Penjara Suci

Penjara Suci
PS 59 - Mendapatkan Ingatan


__ADS_3

Sejak aku sadar dari komaku, aku merasa ada seseorang yang terus mengawasiku. Aku tak tahu apakah ini hanya perasaanku saja atau bagaimana. Yang jelas, meski diawasi, aku merasa tidak takut. Mungkin karena rumah sakit adalah tempat umum jadi banyak pasang mata yang memperhatikan aku.


Kak Ulfa membawaku berkeliling rumah sakit. Hingga kami mulai melewati musala rumah sakit. Tiba-tiba kepalaku berdenyut.


"Ah!" pekikku semakin tak tahan dengan denyutan kepalaku.


Mataku mulai menangkap orang-orang yang memakai mukena. Yang berada di dalam Musala. Kepalaku semakin sakit. Benar-benar sakit.


"Kamu kenapa, Dik?" seru Kak Ulfa panik.


"S-sakit, Kak!" seruku memegangi kepalaku.


Tiba-tiba terlintas di benakku santri-santri yang memakai mukena dan sarung keluar dari sebuah Masjid. Aku tak tahu bagaimana persisisnya namun kepalaku benar-benar sakit.


"Kakak!" teriakku. Kepalaku semakin menjadi-jadi. Kepalaku semakin dipenuhi dengan aktivitas santri-santri, bahkan ada aku dalam bayanganku sendiri.


Ya Allah, apa ini? -batinku


Seseorang buru-buru mendekat.


"Gus, tolong bawa Nindy ke kamar!" seru Kak Ulfa.


Tanpa di suruh dua kali dia mengangkatku dan kembali ke kamar rumah sakit.


Kenangan demi kenangan kini mampir di kepalaku. Aku hanya bisa menangis. Rasanya sakit sekali.


Kemarikan dia, Nak Faiz. Dia anak tak tahu diuntung. Kerjaannya cuma bikin keluarga saya malu! -suara Papa.


Aku kembali menangis memikirkan kata-kata Papa. Ingatanku mulai berangsur kembali. Aku hanya bisa menangis tanpa suara. Sakit sekali.


Seseorang mengguncang tubuhku. "Bersuara An. Menangislah dengan suara, jangan seperti ini. Saya mohon."


Air mataku terus jatuh. Aku terus menangis meraung tanpa suara. Aku tak bisa mengeluarkan suaraku hingga dadaku kian terasa sesak.


Dokter pun datang dan menyuruh semua orang keluar. Dokter mulai membantuku untuk mengatur nafas. Ntah bagaimana caranya aku akhirnya bisa berhenti.


Sayup-sayup dari jauh aku bisa mendengar, "Sudah saya katakan. Bukan hanya tubuhnya yang terluka. Jadi tolong, jangan buat dia marah atau menangis. Dia belum bisa mengontrol emosinya."


Aku kembali diam. Ternyata sesaat lalu kebahagiaanku hanyalah sebuah kebohongan belaka. Semesta benar-benar suka bercanda. Memberikanku rasa tentram tanpa bisa mengingat apapun lalu mengambil ketentraman itu dalam sekejap. Jahat sekali.


Ternyata sakit di tubuh dan hatiku berasal dari keluargaku sendiri. Kini aku tau mengapa Papa tak menjengukku. Beliau pasti sudah tak lagi menganggapku anak. Beliau adalah sosok Papa yang tak kutahu di mana jiwa keayahannya. Mengingat kata-kata Papa membuat kepalaku kembali sakit.


"Nin?" panggil Mama.


Aku memandang Mama dengan datar. Biarlah, aku sudah lelah memberontak. Aku juga sudah lelah mencari kebahagiaan. Saat ini, aku hanya perlu mengikuti alurnya. Meski dengan jiwa yang mulai mati rasa.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Mama.


Aku diam saja. Mulutku seakan terkunci. Mama dan Kak Ulfa terus mencoba mengajakku mengobrol. Namun aku merasa tak punya gairah untuk melakukan apapun. Mama menawarkan apapun yang aku suka namun aku tetap memilih diam. Benar-benar tak ingin melakukan apapun selain dia dengan kepala penuh kesedihan.

__ADS_1


Aku kembali berpikir kalau tidak ada lagi artinya aku untuk hidup.


...***...


Waktu mulai menunjukkan pukul 8 malam. Mama masuk ke dalam kamar rumah sakitku. Beliau membawakan makanan. Ntah berapa kali Mama memintaku makan namun aku diam saja hingga Mama terus menangis dan keluar. Kali ini nama tampak lebih tegar.


“Nak, lihat siapa yang datang.” seru Mamaku dengan suara riangnya. Aku tak mengacuhkannya.


Tapi meski tak tertarik dengan apa yang akan di katakan Mama, aku tetap melirik seseorang yang datang. Aku yakin dia bukanlah Gus Faiz apalagi Papa.


“Indy.” Panggil seseorang. Aku sangat mengenal suara ini.


Spontan aku menoleh. Suara ini adalah suara paling ku benci sejak kejadian telepon dulu. Suara mantan sahabatku selepas kepergian Ilham, Mia.


"Pergi!" teriakku.


"Indy.." panggilnya lagi.


Aku tak sudi mendengar dia memanggil namaku. "Gue bilang pergi!" teriakku sambil melempar bantalku ke arahnya.


