
“An, sepertinya kita tidak bisa diam saja.” kata Mas Faiz.
“Maksudnya, Mas?” tanyaku.
“Saya tidak nyaman di dekat Kak Ulfa. Saya rasa kamupun demikian.” kata Mas Faiz.
“Aku bingung, Mas. Di satu sisi aku bahagia sekali bisa bertemu bahkan jalan-jalan bersama Kak Ulfa, namun di sisi lain, aku kurang nyaman dengan tingkahnya hari ini.” kataku jujur.
“Mana yang lebih condong, rasa bahagia atau rasa kurang nyamanmu?” tanya Mas Faiz.
“Fifty-fifty.” kataku sedih.
“Bagaimana kalau kita minta dia untuk pulang?” tanya Mas Faiz.
“Mas, tapi aku masih merindukannya.” kataku.
Aku sangat jujur kali ini. Aku dan Kak Ulfa itu jarang bertemu. Dulu bertahun-tahun aku menghabiskan waktu di pondok, dan saat aku kembali dari pondok, tak lama kemudian Mas Faiz melamarku, dan tak lama kemudian kami menikah. Waktu kamu kami berdua sangatlah sedikit. Rasanya aku tidak mau cepat meminta Kak Ulfa pulang, lagi pula rasanya tidak sopan mengusir kakakku dari rumah.
“Baiklah, kalau seperti itu.” kata Mas Faiz.
“Kamu tidak apa-apa, Mas?” tanyaku.
“Asal itu membuatmu bahagia, saya tidak pernah keberatan.” kata Mas Faiz.
Aku memeluk Mas Faiz, Mas Faiz balas memelukku.
“Ekhm, jadi tidak Nindy?” seru Kak Ulfa.
Aku buru-buru melepaskan pelukanku pada suamiku. “Jadi, Kak.” kataku.
Kak Ulfa buru-buru meninggalkan kami. Aku menoleh pada Mas Faiz. Mas Faiz menunjukkan wajah tidak relanya, aku hanya bisa tersenyum malu-malu.
Belum sempat kami tiba di dapur. Tiba-tiba ponsel Kak Ulfa berdering. Wajah Kak Ulfa pucat. Aku jadi penasaran dengan siapa nama yang tertera di layar ponselnya.
Karena tidak bisa menahan rasa ingin tahuku, akupun memanjangkan leher. Ternyata Mama.
“Halo, assalamualaikum, Ma.” kata Kak Ulfa.
Kak Ulfa melirikku, lalu berjalan menjauhiku.
“E... Ulfa, lagi di rumah teman.” kata Kak Ulfa. Pelan sekali.
Deg!
Ternyata Kak Ulfa ke sini bukan karena suruhan Mama. Dia telah berbohong padaku dan membohongi Mama. Apa sebetulnya maksud tujuan Kak Ulfa? Maksudku, Kak Ulfa pandai masak dan ingin mengajariku itu adalah sesuatu yang sangat bagus dan baik, namun, kalau dengan mengatas namakan suruhan Mama, menurutku itu keterlaluan.
“Kak Ulfa.” panggilku.
“Eh, Ma. Iya aku pulang sekarang.” kata Kak Ulfa mengakhiri panggilan. Dia mematikan sambungan telepon.
“Apa maksud semua ini, Kak?” tanyaku tegas.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya Kak Ulfa.
Kini sinar matanya jauh berbeda. Dia terang-terangan menampilkan sorot benci padaku. Aku merasa tak asing dengan tatapan itu. Aku bahkan sering menampilkan sorot itu dulu.
“Kakak datang ke sini bukan karena Mama, kan?” tanyaku.
“Kamu bicara apa sih?” Kak Ulfa pura-pura tak mengerti apapun.
“Aku dengar semuanya, Kak. Mengapa kakak datang ke sini dengan alasan Mama?” tanyaku.
Aku benar-benar merasa tak bisa diam kali ini. Aku merasa sikap Kak Ulfa sudah keterlaluan. Meski aku telah banyak berubah sepertinya sifat pemberaniku tidak penah hilang. Asalkan untuk kebenaran, aku pasti akan mengupasnya hingga terungkap.
“Apa seorang kakak tidak boleh berkunjung ke rumah adiknya sendiri?” tanya Kak Ulfa.
Kak Ulfa maju selangkah. Aku tidak gentar sedikitpun.
“Datang berkunjung ke rumah adiknya tentu saja boleh, tapi datang dengan kebohongan itu lain cerita.” kataku.
Aku beristighfar dalam hati. Aku seperti kembali ke Nindy yang dulu. Tidak. Aku tidak boleh emosional seperti ini. Aku harus menyelesaikan semua ini baik-baik.
