
Saat aku ingin masuk ke kamar hotel. Kak Ulfa menarikku untuk menghadapnya lagi. Aku melihat jelas pipi merahnya dan kebencian di matanya. Aku menatap matanya. Menunggu apa yang akan dikatakannya.
PLAKKK!
Satu tamparan mengenai pipiku. Sakit sekali. Aku memegangi sebentar pipiku. Lalu kulepaskan dan kutatap Kak Ulfa.
“Kau hanyalah seorang adik yang merebut kebahagiaan Kakaknya! Seorang adik egois yang merebut kekasih kakaknya sendiri!” seru Kak Ulfa.
“Kekasih?” kataku tertawa sinis. “Apakah usaha sepihak bisa disebut dengan hubungan kekasih?” kataku lagi. “Kau lucu sekali, Kak.” lanjutku lepas kendali.
“Kau harus tahu kalau saat kau pergi ke pondok, aku sudah menjalin hubungan kekasih dengan suamimu. Kami bahkan kami sering mengirim pesan satu sama lain.” kata Kak Ulfa sambil tersenyum bangga dan licik.
Aku tersenyum sinis, “Iya. Pesan yang begitu panjang dan selalu di balas singkat oleh suamiku. Oh, istimewa sekali!” seruku lalu kususul dengan kekehan.
“Kau!” Kak Ulfa geram.
“Kau bahkan memberikan nomor tidak aktif yang ntah milik siapa padanya, dan mengatakan kalau aku membeli ponsel baru.” kataku. Air mataku menetes.
“Bagaimana kau tahu?” tanya Kak Ulfa. Dia terlihat terkejut.
“Kaget?” tanyaku. “Perlukah kulanjutkan?” lanjutku.
“Kau memang picik! Sudah tahu kakaknya menyukai seorang laki-laki tapi kau malah merebutnya bahkan bersedia menikahinya!” seru Kak Ulfa.
“Bukan aku yang picik! Tapi kakak. Bila ini merujuk pada keadaan sebelumku menikah. Kau pasti ingat bagaimana kau katakan padaku kalau kau menyukai seseorang yang bukan Mas Faiz. Kau menyukai sepupu Aaron! Aku tidak merebut suamiku dari siapapun! Kau yang egois. Kau yang mengatakan kalau aku boleh menyukai Mas Faiz. Kau lah yang picik dan egois karena tidak konsisten dengan kata-katamu sendiri!” seruku.
“Kamu benar-benar pandai berbicara.” kata Kak Ulfa.
“Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran, agar kau sadar, Kak. Apa yang kau lakukan hanyalah obsesi. Buka matamu, apa terus-terusan mengganggu pernikahan adikmu adalah sesuatu yang baik?” kataku.
Aku berharap kata-kataku akan menyadarkan Kak Ulfa. Aku tidak mau kakakku akan bertindak lebih jauh bila terus-terusan aku biarkan.
“Aku tidak akan menyerah sebelum sesuatu yang sejatinya miliku, kembali menjadi milikku.” kata Kak Ulfa mantap.
Aku sangat ingin menamparnya namun aku harus mengontrol emosiku.
“Pulanglah, Kak. Kalau tujuan asli kakak datang ke sini hanya untuk merusak hubunganku dengan Mas Faiz. Kau tidak akan melihat hal itu terjadi. Pulanglah dan aku akan pura-pura tidak mendengar apa yang kau katakan.” kataku.
“Kita lihat saja. Siapa yang akan di pilih Gus Faiz pada akhirnya.” kata Kak Ulfa.
__ADS_1
Tiba-tiba Kak Ulfa memegangi tanganku dan mengarahkan tanganku di pipinya agar aku terlihat menamparnya. Aku hanya diam, bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan Kak Ulfa.
“Awww!” serunya lalu dia menjatuhkan diri di lantai.
Seseorang menghampiri Kak Ulfa, dia Revan. Aku melirik, ternyata ada suamiku. Aku bisa menyimpulkan kalau Kak Ulfa hanya membuat kondisi agar aku terlihat sedang menamparnya. Aku benar-benar tidak tahan. Saat Mas Faiz sudah berada di sampingku dengan tatapan bingungnya. Aku hanya melirik Kak Ulfa sekilas dan memberikan tatapan malas, Mas Faiz mengangguk. Ternyata dia paham isyarat mataku.
“Kamu jahat sekali, Nindy. Apa salah kakak sama kamu?” tanya Kak Ulfa dramatis.
Aku memutar bola mata. Aku benar-benar merasa gagal mengenal kakakku sendiri. Aku merasa sikap baikku selama ini dengan menahan diri kepadanya sia-sia. Bila aku tetap diam, dia pasti akan jauh lebih parah dari ini.
Aku akan buktikan, Mas Faiz akan lebih memilihku, istri sahnya. Aku menarik tangan suamiku. Aku mendekatkan wajahku ke arah suamiku, lalu menempelkan bibirku pada bibirnya.
Seketika aku meraskan ketegangan dari diri suamiku, sorot matanya berubah penuh gairah. Beberapa detik berlalu, aku hendak melepaskan diri namun di luar dugaan Mas Faiz justru mendalamkan ciuman dan menggendongku di depan lalu membawaku masuk ke dalam kamar hotel kami tanpa memperdulikan sorot mata Revan dan Kak Ulfa.
Aku tersenyum. Biarlah aku tidak sopan. Semoga tindakanku akan menyadarkan Kak Ulfa bagaimana perasaan Mas Faiz padaku hingga dia tidak akan lagi mengganggu pernikahanku. Aku hanya sedikit merasa tidak enak pada Revan. Namun, biarlah. Aku hanya berniat melindungi pernikahanku. Semoga dia bisa mengerti.
