Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 28 - Trauma Rumah Sakit


__ADS_3

Tak lama kemudian doaku terkabul, aku melihat suamiku datang menghampiri kami. Aku tersenyum padanya, diapun melakukan hal yang sama.


“O, iya, Revan, bagaimana kabar Marsya?” tanya Mas Faiz.


“Terakhir kali sebelum saya berangkat, dia sedang demam, Pak. Lalu saya belum sempat menghubunginya.” Jawab Revan.


“Lho, kenapa kamu tetap menerima tawaran peprgi ke luar kota ketika anakmu sedang sakit?” tanya Mas Faiz.


“Karena saya tidak mungkin membiarkan bapak sendiri bertemu dengan Pak Anggara, Pak. Lagi pula di rumah ada istri saya yang akan mengurusnya.” kata Revan.


“Lain kali, bila hal ini terjadi lagi, maksud saya, saya tidak mendoakan hal ini terjadi lagi, hanya saja siapa yang tahu, kamu bisa menolak, saya akan lebih suka kau berada di tengah-tengah keluargamu yang jauh lebih membutuhkanmu.” kata Mas Faiz.


“Lho, Marsya sakit?” tanyaku kaget.


Belakangan aku belum pernah lagi menelepon Mia, Jadi aku sedikit syok mendengar Revan yang mengatakan kalau Marsya sakit.


“Iya, N.. Bu.” kata Revan.


“Telepon saja istrimu dan beritahu kau akan pulang.” tanya Mas Faiz.


“Tidak apa-apa, Pak, nanti saja. Saya tidak enak.” kata Revan.


“Tidak apa-apa, sungguh. Teleponlah, siapa tahu Marsya merindukanmu.” kata Mas Faiz.


Revanpun mengangguk. Dia pun menelepon Mia. Seketika wajah Revan tegang. Aku benar-benar merasakan sesuatu yang buruk.


“Kritis? Baik, tunggu saya, sebentar lagi saya akan pulang.” kata Revan.


“Ada apa?” tanya Mas Faiz.


“Anak saya masuk rumah sakit, keadaannya sekarang kritis,” kata Revan.


“Apa? Mengapa bisa?” tanyaku.


Revan menggeleng. “Saya permisi akan berkemas, Pak, Bu.” katanya.


Kami berdua mengangguk. Revan buru-buru pergi. Meski tadi dia mengatakan kalau dia tidak menyukai Mia namun sepertinya dia sangat menyayangi Marsya, Anaknya. Syukurlah kalau seperti itu, karena itu berarti ada alasan untuk dia terus berada di samping Mia.


“Mas, bagaimana kalau kita pulang juga? Aku benar-benar khawatir dengan Marsya.” kataku.


“Baiklah, ayo kita berkemas!” tanya Mas Faiz.


“Mas tidak marah soal bulan madu kita?” tanyaku.


“Mas tahu kamu sangat menyayangi Marsya, Mas tidak mau pikiranmu terus khawatir. Lagi pula kita bisa berlibur lagi.” jawab Mas Faiz.


Aku menatap mata teduhnya. “Iya, Mas. Lagipula kan kita sudah.. Eh, maksudku..” kataku.


“Sudah apa?” tanya Mas Faiz menggodaku.


“Maaasss..” rengekku karena malu. Pasti pipiku sudah merah seperti tomat.


“Kamu lucu sekali, An..” kata Mas Faiz sambil terkekeh.


Mas Faiz mengamati wajahku, lalu mengusap pipiku dengan serius. Aku meringis. Pipiku masih terasa perih. Efek tamparan Kak Ulfa masih terasa.

__ADS_1


“Ini kenapa?” tanya Mas Faiz serius.


“E.. aku, aku jatuh, Mas.” kataku berbohong.


“Ini perbuatan Kak Ulfa kan?” tanya Mas Faiz.


Raut wajah Mas Faiz terlihat menyeramkan. Mas Faiz berdiri. Aku buru-buru berdiri. Saat Mas Faiz hendak pergi aku buru-buru mencekal pergelangan tangannya.


“Mas, mas mau ke mana?” tanyaku.


“Saya akan memberikan pelajaran pada kakakmu.” Jawab nya.


“Mas, jangan seperti ini. Aku tidak apa-aapa, sungguh. Aku yang mulai, Mas. Karena tidak tahan aku lepas kendali dan menamparnya, lalu ini hanya balasan, sungguh. Aku mohon.” kataku.


“Apa kali ini kamu berkata yang sejujurnya?” tanya Mas Faiz.


“Aku jujur, Mas. Aku tidak bohong.” kataku.


Mas Faiz mengambil nafas, mencoba menenangkan diri. Lalu dia mengusap pucuk kepalaku, “Jangan terluka, aku tidak mau melihatmu terluka, aku tidak rela.” kata Mas Faiz.


Aku meraih tangannya, sambil mengangguk. “Mari berkemas, Mas.” kataku.


***


Di pesawat, kini aku duduk bersama Mas Faiz, sedangkan Kak Ulfa duduk dengan Revan. Selama perjalanan aku sangat menikmatinya. Karena aku bisa duduk bersampingan dengan suamiku. Aku memeluk lengannya. Ku cari posisi aman untuk tidur bersandar di sana.


