Penjara Suci

Penjara Suci
PS 70 - Kebahagiaan


__ADS_3

Aku, Mia, dan Marsyapun bergegas ke rumahku. Revan tidak ikut karena sedang bekerja lembur sampai malam. Aku sedikit lega karena dia tidak ikut. Meski aku tak pernah menaruh dendam tapi membayangkan aku akan bertemu Revan membuatku tidak nyaman. Semoga perasaan tak nyaman ini tidak disalah artikan sebagai dendam atau benci.


Saat masih di jalan ponselku tiba-tiba berdering.


"As-salamu 'alaikum?" kataku.


"Waalaikumsalam. Cepat ke sini, Nak. Keluarga Gus Faiz sudah datang." suara Mama di sebrang sana terlihat panik.


"Lho, udah datang, Ma? Bukannya nanti malam?" tanyaku.


"Sudah datang saja cepat." kata Mama.


"Baik, Ma. As-salamu 'alaikum." kataku.


Jantungku kembali deg-degan mendapat telepon dari Mama. Ntahlah, aku tidak tahu apakah aku sanggup melihat sesi lamaran itu. Namun, aku harus sanggup.


"Kenapa?" tanya Mia.


"Gus Faiz udah dateng, Mi." kataku.


Mia buru-buru memelukku. Akupun balas memeluknya.


"Sini liat gue." kata Mia.


Aku menurut. Dia mengeluarkan bedak dan lipstik dari dalam tasnya. Aku menatapnya dengan tatapan bingung.


"Buat apa?" tanyaku.


"Siapa tau kalo Gus Faiz liat lo cakep jadinya yang dilamar elo." kata Mia.


"Hahhaha hus, Mia." kataku, sambil tertawa. Aku tahu Mia bercanda.


"Udah diem." katanya.


Aku pasrah saja ketika Mia memoles wajahku.


"Jangan menor-menor ya, nanti aku kayak ondel-ondel." kataku.


"Santai." kata Mia.


Setelah aku selesai dibedaki Mia, akupun menoleh pada Marsya yang sedari tadi anteng memeperhatikan wajahku. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, kami sudah tiba di depan rumahku. Kamipun keluar dari taxi online.


Aku memilih menggendong Marsya. Bocah 4tahun yang menggemaskan. Dia diam saja, dan terus memperhatikan wajahku. Jangan-jangan ada yang aneh dengan wajahku.


"Kenapa, Sayang?" tanyaku padanya.


"Mama ndi, cantik syekali. Alca suka." katanya.


Akupun terkekeh, malu. Anak ini pandai betul membuat suasana hatiku baik. Akupun mencium pipi kanan dan kirinya. "Terima kasih, Sayang. Kamu jauh lebih cantik dari Mama." kataku.


"Mama?" tanya seseorang. Suara Gus Faiz.


Mau tak mau aku menjawab pertanyaan Gus Faiz. Aku mengamati sekilas tampilan Gus Faiz. Pakaian dan tampilannya sangat rapih. Tampan sekali. Aku harus lekas sadar.


Aku mengangguk. "Dia anak Mia." kataku pada Faiz.


"Salim Om Faiz, Sayang." kataku sambil mengangkat tangan Marsya.


Marsyapun menurut. Saat mengulurkan tangan Marsya dan Gus Faiz menjabatnya, tak sengaja tanganku dan Gus Faiz bersentuhan. Aku beristigfar dalam hati. Rasanya aku seperti sedang tersengat aliran listrik.


"M-maaf." kataku.


Gus Faiz menoleh padaku. Meminta izin menggendong Marsya. Akupun memberikan Marsya pada Gus Faiz.


"Aku Alca Papa Is." kata Marsya.


Papa. Sepertinya Masya lupa kalau aku memperkenalkan Gus Faiz dengan panggilan Om bukan Papa.


"Marsya, Om." kataku meralat.


"Tidak apa-apa. Panggil Papa Is saja." kata Gus Faiz.

__ADS_1


"Ekhem.." suara Mia.


