Penjara Suci

Penjara Suci
PS 32 - Dilema


__ADS_3

Aku mulai memikirkan isi surat itu. Isi surat yang berisi si anak tengil bernama Aaron mau membantuku. Dari surat dan kata-katanya kemarin sepertinya dia sudah mengenalku, jauh sebelum aku masuk ke pesantren ini. Dia pasti salah satu teman dari temanku di Jakarta.


Memikirkan hal ini aku jadi bingung. Ntahlah, rasanya aku benar-benar dilema dengan apa yang terjadi. Kalau saja dia datang lebih cepat dari yang kukira. Pasti aku sudah mengindahkan tawarannya.


"Far.." aku memanggil Farha.


Farha mendekat. Saat ini aku berada di luar kamar. Menumpukan tanganku di dinding


"Kenapa, Mbak?" tanyanya.


"Punya cita-cita?" tanyaku.


"Punya, Mbak." kata Farha.


"Apa?" tanyaku.


"Dulu aku mau jadi perawat, Mbak. Masuk SMK perawatan. Tapi aku disuruh masuk pesantren, Mbak. Karena permintaan orangtua jadi aku nurut aja, Mbak." kata Farha.


"Kalo misal tiba-tiba kamu ditawarin masuk SMK Perawat sama orang tua kamu, kamu mau." kataku.


"Mau, Mbak. Heheh. Soalnya aku pengen banget jadi itu." kata Farha.


"Trus pesantrennya gimana?" tanyaku.


Dia diam saja, "Aku nggak tau, Mbak. Aku bingung hehe. Di satu sisi aku sangat pengen jadi perawat di sisi lain aku nyaman sekali di sini." katanya.


"Iya, Far. Ini memang pilihan yang sangat sulit." kataku.


"Maksudnya, Mbak?" tanyanya.


Aku hanya bisa menggeleng. Malas menceritakan.


Aku mengerti betul apa yang dirasakan oleh Farha. Sebab aku pun merasakan hal yang sama dengan apa yang aku coba bandingkan dengan keinginannya. Sesuatu yang dulu amat ingin di capai namun ketika datang kesempatan itu justru kita sedang berada di zona nyaman. Nyaman sekali.


Ketika harus memilih antara tujuan dan kenyamanan. Kita pasti sangat bingung, dilema harus memilih yang mana. Apakah kita akan kembali mengejar sesuatu yang belum pasti atau kita akan kembali nyenyak di zona aman.


Sekarang gue harus gimana? -tanyaku pada diri sendiri


Aku benar-benar membutuhkan waktu untuk berpikir. Aku memutuskan untuk keluar pondok. Sebelum keluar aku membawa buku tulis uang sudah kupotong jadi 3 bagian. Aku membawa potongan buku itu satu dan pulpen, dan menyembunyikan di saku baju.


Aku keluar pondok. Tak tentu arah. Bukan, maksudku, arahku hanya ke tempat sepi agar bisa menulis namun tidak tahu harus ke mana. Aku butuh tempat untuk menulis. Bagiku, menulis adalah salah satu cara paling ampuh dalam menghibur hati dan mencari jalan. Meski tak ada jaminan kalau aku akan mendapatkan jalan keluar tapi setiap habis menulis aku sedikit mendapat pencerahan.


Aku menulis di sebuah kelas kosong. Namun, berbeda dengan biasanya aku tak mendapat pencerahan apapun setelah menulis. Justru aku makin memikirkan pilihan. Merasa mentok. Akupun memutuskan untuk keluar.

__ADS_1


Gimana ya? Tapi gimana sama Gus Faiz? -batinku.


Sial. Lagi-lagi aku memikirkan Gus Faiz. Sepertinya ini efek hukuman itu. Aku mulai menyalahkan diri sendiri. Merasa salah karena sudah terlibat dengan Gus Faiz. Kalau saja aku tidak terlibat dengan siapapun, aku pasti tidak akan merasakan dilema seperti ini.


Pilihan kabur sudah di depan mata. Aku tidak usah repot-repot lagi untuk mencari cara untuk kabur. Tapi sesuatu di sana berontak. Rasanya jalan yang aku tempuh itu salah. Salah kalau aku benar-benar menerima tawaran si santri aneh bernama Aaron.


BUGGG!


Aku menabrak punggung seseorang. Sampai hampir jatuh. Seseorang itu menoleh lalu aku buru-buru menarik bajunya bagian depan agar tidak jatuh. Untungnya tidak terjatuh, dia kuat meski sempat limbung sebentar.


