
Mama dan Papa menyambut aku dan Mas Faiz dengan baik. Kak Ulfa sedang tidak ada di rumah. Aku membantu mama membuatkan minuman untuk kami berempat. Saat aku ingin membawakan minuman itu, Mama membawa minuman itu ke ruang keluarga, aku tidak boleh membawa minum itu karena mama tidak mau membuatku kelelahan.
"Jadi, kan kalian tinggal di sini?" tanya Mama.
"Iya, Ma. Kami jadi tinggal di sini." kataku pada Mama.
"Kamu masih rutin meminum air kelapa hijau?" tanya Mama.
"Iya, Ma." kataku.
"Syukurlah kalau seperti itu." kata Mama.
"Kak Ulfa ke mana, Ma?" tanyaku.
"Oh, tadi dia pamit pada Mama untuk pergi ke tempat temannya." kata Mama.
Aku hanya mengangguk.
"Bagaimana dengan perusahaan, Nak Faiz?" tanya Papa.
"Alhamdulillah lancar, Pa." kata Mas Faiz.
Kamipun melanjutkan mengobrol dengan obrolan-obrolan renyah yang sangat mengobati kerinduanku pada keluarga.
***
Empat hari ini aku tidak melihat Kak Ulfa. Mama berkata kalau Kak Ulfa tidak mau menemuiku karena takut aku merasa mual dan bisa membuat kesehatan janinku terganggu.
Aku jadi merasa tidak enak pada Kak Ulfa. Aku sering merasakan ada mata yang memperhatikanku hingga membuat perutku sedikit mual. Aku merasa mata itu Kak Ulfa. Sepertinya Kak Ulfa sangat ingin berdekatan denganku namun dia tidak berani lantaran aku yang mual tiap melihatnya.
Hari ini aku akan mengajak Kak Ulfa berbicara. InsyaAllah aku sudah bisa mengontrol rasa mualku. Kak Ulfa tentu sangat ingin berdekatan denganku bukan hanya mengintipku diam-diam.
Mas Faiz terlihat tidak lagi mencurigai Kak Ulfa. Baguslah, aku sangat berharap Mas Faiz tidak mencemaskanku secara berlebihan bila berdekatan dengan Kak Ulfa.
"An, Mas berangkat dulu ya?" kata suamiku.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya. Kalau sudah sampai kabari aku." kataku.
Aku mencium tangannya, lalu dia mengecup dahiku singkat. Aku tersenyum. Mas Faiz balas tersenyum. Lalu dia masuk ke dalam mobil. Kemudian melesat pergi. Aku buru-buru menutup gerbang.
Aku masuk ke dalam rumah, lalu ponselku berdering, nama Mia terpampang di layar ponsel.
"Halo, assalamualaikum." sapaku duluan.
"Iya, waalaikumsalam. Indy, maaf sekali, bolehkah aku meminta tolong?" tanya Mia.
"Boleh, minta tolong apa?" tanyaku.
"Aku mau menitip Marsya sebentar, aku ingin menjenguk Ibuku di rumah sakit sedangkan Revan ke kantor. Aku tidak mungkin membawa Marsya ke rumah sakit karena dia masih sangat kecil rentan terhadap penyakit, terus aku juga tidak mungkin membawa Marsya ke kantor Revan. Tolong aku ya, Indy. Sebentar doang kok." kata Mia.
__ADS_1
Aku tersenyum, tentu saja aku tidak keberatan bila Marsya akan ke sini dan tinggal bersamaku sebentar.
"Iya, tidak apa-apa. Kamu antarkan saja Marsya ke rumah Mama ya. Karena untuk sementara aku tinggal di rumah Mama." kataku.
"Oke, aku langsung ke sana ya. Tunggu aku." kata Mia.
"Oke, siap." kataku.
"Yasudah aku berangkat dulu. Assalamualaikum." salam Mia.
Setelah menutup telepon akupun masuk ke dalam rumah. Pas ketika aku masuk ke dalam, aku bertemu dengan Kak Ulfa. Kak Ulfa tersenyum kepadaku. Dia mengambil jarak dariku. Aku buru-buru mendekatinya. Sepertinya Kak Ulfa takut kalau aku masih mual bisa berada di dekatnya.
"Tidak usah menjauh dariku, Kak. Aku sudah tidak mual melihat kakak." kataku sambil tersenyum.
Sebetulnya aku berbohong pada Kak Ulfa karena aku masih merasakan Mual sedikit namun aku bisa mengatasinya dengan baik.
