
Siangnya Mia datang ke rumah Mama bersama Marsya. Menurut penuturan Mia, Marsya meminta bertemu dengan Haidar. Marsya terlihat menyayangi Haidar. Kata Mia, Marsya memang kerap kali meminta memiliki adik laki-laki padanya, Marsya sangat ingin memiliki adik seperti Haidar.
Aku mendudukkan Haidar di lantai berkarpet, membiarkan dia bermain bersama Marsya. Marsya membelikan bola karet dan mobil-mobilan untuk Haidar. Haidar sangat senang dengan mainan yang diberikan Marsya kepadanya.
Mia datang bersama Marsya dan Revan. Revan kini mengobrol dengan suamiku. Aku pamit sebentar untuk membuatkan minum untuk kami berempat.
Oiya, Apa aku sudah menceritakan tentang Umi dan Abah? Umi dan Abah sudah pulang lagi semalam. Karena hari ini ada acara kelulusan di pondok jadi Abah dan Umi harus berangkat semalam.
“Jaga anakku dulu ya, Mi. Aku ke belakang dulu sebentar.” kataku.
“Aman.” kata Mia.
Akupun terkekeh lalu pergi ke dapur dan membuat minuman untuk kami berempat. Aku membuatkan sirup di sebuah teko lalu membawa teko tersebut dan enam gelas bersih ke ruang keluarga. Di ruang tamu, Mama dan Papa sedang menyambut tamu mereka.
Akupun menuangkan sirup itu ke empat gelas. Lalu membiarkan dua gelas tetap kosong siapa tahu ada yang akan datang lagi.
“Di minum dulu, Mas, Revan, Mia.” kataku.
“Terima kasih.” Ucap mereka bertiga secara bersama.
Aku tersenyum dan mengangguk. Akupun duduk di samping Mia.
“Lihat anakku, Ndy.” kata Mia padaku.
“Kenapa, Mi?” tanyaku.
“Kemarin sepulang dari sini dia memintaku pergi ke toko mainan dan memintaku membelikan mainan untuk Haidar. Tadinya semalam dia meminta ke sini untuk mengantarkan kepada anakmu. Jam 10 malam, Ndy. Bayangkan saja. Akupun menjanjikan hari ini ke sini.” kata Mia.
Aku tertawa melihat Mia yang menceritakan bagaimana kelucuan Marsya yang menginginkan pergi menemui Haidar karena ingin memberikan mainan.
“Aku tebak dia sudah meminta ke sini sejak padi.” kataku.
“Iya, sampai pusing aku.” kata Mia.
“Harusnya kamu antarkan saja.” kataku.
“Aku kan harus membersihkan rumah dahulu di rumah.” kata Mia.
“Nanti tinggal saja Marsya di sini.” kataku.
“Tidak-tidak. Dia kalau bangun tidak ada aku bisa nangis tidak berhenti-henti.” kata Mia.
Aku tertawa menanggapi.
“Lihat, suami kita, Ndy.” kata Mia.
Aku menoleh memandang Mas Faiz dan Revan yang kini sedang asyik mengobrol.
“Obrolannya tidak jauh-jauh dari pekerjaan.” kata Mia.
“Biarlah, Mi. Dari pada suami kita menggibah.” kataku.
Mia tertawa, akupun melakukan hal yang sama. Mendengar kami yang tertawa, Mas Faiz dan Revan memandang kami seperti mengisyaratkan lewat mata mereka, menanyakan apa yang kami tertawakan. Aku dan Mia hanya bisa menggeleng.
__ADS_1
“Lanjutkan saja..” kata Mia.
“Ca! Ca!” panggil Haidar pada Marsya.
Mendengar suara Haidar aku langsung menoleh mencari keberadaan anakku. Ternyata karena kami terlalu asyik mengobrol aku melalaikan pengawasanku pada Haidar. Kini aku melihat Haidar sedang berdiri sambil memegangi tembok. Dekat keberadaan Mas Faiz.
“Mas, anak kitaaa!” seruku pada Mas Faiz.
Aku benar-benar merasakan bahagia melihat anakku bisa berdiri.
Mata Mas Faiz yang juga baru menyadari Haidar yang sedang berdiri berpegangan tembok di depannya pun langsung berbinar.
“Dede ica beldili!” seru Marsya.
Haidar tertawa.
“Ayo melangkah ke sini, Nak!” kata Mas Faiz. Sambil mengulurkan tangannya.
“Mas, dia belum bisa.” kataku.
Akupun berdiri karena Mas Faiz hanya mengulurkan tangannya dari jarak setengah meter. Aku hendak menghampiri Haidar namun aku buru-buru di cekal Mas Faiz.
“Ayo, sini jagoan Papa.” kata Mas Faiz.
Aku mulai deg-degan karena takut kalau Haidar terjatuh.
Haidar jatuh terduduk. Mungkin lelah berdiri. Aku tersenyum. Aku benar-benar mengira hari ini aku akan bisa melihat anakku berjalan.
Tiba-tiba Haidar bangkit lagi, dia kembali memegangi tembok.
“Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah.” kataku.
Aku berjalan menghampiri Haidar yang kini sudah berada di pelukan Mas Faiz. “Anak Papa..” kata Mas Faiz bangga.
“Yeay, Haidar bisa berdiri!” seru Mia. Dia bertepuk tangan. Marsya pun sama, mengikuti ibunya.
