
Sejak kejadian memalukan itu aku memutuskan untuk terus mengurung diri di kamar saat tidak ada kelas mengaji ataupun salat berjamaah. Alasan utamaku adalah aku takut bertemu Gus Faiz karena merasa sangat malu padanya. Selain rasa malu, akupun merasa sangat bersalah. Pokoknya, aku tidak siap bertemu dengannya.
Rasanya untuk saat ini, dibanding bertemu dengannya, aku lebih baik bertemu dedemit. Bukan karena Gus Faiz mirip kuyang laki-laki, tapi ya, seperti yang kujelaskan sebelumnya, aku malu dan merasa bersalah.
Sejak kejadian itu, aku juga merasakan banyak yang terjadi dan berubah di pondok pesantren ini. Sekarang aku yang sepertinya memang sejak awal kedatangan selalu menjadi buah bibir, sekarang tambah menjadi buah bibir. Kali ini aku punya kawan, yakni Gus Faiz. Jadi, siapapun yang membicarakan aku pasti akan membicarakan Gus Faiz, berlaku juga untuk sebaliknya. Aku yakin bagi Gus Faiz ini adalah kali pertamanya digunjingkan banyak orang.
Aku mungkin bisa tak menghiraukan apa yang kudengar meski itu kata-kata yang sangat menyakitkan. Namun, aku tidak yakin dengan Gus Faiz. Memikirkan ini, aku jadi tambah merasa bersalah.
Selain menjadi buah bibir. Kini jika kuperhatikan banyak pula yang mulai membenciku, meski tak ada satupun yang mengucapkan secara langsung, namun dari tatapan dan gerak-gerik mereka aku bisa mengetahuinya. Aku tak memperdulikannya, lagi pula aku tak mau pusing.
Aku benar-benar tidak peduli dengan semua tatapan sinis itu. Lagi pula sedari aku datang ke sini tujuanku bukan untuk mencari kawan. Jadi, bahkan bila tak ada satupun seseorang di sampingku, aku tak peduli. Mungkin karena aku terlalu biasa mengalami hal semacam ini. Tapi ya, meski sudah biasa kadang masih saja menyebalkan.
Masalah sesungguhnya bukan karena aku digunjingkan, namun semakin mereka menggunjingkanku nama Gus Faiz selalu kena imbasnya juga. Hal ini membuat rasa bersalahku semakin dalam.
Meski semua orang menghindariku, ada satu teman yang selalu ada di sampingku hingga saat ini, yakni Farha. Dia masih dengan setia di sisiku, menghibur, dan tak jarang memberiku ceramah gratis meski tak pernah benar-benar kudengarkan. Dia bahkan sangat sabar. Berbeda sekali dengan Mama. Ah, lagi-lagi aku teringat Mama. Lupakanlah, anggap saja aku tak pernah mengatakannya.
"Mbak, ini udah masuk waktu zuhur, Mbak ndak mau ke ndalem buat salat bareng Umi?" tanya Farha. Aku menolehkan wajahku padanya.
__ADS_1
Kali ini kami berada di lantai-4. Tempat jemuran yang ntah sejak kapan sudah menjelma menjadi tempat terfavoritku untuk merenungkan segalanya. Tempat yang sangat sejuk untuk menyegarkan pikiranku yang makin carut-marut. Belakangan aku suka merasakan angin di sini. Walau sebelumnya aku sering kesal kepada angin yang sering tidak sopan menjatuhkan baju yang sudah kucuci susah payah hingga kotor dan harus dicuci lagi, namun belakangan dia seperti membayar kekesalanku dengan kesejukan dan kedamaiannya. Selain angin, jemuran-jemuran ini sudah mulai bersahabat denganku, meski jemuran-jemuran itu juga menggantung pakaian dalam yang membuat mata sakit.