Beberapa detik lalu aku tak sadar kalau masih ada Mia diantara kami.


"Mama, foto." kata Marsya pada Mia.


Aku melirik Mia. Wajah Mia langsung sumpringah. Sepertinya aku mulai tahu ke mana arah senyuman itu.


"Sini biar aku aja yang fotoin." kataku. Mengambil ponsel dari dalam tasku.


"Enggak-enggak. Marsya maunya gue yang fotoin. Sono lo ke situ." kata Mia. Dia mengambil ponsel itu lalu mengambil posisi.


"Nggakpapa kan, Is? Eh, Gus?" kata Mia.


Mia tipikal orang yang keras kepala. Jadi, aku tak punya pilihan lain selain menyetujuinya.


Gus Faiz mengangguk.


Akupun mendekat.


"Papa Is?" tanya Marsya.


Aku meliriknya dan memasang telinga mendengar kalimat yang akan keluar dari bibir Marsya.


"Iya, Sayang?" tanya Gus Faiz.


Sontak aku menoleh pada Gus Faiz. Dadaku berdesir mendengar panggilan itu. Guz Faiz yang merasa dipandangi pun menoleh.


Aku buru-buru mengedarkan pandanganku ke arah lain.


"Iya kayak tadi gakpapa bagus. Nempel-nempel juga gakpapa." kata Mia.


"Miaaa." kataku.


"Bercanda, bercanda. Hehehe." kata Mia.


"Mama Ndy, cantik ya Papa Is?" tanya Marsya.


Gus Faiz mengangguk. Aku buru-buru menunduk.


Allah.. -batinku.


Aku tidak boleh seperti ini. Jantungku-jantungku kembali berdebar. Aku takut Gus Faiz bisa mendengar suaranya. Aku mencoba menyadarkan diri kalau aku tak boleh seperti ini, terlebih Gus Faiz adalah calon kakak iparku.


"Nindy, Gus Faiz, itu kasian anak gue kepanasan. Udah tatap-tatapannya, liat sini dulu." kata Mia.


"Ehm." Gus Faiz.


Aku tidak berani melihat Gus Faiz. Akupun mengedarkan pandanganku ke kamera.


"Satu dua tiga." kata Mia.


CKREEEK! - suara foto diambil.


Setelah mengambil ntah beberapa foto. Akhirnya Mia mengembalikan ponselku. Aku buru-buru memasukkan ponsel itu ke dalam tas.


"Ayo, semuanya masuk." kata Mama yang keluar rumah.


"Masya, turun yuk sama Mama. Papanya pasti capek gendong kamu." kataku.


Suasana seketika hening. Apa yang baru saja aku katakan? Kalimat yang keluar dari bibirku seperti seorang istri yang mengajak anaknya turun dari gendongan suaminya. Aduh, semoga tidak disalah artikan demikian. Aku benar-benar tidak bermaksud begitu.


"Mama, Papa?" tanya Mama yang tiba-tiba datang.


Aku salah tingkah. Bagaimana aku bisa menjelaskan ini? Aku tak tahu bagaimana ekspresi Gus Faiz.


Mia terkekeh melihat ekspresi Mama. Aku tidak boleh memperpanjang urusan ini. Aku takut Kak Ulfa melihat dan aku tak mau Kak Ulfa mengira yang bukan-bukan bila mendengarnya.


Mama terkekeh. Mata beliau terlihat menggoda kami. Aku tak menanggapi.


Aku mengulurkan tanganku untuk mengambil Marsya dari gendongan Gua Faiz.

__ADS_1


Marsya mengangguk, mencium pipi Gus Faiz lalu meraih tanganku. Kini Marsya kembali berada di gendonganku.


Kami semua pun masuk sambil memberi salam. Semua orang yang di dalam pun menjawab salam kami. Ternyata di dalam sudah ada Umi, Abah, dan Papa. Aku menyalami mereka semua. Begitu pula Marsya yang ada di gendonganku.