“Indy, maafin gue.” ucapnya dengan nada penuh sendu dan isak tangis yang tak tertahankan.


“PERGI!” hanya itu kata yang mampu kuucapkan padanya.


Mama buru-buru membawa Mia pergi. Dari dulu Mama tidak pernah peduli siapa teman atau sahabatku. Yang tahu kalau aku punya teman dekat hanyalah Kak Ulfa. Dia tahu kalau Mia adalah sahabatku. Bahkan, Ilham pun Kak Ulfa tahu. Meski dia tahu tapi tetap saja dia tak memberikan pembelaan untukku ketika aku harus pergi ke Rumah Sakit menjenguk Ilham dulu. Hatiku kembali sakit.


Setelah Mia keluar pikiran negatifku kembali hadir. Sepertinya Kak Ulfa sengaja mendatangkanku untuk memperkeruh keadaan. Mia tentu memberi tahu Kak Ulfa kalau aku begitu marah padanya karena satu hal yang menjijikan. Bukankah seharusnya setelah mengetahui kalau aku dan Mia sedang ada masalah, Kak Ulfa tidak membawa Mia ke sini?


Seketika semua orang pergi. Aku kembali sendiri. Sayup-sayup aku mendengar suara takbir dikumandangkan. Menandakan kalau besok adalah Hari Raya Idul Fitri.


Ya Allah maafkan aku. -batinku.


Air mataku kembali menetes.


...***...


Pagi harinya Mama datang membawa makanan jatah dari rumah sakit. Aku diam saja. Tak mau makan atau pun berbicara.


"Maafkan Mama, Sayang. Mama mohon. Ini semua memang salah Mama. Setidaknya berbicarah pada Mama. Caci maki Mama." kata Mama. Beliau menangis.


Aku diam saja.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"As-salamu'alaikum." suara Gus Faiz.


"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh." kata Mama.


Setelah berbicara dan saling meminta maaf yang tak kudengarkan. Mamapun pergi meninggalkan kami berdua. Gus Faiz membuka pintu yang tertutup. Ntah karena apa. Lalu kembali menghampiriku.

__ADS_1


"Apa kabar, An?" tanyanya.


Aku diam saja. Aku lebih memilih memandangi jendela yang terbuka dari pada wajahnya.


"Mau gelang ini?" tanyanya. Sambil memperlihatkan gelang perak milikku di hadapanku.


Aku buru-buru mengangkat tanganku, memastikan keberadaan gelang di tanganku. Dan benar saja gelangku tidak ada di pergelangan tanganku.


Aku langsung bergegas mengambilnya namun Gus Faiz menariknya dengan cepat. Rupanya dia hanya mempermainkan aku. Aku pun diam lagi. Dalam hati rasanya aku ingin teriak memakinya. Kenapa susah sekali bertahan diam di hadapan laki-laki ini?


“Makan dulu makanan kamu.” kata Gus Faiz, dia menyodorkan nasi jatah rumah sakit milikku. Aku menepis tangannya.


Aku merasakan dejavu.


“Kalau kamu tidak mau makan, aku akan buang gelang ini.” kata Gus Faiz. Dia langsung berdiri meletakkan makanan di tempat semula dan mulai mendekati jendela. Aku buru-buru mencegahnya.


“Jangan.” kataku, sudah tidak tahan diam. Gus Faiz tersenyum penuh kemenangan, aku hanya mendecak sebal.


“Makan dulu.” kata Gus Faiz.


“Nggak ada hubungannya gelang sama makan, sini balikkin gelang gue!” kataku.


Aku mendapati suaraku lagi. Ada keinginan kuat dalam diriku untuk mendebatnya beda dengan ketika Mama atau Kak Ulfa mengajakku bicara.


“Makan dulu, nanti saya berikan.” kata Gus Faiz. Dia mengambil makanan lalu bersiap menyuapiku. Mau tak mau aku membuka mulutku. Dasar otoriter.


Saat sedang mengunyah makanan, Gus Faiz mengambil selimut di belakangku lalu memakaikannya di kepalaku. Aku hendak protes.


“Protes batal.” kata Gus Faiz.


“Pahit.” kataku, ntah mengapa terdengar seperti rengekan.


“Ini satu suap.” kata Gus Faiz. Aku mengangguk.


“Ini satu suap.” kata Gus Faiz lagi. Baru saja aku ingin protes tapi gus Faiz buru-buru menyela, “Protes batal.” ujarnya sadis. Akupun mengangguk.


“Satu lagi.” kata gus Faiz.


“Nggak kuat pahit.” kataku.


“Dari kemarin kamu belum makan. Ayo, satu suap lagi saya janji.” kata Gus Faiz. Akupun lagi-lagi-dan lagi menuruti apa yang diperintahkannya.


Lalu Gus Faiz menyodorkan air putih yang langsung kuminum.


“Gelangnya?” kataku menagih janjinya.


Gus Faiz mengeluarkan gelang dari kantongnya lalu mengulurkannya padaku. Aku langsung mengambilnya.


Aku hendak memakainya namun tidak bisa. Tanpa kusuruh Gus Faiz memakaikan gelang itu padaku. Perlukah aku berterima kasih?

__ADS_1


__ADS_2