Lagi-lagi Haidar tertawa.
Di tengah-tengah kebahagiaan kami, Kak Ulfa dan Kak Dimas datang. mereka berdua bergabung dengan kami.
“Eh, Kak Ulfa dan Kak Dimas.” kataku. Sambil tersenyum menyambut kedatangan mereka berdua.
Aku menuangkan sirup pada dua gelas kosong yang tadi aku buat. Lalu aku meletakkan minuman itu di depan Kak Ulfa dan Kak Dimas.
“Diminum Kak.” kataku.
“Terima kasih.” jawah Kak Ulfa dan Kak Dimas.
Kini tidak ada percakapan antara kami. Kami hanya sesekali tersenyum melihat Haidar yang sedang belajar berjalan dengan Mas Faiz.
“Mas, rencananya kita mau bulan madu ke mana?” tanya Kak Ulfa pada Kak Dimas.
Mendengar pertanyaan itu sontak kami menoleh ke arahnya. Kak Ulfa terlihat seperti ingin memberikan pengumuman kepada kami. Akupun menunggu jawaban Kak Dimas.
__ADS_1
“Tidak perlulah bulan madu.” kata Kak Dimas.
Kak Ulfa begitu terkejut mendengat jawaban dari Kak Dimas. Akupun demi kian. Aku mengira kalau ini hanya cara mereka bisa memberitahu kami semua ke mana mereka akan berbulan madu, ternyata ini pertanyan refleks dari Kaka Ulfa.
“Tapi, Mas. Bagaimana mungkin kita tidak berbulan madu?” tanya Kak Ulfa.
“Apa kamu meminta berbulan madu di awal pernikahanmu, Nin?” tanya Kak Dimas padaku.
Aku tidak bisa berbohong. Yang mengusulkan bulan madu adalah Mas Faiz. Kalau aku hanya menyetujui apa yang Mas Faiz katakan padaku.
“Diammu aku artikan tidak.” kata Kak Dimas.
“Bukan begitu, Maksudku..” aku hendak menjelaskan agar Kak Ulfa tidak terpojok namun Mas Faiz menggenggam tanganku, menghentikan kata-kataku.
Kak Ulfa memandangku tidak suka. Kini Dimas beralih pada Mia. “Apa setiap pasangan yang baru menikah harus berbulan madu?” tanyanya.
“Eh, mmm tidak.” kata Mia. Mia menoleh kea rah Kak Ulfa. Melihat bagaimana raut wajah Kak Ulfa, Mia langsung meralat kata-katanya. “Eh, iya, harus. Iya, kan Ndy?” tanya Mia padaku.
“Iya.. lebih baik kalian bulan madu.” kataku.
“Pergilah bukan madu, Dim. Maksudku Kak. Aku akan memberikan tiket pulang pergi dan memesan apartemen untuk kalian.” kata Mas Faiz.
“Kau kira, aku semiskin apa?” tanya Dimas.
“Saya hanya memberikan hadiah pernikahan kepadamu dan istrimu.” kata Mas Faiz.
“Bukan kado ini yang saya inginkan dari kamu, Is.” kata Kak Dimas.
Kak Dimas menoleh ke arahku. Aku benar-benar tidak tahu maksud tatapannya.
“Kado apa yang ingin kamu minta dari saya?” tanya Mas Faiz.
Kak Dimas hanya tersenyum sinis tidak mau menjawab pertanyaan Mas Faiz. Mas Faizpun tidak melanjutkan kata-katanya. Sepertinya dia malas menangapi Kak Dimas lebih jauh.
“Kalian memang harus berbulan madu, Nak.” kata Mama yang tiba-tiba sudah ada di atanar kami bersama Papa.
“Nantilah kami pikirkan lagi, Pa.” kata Kak Dimas.
“Besok saja bagaimana? Kalian tentu tidak akan menolak permintaan Mama bukan?” tanya Mama pada Kak Ulfa dan Kak Dimas.
“Baiklah, Ma. Bila menurut Mama itu yang terbaik untuk kami. Kami akan berbulan madu besok.” kata Kak Dimas menurut.
“Ke mana kita akan pergi, Mas?” tanya Kak Ulfa.
“Bagaimana kalau ke Paris?” tanya Kak Dimas.
“Mau, Mas.” kata Kak Ulfa.
Kak Ulfa tersenyum bahagia mendengar pertanyaan Kak Dimas.
“Kamu tidak perlu membelikanku tiket dan memesankanku kamar Faiz. Aku ingin bulan maduku adalah buah keringatku sendiri.” kata Kak Dimas.
“Baiklah.” kata Mas Faiz.
__ADS_1
Aku merasa tidak enak pada Mas Faiz. Padahal Mas Faiz sudah berbik hati namun tidak di smabut baik oleh Kak Dimas. Bila aku boleh memikirkan ini, Kak Dimas terlihat begitu baik dan penurut kepada kedua orang tuaku. Sepertinya ini adalah alasan orang tuaku mengizinkan Kak Ulfa menikah denganya.
Meski sejauh aku bertemu Kak Dimas belakangan ini, dia terus melukan hal-hal baik. Aku tetap merasakan was-was tiap berada di dekatnya. Semoga ini hanya firasatku yang tidak berarti. Aku benar-benar tidak mau sesuatu terjadi lagi. Keluargaku sudah mulai diliputi kebahagiaan, semoga tidak ada lagi masalah-masalah besar yang datang pada kami.