Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 63 – Pernikahan Kak Ulfa


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Waktu begitu cepat berlalu. Singkat cerita, Hari ini adalah hari pernikahan Kak Ulfa dengan Dimas. Pernikahan Kak Ulfa dan Dimas cukup megah. Sama seperti saat aku menikah dulu. Aku jadi teringat bagaimana aku dulu yang meski sudah menikah namun tetap belum bisa percaya kalau aku sudah memiliki suami.


“Mbak!” seru Arum.


“Iya?” kataku sambil menoleh.


Arum datang ke acara pernikahan Kak Ulfa bersama Rizki. Laki-laki yang beberapa bulan lalu sudah menyandang status sebagai suami Arum. pesta pernihakan Arum diadakan di kampung. Akupun sudah ke sana bersama Mas Faiz, Linda, Farha, dan Aaron.


Sejak menikah, Arum tidak lagi tinggal bersama Bi Darsih di rumahku. Awalnya Bi Darsih diajak pergi oleh Arum, namun Bi Darsih berkata kalau dia masih ingin terus tinggal bersamaku. Karena Bi Darsih terus kekeh dan nyaman di rumahku, Arumpun tidak lagi memaksa.


“Hai, Haidar, Sayang!” seru Arum, sambil mencium pipi Haidar.


Haidar tertawa. Dia mengulurkan tangannya ke arah Arum. Arum langsung menggendongnya. Ngomong-ngomong soal Arum, doa Arum terkabul. Kata orang, mata Haidar lebih mirip denganku di banding Mas Faiz. Padahal, aku berharap matanya bisa seperti Mas Faiz.


“Pengantin baru senang sekali sepertinya.” kataku menggoda Arum.


“Tentu saja, Mbak.” kata Arum. “Iya, kan, Mas?” kata Arum pada suaminya.


Rizki salah tingkah namun dia tetap mengangguk. “Di mana Pak Faiz?” tanya Rizki.


“Di sana.” kataku sambil menunjuk Mas Faiz dengan mataku.


“Saya ke sana dulu, Ay, Bu.” kata Rizki langsung pergi berjalan meninggalkan kami.


“Ay?” tanyaku bingung pada Arum.


“Sini, Mbak!” kata Arum. Dia mengisyaratkan aku untuk mendekat. Akupun mendekat. Arum mulai berbisik. “Ay singkatan Ayang.” katanya.


Akupun tertawa.


“Ih, Mbak..” kata Arum protes.


“Eh, maaf-maaf. Aduh, perutku sangat sakit.” kataku.


“Itu panggilan romantis, Mbak.” Kata Arum.


“Iya, iya. Romantis betul memang itu.” kataku masih sambil terkekeh.


Belum sempat Arum mengatakan sesuatu, mata Arum tertuju pada Rizki yang memberikan isyarat untuk menemui pengantin terlebih dahulu.


“Aku ke pengantin dulu ya, Mbak.” kata Arum langsung berdiri.


“Eh, Anakku..” kataku.


“Oiya, aku lupa, Mbak. Aku bawa saja ya, Mbak?” tanya Arum.


“Baiklah, hati-hati tapi ya.” kataku.


“Iya. Mama, Haidar pergi dulu bersama Bibi Arum ya?” kata Arum sambil mengarahkan tangan Haidar agar berdadah denganku. “Dadah, Mama..” lanjut Arum.


“Daaah..” kataku balas melambaikan tangan.


Arumpun membawa Haidar pergi. Kini aku sendiri, lalu tak lama Mas Faiz menghampiriku dan duduk di sampingku.

__ADS_1


“Kamu ingat, An?” tanya Mas Faiz.


“Ingat apa, Mas?” tanyaku.


“Ingat kalau kita pernah berada di sana.” kata Mas Faiz.


Aku tersenyum. Aku tentu sangat ingat. Aku memandang suamiku. Rasanya aku ingin sekali mencium pipi suamiku kalau saja di sini tidak banyak orang. Kali ini kami hanya saling tatap.


“Saat itu aku seperti sedang bermimpi.” kataku.


Mas Faiz tersenyum, belum sempat dia mengatakan sesuatu, Aaron datang bersama Farha. Kali ini Linda tidak datang karena sedang berada di luar kota karena ada tugas dari kantornya. Linda bekerja sebagai Audit di sebuah perusahaan, dan kali ini dia harus ikut ke Jogja untuk mengurus beberapa hal di sana.


“Ck, seperti pengantin baru saja.” celetuk Aaron.


Refleks aku dan Mas Faiz langsung menoleh ke arah Aaron.


“Kita juga bisa ya, Sayang..” kata Aaron sambil memeluk bahu Farha. Farha tersenyum malu-malu.


“Kamu mengganggu saja, Ron.” kata Mas Faiz.


Aaron tertawa. “Di mana Haidar?” tanya Aaron padaku.


“Haidar bersama Arum menemui Kak Ulfa.” kataku.


“Baiklah, kita ke sana saja dulu yuk, Sayang?” kata Aaron pada Farha.


“Baik, Mas.” kata Farha.


