
Mendengar aku tak menemukan ATM itu wajah Linda menjadi sangat bahagia. Benar-benar nenek lampir.
"Lihat, Mbak-Mbak semua. Kita telah memberikan waktu 2hari untuk Mbak Nindy agar bisa menemukan ATM-nya. Tapi seperti yang kita tahu, ATM itu tidak ditemukan. Dan mungkin ATM itu tidak pernah benar-benar ada." kata Linda.
Rasanya aku ingin lari menerjangnya sambil mengatakan bahwa aku bisa saja ke Bank bila diizinkan untuk mengurus kartu ATM itu. Namun aku tak punya banyak waktu saat ini. Pikiranku benar-benar tertuju pada Aaron. Dia pasti sudah ada di Gang Sempit itu menantiku. Apa lagi sekarang tepat satu jam waktu janjian kita terlewat.
"Kenapa, Mbak? Tidak punya bantahan toh?" kata Linda, kembali memancing keributan.
"Mulut lo itu ya benar-benar.. mulut medusa." kataku tak tahan.
"Jangan sembarangan ngomong ya, Mbak. Jaga mulut, Mbak." kata Linda tak terima. Sepertinya dia mengerti arti kata medusa.
"Yang kudu dijaga itu mulut busuk elo." kataku.
"Mbak Linda, kenapa Mbak marah? Mbak dibilang medusa, perempuan cantik, kenapa marah?" kata Arum. Memprotes Linda.
Bodoh, Arum. -batinku.
"Heh, Arum! Dengar ya. Medusa itu perempuan ular, perempuan jahat yang mengerikan. Kenapa saya tidak boleh marah dikatakan seperti itu, hah?" kata Linda. Dia menyerang Arum.
Arum menatapku. Seakan meminta penjelasan. Aku diam saja. Aku benar-benar harus pergi.
Linda baru saja ingin mengucapkan sesuatu namun Farha memotong ucapannya dengan salam. Semua yang ada di dalam ruangan inipun menjawab salamnya. Wajahnya sangat cerah. Berbeda sekali dengan saat pertama kali dia datang ke ruangan ini denganku tadi.
“Kartu ATM-nya ketemu, Mbak.” kata Farha sambil berlari dan memberikannya padaku.
Mataku pun kini bersinar cerah menatap ATM itu. Aku benar-benar punya tabungan untuk kabur. Tanpa perlu repot-repot mencari Bank untuk membuat ATM yang baru. Uangku sudah kembali, jadi aku tidak perlu mencemaskan masalah keuangan saat aku pergi nanti.
Aku memeluk Farha erat. Terharu. Ntah dari mana dia dapatkan ATM ini yang jelas aku sangat berterima kasih padanya kali ini.
“Makasih Farha, makasih. Lo nemuin kartu ini di mana, Farha?” tanyaku, tanpa memperdulikan semua orang yang sedang menatap kami tajam. Aku berani bertaruh wajah Linda pasti sedang mangkel.
“Eh, nanti dulu, jangan senang dulu. Kita semua belum ngecek saldo di kartu ATM-nya.” seru Linda lagi.
__ADS_1
Kali ini yang ada di pikiranku hanyalah aku harus segera menemui Aaron yang mungkin masih di sana menungguku atau mungkin juga sudah pergi. Setidaknya kalau aku keluar ruangan dari sekarang peluangku bertemu dengan Aaron semakin besar.
“Nggak usah. Nggak usah repot-repot, Lin. Anggep aja gue yang nyuri. Terus lo tentuin aja hukuman buat gue, gue terima.” kataku.
“Ya Allah, Mbak..” Farha menatapku tak percaya. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Perasaan bersalah menyelimutiku. “Kita dari kemarin nyari ATM ini, Mbak, dan sekarang setelah kartu ATM ini ketemu. Mbak bahkan nggak mau..” Farha tak bisa melanjutkan kata-katanya.
“Eh Farha.. maaf-maaf tadi gue cuma bercanda kok. Kartu ATM bakal di cek, gue janji.” kataku.
Rasanya tidak tega melihat Farha yang terlihat awut-awutan karena lari megantarkan kartu ATM ini menangis. Bagaimana juga Farha adalah sahabatku. Maksudku, ah ntahlah aku tak mengerti pasti jenis hubungan kami. Tapi aku tidak rela melihatnya menangis.
“Mbak, ndak bohong kan?” tanya Farha memastikan kalau aku tidak berbohong. Aku menggeleng.
