Penjara Suci

Penjara Suci
PS 44 - Mimpi


__ADS_3

Semalaman aku tak bisa tidur. Meski mataku tertutup rasanya otakku masih tetap terjaga. Aku terus teringat janjiku pada Umi. Rasanya aku ingin terus mengutuk diri sendiri karena kembali menebar janji. Sudah kukatakan, kata Ilham, janji itu hutang. Aku tak mau memiliki hutang pada siapapun. Terlebih Umi. Beliau terlalu baik untuk aku kecewakan.


Jam menunjukkan pukul 10 lewat sedikit. Aku dan santri yang lain baru saja pulang dari kelas mengaji di Masjid (kelas gabungan). Aku tak bertemu Aaron ataupun Gus Faiz di sana.


Aku memilih ke tempat jemuran menjernihkan pikiran. Selagi menjernihkan pikiran, sesekali aku melihat ke bawah. Siapa tahu ada Aaron lewat seperti saat insiden kerudung.


"Mbak,.." panggil seseorang. Suara Arum.


Aku menoleh sebentar.


"Maafkan aku ya, semalam. Aku ndak tau kalau ATM Mbak hilang. Tadinya aku mau bantu Mbak, tapi malah jadi memberatkan Mbak. Maafin aku ya." katanya, sedih.


Dia ikut berdiri di sampingku. Mengikuti caraku melihat hamparan sawah.


Aku hanya diam. Aku sangat tahu niat dia sangatlah baik. Namun, aku merasa tak boleh menciptakan kenangan lagi. Sebentar lagi aku akan pergi. Meninggalkan semua ini. Aku hanya perlu bertemu Aaron.


Farha datang. Kali ini dia datang bersama Kak Ulfa. Aku memutar bola mata. Malas.


"Gimana hasil semalam, Rum?" tanya Farha.


"Satu-satunya cara hanya kita harus temukan ATM itu." kata Arum. "Eh, Mbak Ulfa." kata Arum, lagi.


"Gue pergi dulu." kataku pada Arum.


Mereka hendak menyusulku. Aku bisa tahu dari suara langkah mendekat.


"Kali ini gue pengen sendiri. Gue mohon." kataku.


Sepertinya mereka mengerti. Tak ada yang mengikutiku lagi. Aku memilih pergi ke tempat dulu saat menyuruh anak kecil membeli roti. Biasanya di sana banyak anak-anak. Siapa tahu aku bisa dapat pencerahan di sana. Ah, aku jadi teringat Gus Faiz.


Dan benar saja sesampainya di lapangan kecil penuh rumput itu, aku bisa melihat seorang anak kecil meski hanya satu orang cukup untuk menghiburku.


Anak itu perempuan. Bukan anak kecil yang pernah kuberikan uang untuk membeli roti. Aku taksir usianya 5tahun. Wajahnya sangat cantik, dan menggemaskan. Bila suatu saat aku punya anak. Aku sangat ingin memiliki anak seperti anak itu. Benar-benar cantik dan menggemaskan.


Aku tak berniat mendekatinya. Aku lebih memilih duduk di atas kayu dengan nyaman. Aku hanya ingin melihat apapun yang dilakukannya. Jika kuamati, dia sedang bermain masak-masakkan. Tangannya yang kecil begitu terampil mengaduk-aduk lumpur, daun-daunan yang telah ditumbuk, dan air di panci-pancian kecil. Lucu sekali.


Nanti, kalau gue punya anak. Gue janji, gue gak akan biarin anak gue ngerasain apa yang gue rasain. Gue bakalan adil sama anak-anak gue, bakalan kasih semua kasih sayang yang lebih dari cukup buat anak-anak gue, bahkan gue rela memberikan hidup gue untuk kebahagiaan anak-anak gue. -batinku.


Waktu seperti berjalan melambat. Aku terus mengamati anak kecil itu, lama-lama aku mengantuk.


***


"Mas.. liat deh anak kecil itu!" aku memanggil suamiku, Gus Faiz.


Di hadapanku sudah ada anak kecil cantik yang menggemaskan. Sekarang kita sedang berada di sebuah taman bunga yang cantik.

__ADS_1


"Kenapa, Sayang?" kata Gus Faiz mendekatiku.


Aku memeluknya manja. Dan dia pun melakukan hal serupa. Dia mencium ubun-ubunku penuh cinta. Aku benar-benar bahagia.


"Aku mau punya anak lucu seperti itu." kataku sambil menunjuk anak kecil yang menggemaskan itu.


Gus Faiz mengedarkan pandangannya ke arah yang kutunjuk. Lalu tersenyum gemas, sambil mencubit pipiku.


"Ih, Mas. Sakit." kataku manja.


"Kamu mau anak perempuan?" tanyanya.


"Iya, aku mau anak perempuan yang cantik, lucu, dan.." aku belum selesai berbicara langsung di potong Gus Faiz.


"Salihah seperti ibunya." katanya lagi.


Sontak saja pipiku merah. Dia terkekeh melihat wajahku. Aku benar-benar malu. Jantungku berdegup kencang melihat dia mulai memajukan wajahnya ke wajahku.


Semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat..


***


"Eh, copot!" teriakku refleks saat tubuhku seakan mau jatuh. Aku membuka mata. Ternyata aku hanya mimpi. Mimpi yang aneh. Hampir saja aku jatuh.


"Kamu kenapa?" tanya seseorang. Suara Gus Faiz.


Aku buru-buru berdiri. Menggeleng-gelengkan kepalaku agar sadar. Laki-laki ini benar-benar Gus Faiz. Dia menunggu jawabanku.


Jangan-jangan..


"Gue gak mimpiin lo, Gus. Percaya ama gue gak mimpiin macem-macem sama lo." kataku.


Dia terkekeh. Aku mulai memikirkan kata-kataku kembali.


"Sumpah. Eh, maksud gue, gue gak bohong tapi gak pake sumpah." kataku, lagi. Nyawaku benar-benar belum terkumpul.


Aku berusaha menyakinkannya. Dia hanya tertawa. Tak sopan. Aku tebak dia semakin salah paham. Meski aku benar-benar memimipikan mimpi sialan itu, aku tak mau mengakuinya.


"Mimpiin saya?" tanyanya menyelidik.


"Eh, bukan! Maksud gue. Gue gak mimpiin lo. Tadi, tadi tuh gue.." belum sempat aku mengucapkan sesuatu.


BRUGH!


"Huaaa. Mamaaa!" teriak anak kecil sambil menangis.

__ADS_1


Ternyata sumber suaranya berasal dari anak kecil yang dari tadi kuamati sebelum tertidur. Gus Faiz langsung menghampiri anak itu. Harusnya ini bisa menjadi waktu yang pas untukku buat pergi. Namun ntah mengapa aku justru tak ingin pergi. Rasanya ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Gus Faiz pada anak itu.


Gus Faiz langsung menggendong anak itu. Dalam hati aku merasakan ada yang berdesir di dalam sana. Gus Faiz benar-benar terlihat seperti calon suami yang sempurna.


Aku buru-buru tersadar. Aku tak boleh luluh lagi karenanya.


"Za, kenapa menangis?" tanya Gus Faiz sambil mengusap air mata anak itu.


Ternyata alih-alih menyuruh anak bernama Za itu diam dia justru menanyakan alasan mengapa Za menangis.


"Za, mau sampelin om, tapi Za jatuh." kata Za sambil menangis, namun tak sehisteris tadi, meski masih sesenggukan.


"Yasudah tidak apa-apa, nanti lain kali hati-hati ya, biar tidak jatuh lagi." kata Gus Faiz, sambil membersihkan bagian lutut dan tangan Za yang kotor.


Untungnya lapangan ini masih tanah dan rumput jadi aku taksir Za tidak terluka. Aku kembali duduk. Melupakan kekesalanku pada Gus Faiz.


"Tidak usah nangis lagi ya, nanti kalau Za menangis setan tertawa. Za, tidak mau kan kalau setan tertawa?" kata Gus Faiz.


Za mengangguk. Tangisnya mulai benar-benar reda. Ajaib.


Sudut bibirku tersenyum melihat Gus Faiz dan keponakannya. Sepertinya Za memang keponakan Gus Faiz karena selain Za memanggil Gus Faiz dengan sebutan om, diapun terlihat akrab dengan Gus Faiz. Yang aku tahu Gus Faiz tidak punya kakak. Jadi, mungkin Za anak kakak sepupunya yang ntah yang mana.


Dia membawa Za duduk di sampingku. Aku tak bisa mengatakan kalau dia benar-benar duduk di sampingku karena jarak kita lumayan jauh lebih dari satu meter. Dia benar-benar seorang Gus.


"Gimana, sudah ada bukti?" tanyanya, seperti biasa dia tak menatapku. Matanya terus lurus ke depan.


"Buktinya ilang. Nggak tau ke mana." kataku.


"Maksudnya?" tanyanya tak paham.


"Satu-satunya bukti cuma saldo ATM gue. Tapi gue gak tau ATM gue hilang di mana." kataku.


Tiba-tiba aku sadar kalau aku dan Gus Faiz itu masih musuh. Lalu akupun memutuskan berdiri. Hendak marah. Namun mataku bertemu dengan mata Za. Aku tak mungkin mengucapkan kata-kata kasar di hadapan anak kecil.


"Kita belum baikan." kataku. Aku bergegas pergi.


"Kakak Cantik!" teriak Za.


Aku menoleh. Gus Faiz pun terlihat kebingungan. Dia sama sepertiku. Menunggu apa yang akan di katakan Za.


Za memonyongkan mulutnya. Aku tak mengerti


"Kakak, tadi tidul sepelti ini." katanya sambil memonyongkan wajahnya.


Seketika aku mengerti arah ucapannya. Dia sedang mencontohkan aku ketika tadi sedang bermimpi. Aku merasakan pipiku panas karena malu.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum ke arah Za dan lari. Aku tak tahu dan tak penasaran dengan ekspresi Gus Faiz. Sungguh.


__ADS_2