Penjara Suci

Penjara Suci
PS 17 - Rembulan


__ADS_3

Hampir saja aku melupakan sesuatu. Aku melupakan fakta bahwa orangtuaku akan datang ke sini. Ntah berapa sisa waktuku sekarang, yang jelas sepertinya aku harus benar-benar pergi, tak boleh ditunda lagi. Tak boleh. Tak boleh.


Tanpa sadar, aku mulai berlari. Menuruni tangga, dan menjauhi pondok.


Aku tidak mau bertemu dengan keluargaku. Tak ada alasan baik untuk mereka datang. Jelas mereka datang hanya untuk menertawakanku. Membayangkan hal tersebut membuatku muak. Ingin pergi. Benar-benar ingin pergi. Kemanapun.


Aku terus berlari, tak kukira jalan yang kutempuh adalah hutan. Baju hijauku membantuku bersembunyi di balik semak-semak tiap ada orang yang tidak sengaja lewat. Tak ada yang bisa kupikirkan lagi. Kalaupun diujung sana ada harimau yang hendak mencabik-cabikku, aku tidak peduli. Bahkan, bila nantinya aku dicabik-cabik sampai meninggal, aku justru bersyukur.


Hari semakin larut. Hal ini ditandai hutan yang bertambah gelap. Saat mulai jauh jarakku dari tepi hutan, kepalaku kembali pusing, mau tak mau, akupun melambatkan langkahku. Penyakit mag sialanku sepertinya kambuh.


Jalanan makin curam, aku terus berjalan hingga akhirnya hanya juranglah yang aku temui. Aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Melihat jurang curam yang menganga di sana menantiku untuk terjun bersatu.


Aku mencium gelang perak ditanganku.


“Bantu gue ketemu sama lo!” kataku. Kubulatkan tekatku untuk terus melaju mendekati jurang.


Persis di atas jurang aku memejamkan mata. Menikmati saat-saat terakhirku menghirup udara segar dengan isak tangis yang tak bisa kutahan.


Akupun mulai melangkahkan kakiku.


Namun, seseorang mencekal tanganku. Bahkan menarikku hingga aku jatuh dalam pelukannya. Aku langsung membuka mataku. Dan mata itu! Di dalam gelapnya malam aku masih bisa mengenali mata itu. Mata yang tidak pernah menatapku. Mata yang selalu dipalingkan oleh sang pemilik untuk menghindari kontak dengan mataku.


...Dihadapanku, rembulan begitu bersinar...


...Meski hanya berselimut malam yang kelabu...


...Justru tampak pualam di singgasanaku...


...Bola mata yang bagai zamrud; hangat meluluhkan:...


...Segala puncah amarah, resah, dan pilu...

__ADS_1


...Demi malam yang kian menyetubuhi...


...Suatu rasa aneh turun bagai salju; dingin, lembut juga putih...


...Di bawah dingin malam yang mulai menghangat...


...Peleburan karsa tercipta lewat diam yang diamini malam;...


...Lewat detak yang dipersetani jantung;...


...Lewat getar yang dihujati tubuh;...


...juga...


...Lewat rindu yang hanya direstui kepapaan....


...Pada puisi yang saat ini tak pernah ingin ku muarai...


...Menelepati afeksi hingga sudut terdalam...


...Menyakinkan tuk menghamburkan pilu juga lara:...


...Yang bersemayam dalam dada...


...Mengisyarat izin tuk memasuki kesucian penjaramu....


Dia, Gus Faiz. Dialah orang yang wajahnya kini hanya berjarak satu jengkal denganku. Aku hanya terpaku melihat bola matanya. Dia membantuku untuk duduk. Memalingkan wajahnya. Menggeram frustasi. Lalu berdiri menarikku menjauhi jurang. Aku meronta-ronta minta dilepaskan. Namun dia hanya diam dengan wajah menyeramkan. Meski genggamannya sangat kuat namun aku tak merasakan sakit sama sekali.


“Astaghfirullah al-adzim!” kata Gue Faiz lirih, sambil mengusap wajahnya. Aku masih bisa mendangarnya. Aku menunduk. Menyembunyikan air mataku yang lancang keluar begitu saja.


Dia menoleh ke arahku, “Apa yang coba kamu lakukan tadi? Mau mencoba bunuh diri lagi? Tak puas dengan kejadian tadi siang?” dia tak berteriak sungguh, namun nada suaranya begitu menakutkan. Aku memalingkan wajahku sambil terisak.

__ADS_1


Dia mengarahkan wajahku agar terus menatapnya, “Apa ada jaminan kalau bunuh diri akan buat kamu bahagia?” aku kembali memalingkan wajah namun dia kembali mengarahkan wajahku. “Demi Allah, Ann, bunuh diri adalah tindakan yang sangat dibenci Allah!” kali ini nadanya terdengar sangat frustasi.


