Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 52 - Kedatangan Anak Bi Darsih


__ADS_3

“Mas..” panggilku pada Mas Faiz.


Kini aku dan Mas Faiz sedang berada di ruang makan. Kami baru saja selesai makan. Aku berniat untuk mengatakan mengenai anak Bi Darsih kepada Mas Faiz yang sedang mencari pekerjaan. Siapa tahu suamiku memiliki lowongan pekerjaan di kantornya atau kalaupun tidak ada, aku ada dia bisa mencarikannya untuk Santi.


“Iya?” tanya Mas Faiz.


“Gimana tadi di kantor?” tanyaku.


“Baik, Alhamdulillah. Kamu bagaimana di rumah?” tanya Mas Faiz.


“Aku? Hahaha akukan tidak memiliki kesibukan apapun, Mas.” kataku.


“Apa kamu bosan?” tanya Mas Faiz.


“Tidak, Mas. Hehehe.” kataku berbohong.


“Kamu memang terburuk dalam hal berbohing, An.” kata Mas Faiz.


Aku tersenyum bingung harus mengatakan apa.


“Mas, apa di kantor Mas ada lowongan pekerjaan?” tanyaku.


“Kamu ingin bekerja?” tanya Mas Faiz.


“Bukan untuk aku, Mas. Ini untuk anaknya Bi Darsih. Anaknya lulusan pesantren baru lulus sama sepertiku, dia sedang mencari pekerjaan. Dia baru lulus, sama sepertiku jadi belum tahu apa-apa.” kataku pada Mas Faiz.


“Baiklah, besok Mas akan minta tolong Rizki untuk memasukkan anak Bi Darsih ke bagiannya. Kalau dia sudah siap langsung datang saja ke kantor.” kata Mas Faiz.


Aku memeluk lengannya singkat. “Terima kasih.” kataku. “Mas, kalau nantinya dia tinggal di sini boleh ya? Kasihan kalau harus tinggal di luar.” kataku.


“Boleh.” kata Mas Faiz.


Selesai makan malam ini, aku langsung menghampiri Bi Darsih untuk menyampaikan berita baik ini pada beliau.


“Bi Darsih..” panggilku.


“Iya, Bu?” tanya Bi Darsih kali ini beliau tidak kaget, karena beliau sudah melihatku menghampiri beliau.


“Aku sudah berbicara dengan Mas Faiz, katanya Santi bisa langsung datang aja ke kantor.” kataku.


“Betul, Bu?” tanya Bi Darsih.


Aku mengangguk.


“MasyaAllah, Bu. Ibu dan bapak baik sekali. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan Bapak dan Ibu ya.” kata Bi Darsih, beliau menitikkan air mata.


“Eh, Bi. Jangan menangis ya.” kataku pada Bi Darsih.


Walaupun aku belum lama bertemu dan mengenal Bi Darsih, namun aku yakin beliau adalah orang baik. Dan akupun yakin kalau anaknya pasti tidak kalah baiknya dengan sang ibu.

__ADS_1


***


Hari ini anak Bi Darsih datang. Aku dan Bi Darsih sangat menunggu kedatangan anak Bi Darsih itu. Kata Bi Darsih, Santi adalah anak yang mandiri dan pemberani jadi beliau tidak perlu repot-repot menjemputnya di stasiun walaupun ini kali pertama dia datang ke sini.


Ponsel jadul Bi Darsih berdering. Bi Darsih buru-buru mengangkat telepon itu.


“Waalaikumsalam, tunggu ya, Nduk. Biyung keluar dulu.” kata Bi Darsih.


Aku mengamati Bi Darsih. Sepertinya anak Bi Darsih datang.


“Santi datang, Bu.” kata Bi Darsih, matanya berbinar-binar.


“Ayo, Bi. Aku ikut ke depan.” kataku antusias.


“Ayo, Bu.” kata Bi Darsih.


Bi Darsih dan akupun langsung berjalan menuju gerbang. Mang Jarwo yang melihat kami langsung membukakan gerbang.


“Terima kasih, Mang.” kataku dan Bi Darsih.


“Sama-sama, Bu. Bi.” jawab Mang Jarwo.


Aku dan Bi Darsihpun keluar. Kami melihat seorang gadis berkerudung panjang dengan masker berdiri di depan gerbang.


“Santi!” panggil Bi Darsih.


“Biyung!” seru gadis itu langsung memeluk Bi Darsih.


Rencana Allah memang selalu sempurna dan unik. Aku mengamati ibu dan anak yang kini sedang saling melepas kangen. Aku sangat merindukan dia, dan selalu mencari kontaknya.