“Kita ke sana dulu ya, Gus, Nin. Silakan dilanjut.” kata Aaron.


“Ck, yasudah sana yang lama.” kata Mas Faiz.


Pada acara Kak Ulfapun Abah dan Umi menyempatkan untuk hadir. Meski acara di pondok sedang pondok-pondoknya. Kami sangat senang atas kedatangan Umi dan Abah.


Farha, Arum dan suami-suami mereka langsung bergabung denganku. Kamipun mengobrol melepaskan rindu. Mereka sudah makan, aku sudah menyilakan mereka untuk makan.


Tak lama kemudian Reban dan Mia pun datang, setelah bertemu pengantin mereka bertiga dengan Marsya pun ikut bergabung dengan kami. Sayang sekali Linda tidak ada di sini.


“Siapa namanya, Mbak?” tanya Farha pada Mia yang baru pertama kali melihat Marsya, lain halnya dengan Arum, karena dulu saat Arum masih tinggal di rumahku, Mia kerap berkunjung.


“Perkenalkan diri kamu, Sayang.” kata Mia.


“Aku Alca, ante.” kata Marsya.


“Alca? Arca?” tanya Farha.


Persis seperti wala aku mendengar nama Marsya. Aku terkekeh. “Maksudnya Marsya Far.” kataku.


“Oh, maaf ya, Mbak, aku tidak tahu.” kata Farha merasa bersalah pada Mia.


“Tidak apa-apa, Mbak. Mbak bukan orang pertama yang salah mengartikan nama Marsya kok.” kata Mia.


Aku mendudukkan Haidar yang tadi sudah diserahkan Arum saat pertama kali dia bergabung setelah menemui Kak Ulfa.


“Mama Ndy gendong..” kata Marsya.

__ADS_1


Dia mendekatiku. Aku bingung harus berbuat apa, karena di tanganku pun ada Haidar.


“Sini jagoan sama Papa.” kata Mas Faiz


Akupun memberikan Haidar pada Mas Faiz. Lalu aku mendudukkan Marsya di pangkuanku. Kini mata kami tertuju pada Marsya yang kini sedang memandang Haidar.


“Dede!” panggil Marsya pada Haidar. Dia mendekatkan kepalanya pada Haidar. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Ciluk, baaa..” kata Marsya. Sambil membuka tangannya hingga wajahnya terlihat.


Haidar tetawa.


Marsya yang merasa Haidar sangat senang dengan apa yang dikatakannya langsung kembali melakukan hal yang sama hingga Haidar tertawa lagi.


Kami semuapun ikut tertawa melihat bagaimana Marsya mencoba mengajak bermain Haidar meski diapun masih 5tahun.


Singkat cerita acara pernikahan Kak Ulfapun selesai dengan lancar tanpa ada gangguan serisu. Aku bahagia melihat Kak Ulfa bahagia. Akupun berdoa agar Kak Ulfa dan Dimas bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah.


“Mas, aku bawa Haidar ke kamar dulu ya, sepertinya dia mengantuk.” kataku.


“Perlu mas temani?” tanya Mas Faiz.


“Tidak usah, Mas. Mas temani di sini saja temani Abah.” kataku.


“Baiklah kalau begitu.” kata Mas Faiz.


Akupun membawa Haidar ke kamarku untuk aku tidurkan.


Sebelum sampai kamar, aku melihat Kak Ulfa yang juga sedang berjalan menuju kamarnya. Aku tersenyum menghampiri Kak Ulfa.


“Selamat ya, Kak Ulfa.” kataku.


Kak Ulfa tersenyum kepadaku. “Terima kasih.” kata Kak Ulfa.


“Aku senang sekali melihat kakak menikah. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah ya, Kak.” kataku.


“Nindy, Nak. Kamu sudah makan belum?” tanya Mama yang datang menghampiri kami.


“Sudah tadi, Ma.” kataku.


“Jam berapa?” tanya Mama.


“Sore, Ma.” Kataku.


“Duh, kamu kan sedang menyusui, jadi kamu harus makan banyak ya, kamu masuk ke kamar saja nanti Mama bawakan makanan ke dalam kamar.” kata Mama.


“Baik, Ma.” kata Mama.


“Aku tidak di tanya, Ma?” tanya Kak Ulfa.


“Kamu pasti sudah kan bersama suamimu?” tanya Mama.


“Belum, Ma.” kata Kak Ulfa.


“Oh, Mama kira sudah, sekarang kamu ke dapur saja ambil makanan sekalian bawakan untuk suamimu.” kata Mama.

__ADS_1


“Baik, Ma.” kata Kak Ulfa.


Semenjak aku melahirkan Haidar, Mama dan Papa begitu perhatian padaku. Mama bahkan sangat menjaga pola makanku dan terus mengingatkan aku untuk makan. Kata Mama makanan yang aku konsumsi sangat berimbas pada air susu yang keluar. Ada beberapa makanan yang baik dan yang tidak boleh untuk dikonsumsi ibu menyusui. Mama memberitahuku ini dan itu.


__ADS_2