“Mas, aku sudah siap.” kataku. Saat kami berdua berada di atas tempat tidur.
“Kamu serius?” tanya Mas Faiz.
Aku mengangguk mantap. Mas Faiz memelukku, wajahnya terlihat bahagia. Seketika rasa bersalahku menyelimutiku. Aku merasa bersalah padanya karena telah membuatnya menunggu lama. Tapi sepertinya ini adalah waktu yang tepat, apalagi saat ini adalah masa suburku.
Setelah memelukku, suamiku memanjatkan doa, aku mengikutinya. Lalu dia mencium keningku dan mulai melakukan apa yang sudah selumrahnya dilakukan oleh pasangan suami istri, Kamipun mulai bersatu. Ntah mengapa rasa takut yang selama ini aku rasakan hilang begitu saja hingga aku merasakan sesuatu yang lain.
***
Aku tidak menceritakan mengenai Kak Ulfa pada Mas Faiz. Aku hanya meminta Mas Faiz untuk membelikan tiket untuk Kak Ulfa hari ini. Aku tidak mungkin menjelekkan kakakku. Meski sikapnya sudah keterlaluan namun aku tetap masih menganggap Kak Ulfa sebagai kakakku. Aku tidak mau kalau Mas Faiz membencinya.
Kali ini kami makan siang berempat. Di restaurant hotel yang ada di atas gedung. Tempat pertemuan dengan Dimas hanya saja beda meja.
“Pak Faiz, saya akan segera ke bandara 1 jam lagi.” kata Revan.
Sedari tadi Kak Ulfa hanya diam saja.
“Baiklah kalau begitu, bawalah Kak Ulfa bersamamu.” kata Mas Faiz.
“Lho, Gus. Kenapa aku harus kembali bersama Revan? Pekerjaanku masih banyak di sini.” kata Kak Ulfa.
“Tidak ada orang yang bernama Chef Arya di sini, kalau itu alasanmu melakukan pekerjaan.” kata Mas Faiz.
__ADS_1
Ternyata diam-diam, Mas Faiz mencari tahu mengenai Chef Arya. Aku benar-benar tidak tahu mengenai kebenaran ini. Tapi kalau kata-kata Mas Faiz benar, aku benar-benar kecewa pada Kak Ulfa. Jadi, Chef Arya juga termasuk bagian dari rencana Kakakku.
Diam-diam aku malu pada Mas Faiz. Sepertinya tanpa aku ceritakan hal yang sesungguhnya, suamiku sudah tahu apa yang tengah terjadi.
“Kalian, benar-benar menyebalkan!” seru Kak Ulfa.
Dia berdiri, menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan meja makan. Aku tidak berniat untuk menahan Kak Ulfa pergi. Biarkan saja, dia pergi. Kalau itu yang membuatnya lebih nyaman.
Tiba-tiba suamiku berdiri, aku menatapnya bingung.
“Kamu mau mengejar Kak Ulfa, Mas?” tanyaku bingung.
Mas Faiz terkekeh, menggeleng, lalu mengusap kepalaku. “Mas, mau ke toilet.” katanya.
Aku tersenyum karena salah sangka pada suamiku. Akupun mengangguk. Mas Faizpun pergi ke toilet.
Kali ini di atas meja makan hanya ada aku dan Revan. Kami tidak pernah mengobrol selama ini, aku hanya diam dan diapun sama. Dia sepertinya takut Mas Faiz akan marah atau cemburu kepadanya, sama sepertiku.
“Aku minta maaf, Nin.” kata Revan.
Aku mendongak. “Untuk?” tanyaku. Lalu aku melanjutkan makan, memutuskan kontak mata. Aku tidak mau berkontak mata langsung dengannya.
“Untuk kejadian saat itu, ketika kau meneleponku saat..” belum sempat Revan menjelaskan, aku buru-buru memotongnya.
“Aku sudah memaafkanmu. Aku harap kamu tidak lagi membahas kejadian itu.” Kataku.
“Aku benar-benar salah saat itu. Itu adalah kesalahan terbesarku yang tidak pernah bisa aku lupakan sampai sekarang. Bila saja aku bisa memutar waktu, aku tidak akan pernah mengkhianatimu, dan akan selalu berada di sampingmu. Aku benar-benar meminta maaf.” katanya lagi.
“Sudah kukatakan kalau aku sudah memaafkanmu. Jadi, tolong berhentilah membahas masa lalu. Bukankah kita sudah memiliki keluarga bahagia masing-masing? Aku sangat mencintai suamiku, aku yakin kaupun begitu pada Mia.” kataku.
“Sayangnya tidak, Nin.” kata Revan tersenyum kecut.
Kali ini aku tidak menjawab, aku pura-pura tidak mendengar sambil memakan makananku. Aku benar-benar tidak tahu arah pembicaraan Revan. Revan meminta maaf padaku masalah 4tahun lalu, aku sudah memaafkannya, jadi aku harap dia tidak pernah mengembalikan memoriku ke masa-masa itu. Lagi pula aku sudah berdamai dengan masa laluku, jadi aku tidak memiliki dendam apapun dalam hati.
Aku tidak mau mendengar Revan mengeluh atas pernikahannya. Kami kembali diam.
“Kamu terlihat sangat cantik dengan penampilanmu yang sekarang, Nin. Pak Faiz sungguh beruntung memiliki istri sepertimu.” kata Revan.
“Kau juga beruntung mendapat istri sebaik Mia.” kataku.
__ADS_1
Lalu kami diam. Aku berdoa agar Mas Faiz cepat datang diantara kami.