
Rombongan keluarga besar Gus Faiz sudah pulang tadi pagi, tak terkecuali Umi dan Abah. Keluargaku semua tinggal di Jakarta jadi mereka sudah pulang semalam, tidak ada yang menginap karena dirasa bisa datang dan pergi kapan saja, karena jarak yang bisa dikatakan dekat.
Aku dan Gus Faiz memutuskan untuk tinggal sementara di rumah keluargaku.
Aku mengambil sapu. Lalu mulai menyapu lantai ruang tengah. Aku ingin mengisi kegiatanku dengan hal-hal yang bermanfaat.
"An?" panggilan dari suamiku membuatku menoleh.
"Iya, Mas?" tanyaku. Aku meletakkan sapu lalu menghampiri suamiku.
Alih-alih mendekatiku, Gus Faiz langsung mengambil sapu yang tadi aku letakkan. Mengapa dia terlihat menghindariku? Apakah aku bau? Aku mencium ketiak kanan dan kiriku. Aku tak merasakan bau apapun dari tubuhku, justru wangi karena aku sudah menyemprotkan minyak wangi terbaik rekomendasi dari Mia.
"Biar saya bantu." kata Gus Faiz.
"Eh, jangan, Mas. Biar aku saja." kataku.
"Tidak apa-apa. Saya hanya ingin membantumu agar lekas selesai." kata Gus Faiz.
"E.. Gimana Mas bantu duduk saja, biar aku buatkan minum, Mas, mau teh atau kopi?" tanyaku.
Gus Faiz tersenyum, lalu menggeleng. "Tidak perlu. Kamu duduk saja ya. Saya tahu kamu lelah sejak pagi." kata Gus Faiz.
Aku menimbang-nimbang. Aku tidak mau suamiku mengerjakan pekerjaan rumah namun kata Mama, aku harus menurut pada suami. Gus Faiz menyuruhku duduk. Jadi, aku harus duduk.
"Tapi aku buatkan teh mau ya?" kataku.
Gus Faiz mengangguk. Dia benar-benar suami yang irit bicara. Tanpa bertanya lagi aku langsung pergi menuju dapur dan membuatkan teh untuk Gus Faiz. Setelah selesai akupun kembali.
Saat aku kembali, Gus Faiz terlihat duduk di sofa. Aku mencari sapu yang tadi dipegangnya. Setelah mengedarkan pandanganku aku melihat Kak Ulfa memegang sapu itu.
Aku bertanya-tanya dalam hati, alasan Kak Ulfa yang kini memegang sapu. Ah, mungkin saja Kak Ulfa tidak tega melihat Gus Faiz menyapu. Diam-diam aku berterima kasih padanya.
"Kamu itu bagaimana sih, Nindy? Kok suami kamu, kamu suruh menyapu?" tanya Kak Ulfa.
Aku menghentikan langkahku. "Astaghfirullah, maafkan aku, Kak. Aku.." aku tak bisa melanjutkan.
"Saya yang meminta menggantikan Anin. Jadi, tolong jangan salahkan Anin, Kak." kata Gus Faiz.
"Tuh, lihat. Kamu tuh harusnya bersyukur punya suami seperti Gus Faiz. Dia pengertian sama kamu. Jangan manfaatkan kebaikannya dong!" seru Kak Ulfa.
Aku menunduk. Yang dikatakan Kak Ulfa semuanya benar.
"Ada apa si ini ribut-ribut?" tanya Mama yang tiba-tiba datang.
"Ini, Ma. Nindy biarkan suaminya menyapu lantai rumah kita." kata Kak Ulfa.
"Betul itu, Nindy?" tanya Mama.
Aku mengangguk. Menunduk. Mataku panas sekali.
"Tidak, Tan. Maksud saya Mama. Tidak, Ma. Saya menyapu atas kemauan saya sendiri karena saya takut Anin kelelahan." kata Gus Faiz membelaku.
Gus Faiz mendekatiku.
__ADS_1
"Kamu dengar sendiri kan, Ulfa? Memang Gus Faiz yang mau. Sudah Mama tidak mau masalah kecil ini di perpanjang lagi." kata Mama.
"Tapi, Ma." kata Kak Ulfa.
"Ayo, ikut Mama, Ulfa!" kata Mama.
"Baik, Ma." kata Kak Ulfa.
Kak Ulfapun mengekori Mama dari belakang. Suasana kembali senyap.
"Kamu tidak apa-apa, An?" tanya Gus Faiz.
Aku menggeleng.
"Maafkan saya. Sungguh, saya tidak bermaksud melihatmu dimarahi Kak Ulfa." kata Gus Faiz.
"Iya, Mas. Tidak apa-apa." kataku. Suaraku mendadak menjadi serak.
Gus Faiz mengambil teh di tanganku. Lalu mengajakku duduk. Aku menetralkan tubuh dan hatiku.
Sepertinya aku masih perlu banyak beradaptasi. Empat tahun menjalani hidup di pondok pesantren ntah mengapa membuatku kaku. Aku yakin ini hanya bertahan satu atau dua hari, sisanya pasti aku akan bisa menyesuaikan diri. Aku tidak mau membuat Gus Faiz, Mama, Papa, dan Kak Ulfa sedih.
Kami duduk berhadapan, dia menatapku. Aku tidak boleh terlihat sedih. Aku tersenyum padanya.