Meski berada di sampingnya adalah tempat paling nyaman, namun aku tidak bisa tidur, karena pikiranku tertuju pada Marsya. Memikirkan anak seusianya dalam keadaan kritis membuatku benar-benar sedih. Aku mulai bertanya-tanya apa penyakit yang di derita oleh Marsya.


“Kamu mengkhawatirkan Marsya, An?” tanya Mas Faiz.


“Iya, Mas. Aku benar-benar mengkhawatirkannya.” kataku.


“Terima kasih ya, Mas. Karena Mas selalu mengerti aku.” kataku.


Mas Faiz membalas dengan mengecup kepalaku singkat. Hatiku kembali menghangat. Aku mengamati jemari Mas Faiz. Jari Mas Faiz terlihat gemetar.


“Eh, Mas, kenapa?” tanyaku.


“Aku tidak apa-apa, An.” kata Mas Faiz sambil tersenyum.


“Mengapa jarimu bergetar?” tanyaku.


“Entahlah, Mas juga tidak tahu.” kata Mas Faiz.


Aku meraih tangan kiri Mas Faiz dan menautkan jari kananku pada jemarinya. Sepertinya Mas Faiz gugup ntah karena apa. Aku berharap bisa menenangkannya.


Sesampainya di Jakarta, Kak Ulfa langsung memesan taksi meninggalkan kami tanpa mengucapkan satu katapun pada kamu. Jujur, lagi-lagi aku merasa malu dengan sikap Kak Ulfa pada Mas Faiz, dan juga Revan.


Aku, Mas Faiz, dan Revanpun langsung bergegas ke rumah sakit. Di antar oleh supir kantor yang sudah di hubungi Mas Faiz. Kami tidak pulang kerumah, dan barang-barang kami biarkan dalam mobil.


Sesampainya di rumah sakit kami turun dari mobil. Saat kami berjalan menuju pintu masuk, tiba-tiba Mas Faiz berhenti. Aku yang menyadari kalau Mas Faiz tidak lagi di sampingku buru-buru menoleh.


BUG!


“Mas Faiz!” seruku.

__ADS_1


Aku buru-buru menghampiri Mas Faiz yang kini jatuh terduduk di lantai. Revanpun juga menghampiri Mas Faiz. Dia membantuku membawa Mas Faiz ke tempat duduk terdekat.


“K-kau pergilah masuk temui istri dan anakmu.” kata Mas Faiz pada Revan.


Revan awalnya ragu, namun sepertinya dia benar-benar mengkhawatirkan Marsya saat ini, jadi diapun mengangguk. Dia mengangguk padaku juga berisyarat untuk masuk duluan. Revan pun masuk.


“Mas, ada apa?” tanyaku.


Aku mengamati wajah suamiku, kini wajahnya dipenuhi peluh. Matanya memerah. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mata Mas Faiz ke sana ke mari, nafasnya memburu. Aku memegangi tangan suamiku. Tangan Mas Faiz dingin.


“Mas? Ada apa?” tanyaku, begitu mencemaskan suamiku.


“Ilham, Akbar..” racau suamiku.


Aku membelalak. Satu air mata turun di pipi suamiku. Aku buru-buru memeluk suamiku menenangkan dia sebisaku.


“Istighfar, Mas.” kataku, sambil mengusap punggungnya dengan lembut.


“Astaghfirullah al-azim..” katanya.


Aku melepaskan pelukanku. “Tarik nafas, Mas..” kataku.


Mas Faiz menurut.


“Hembuskan.”


Mas Faiz menurut lagi.


“Ulangi, Mas. Tarik nafas..” kataku.


Mas Faiz menurut.


“Hembuskan..” kataku.


Mas Faiz kembali menurut.


Setelah itu, Mas Faiz terlihat sedikit tenang. Aku mengambil tisu dalam tas kecilku. Lalu membersihkan peluh di wajah suamiku. Mas Faiz memejamkan mata.


“Kau sudah lebih baik, Mas?” tanyaku pada Mas Faiz.


Mas Faiz mengangguk. Setelah hampir selesai tiba-tiba Mas Faiz mencekal pergelangan tanganku, dia menatapku. Tatapannya seperti anak kecil yang sedang ketakutan.


“Ada apa sebetulnya, Mas?” tanyaku padanya.


“Ilham dan Akbar meninggal di rumah sakit ini.” katanya.


Aku terkejut. Mataku tertuju pada papan rumah sakit yang bertuliskan nama Rumah Sakit Sumber Bahagia. Aku pun teringat. Betul saja, rumah sakit ini adalah tempat Ilham merawat Ilham sebelum meninggal. Aku menatap wajah suamiku.


Mas Faiz menunduk.


Satu air mataku jatuh. Sepertinya Mas Faiz trauma karena pernah mengantar kepergian Ilham dan Akbar di rumah sakit ini. ternyata inilah yang menjadi penyebab ketakutan Mas Faiz.


Aku buru-buru memeluk suamiku lagi untuk menenangkan. Mas Faiz balas memelukku erat sekali.


...***...

__ADS_1


...Cerita tentang Akbar dan Ilham ada di ceritaku yang berjudul BEYOND BLASSED yaa. Jangan lupa vote, like, dan komen di bawah ini ya. ❤️...


...***...


__ADS_2