
Empat tahun kemudian.
Kini aku berada di ruangan pengurus dengan keadaan yang tidak jauh berbeda saat pertama kali aku datang dengan segala kebencian hingga aku mulai takut untuk meninggalkan. Bukan hanya ruangan pengurus ini. Ada kamar tempat tidurku yang masih sama, setelah beberapa hari setelah aku kembali ke pesantren ini aku baru tau kalau nama kamar itu Al-Hafsah.
Ada yang tahu kenapa nama kamar itu Al-Hafsah? Aku akan bercerita sedikit tentang pemilik nama yang bagus itu. Secara ringkas. Hafsah adalah putri dari sahabat Nabi Muhammad yaitu Umar bin Khatthab. Ia salah satu istri Nabi Muhammad, ia seorang janda dari seorang pria bernama Khunais bin Khudhafah bin Qais As-sahmi Al-Quraisy yang meninggal dunia saat perang Badar.
Aku hanya bisa tersenyum saat mengingat masa-masa itu. Masa-masa di mana aku benar-benar tidak memahami arti mendekatkan diri kepada Rabbku. Masa-masa di mana aku terus menyalahkan takdirku yang dibuang ke sebuah pesantren yang sempat kusebut penjara. Masa-masa di mana aku hanya ingin pergi karena kesalahpahaman yang begitu aku sesali.
"As-salamu'alaikum, Mbak Nindy, Afwan aku telat. Aku Umi perwakilan dari kamar Ummul Kultsum." seorang santri putri masuk ke dalam ruangan. Memang benar aku memanggil perwakilan santri dari semua kamar, semua perwakilan sudah datang kecuali perwakilan dari kamar Ummu Kultsum.
Aku mengangguk sambil tersenyum karena melihat raut wajahnya yang tegang. Aku menyuruhnya duduk. Dia sangat ketakutan. Dalam hati aku tertawa, mengapa setiap santri yang masuk ke dalam ruangan ini berwajah cemas. Mungkin baginya ruangan ini sama dengan ruangan BK. Jadi, aku memakluminya.
"Begini, aku mau ingatkan kalau besok giliran kamar kalian yang tadarus bergilir. Dan aku mau kamu sudah membagi setiap anak satu juz. Jadi, saat santri sudah sampai di sini mereka sudah tahu tugasnya masing-masing dan tidak perlu lagi membuat gaduh menanyakan bagiannya. Aku bisa percayakan sama kamu kan?" tanyaku.
Setelah Umi mengangguk mengerti, dia segera berpamitan, memberi salam dan keluar dari kantor pengurus.
Tugas terakhirku selesai. Hari ini aku hanya menggantikan pengurus yang kebetulan sedang sakit. Aku kembali ke kamarku. Saat aku bertemu dengan santri yang lain mereka menyapaku dan aku balik menyapanya sambil tersenyum.
"Mbak Nindy, Aku mau bilang sesuatu." kata Farha. Dia masih jadi sahabatku.
Aku mengeluarkan semua isi lemariku lalu melipatnya satu persatu hingga terlihat rapih.
"Aku mau pulang." katanya lirih.
"Pulang? Bukannya buang-buang uang kalau pulang? Seminggu lagi hari kelulusan kita." kataku.
"Aku ndak bisa datang ke acara itu, Mbak." katanya. Wajahnya terlihat sangatlah sedih.
__ADS_1
Sarung motif bunga seragam khatamanku jatuh begitu saja dari tanganku. Apa maksud Farha sebenarnya? Dia menunduk di sampingku. Aku menoleh. Dan air mata Farha mengalir begitu saja di pipi cantiknya. Ini kali pertama aku melihatnya menangis seperti ini. Dia tidak tampak seperti Farha yang biasanya.
"Kamu kenapa?" tanyaku, sambil menyeka air matanya.
Farha tiba-tiba memelukku dengan erat. Air matanya semakin deras, isakkan yang di tahannya meluncur begitu saja. Perasaanku tidak enak. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Farha. Aku mengusap kepalanya.
"Aku baru dapat telepon kalau bapak meninggal, Mbak." satu kalimat itu langsung menghentikan tanganku mengusap kepala.
"Innalillahi wa Innailaihi raajiun." kataku pelan. Air mataku mulai tumpah ruah begitu saja seiring aku memejamkan mata. Pantas saja Farha ingin pulang.
"Ak-Aku.." Farha tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi.
"Udah Farha, kamu harus ikhlas. Kamu yang sabar ya, kita doakan saja beliau agar diterima di sisi Allah. Kamu harus kuat." kataku. Mencoba memberikan kekuatan pada Farha.
Farha semakin terisak di dalam pelukanku. Aku mengusapnya lagi. Aku terus mencoba agar Farha bisa ikhlas dan kuat. Farha sudah seperti saudaraku sendiri. Aku sangat menyayanginya. Farha mengangguk dalam tangisan. Menit terus berlalu hingga akhirnya aku bisa sedikit meredakan tangisan Farha.
