena. Mungkin agar wajah kita terlihat lebih rupawan. Mungkin.


“As-salamu ‘alaikum, Bu.” kata Farha.


“Wa ‘alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Wonten nopo, Cah ayu?” Seorang wanita paruh baya menghampiri kami.


Farha menjawab pertanyaan Ibu Pemilik Toko. Lalu merekapun terlibat perbincangan asyik menggunakan bahasa Jawa yang tak bisa kupahami barang sedikit. Lagi-lagi aku merasa menjadi 'kambing conge'. Nasib ya nasib.

__ADS_1


“Mari masuk, Mbak.” kata Farha.


Kami berduapun semakin masuk ke dalam. Dan, i can’t believe it! Semua baju-baju yang dijual di sini selevel dengan yang ada di dalam lemari, baju yang dibawakan mama untukku, dan baju yang semua santri pakai. Aku memutar otak lagi. Bagaimanapun kondisi baju yang dijual, aku harus membelinya. Sebab, aku tak mau pakai baju yang diberikan Mama. Jika aku masih mau pakai baju yang Mama berikan, artinya aku telah berdamai. Dan aku tak mau. Kedamaian yang tengah kucari hanya pengakhiran hidup, hidupku.


“Gue mau yang ini, ini, ini, ini, sama yang ini buat bajunya. Trus roknya mau yang ini, ini, ini, ini, sama ini.” kataku pada Farha untuk diterjemakan ke si Ibu Pemilik Toko.


“Duh, Mbak, jangan banyak-banyak. Kalau ketahuan pengurus bisa di takzir, Mbak.” kata Farha.


Dia memandangku dengan pandangan tak percaya. Akupun melakukan hal yang sama. Aku mulai berpikir apa lagi sebetulnya yang sedang dibicarakannya. Apakah dalam hal memiliki pakaianpun harus ada aturannya? Aku tak mengerti lagi. Kini aku benar-benar percaya kalau tempat ini adalah penjara penuh aturan. Merepotkan.


“Maksudnya?” tanyaku, sedikit kesal.


“Kalo peraturan di sini. Baju bebas yang kita punya paling banyak 5, Mbak. Sisanya seragam. O iya, untuk baju bebas kami pakainya sarung, seperti yang aku pakai ini.” kata Farha.


OMG!


Aku memperhatikan sarung bunga-bunga yang dipakai oleh Farha. Tadinya, aku kira sarung yang dipakainya adalah rok. Ternyata sarung. Selama ini yang aku tahu, sarung hanya diperuntukkan bagi laki-laki, nyatanya ada yang untuk perempuan juga. Perbedaannya hanya ada pada corak.


Farha menghampiri Ibu Pemilik Toko, lalu mengucapkan beberapa kalimat menggunakan bahasa Jawa yang lagi-lagi tak kumengerti artinya. Ibu Pemilik Toko masuk ke dalam, lalu kembali lagi dengan setumpuk sarung bermacam motif. Sebelum memilih sarung aku telah memilih 5 baju.


“Ini, ini, ini, ini, dan Ini...” kataku, mengambil sarung yang sesuai dengan baju.


“Mbak, maaf..” Belum sempat Farha menyelesaikan kalimatnya, aku buru-buru memotongnya dengan kesal.


“Pakaian yang di lemari mau dikemanakan, Mbak?” tanya Farha, takut-takut.


“Mau gue paketin ke Nyokap di Jakarta.” kataku.


“Nyokap itu apa tho, Mbak?” tanya Farha.


“Emak, mama, ibu, bunda.” kataku kesal. Farha mengangguk.


“Apa Mbak ndak takut dimarahi beli banyak pakaian seperti ini? Pakaian yang di lemarikan belum Mbak pakai.” tanya Farha lagi.


“Banyak omong lo, udah ikutin gue aja. Lagian gue yang beli pakai uang gue. Jadi, ya terserah guelah.” kataku.