“Ini Bu Nindy, Nak.” kata Bi Darsih.


Dia menoleh ke arahku. Aku tersenyum. Dia buru-buru melepas maskernya, lalu menatapku sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Lalu seketika, dia berlari ke arahku. “Mbak Nindy!” serunya.


Aku terkekeh hingga air mataku tumpah begitu saja. Kami berpelukan, dia memelukku sangat erat. Aku sangat merindukannya. Dan sepertinya diapun merasakan hal yang sama.


Dia adalah sahabatku, sahabat yang selama ini aku cari, Arum. Ternyata Santi adalah Arum. Namun bila kuingat-ingat nama Arum memang Arumi Santika, tapi aku baru tahu kalau di rumahnya dia dipanggil Santi bukan Arum.


“Kamu apa kabar?” tanyaku.


“Aku baik, Mbak.” kata Arum.


“Lho, Bu Nindy kenal sama anak saya?” tanya Bi Darsih.


“Mbak Nindy itu sahabat aku, Biyung. Sahabat dari pondok.” jawab Arum.


“Biyung tidak tanya kamu. Biyung tanya Bu Nindy.” kata Bi Darsih.


“Bu Nindy?” tanya Arum.

__ADS_1


Aku tertawa. “Iya, Bi. Arum sahabat aku. Ayo, Rum. Masuk ke dalam.” kataku.


“Bu Nindy itu majikan Biyung, yang punya rumah ini.” kata Bi Darsih. “Kamu panggilnya Ibu sama seperti Biyung.” lanjut beliau.


“Eh, jangan, Bi. Biarkan Arum memanggil aku Mbak seperti biasanya.” kataku.


“Sini aku bawakan.” kataku pada Arum.


“Eh, jangan Mbak biar aku saja.” kata Arum.


“Tidak apa-apa..” kataku.


Mang Jarwo mendekat. Bi Darsih memeperkenalkan Arum pada Mang Jarwo. Setelah berkenalan, Mang Jarwo membawakan tas Arum. Baik aku maupun Arum tidak protes. Tubuh Pak Jarwo sangatlah kuat jadi aku rasa tidak masalah kalau beliau berbaik hati membawakan tas Arum yang cukup berat.


“Bawa ke kamar Bibi saja Mang.” kata Bi Darsih.


Mang Jarwo mengangguk dan berjalan masuk ke dalam, lalu memastikan kami semua masuk, lalu beliau mengunci gerbang lalu berjalan mendahului kami. Kami berjalan di belakangnya.


“Bi, Arum tidur di kamar tamu saja, Bi.” kataku.


“Eh, jangan Bu. Di kamar Bibi saja, kamar saya juga sangat luas.” kata Bi Darsih.


“Iya, Mbak. Aku lebih nyaman tidur dengan Biyungku, karena aku sangat merindukannya.” kata Arum.


“Baiklah kalau begitu.” kataku.


Kami mulai memasuki rumahku. Tiba-tiba Arum terpaku melihat foto pernikahanku dan Mas Faiz yang tergantung di dinding.


“Mbak, jadi Mbak..?” Arum tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Aku mengangguk. “Iya, aku menikah dengan Mas Faiz.” kataku.


“MasyaAllah, Mbak. Aku senang sekali mendengar berita bahagia ini.” kata Arum dengan mata berbinar.


Reaksi Arum sangatlah mirip dengan Reaksi Linda. Yang setelah mengetahui pernikahanku dengan Mas Faiz terlihat sangat bahagia, tidak ada tanda-tanda keirian sama sekali di wajah mereka.


“Iya, Rum. Kamu istirahat dulu saja, nanti selepas istirahat aku akan menceritakan semuanya kepadamu.” kataku.


“Selamat ya, Mbak.” kata Arum memelukku singkat.


Aku mengangguk, “Terima kasih ya.” kataku.


“Sama-sama, Mbak.” kata Arum.


“Yaudah, aku ke kamar dulu ya. Bi, aku ke kamar dulu ya.” kataku berpamitan pada Arum dan Bi Darsih.


Bi Darsih dan Arum pun mengangguk. Aku memang sengaja pamit untuk ke kamar karena aku tahu Arum dan Bi Darsih butuh waktu privasi, apalagi mereka baru saja bertemu, aku yakin pasti banyak cerita yang ingin mereka sampaikan dan tentunya tidak akan nyaman bila ada aku di antara mereka.


***

__ADS_1


Maaf ya teman-teman Readers. Bab ini belum sempat aku sunting :( semoga gak terlalu banyak kesalahan :(. Makasih semuanya ❤️


__ADS_2