"O, iya," kataku menanggapi Farha. Sambil menghela nafas panjang. Menemui Umi berarti harus ke Ndalem Abah yang otomatis memiliki banyak peluang untuk bertemu Gus Faiz.
"Yaudah, aku Ndalem Abah dulu ya." kataku.
Farha terdiam ditempatnya. Ntah tertegun karena apa. Lalu dia tersenyum dan mengangguk.
Gus Faiz sudah berkorban banyak untukku. Jadi, kuputuskan mulai hari ini aku akan memenuhi janjiku pada Gus Faiz, menjadi anak baik. Dan langkah itu kumulai dengan mengganti gue-lo dengan aku-kamu. Semoga saja ini awal yang baik.
"As-salamu'alaikum." salamku setibanya di depan Ndalem Abah. Aku berada di depan pintu menunggu Umi membukakan pintu.
"Wa 'alaikumus-salam wa rahmatullahi wa baramatuh." Umi menjawab salamku.
Dan seperti biasanya kami salat bersama.
Selesai salat, Umi mengajariku mengaji. Kali ini aku beruntung lagi karena aku tidak berjumpa dengan Gus Faiz. Kalau itu terjadi aku pasti bingung harus melakukan apa. Aku belum siap bertemu dengannya.
__ADS_1
"Umi, boleh Nindy meminta satu permintaan?" tanyaku pada Umi. Awalnya aku ragu tapi jika aku tidak melakukan ini pasti aku akan terus bertemu dengan Gus Faiz. Jika aku terus di sini, rasa sialan itu pasti akan bersikap lebih kurang ajar.
Umi menatapku dengan mata teduh itu. Mata yang selalu membujuk hati ini untuk larut ke dalamnya. Membuatku selalu terbayang wajah Mama, dan membandingkannya. Dadaku seketika sesak, aku harus menghentikan bahasan tentang Mama.
"Nindy ingin normal seperti santri-santri lainnya Umi. Maksud Nindy, mengikuti kegiatan seperti santri-santri yang lain. Salat bersama mereka, ngaji bersama mereka, dan membuang fikiran-fikiran kalau Umi pilih kasih, apa lagi insiden memalukan Nindy kemarin." kataku.
Kemarin malam aku sudah meminta maaf kepada Umi dan menjelaskan kronologis pelukan itu. Aku menjelaskan kalau akulah yang salah bukan Gus Faiz. Aku yang lancang memeluk Gus Faiz, Gus Faiz hanyalah korban. Walaupun Umi sangat kecewa tapi beliau bisa memaafkan kesalahanku dan menasihatiku agar tidak lagi melakukan hal seperti itu karena kami bukan mahram.
"Umi akan mengabulkan permintaan Nindy dengan satu syarat, bagaimana?" Kata Umi.
Aku buru-buru mengangguk. "Apa itu Umi?" Tanyaku sopan.
"Peluk Umi sekarang." kata Umi. Beliau tersenyum. Aku balas tersenyum. Aku memandang langit-langit takut air mataku jatuh. Lalu terkekeh melihat Umi. Lalu dengan tidak tahu mau aku memeluk beliau cepat. Dan pelukan hangat umi benar-benar membuat air mataku mengucur deras. Aku merindukan Mama. Tapi sisi jahatku bilang untuk apa aku merindukan Mama yang jelas-jelas tidak mengharapkan anaknya.
Setelah Umi setuju dengan permintaanku. Akupun keluar rumah Umi setelah berpamitan dengan sopan. Aku menyeka air mataku. Sepertinya bedak tipisku luntur karena menangis, menyadari wajahku belang-bentong aku menepuk-nepuk dengan hati-hati. Setelah merasa cantik kembali akupun menuju pintu tapi belum juga sampai di pintu Gus Faiz dari arah berlawanan datang.
"****** gue!" rutukku pelan. Kenapa kata-kataku kasar lagi? Ntahlah yang pasti aku harus segera pergi dari sini.
__ADS_1