Ibu Pemilik Toko pergi dan keluar lagi dengan setumpuk kerudung dari yang polos sampai bermotif. Aku buru-buru memilihnya. Kepalaku semakin pusing. Aku memilih warnanya sesuai dengan baju dan sarung yang telah aku pilih. Tak lupa juga aku membeli banyak dalaman yang aku butuhkan.


“Hm, apa lagi ya? O iya, mukena.” kataku. Aku ingat mukena berenda itu juga milik Mama.

__ADS_1


Sejujurnya sedari tadi aku berpikir. Mengapa Ibu Pemilik Toko tidak menyewa ruko yang lebih besar agar bisa memajang semua pakaian yang dijual agar lebih mudah saat ada yang beli. Kalau semua barang hanya beliau masukkan di ruangan sana, dan hanya ada satu tempat gantungan untuk menggantung baju, bagaimana pembeli bisa tahu kalau toko ini menjual seluruh pakaian yang dibutuhkan?


Aku memilih 2 mukena. Ibu Pemilik Toko kembali mengucapkan sesuatu pada Farha.


“Mbak, mukena mau sekalian direnda?” tanyanya.


“Lama gak?” tanyaku. Farha langsung menanyakan.


“Sebentar katanya, Mbak.” katanya lagi.


“Yaudah renda aja.” kataku. “Eh, tanyain deh berapa total semuanya.” kataku. Farha langsung bertanya kepada Ibu Pemilik toko.


“Rp 400.000, Mbak” kata Farha.


“HAH?” aku pasti salah dengar. Betulkah membeli semua ini hanya 400rb?


“Iya, Rp 400.000, Mbak. Maaf, terlalu mahal ya, Mbak? Baiknya memang belinya satu-satu saja, Mbak.” kata Farha.


Sepertinya Farha mengira harga yang diucapkannya terlalu mahal untukku. Aku sedikit tersinggung. Tampangku sepertinya tidak semiskin itu.


“Itu murah, Dodol!” kataku. Langsung mengeluarkan uang 400rb dari dompet dan menyerahkannya pada Farha.


“Kasian tahu Mbak, orangtua Mbak harus mengeluarkan uang 400rb.” kata Farha. Memulai ceramahnya.


“Apaan si lo, itu bukan uang orangtua gue tapi uang gue sendiri. Udah deh, gak usah bawel!” kataku.


Aku langsung duduk, aku memegangi kepalaku yang semakin pusing.


“Mbak, pusing lagi?” tanya Farha khawatir. Dia langsung memijat-mijat tanganku. Aku menghela nafas, rasanya yang sakit adalah kepala, kenapa yang ia pijat justru tangan? Sebetulnya yang terlalu pintar siapa?


Farha langsung berbicara dengan Ibu Pemilik Toko, lalu menyerahkan uang 400rb untuk membayar semua belanjaan. Kepalaku kembali sakit dan perutku kembali melilit. Mungkin ini dikarenakan perutku tak dapat asupan yang cukup. Tadi, aku hanya memakan beberapa suap saja, karena Linda.


“Mbak, kita ke kamar aja yuk, nanti pakaiannya diantar sama ibunya.” kata Farha.


“Yaudah.” kataku pasrah. Padahal dalam hati ingin mengutuk Farha karena jika belanjaan bisa di antar ke kamar kenapa sedari tadi kita masih di sini menunggu mukena direnda.


Farha berpamitan kepada Ibu Pemilik Toko, lalu memapahku keluar.


“Udah gakpapa.” kataku. Rasanya malu sekali dipapah seperti ini seperti korban bencana alam. Padahal situasi saat ini sepi dan jalanan pun lengang tapi tetap saja aku merasa tak nyaman, risi. Aku berjalan mendahului Farha.

__ADS_1


Di tengah jalan aku kembali berhenti. Kepala dan perutku tidak bisa berkompromi lagi. Farha menghampiriku. Dan...


GELAP!


__ADS_2