Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 58 - Kecurigaan


__ADS_3

Aku dan Marsya langsung menuju ke lantai dua, tempat Kak Ulfa menungguku. Tidak sulit menemukan Kak Ulfa karena kursi tunggu ada persis di depan supermarket itu.


“Kak Ulfa!” panggilku.


Kak Ulfa langsung menoleh ke arahku. Ntah mengapa dia begitu terkejut. Aku langsung menoleh ke kanan, ke kiri, dan kebelakang, mencari sosok yang membuatnya terkejut.


“Ada apa, Kak?” tanyaku bingung.


“Eh, tidak apa-apa.” kata Kak Ulfa.


Kak Ulfa tersenyum kepadaku. AKu menghampirinya dan duduk di samping Kak Ulfa. Perutku terasa engap padahal aku menggunakan lift bukan tangga. Mungkin ini efek kehamilanku yang sudah tua.


Aku memperhatikan Kak Ulfa. Di sampingnya ada sekantong bahan belanjaan. Aku mulai berpikir apakah itu kantong belanjaan Kak Ulfa atau bukan, dan kalau itu memang kantong belanjaan Kak Ulfa bagaimana caranya Kak Ulfa keluar supermarket sedangkan Kak Ulfa mengatakan kalau dompetnya tertinggal di rumah.


“Lho, Kak itu bahan belanjaan kakak?” tanyaku.


“Eh, bukan. Ini milik orang lain.” kata Kak Ulfa gugup. Aku memicingkan mata, memikirkan apakah Kak Ulfa sedang berbohong atau tidak.


“Tapi tidak ada orang lain, Kak.” katanya curiga.


“Mungkin orangnya sedang ke kamar mandi.” kata Kak Ulfa. Dia menengok ke kanan dan ke kiri. “Nah, itu dia yang punya. Yuk, kita masuk.” kata Kak Ulfa.


Aku mengedarkan pandanganku kea rah seseorang yang ditunjuk Kak Ulfa. Ternyata benar saja, di sana ada seorang yang berjalan ke arah kami. Lagi-lagi kecurigaanku tidak terbukti. Ternyata aku hanya terlalu banyak curiga.


“Ayo, Sayang!” ajak Kak Ulfa pada Marsya.


Marsya menggeleng. “Mama Ndy..” katanya.


Dia memeluk menggenggam tanganku erat. Marsya sekan menyatakan kalau dia hanya mau berjalan bersama aku tidak mau bersama Kak Ulfa.


“Baiklah..” kata Kak Ulfa. “Ayo, Nin!” seru Kak Ulfa.


Akupun mengangguk, lalu aku dan MArsya mengekori Kak Ulfa dari belakang.


Marwsya terlihat sangat senang. Marsya hanya meminta eskrim tidak mau yang lain, padahal aku sudah menawarkan untuk membeli sesuatu yang lain. Namun, dia hanya meminta es krim. Benar-benar anak yang penurut dan menggemaskan.


Aku lelah. “Kak Aku lelah..” kataku.


Kak Ulfa tidak mendengarku. Sepertinya dia sedang fokus memilih sayur.


“Mama Ndy? Itu..” kata Marsya.


MArsya menunjuk tempat duduk yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Aku tersenyum pada Marsya. Dia sangatlah mengertian kepadaku. Aku tersenyum padanya meski mata Marsya tidak mendongak ke arahku.


Aku berjalan menghampiri Kak Ulfa dan menepuk punggungnya, “Kak, aku duduk di sana ya.” kataku.


“Ah? Eh, iya, Dik. Duduk saja.” katanya.

__ADS_1


Aku mengangguk. Lalu aku duduk di sana bersama Marsya. Kini, ku buka es krim Marsya, lalu dengan senang Marsya menerima es krim itu saat aku sodorkan padanya. Dia pun menjilati es krim dengan semangat.


Aku menoleh ke arah Kak Ulfa. Aku melihat Kak Ulfa yang kin menjauh dengan telepon yang berada di kupingnya. Aku tidak tahu Kak Ulfa sedang menelepon siapa namun jika di lihat dari gerak-geriknya sepertinya telepon itu sangatlah penting.


Aku sedikit curiga namun jika mengingat semua kecurigaanku yang sudah-sudah tidak terbukti, aku tidak memiliki alasan lagi untuk curiga. Lagi pula telepon itu mungkin dari bosnya. Aku tidak boleh berpikiran buruk.


Seketika perutku mual.


“Mama Ndy, cuci tangan.” kata Marsya.


“Ayo, Mama Ndy antar.” kataku.


Aku dan Marsyapun langsung mencari kamar mandi. Beruntung kamar mandi tidak jauh dari tempat kami berada. Di kamar mandi setelah mencuci tangan Marsya. Aku menyelesaikan sesi mualku, yakni muntah.


“Mama Ndy? Tatit?” tanya Marsya. Setelah aku selesai.


“Tidak, Sayang. Ayo, kita beli mainan!” kataku.


