Penjara Suci

Penjara Suci
PS 9 - Suara Laknat


__ADS_3

Biarlah kali ini aku terlihat seperti orang miskin menyedihkan yang meminta bantuan. Untuk beberapa kali ini saja. Aku sudah tidak kuat di sini dan aku merasa mulai kehabisan akal. Aku ingin menelepon Revan. Aku yakin dia bisa mengeluarkan aku dari sini. Pacarku itu punya seribu satu otak licik dalam urusan kabur-kaburan seperti ini. Dan aku yakin dia pasti mau membantuku. Sebab, dia sangat mencintaiku.


Laki-laki di hadapanku ini hanya memandangku seakan berkata ‘mau ngomong apa?’


“Pinjemin gue handphone lo, please.” Kataku, memohon.


“Makan dulu.” katanya.


“Gue janji bakal makan setelah gue telepon. Gue janji.” Kataku, betul-betul tulus berjanji.


Tanpa membantah atau menjawab, ia lekas keluar kamar. Aku mulai berharap banyak padanya. Aku memandangi makanan yang ada di hadapanku, makanan ini terlihat lezat, namun ntah mengapa aku justru tidak ada niatan untuk memakannya, padahal perutku masih sakit, butuh asupan. Nantilah, mungkin setelah telepon nafsu makanku akan meningkat.


Aku janji, Tuhan, bila aku sudah menelepon Revan aku akan makan. -Batinku


Tak lama kemudian, dia masuk kembali, dan memberikan ponselnya padaku. Ponselnya setara dengan milik pengurus, ponsel biasa. Aku mengeluarkan ponsel lalu menyalakannya sebentar semoga saja cukup untuk mencatat nomor. Dan benar saja ponselku menyala walau peringatan ‘baterai lemah’ terus bermunculan. Setelah aku mencatat nomor Revan di ponsel ini, ponselku langsung mati. Aku menyodorkan nampan ini lalu ia langsung menyambutnya.


Aku langsung menekan tombol hijau untuk memanggil.


Sekali.. tak ada jawaban. Aku tak menyerah. Mungkin Revan sedang tidur.


Dua kali.. tetap tak ada jawaban. Aku masih yakin kalau dia akan mengangkat.


Tiga kali..


“Hal-h hallo?” suara Revan. Rasanya aku ingin teriak sekarang juga. Tak ada yang lebih membahagiakan selain mendengar suara Revan kali ini. Ku yakin kesempatanku untuk pergi terbuka lebar sekarang.


“Hallo Rev, Rev, ini aku!” kataku, menggebu-gebu karena merasa semesta sedang berada di pihaklu.

__ADS_1


“Ah, ahhh, ahhh” terdengar suara di sebrang sana. Aku mengernyit bingung. Lalu satu suara perempuan juga terdengar di sana dengan nada suara yang sama, meminta ponsel lekas dimatikan.


Deg!


Hatiku seketika hancur. Aku mulai menyadari apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang mereka lakukan di seberang sana. Suara itu milik Mia. Sahabat baikku. Mereka...


“DEMI TUHAN! APA YANG LAGI LO BERDUA LAKUIN?!” teriakku.


Hatiku hancur. Suara laknat itu begitu nyata. Sakit sekali rasanya. Sedingin apapun sikapku, bukankah aku manusia juga? Aku juga memiliki hati, hatiku bukanlah ‘roller coaster’ yang bisa dijungkirbalikkan dengan seenaknya. Hati ini tak sebecanda wahana Dufan yang dengan bebas dapat dimainkan.


Tuhan, mengapa engkau tak pernah adil padaku? - batinku berteriak.


“NINDY?” terdengar pekikkan Revan dari sana. “Nin, aku bisa jelasin..” kata Revan. Aku yang jijik mendengar suaranya lekas memotong kalimat yang belum selesai diucapkannya.


“NINDY UDAH MATI!” KLIK! Aku memutuskan panggilannya. Aku langsung memberikan ponsel itu kepada Si Empunya. Lalu menggenggam ponselku sendiri dengan ama erat. Aku menolehkan menengadahkan kepalaku ke atas agar air mata tidak turun, aku tak mau orang asing ini melihat air mataku. Aku tak selemah itu.