Aku membantu mengemasi barang-barangnya. Teman-teman yang lainpun ikut membantu. Kami semua diam. Tidak ada yang berniat membuka percakapan. Setelah barang-barang Farha dimasukkan ke dalam tas dan kardus. Kami membantu Farha membawakan barang-barang itu ke tempat mobil Abah. Abah tidak bisa mengantar Farha, jadi beliau menyuruh Ustaz Ridwan untuk mengantar Farha.
Farha memelukku lagi. Dan air mataku jatuh lagi. Meski air mataku jatuh tapi aku buru-buru mengusapnya. Aku tidak mau menambah beban Farha.
"Maafin aku ya, Mbak, kalo aku punya salah sama Mbak." kata Farha lagi. Dia masih terisak.
"Udah, udah.. Aku juga minta maaf kalo banyak salah sama kamu. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan lupa telepon aku kalau kamu udah sampai. Salam buat keluarga di sana. Katakan maaf karena aku nggak bisa dateng ke rumah kamu." kataku. Masih dengan wajah sok tegar.
Farha hanya bisa mengangguk lalu memelukku lagi. Setelah itu memeluk Linda, Arum dan beberapa lagi yang saat ini tak begitu penting untuk kusebut. Mobil itu segera melaju. Aku melambaikan tangan. Hingga saat mobil itu benar-benar pergi. Tangisanku pecah begitu saja. Aku tidak bisa menahan lagi. Arum dan Linda memelukku.
Satu sahabatku pergi sebelum hari kelulusan yang tinggal beberapa hari lagi. Ntah apalagi rahasia untuk esok hari. Tapi aku yakin semua pasti ada hikmahnya.
__ADS_1
...***...
"Mbak Nindy, mending Mbak aja deh yang ngomong. Aku masih bingung." kata Amel.
Hari ini seluruh penghuni kamar Al-Hafsah berkumpul jadi satu kecuali Nabila dan Yati. Kali ini kami tidak ada jadwal mengaji karena Ustaz yang mengajar sakit. Jadi, kami memutuskan untuk memanfaatkan waktu ini untuk membuat rapat anak kamar. Banyak anak kamar yang protes mengenai kelakuan Nabila dan Yati yang sangat mengganggu santri-santri terlebih anak sekamar. Jadi, kali ini aku adakan forum rapat untuk membahasnya.
"As-salamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh." aku mulai membuka rapat.
Saat ini aku dituakan. Jadi, aku dipercaya untuk memimpin jalannya rapat. Lagi pula mengadakan rapat ini ideku. Tujuan diadakannya rapat ini adalah untuk keharmonisan, karena aku menerima banyak keluhan dari anak-anak kamar tentang dua orang santri yang ada di kamar ini. Aku tidak mau membiarkan hal ini terjadi. Jadi, aku merasa harus menyelesaikan masalah ini sebelum aku pergi.
Aku sengaja tak mengundang Nabil dan Yati, bukan karena aku akan membicarakan mereka di belakang. Hanya saja bila yang bersangkutan datang aku takut mereka justru akan dihakimi saat di forum. Aku tidak mau nantinya Nabil dan Yati jadi down dan justru menaruh kebencian pada teman sekamar. Biar aku saja yang berbicara pada mereka nanti.
"Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh." semua santri kamar menjawab salamku.
"Ya, langsung saja ya, karena waktu kita terbatas. Kalian sudah tahukan apa yang akan kita bicarakan pada rapat ini?" tanyaku pada semua. Beberapa mengangguk dan beberapa kebingungan.
"Baik, aku jelaskan karena beberapa masih belum tahu. Jadi, begini adik-adik. Aku dapat banyak laporan mengenai Nabila dan Yati dan sayangnya itu semua laporan buruk. Jadi, aku adakan rapat ini untuk memberikan waktu kepada kalian menuliskan perasaan kalian mengenai Nabila dan Yati dalam satu kertas. Sertakan alasan juga ya. Tidak perlu diberikan nama. Nanti kertas itu dikumpulkan." kataku menjelaskan.
"Aku harap kalian bisa jujur mengungkapkannya. Nanti biar aku yang bicara sama Nabil dan Yati. Yang aku takutkan jika dibiarkan, akan mengganggu kenyamanan santri yang lain. Dan setelah keluar dari rapat ini, aku tidak mau lagi mendengar kalian menjelek-jelekkan mereka di belakang." kataku melanjutkan penjelasan.
Setelah mereka semua mengumpulkan surat itu. Suara pengumuman untuk ke Masjidpun terdengar. Ternyata kelas di alihkan ke Masjid. Dan kamipun melakukan aktivitas seperti biasanya.
Malam ini aku membaca semua surat-surat itu. Lalu keesokkan harinya aku mulai berbicara dengan Nabil dan Yati. Untunglah setelah aku dekati mereka, mereka mau menceritakan apa yang terjadi dari sudut Nabil dan Yati. Lalu aku meluruskan semua kesalahpahaman mereka dan menasihati Nabil dan Yati untuk tidak mengganggu santri-santri lain hanya karena satu hal kecil.
Nabil dan Yatipun mengerti. Setelah aku berbicara pada mereka berdua. Merekapun berubah. Anak-anak kamar yang menyadari perubahan tingkah laku Nabil dan Yatipun bersyukur dan kembali menemani Nabil dan Yati.
Masalah selesai.
__ADS_1