Panjang umur! - seruku dalam hati.


BRETT! Bunyi suara robek.


"Astaga! S-sorry, sorry!" kataku. Malu setengah mati.


Dia buru-buru mundur beberapa langkah ketika aku hendak memegang baju kokonya yang terkoyak di bagian depan. Aku buru-buru tersadar lalu menurunkan tanganku.


"Sorry." kataku mengedarkan pandangan kelain arah.


Membayangkan bajunya yang robek aku tersenyum. Rasanya mau tertawa.


"Merobek baju orang masuk kategori lucu ya?" katanya.


Karena tak ada yang bisa kulakukan untuk bajunya, akupun buru-buru pergi. Ini betul-betul memalukan. Sampai aku tak berani melihat wajahnya.


Jarak kami sekitar 2 meter sekarang. Sepertinya dia mengamati gerak-gerikku, aku mulai malu. Padahal pakaianku lengkap.


“Mau ke mana?” tanyanya.


“Mau ke..." aku menggantungkan kata-kataku, tak punya jawaban atas pertanyannya.


“Gue eh maksudnya aku pergi dulu.” kataku. Lalu mulai memaksakan kakiku tuk melangkah.


"Pertanyaan saya belum di Jawab." katanya.


"Mau pergi." kataku.


Di luar dugaanku Gus Faiz menghalangi jalanku.


"Iya, kemana?" tanyanya.


"Bawel." celetukku, keceplosan.

__ADS_1


Dia terkekeh.


“Jangan terpengaruh sama Aaron,” kata Gus Faiz. “Abaikan dia.” sambungnya.


Aku menatapnya. Mencari tau bagaimana dia bisa tahu tentang Aaron.


“Lo maksud gue eh aku aish, tau dari mana?” tanyaku.


Aku sudah terbiasa menggunakan aku-kamu dengan Farha sekarang namun kenapa di hadapan Gus Faiz rasanya susah sekali?


"Kemarin dia kasih kamu surat kan?" tanyanya.


"Kamu lihat?" tanyaku.


Dia mengangguk.


Aku balas mengangguk. Aku memegangi tanganku, bingung harus melakukan apa. Dia menghalangi jalanku, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan.


"Saya nggak tau apa isinya, tapi saya harap kamu tidak goyah. Saya suka kamu yang sekarang. Jauh lebih baik." katanya.


Deg!


Aku merasa pipiku mulai panas. Gawat. Dia bukan sedang menyatakan cinta. Kenapa kini perut terasa yang menggelitik dan jantungku berdebar-debar.


Aku masih menunduk saja. Menyembunyikan semuanya. Ntah mengapa aku tersenyum. Aku merasa sangat senang.


“Boleh tanya banyak pertanyaan?” tanyaku pada akhirnya.


“Mau nanya apa?” tanyanya.


“Kenapa lo selalu ada di dekat gue? Maksud gue, kita sering ketemu, lo sering nolongin gue, dihukum karena gue. Apa itu cuman kebetulan?” tanyaku.


Belum sempat Gus Faiz menjawab seorang anak Abdi Ndalem Abah datang menghampirinya. Dan terjadilah percakapan dengan bahasa Jawa yang masih sulit untuk aku mengerti. Namun dari gerak-geriknya aku tau Si Abdi Ndalem Abah ini datang untuk memanggil Gus Faiz.


“An, saya harus pergi. Tetaplah seperti ini. Jangan khianati pencapaian kamu hingga saat ini." kata Gus Faiz.


Aku mengangguk.


Aku melirik sekilas. Si Abdi Ndalem menatapku. Aku jadi risih.


Gus Faiz buru-buru menutup mata santri tersebut. "Heh, ayo!" lalu memutar tubuhnya paksa.


Aku tertawa melihat tingkah konyol itu.

__ADS_1


Mendengar semua yang dituturkan Gus Faiz, akupun bertekad, mulai detik ini aku akan mulai meneguhkan hatiku untuk kembali berjalan tegak memenuhi janjiku kepada Gus Faiz dan hidup dengan lebih baik. Meski awalnya hanya sekadar pemenuh janji, namun lama-lama aku terbiasa hidup seperti ini bahkan aku sering melupakan perjanjian itu di kehidupan sehari-hari. Di sini, rasanya ada sesuatu yang membuatku tenang. Ntah mengapa.


__ADS_2