“Kenapa si lo selalu ikut campur semua urusan gue?” tanyaku, sambil membalas tatapan matanya. Jauh di lubuk hatiku. Aku merasa bersalah menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan lagi.


“Lo tuh gak tau, Iz, lo gak tau apa yang gue rasain. Lo gak tau gimana frustasinya gue. Lo gak tau gimana sakit hatinya gue. Lo gak tau gimana rasanya sendirian. Lo gak tau semuanya! Lo bisa ngomong kayak gitu karena lo punya dunia yang semuanya berpihak sama lo, gak kayak gue! Lo punya Umi dan Abi yang sayang sama lo, lo punya temen-temen yang juga sayang sama lo, lo punya segalanya yang gue gak punya. Jadi, please. Lo gak tau apa-apa!” lanjutku lagi. Persetan dengan air mata ini. Aku tidak peduli.


“Saya memang tidak bisa merasakan semua yang kamu rasakan, juga tak sepenuhnya mengerti semua yang kamu katakan. Tapi, An, bila saja kamu mau membagi rasa sakit itu, membagi semua yang kamu rasakan kepada saya, saya berjanji perlahan tapi pasti akan saya sembuhkan luka itu. Jadi, tolong An, berhentilah melakukan tindakan seperti tadi. Kita hadapi semuanya bersama-sama. Ingat, An, meski kita merasa kita tak punya siapa-siapa, kita masih punya Allah. Dan saya yakin, Allah tak akan memberikan hambanya cobaan di luar kemampuan hambanya itu, sebab bersama kesulitan ada kemudahan.” katanya.


Dia memanggilku dengan panggilan An. Air mataku kembali mengalir. Bahkan deras. Aku tak boleh luluh.


“Enggak! Gue gak mau.” kataku, lirih. Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Tidak kuat menatap matanya, matanya yang sudah memerah. Dia nangis? Gara-gara aku? Aku pasti salah. “Jadi gue mohon, biarin gue ngelakuin apapun yang gue mau.” lanjutku.


"Tidak, An. Saya tidak akan membiarkan kamu melakukan hal bodoh seperti itu. Saya mohon, An, mari kita kembali ke pesantren, kita selesaikan semuanya bersama. Saya akan selalu ada bersama kamu, kamu tidak akan sendirian.” katanya.


Aku masih memalingkan wajah. Hatiku rasanya menghangat mendengar kesungguhan dan ketulusann dalam kata-katanya. Ketulusan? Dia pasti bercanda. Aku tak akan percaya!


Aku berlari mendekati jurang itu lagi. Aku hanya ingin mengakhiri hidupku. Gus Faiz mencoba mencekal tanganku tapi kali ini aku bisa mengatasinya aku memeluk tanganku sendiri agar tidak bisa terjangkau Gus Faiz. Tapi tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Aku meronta lagi hingga kami jatuh bergulingan. Hampir saja kami masuk ke dalam jurang jika tidak cekatan Gus Faiz berpegangan pada sebuah pohon. Dia menarikku ke atas. Benar-benar seperti sinetron yang sangat benci kutonton.


“Saya mohon, An, kembalilah ke pesantren.” kata Gus Faiz. Dia terlihat sangat frustasi. Kali ini dia tidak melepaskan genggaman tangannya pada lenganku yang tertutup baju. Sepertinya aku takkan bisa lolos darinya.


“Oke, gue ikut lo ke pesantren.” kataku.


Mata Gus Faiz menatapku dengan binar. Kini matanya lebih indah dan lebih bersinar daripada rembulan. Tangannya masih tak mau melepaskanku. Sepertinya dia masih takut aku akan kabur lagi.


“Tapi ada syaratnya.” lanjutku. Tentunya aku tidak mau datang lagi ke pesantren itu.


Melihat dia yang bahkan hanya berani menyentuhku yang tertutup baju, tak pernah mau menatapku. Aku tahu dia memang hamba yang taat beragama. Walaupun tadi dia memelukku itu hanyalah tindakan terpaksa. Berbicara panjang lebar kepadaku pun hanya karena terpaksa. Dan sepertinya dia juga tidak akan pernah mau berbohong seperti halnya Farha, yang selalu mengatakan bahwa bohong itu dosa. Jadi, sepertinya aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku yakin, syaratku ini tidak akan bisa diterimanya.


“Apapun, insyaAllah saya akan memenuhinya.” kata Gus Faiz. Nada suaranya sangat mantap dan bersungguh-ungguh. Kini aku bertanya-tanya apa jika hal ini dialami oleh Farha dia juga akan melakukan hal yang sama? Seketika hatiku sakit.


“Kalo lo gak bisa penuhin 2 syarat dari gue, biarin gue pergi dan jangan ikut campur lagi urusan gue!” kataku.

__ADS_1


__ADS_2