"Maafkan saya." kata Gus Faiz.
"Tidak, Mas. Mas, tidak salah. Jangan meminta maaf lagi ya." kataku.
Aku mengangguk cepat. "Mau." kataku.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Gus Faiz.
"Aku selesaikan menyapu dulu ya, sebentar." kataku.
"Biar saya bantu." kata Gus Faiz.
"Mas..," kataku.
Gus Faiz ke dalam. Aku melanjutkan menyapu. Tak lama kemudian dia keluar dengan sapu di tangannya. Dia tersenyum. Aku balas senyumnya malu-malu.
Aku melihat Gus Faiz dengan semangat menyapu panjang-panjang. Dia terlihat sangat lucu di mataku.
"Apa ada yang salah dengan cara menyapu saya?" tanya Gus Faiz. Dia terlihat bingung.
Aku mendekatinya, aku mencontohkan gerakan menyapu dengan sapuku, "Cara menyapu lantai yang benar adalah seperti ini, Mas. Menyeret sapu dengan menggunakan gerakan yang pendek-pendek, untuk memastikan tidak ada kotoran yang tertinggal." kataku.
"Seperti ini?" tanya Gus Faiz. Dia benar-benar menyapu sedikit sekali, benar-benar pendek hanya sekitar 10cm sekali menyeret.
Aku menyadarkan sapuku di dinding. Lalu aku meraih tangan Gus Faiz yang ada di gagang sapu. Lalu segera mencontohkannya. "Nah, seperti ini, Mas." kataku.
Gus Faiz tidak menanggapi. Aku mendongak. Wajah kami dekat sekali. Aku buru-buru mundur dan melepaskan tanganku. Aku benar-benar tidak sadar telah memegang tangan Gus Faiz.
"Maaf." kataku pada Gus Faiz.
__ADS_1
"Saya justru sangat senang, An." kata Gus Faiz.
Aku merasakan pipiku merah karena malu. Jantungku kembali berdebar-debar. "A-aku akan menyapu di sebelah sana." kataku salah tingkah.
Aku berbalik badan. Aku bisa merasakan senyum Gus Faiz di balik punggungku. Aku menyentuh pipiku.
Aku dan Gus Faiz pun cepat menyelesaikan aktivitas menyapu kami. Aku meletakkan sapuku dan sapu Gus Faiz di tempatnya. Lalu mendekati suamiku lagi. Dia duduk di sofa, akupun mengikutinya.
"Minumlah." menyodorkan teh buatanku padaku.
"Aku akan buatkan yang baru untuk Mas." kataku bangkit.
Gus Faiz meraih tanganku. Seketika aku merasa di sengat aliran listrik. "Kita bisa minum teh berdua." kata Gus Faiz.
Gus Faiz menyodorkan teh itu padaku. Akupun menerimanya. Dia mengisyaratkan aku untuk meminumnya, dengan isyarat mata. Akupun menurut. Aku menyesap sedikit.
"Tehnya sudah dingin, aku buatkan yang baru ya, Mas?" tanyaku. Aku bangkit berdiri.
"Kamu ganti baju saja. Siap-siap untuk pergi." kata Gus Faiz.
Aku mengamati baju yang aku kenakan. Akupun mengangguk. "Kamu?" tanyaku.
"Saya menyusul." kata Gus Faiz.
Aku mengangguk, "Aku, ke kamar dulu." kataku.
Gus Faiz mengangguk. Akupun lekas ke kamar untuk berganti pakaian. Sesampainya di depan lemari aku meraih ujung depan kerudungku lalu kucium.
"Aku lebih baik mandi." kataku.
Akupun mengambil pakaian dan handuk lalu masuk ke kamar mandi. Setelah selesai akupun keluar. Aku mendapati Gus Faiz sedang bermain ponselnya di atas tempat tidur.
Dia tak menyadari keberadaanku. "Ekhm.." kataku pura-pura batuk.
Dia menoleh dan tersenyum tipis. Aku jadi salah tingkah. Aku mengusap tengkukku. Akupun menuju kaca rias. Di belakangku, Gus Faiz mengamati aku. Aku jadi makin salah tingkah. Kini aku bingung haru melakukan apa.
Hening. Aku makin gelisah. Otak dan hatiku kian tidak sinkron.
"Apa saya membuatmu tidak nyaman, An?" tanya Gus Faiz.
"Bukan begitu, aku hanya, hanya malu." kataku.
"Baiklah, saya mandi saja kalau begitu." kata Gus Faiz.
Melihat Gus Faiz masuk ke kamar mandi, aku lekas mengolesi wajahku dengan sedikit alas bedak, bedak, dan lipstik. Setelah itu, aku mengambil kerudung sekalian pakaian untuk suamiku. Aku meletakkan pakaian di atas tempat tidur, lalu mulai memakai kerudung. Kemudian aku memakai parfum secukupnya.
Setelah selesai mandi, Gus Faiz keluar tepat ketika aku selesai. Melihatku, tatapan Gus Faiz langsung berubah. Ntahlah, aku tak bisa mengartikan tatapan itu. Aku mengamati diriku dalam cermin, mencari apa yang salah dengan tampilanku. Terutama wajahku.
"Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanyaku.
"Tidak ada yang salah. Justru kamu sangat cantik. Aku seperti telah menikahi bidadari." katanya.
Kakiku lemas seketika.
__ADS_1