“Eh, maksudku. Kakak tidak seharusnya berbohong padaku, Kakak bisa datang kapanpun tanpa alasan sekalipun.” kataku, aku memaksakan senyum.
“Ya, saya memang bohong. Lantas kalau saya berbohong, kamu mau apa? Mau mengusir saya? Sombong sekali.” kata Kak Ulfa.
Aku membeku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau Kak Ulfa mengganti sebutan untuk dirinya Kakak menjadi Saya. Sebuah kemarahan yang sengaja dilampiaskan dengan kata-kata.
“Bukan begitu maksudku, Kak.” kataku. Aku tidak mau menyakiti Kak Ulfa.
“Sudahlah. Saya baru tahu kalau adik saya adalah seorang yang tidak tahu cara berterima kasih.” kata Kak Ulfa.
“Kak! Maafkan akuuu.” aku hendak mengejarnya. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mencekal pergelangan tanganku.
Aku menoleh. Ada Mas Faiz di sana.
“Tidak perlu di kejar.” kata Mas Faiz.
“T-tapi, Mas..” kataku hendak protes.
“Niatnya sudah buruk, seharusnya dia yang meminta maaf bukan kamu.” kata Mas Faiz.
“Tapi dia adalah kakaku, Mas.” kataku.
“Walaupun dia kakakmu, sikapnya tetap tidak bisa dibenarkan, An.” kata Mas Faiz.
“Bagaimana kalau Kak Ulfa mengadu pada Mama?” tanyaku.
“Sepertinya dia tidak akan berani, An. Kalaupun berani nanti biar saya yang menjelaskan pada Mama.” kata Mas Faiz.
Aku tak bisa berkata-kata lagi, aku hanya mengamati punggung Kak Ulfa yang sudah membuka gerbang dan keluar.
“Masuk yuk.” kata Mas Faiz.
__ADS_1
Akupun menurut.
“Nggak di kunci?” tanyaku.
Mas Faiz terkekeh. “Saya lupa.” katanya.
Mas Faiz berjalan, aku mengekori suamiku dari belakang.
“Kita sepertinya perlu satpam dan asisten rumah tangga, An.” kata Mas Faiz.
“Sebelum kita menikah ada satpam dan asisten rumah tangga, Mas?” tanyaku.
Gus Faiz menggeleng. “Tidak ada. Saya hanya sendiri di rumah.” kata Mas Faiz.
“Lalu yang mengerjakan semua tugas rumah Mas sendiri?” tanyaku.
“Iya, Mas sendiri.” kata Mas Faiz.
Aku menghentikan langkahku. Mas Faizpun sama. “Ada apa?” tanyanya.
“Tadi Mas bilang apa?” tanyaku.
Mas Faiz berpikir. “Ada apa?” tanyanya.
“Bukan, sebelumnya.” kataku.
Mas Faiz berpikir lagi, “Iya, mas sendiri?” tanyanya.
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. “Aku suka sebutan itu.” kataku. Ini kali pertama Mas Faiz tidak menggunakan sebutan ‘saya’ untuk menyebut dirinya sendiri, dia menggunakan sebutan yang lebih manis yaitu ‘mas’ untuk menyebut dirinya.
“Eh, maksud saya..” kata Mas Faiz salah tingkah.
“Begitu saja, aku suka.” kataku.
“Lho, bukankah kamu suka pada laki-laki yang menyebut dirinya ‘saya’?” tanya Mas Faiz.
Aku mengerutkan kening bingung. Sepertinya aku tidak ingat kalau aku pernah mengatakan kata-kata seperti itu.
“Kamu tidak ingat?” tanya Mas Faiz.
“Apa aku pernah mengatakan hal seperti itu, Mas?” tanyaku.
Mas Faiz mengangguk. “Iya, kamu pernah mengatakannya.” kata Mas Faiz. “Tapi, kamu pasti tidak ingat.” kata Mas Faiz.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku.
Mas Faiz meraih tanganku, dan membawaku untuk duduk di sofa ruang tamu, tepat di sampingnya.
“Kita pernah bertemu dulu di rumahmu.” kata Mas Faiz.
“Di rumahku? Bukankah kamu pertama kali berkunjung ke rumahku saat kamu melamarku, Mas?” tanyaku.
__ADS_1
Mas Faiz menggeleng. “Tidak, An. Sebelum itu, Saya maksudku Mas pernah berkunjung ke rumahmu bersama Abah dan Umi juga.” kata Mas Faiz. “Kalau tidak salah sudah 4kali Mas ke rumahmu bersama Abah dan Umi.”
“Lho, kapan? Kok aku tidak ingat ya? Apa aku pernah Amnesia? Oh saat aku dulu masuk rumah sakit?” tanyaku.