Aku dan Marsyapun pergi keluar kamar mandi, dan menuju rak mainan. Di sana Marsya meminta mainan masak-masakan berwarna pink. Aku mengambilkannya. Dia sangat senang, dia hanya meminta satu mainan. Benar-benar anak yang menggemaskan.


Setelah mengambil mainan, Aku mengajak Marsya ke tempat duduk yang tadi, aku mencari Kak Ulfa. Tidak ada Kak Ulfa sepanjang mataku memandang. Akupun mengambil ponselku lalu langsung menelepon Kak Ufa untuk menanyakan keberadaannya agar bisa aku datangi.


Ponselnya berdering. Lalu, tak menunggu waktu lama Kak Ulfa mengangkat telepon dariku.


“Halo, assalamualaikum Kak!” salamku.


“Aku di tempat tadi.” kataku.


“Oh, yasudah Kakak ke sana sekarang ya?” kata Kak Ulfa.


“Oke, Kak.” kataku.


KLIK!


Sambungan teleponpun diputuskan oleh Kak Ulfa. Aku kembali duduk bersama Marsya. Tak lama kemudian, Kak Ulfapun datang. Dia berjalan bersama troli ke arahku.


“Sudah, Kak?” tanyaku.


“Iya, sudah. Ayo, kita kembali ke rumah!” kata Kak Ulfa.


“Baik, Kak.” kataku. “Ayo, Sayang!” kataku kepada Marsya.


“Es klimnya, ladi.” kata Marsya.


“Mau lagi, Sayang?” tanyaku.


Marsya mengangguk. Aku tersenyum.

__ADS_1


“Oke kita beli lagi ya?” kataku.


Marsya mengangguk.


Aku menyerahkan dompet Kak Ulfa pada Kak Ulfa. Dia mengambilnya.


“Terima kasih.” kata Kak Ulfa.


Kamipun langsung berjalan menuju Kasir. Es krim juga ada di dekat kasir jadi kami satu arah, tidak perlu berputar mencari es krim. Aku meletakkan bungkus eskrim ke troli karena es krimnya sudah dimakan Marsya.


Aku mengambilkan Marsya es krim lalu kami mengantre di kasir. Hanya ada satu orang di depan kami. Jadi tidak perlu menunggu lama, akhirnya kami dapat giliran. Aku meminta pada Kak Ulfa agar aku yang membayar barang-barang yang kami beli, setelah perdebatan sedikit akhirnya Kak Ulfa mengalah, lalu akupun membayar semuanya.


Setelah membayar, kami menuju tempat duduk tadi. Bungkusan plastik itu masih ada. Aku jadi bingung, kemana pemiliknya pergi lagi. Sungguh aneh.


Aku lelah sekali. Peluh mulai membanjir di wajah dan punggungku. Padahal pendirngin ruangan di sini masih bekerja dengan baik. Sepertinya ini karena efek lelahku saja.


Ternyata saat kita sedang mengandung, kita bisa mudah lelah. Padahal saat aku belum mengandung aku sangat suka berjalan-jalan dan tidak merasa lelah bila hanya berkeliling belanja.


“Kamu lelah, Dik?” tanya Kak Ulfa.


“Iya, Kak. Aku sangatlah, lelah.” kataku.


“Mungkin efek hamil, Dik.” kata Kak Ulfa.


“Iya sepertinya begitu, Kak.” kataku.


Aku mengambil tisu yang ada dalam tasku. Lalu mulai menyapu keringat dengan menggunakan beberapa lembar tisu yang aku ambil.


“Kamu mau minum? Ini minum saja punyaku.” kata Kak Ulfa.


Aku menatap botol air mineral yang tinggal setengah yang diberikan Kak Ulfa. Namun ntah dari bagian mana diriku, aku merasa sangat ragu. Aku memang tidak boleh mengatakan kalau botol itu beracun. Aku tidak bileh menaruh curiga kepada Kakakku sendiri. Namun, ntahlah kali ini hausku tiba-tiba hilang dan perasaan tidak mau mengambil minum itupun mendominasi.


“Tidak usah, Kak. Tidak apa-apa. Aku tidak haus.” kataku.


“Apa kamu takut aku racuni, Dik?” tanyanya sedih.


“Eh, tidak, Kak.” kataku.


“Sepertinya begitu. Baiklah, lihat aku akan meminumnya.” kata Kak Ulfa. Dia pun menegak air mineral botol itu.


Kak Ulfa meneguk air itu. Aku jadih merasa bersalah karena aku kembali merasa curiga tadi pada Kak Ulfa. Padahal Kak Ulfa tidak berbuat jahat, namun aku begitu tidak mempercayainya.


“Lihatlah, setelah meminumnya, tidak ada yang terjadi kepadaku.” kata Kak Ulfa.


“Maafkan aku, Kak.” kataku.


Aku benar-benar merasa bersalah kali ini. raut wajah Kak Ulfa sedih, aku jadi tidak enak kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2