
Lewat tengah malam aku terbangun. Karena Haidar menangis karena lapar. Mas Faiz terlelap sepertinya dia sangat kelelahan. Haidar tidur di antara kami. Untunglah baik aku dan Mas Faiz tidak pernah bergerak-gerak ketika tidur, jadi kemungkinan anak kami tertimpa tubuh kami hampir tidak ada kemungkinannya.
“Anak saleh Mama bangun, Sayang? Lapar ya?” kataku.
Akupun menyusui anakku.
Saat sedang menyusui Haidar, lamat-lamat aku mendengar suara Kak Ulfa yang sedang marah dari kamar sebelah. Pernah kuceritakan bukan kalau kamar kami bersebelahan? Dan kamar kami tidak kedap suara?
“Untuk apa kamu menikahiku kalau kamu tidak mau tidur bersamaku, Mas?” lamat-lamat kudengar suara Kak Ulfa.
DEG!
Aku tidak tahu apa ini benar-benar suara Kak Ulfa atau aku yang berhalusinasi. Aku diam saja. Lagi pula ini malam pertama mereka. Kalau benar seperti apa yang dikatakan Kak Ulfa mungkin suaminya memang belum siap karena pernikahan mereka masih sangat tergolong baru.
“Sudah, Nak?” tanyaku pada Haidar saat dia melepaskanku. Aku benar-benar tidak mau anakku mendengar suara pertengkaran orang dewasa.
Haidar berguling ke arah Mas Faiz. “Papaa..” katanya sambil menepuk-nepuk pipi suamiku.
“Sayang,..” panggilku pada Haidar.
Mas Faiz membuka mata. Melihat di depannya ada Haidar, dia tersenyum. “Eh, jagoan Papa bangun.” kata Mas Faiz.
Haidar kini naik ke atas suamiku. Haidar memang sedang aktif-aktifnya merangkak. Mau tak mau Mas Faiz bangun dan kini dia sudah bermain dengan Haidar.
Aku tertawa. Melihat bagaimana Mas Faiz bermain dengan Haidar.
Hingga subuh datang, Haidar masih terbangun, dan masih aktif bermain dengan Mas Faiz.
“Kamu mandi dan salat duluan saja, Sayang. Biar aku yang jaga Haidar.” kata Mas Faiz.
“Baik, Mas. Aku mandi dulu ya?” kataku.
“Iya.” kata Mas Faiz sambil tersenyum.
“Mama, mandi dulu, Sayang..” kataku mencium pipi Haidar.
“Tidak adil.” kata Mas Faiz.
“Tidak adil untuk?” tanyaku.
“Kamu hanya mencium Haidar.” kata Mas Faiz, pura-pura cemburu.
Aku terkekeh, “Mas..”
“Bercanda, Sayang. Mandilah.” kata Mas Faiz.
Akupun mandi, setelah mandi aku berpakaian, dan salat subuh. Setelah selesai, akupun menghampiri suami dan anakku. Kini giliran aku yang menjaga Haidar. Di umurnya ini, Haidar sangat suka merangkak dan sedang aktif-aktifnya, jadi kami takut bila tidak ada yang menjaga dia bisa jatuh dari tempat tidur.
__ADS_1
“Ayo, sama Mama Anak soleh..” kataku mengambil Haidar dalam pelukan suamiku.
“Mamama..” Haidar mulai memanggilku.
“Iya, Sayang, Mama di sini. Haidar lapar, Nak?” tanyaku.
“Mimi..” kata Haidar.
“Anak pintar.” kataku sambil mencium pipinya. Haidar tertawa lagi. Dia anak yang menyenangkan dan menggemaskan. Dia tidak rewel, juga meski masih kecil sangat perhatian padaku.
Mas Faiz tersenyum lalu masuk ke kamar mandi. Setelah Haidar sudah kenyang, aku membetulkan bajuku, lalu menggendong Haidar. Dengan Haidar digendongan aku mendekati lemari. Aku mencoba mengambil pakaian untuk Mas Faiz, namun tidak bisa dengan tangan satu.
“Haidar turun dulu ya, Sayang.” kataku hendak menurunkan Haidar.
“Biar Mas saja, An.” kata Mas Faiz yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.
Akupun tidak jadi menurunkan Haidar. Mas Faiz yang masih menggunakan handuk langsung mengambil bajunya sendiri. Dia sangatlah pengertian padaku. Setelah berpakaian, Mas Faizpun pamit ke Masjid. Kini tinggal aku dan Haidar di dalam kamar.
Haidar meminta keluar kamar, akupun menurutinya.
Sekeluarnya aku dari kamar, aku melihat Dimas. Maksudku Kak Dimas juga keluar dari kamar Kak Ulfa. Aku tidak mau memanggil Mas. Rasanya Mas hanya ingin kusebut untuk suamiku saja. Aku mencoba berpura-pura tidak melihat dia yang juga baru keluar kamar hendak keluar.
“Nin!” serunya.