Singkat cerita kami duduk. Papa dan Abah masih sibuk bercanda. Dalam hati aku gelisah. Kepalaku sakit memikirkan kalau aku akan menyaksikan prosesi lamaran Gus Faiz pada Kak Ulfa.


"Nindy, kamu sudah tau kan kalau Faiz mau melamar.." kata Papa. Kali ini semua mata tertuju padaku.


Aku mengangguk, "Sudah, Papa," kataku.


Rasanya tak kuasa aku mendengar kata-kata Papa. Aku adiknya Kak Ulfa jadi bukan hal yang tabu bila Papa menanyakan hal ini padaku.


"Bagaimana pendapatmu, Nak?" tanya Papa.


Aku tersenyum. Aku tak boleh merusak kebahagiaan ini. "Gus Faiz seorang laki-laki yang baik, Papa." kataku. Suaraku seperti tercekat diujung kalimat.


"Kamu kenapa sayang? Kamu tidak senang?" tanya Papa.


"Seneng kok, Pa, cuman kepala Nindy sakit aja." kataku. Aku terus berdalih. Tidak mau membuat Papa salah mengartikan.


"Ma, emang dulu pas Papa ngelamar Mama, Mama juga sakit kepala ya, Ma?" tanya Kak Ulfa setengah berbisik pada Mama.


Karena aku berada persis di sampingnya jadi aku mendengar pertanyaannya dengan jelas.


"Maksudnya?" kini giliranku yang bingung.


"Iya kali aja gitu kamu pusing saat dilamar gara-gara faktor keturunan." kata Kak Ulfa.


"Aku? Dilamar? Maksudnya, Kak?" tanyaku tidak mengerti


Otakku langsung ku suruh berpacu dengan kencang. Aku memang tahu kalau Gus Faiz sedang melamar putri, Papa. Bukankah lamaran itu untuk Kak Ulfa?


Kak Ulfa tertawa melihat ekspresiku. "Lho, kamu kenapa sih? Kamu kan emang lagi dilamar sama Gus Faiz, Nin. Kenapa kamu keliatan sedih begitu sih? Pakai bilang sakit kepala juga lagi." kata Kak Ulfa.


Kini Papa kembali menatapku. Sepertinya semua orang mulai paham mengenai apa yang terjadi padaku.


"Jadi, kamu nggak tau kalau kamu lagi di lamar, Sayang?" tanya Papa padaku.


"Lho? Bukannya Gus Faiz mau melamar Anak Papa?" tanyaku makin bingung.


"Emang kamu bukan anak Papa?" tanya Papa lagi. Beliau terkikik geli. Begitu juga dengan yang lain.


"Maksud Nindy, bukannya Gus Faiz melamar Kak Ulfa?" kataku masih bingung.


"Nak Faiz, mamang benar yang kamu melamar Ulfa?" tanya Papa. Nadanya menyebalkan.


Gus Faiz tersenyum. "Saya melamar seorang Anindya Athaya Zahran, Om." katanya.


Aku mulai merasakan pipiku merah dan jantungku berdegup dengan kencang. Aku sangat malu. Akupun merutuki tindakanku yang tidak mau menanyakan nama seseorang yang akan di lamar Gua Faiz seminggu yang lalu.


"Mama Ndi?" Masya menarik pelan kerudungku.


Aku menatapnya, "Kenapa, Sayang?" tanyaku.


"Pipi Mama Ndi melah." kata Marsya. Pertanyaannya benar-benar di luar dugaan.


Mendengar kalimat Marsya, mereka semua tertawa. Aku semakin malu. Aku tersenyum pada Marsya karena bingung harus menjawab apa.


"Jadi, gimana, Sayang, kamu mau menikah sama Faiz?" tanya Faiz.


Aku menahan nafas sebentar. Aku melirik Gus Faiz. Di tempatnya, Gus Faiz tersenyum dan mengangguk.


Melihat dia mengangguk, akupun mengangguk.


"Alhamdulillah."


...***...


...TAMAT...


...***...

__ADS_1


__ADS_2