Tapi, nyatanya sia-sia. Menahan air mata hanya membuat badanku bergetar lalu sesengukan. Ah, persetan dengan rasa maluku pada laki-laki asing itu. Jujur hatiku benar-benar sakit, telak sekali. Yang membuatku sesak sebetulnya bukan karena aku begitu mencintai Revan.


Tak ada satupun bagian di dunia ini yang mau membantuku, tak ada yang benar-benar menyayangi dan mencintaiku, tak ada yang mau dekat-dekat denganku. Lihatlah, semua orang yang kuanggap berada dipihakku hanyalah kebohongan. Perhatian palsu, kekhawatiran palsu, dan kebersamaan pun palsu.


Apalagi ini, Tuhan? Semarah itukah Engkau hingga tak pernah biarkan aku merasakan kasih sayang yang tulus? – bathinku. Air mataku menderas.


“Makanlah sesuai janjimu tadi.” katanya sambil memberikan nampan berisi makanan tadi kepadaku lagi. Sebelum mengambilnya, aku memandang sekilas ponselku yang mati, ponsel ini terlalu banyak berhubungan dengan Revan dan Mia. Sebab, kawan terdekatku saat ini, terhitung sebelum aku menelepon tadi. Karena tak tahan, aku melempar ponselku ke tong sampah kecil dekat meja. Lalu menerima nampan makanan itu. Bagaimanapun aku tak akan ingkar janji.


“As-salamu ’alaikum. Ehh, Gus Faiz.” Farha terlihat salah tingkah dan langsung minggir seperti biasanya.


“Wa ‘alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Setelah menjawab salam Farha.

__ADS_1


Laki-laki itu pergi begitu saja. Ternyata Farha mengenal dia. Bila saja situasiku tak seperti sekarang aku pasti menanyakan namanya pada Farha.


Setelah laki-laki itu pergi, Farha menghampiriku.


“Maaf, Mbak, tadi aku ke pondok sebentar. Maafkan aku ya, Mbak. Lho, Mbak, menangis? Kenapa menangis, Mbak?” kata Farha. Ia memelukku.


Dia terlihat begitu mengkhawatirkanku. Dulu Revan dan Mia juga pernah mengkhawatirakanku saat aku sakit. Mengingat mereka, aku mulai bertanya pada diri sendiri, apa Farha juga tidak tulus? Aku rasa hanya dia dan Tuhan yang tau. Rasanya lelah sekali. Mengetahui aku hanya diam dan menangis, ia menyuapiku dengan sabar. Kali ini aku benar-benar menurut saja, rasanya tak ada gunanya menolak. Biarlah seperti ini.


Tak lama kemudian seseorang masuk ke dalam kamar, dia Linda. Pengurus yang membuatku berurusan dengan Umi, pengurus yang mengancam Farha, dan pengurus yang temannya pernah aku lempar pakai high heels.


“As-salamu ‘alaikum, Mbak, ada telepon buat, Mbak” katanya.


“Wa ‘alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh.” Jawab Farha.


“Dari siapa?” tanyaku, lemas.


“Mamanya Mbak.” katanya lagi.


“Bilang aja Nindy udah mati.” Kataku, yang langsung mendapatkan pelototan dari Linda dan Farha.


“Astagfirullah al-‘azim, Mbak, ndak boleh bilang begitu.” kata Farha.


“Bilang aja begitu.” kataku lagi. Lalu dengan memaksakan diri untuk keluar. Nafsu makanku hilang lagi mendengar nama Mama disebut.


Ngapain Mama pakai telepon segala? Baru ingat sama anaknya? Dari kemarin kemana aja?- Bathinku teriak.


“Tapi, Mbak.” kata linda lagi. “Kasian Mamanya Mbak menelepon dari tadi.” lanjutnya.

__ADS_1


“Lo gak punya kuping? Gue bilang, bilang aja gue udah mati.” kataku. Langsung mempercepat langkahku keluar dari kamar ntah siapa itu, sambil memegangi perutku yang masih sakit.


Aku sangat kecewa. Padahal saat menelepon Revan tadi aku sangat berharap dia akan membantuku untuk pergi secepatnya. Tadi, aku merasa semesta punya waktu untuk memihakku. Namun, nyatanya aku salah. Ntah Revan, Mia, Mama, Papa, Ka Ulfa dan semua orang tak ada yang benar-benar menyayangiku, termasuk semesta.


__ADS_2