Karena dipanggil. Dan Kak Dimas yang kini sudah berstatus menjadi suami kakakku, akupun berhenti. Lalu menoleh.
“Iya, Kak?” tanyaku padanya.
Aku benar-benar bingung. Aku masih takut bila Kak Dimas akan mencelakakan Haidar, namun sepertinya tidak mungkin. Dia terlihat bersikap baik, dan banyak orang di bawah. Aku yakin Kak Dimas tidak akan melakukan tindakan kejahatan. Aku harus sedikit percaya padanya.
“Boleh, Kak.” kataku.
Haidar pun kuberikan pada Kak Dimas.
“Umur berapa?” tanya Kak Dimas.
“Satu tahun dua hari lagi, Kak.” jawabku.
“Anakmu tampan, matanya indah seperti ibunya.” kata Kak Dimas.
Aku benar-benar bingung, disatu sisi aku ingin pergi meninggalkan Kak Dimas, namun di sisi lain aku tidak rela dan merasa cemas bila Haidar kubiarkan bersama Kak Dimas.
CURRR!
“Eh?” Kak Dimas terkejut.
“Ya Allah, Haidar pipis ya, Kak?” tanyaku.
__ADS_1
Aku buru-buru mengambil Haidar dari Kak Dimas. Aku memang lupa tidak memakaikan pampers pada Haidar karena biasanya di rumah, aku memang jarang memakaikannya karena merasa kasihan bila dia terus memakai pampers.
Aku hanya menggunakan pampers pada saat malam dan saat acara-acara tertentu saja. Karena aku merasa, lebih baik aku mencuci banyak celana anakku ketimbang harus melihat anakku merasa tidak nyaman dan lecet.
“Maaf ya, Kak. Maaf sekali.” kataku.
Tiba-tiba kamar Kak Ulfa terbuka, kini terlihatlah Kak Ulfa yang sudah mandi.
“Kamu bagaimana sih, Nindy?” seru Kak Ulfa.
“Maaf, Kak. Aku benar-benar lupa memakaikan Haidar pampers.” kataku.
“Kamu sengaja kan?” tuduh Kak Ulfa.
“Apa-apaan si kamu?” seru Kak Dimas terlihat marah. Tentu aku tidak tega melihat Kak Ulfa dimarahi seseorang yang baru menyandang sebagai suaminya kemarin.
“Dia memang sengaja, Mas.” kata Kak Ulfa.
“Sengaja dari mana? Aku yang meminta menggendongnya. Minta maaflah padanya!” seru Kak Dimas.
Aku melotot mendengar kata-kata Kak Dimas. Dia membelaku dari Kak Ulfa. Ternyata Kak Dimas baik juga. Tapi aku benar-benar tidak mau mereka ada salah paham dan bertengkar hanya karena aku. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Eh, Kak. Ini memang salah aku. Kak Ulfa tidak salah, Kak Ulfa benar seharusnya aku memakaikan Haidar. Mohon maaf tapi aku harus ke kamar mengganti celana Haidar. Sekali lagi aku minta maaf.” kataku.
Selain tak mau melihat mereka bertengkar. Aku tidak mau anakku melihat sebuah pertengkaran. Anakku masih sangat kecil dan polos. Aku harus melindungi Haidar. Tak akan aku biarkan anakku melihat pertengkaran orang dewasa diusianya yang masih sangat belia. Bahkan bila anakku besar rasanya aku tidak ingin anakku melihata atau mengalami sebuah pertengkaran.
“Maafkan, Mama ya, Sayang. Karena Mama, kamu harus mendengar apa yang seharusnya tidak kamu dengar.” kataku pada Haidar.
Akupun mengganti celana Haidar dan memakaikannya pampers agar hal ini tidak terulang. Karena ini di rumah mama, jadi Haidar tentu banyak berinteraksi dengan keluarga. Setelah selesai mengganti pampers. Haidar tertidur. Mungkin ini efek dia yang belum tidur.
Tak lama kemudian, Mas Faiz datang dengan senyum sumringahnya.
“Haidar tidur?” tanya Mas Faiz.
“Iya, Mas.” kataku.
Mas Faiz duduk di atas tempat tidur di samping Haidar. Kini posisi Haidar berada di tengah-tengah kami. Mas Faiz memandangiku sambil tersenyum.
“Apa ada yang salah dengan wajahku, Mas?” tanyaku pelan karena takut kalau suaraku bisa membangunkan Haidar dari tidunya.
“Iya, ada.” kata Mas Faiz.
“Benarkah?” tanyaku sembali memegangi wajahku.
“Semakin hari kamu semakin cantik. Hanya itu masalahnya.” kata Mas Faiz juga sambil berbisik.
Mendengar kata-kata suamiku, lagi-lagi aku merasakan dadaku berdesir, jantungku berdegub dengan kencang, dan pipiku kembali panas. Padahal bukan baru kemarin sore kami menikah namun perasaan ini masih sama. Aku selalu berdoa agar selamanya seperti itu.
__ADS_1
“Gombal.” kataku.
“Dia terkekeh.”