“Gue nggak bohong." kataku.
"Sudah tidak usah drama. Kita langsung saja ke ATM!" teriak Linda.
"Sirik aja si lo." kataku.
Selain mengecek, untuk memperkuat kalau aku benar-benar tidak mencuri kuprint bagian mutasi untuk mengecek transaksi yang masuk dan keluar.
Lalu dicocokkan pengurus. Hingga terbuktilah semuanya. Dengan membuktikan jumlah uang yang banyak itu, dan melihat daftar transaksi itu, mereka percaya bahwa aku tak punya motif untuk mencuri.
"Tuh, kan aku juga bilang apa. Mbak Nindy, ndak mungkin mencuri." kata Arum.
Satu per satu dari mereka meminta maaf padaku. Arum dan Farha kini tersenyum senang.
Aku melihat Linda keluar kerumunan tanpa mau meminta maaf padaku. Padahal yang membuat kekacauan ini adalah mulut berbisanya. “Woy, medusa! Lo nggak mau minta maaf sama gue? Sini sungkem dulu sama ratu!” kataku.
Dia menggeram ditempatnya tapi seketika dia bisa mengendalikan dirinya lagi. Diapun menghampiriku dengan senyum sok menawannya. Namun dari raut wajahnya aku melihat rasa kekesalan yang amat besar.
“Aku minta maaf, Mbak” kata Linda. Asal-asalan.
“Ya ya ya.” kataku.
__ADS_1
Lalu aku mulai melayani beberapa santri yang meminta maaf dan meminta salaman denganku. Teringat Aaron aku buru-buru menyuruh mereka pergi.
Setelah hampir semua orang bubar Kak Ulfa datang, dan langsung memelukku. Aku tak membalas pelukannya. Karena aku memang merasa tidak perlu melakukannya. Aku hanya memandangnya dengan datar.
“Maafin Kakak, Dik. Maafin Kakak karena enggak percaya sama kamu.” kata Kak Ulfa.
“Nggakpapa, lagian percaya sama gue musyrik.” kataku lalu berlalu meninggalkannya.
“Kamu! Ini semua gara-gara kamu, kalau aja kamu gak menghasut aku buat percaya kalau adik aku pencuri. Ini semua nggak akan terjadi. Kamu licik!” kata-kata Kak Ulfa membuatku menoleh.
Beruntung kali ini santri yang lain sudah pergi, hanya menyisakan mereka berdua, aku, Arum dan juga Farha.
“Oh, jadi kamu kakaknya Nindy? Pantesan sama-sama tukang goda Gus Faiz.” celetuk Linda.
“Jaga ya mulut kamu! Adik aku bukan penggoda!” ujar Kak Ulfa, kali ini dia benar-benar marah.
“Apanya yang bukan penggoda. Cuma karena cantik, terus-terusan deketin Gus Faiz, ndak tahu malu meluk Gus Faiz. Sudah pernah dihukum masih aja kegatelan. Dan kamu juga, memangnya aku nggak tau kalian juga sering ngobrol berdua? Kamu juga lagi godain dia kan?” kata Linda.
Apa maksudnya? – batinku.
Ternyata bukan cuma aku yang melihat Kak Ulfa dan Gus Faiz mengobrol. Jika benar, apa mungkin wanita yang dicintai Gus Faiz benar-benar Kak Ulfa?
“Dasar cewek ular tukang fitnah!” teriak Kak Ulfa. Aku baru kali ini melihat api kemarahan di wajahnya. Sepertinya marah karena aku.
Linda yang tidak terima melangkah hendak menampar Kak Ulfa. Aku buru-buru menepisnya. Ntah mengapa aku tidak rela melihat Kak Ulfa ditindas terlebih oleh medusa seperti Linda.
Tidak akan pernah.
“Apa-apaan lo?” tantangku, aku berdiri tepat di hadapan Linda. Menutupi tubuh Kak Ulfa. Aku menghempaskan tangan Linda. Lalu menamparnya dengan segala kekuatan. Hingga efeknya sangat dahsyat. Pipinya merah padam karena marah dan karena tamparanku.
Farha dan Arum menarikku. “Mbak, sudah Mbak, sudahhh!” teriak mereka. Aku menghempaskan tangan mereka.
“Lo mau kakak gue ngerasain itu? Gue pastiin sebelum lo nyentuh kakak gue, lo udah ada di neraka bareng sama temen-temen lo.” kataku. Aku menarik Kak Ulfa pergi.
__ADS_1