"Kamu benar tidak mual lagi bila berdekatan denganku?" tanya Kak Ulfa.
Aku mengangguk. Kak Ulfa mendesah lega. Aku tersenyum pada Kak Ulfa. Akupun membawa Kak Ulfa untuk duduk di depan ruang keluarga untuk menonton TV. Aku menggamit lengan Kak Ulfa. Aku merindukannya. Rasa mualku datang lagi.
Jangan muntah lagi ya, Nak. -batinku.
Mualku berangsur hilang. Aku bersyukur dalam hati. Kamipu. Menonton acara lucu di tv. Aku beberapa kali melihat Kak Ulfa yang tertawa dengan keadaan lucu yang diperankan oleh pemain-pemain di acara tersebut. Mau tak mau akupun ikut tertawa. Sungguh tawaku sebetulnya bukan untuk acara lawak itu, aku hanya bahagia melihat Kak Ulfa tertawa di sampingku.
"Nindy, Ulfa kalian jaga rumah dulu ya, Mama sama Papa mau kondangan dulu sebentar." kata Mama.
"Iya, Nak. Kami tinggal sebentar ya." kata Papa.
"Hati-hati ya Ma, Pa." kata Kak Ulfa.
Aku dan Kak Ulfa mencium tangan Mama dan Papa bergantian, lalu mengantarkan Mama dan Papa ke luar rumah. Kak Ulfa membukakan pintu pagar. Aku hanya memperhatikan mobil Papa yang melesat pergi.
Setelah pergi, Kak Ulfa hendak menutup gerbang hingga ada sebuah Taxi yang berhenti di depan rumah. Aku berjalan mendekat sepertinya orang itu adalah Mia.
Dan benar saja. Dari dalam Taxi keluarlah Mia yang sedang menggendong Marsya yang tertidur.
"Assalamualaikum." salam Mia padaku dan Kak Ulfa.
"Waalaikumsalam." jawabku dan Kak Ulfa bersamaan.
Aku tersenyum pada Mia. Marsya yang merasa tidak nyaman dan mendengar suara aku dan Kak Ulfapun bangun.
"Ayo, sama Tante.." kata Kak Ulfa.
"Aku tidak mau sama Tante." kata Marsya.
Aku melihat Kak Ulfa mematung di tempat. Mia tidak tahu harus berkata apa.
"Tidak boleh seperti itu, Sayang." kata Mia pada anaknya.
__ADS_1
"Sama Mama Ndy mau?" tanyaku.
"Mau." kata Marsya sambil mengangguk.
Aku mengulurkan tanganku untuk menggendong Marsya.
"Alca tulun aja." katanya.
Miapun menurunkan anaknya. Lalu Marsya meraih tanganku untuk digandengnya.
"Maaf ya, Ndy karena jadi merepotkan kamu. Maaf juga ya Kak Ulfa karena aku merepotkan kakak juga." kata Mia.
"Tidak apa-apa, Mia." kataku.
"Betul kata Nindy. Marsya aman bersama kami." kata Kak Ulfa.
"Terima kasih, Kak, Ndy. Aku berangkat dulu ya. Marsya jadi anak baik ya?" kata Mia sambil mencium pipi anaknya sebentar.
"Iya sama-sama." kataku dan Kak Ulfa.
Marsya hanya mengangguk.
Tanpa berlama-lama lagi, Mia langsung masuk ke dalam Taxi dan melesat pergi. Aku membawa Marsya masuk ke dalam. Aku menunggu Kak Ulfa menutup gerbang. Lalu setelah gerbang ditutup dan dikunci, kami bersama-sama masuk ke dalam rumah.
Kamipun duduk di ruang keluarga kembali menonton TV kali ini aku mengganti saluran tv yang menampilkan acara kartun. Marsya menikmati tontonan acara tersebut.
"Mama Ndy, Papa Is mana?" tanya Marsya tiba
"Papa Is kerja, Sayang. Kamu kangen ya sama Papa Is?" tanyaku pada Marsya.
Marsya mengangguk.
"Marsya mau videocall Papa Is?" tanyaku.
"Mau." kata Marsya.
"Sebentar ya." kataku.
Marsya mengangguk.
Setelah Marsya menyatakan kalau dirinya mau. Aku buru-buru mengambil ponselku.
"Marsya mau Es Krim?" tanya Kak Ulfa pada Marsya.
"Mau." kata Marsya.
"Tante belikan dulu ya?" tanya Kak Ulfa.
"Iya, tante." kata Marsya.
__ADS_1
"Nin, aku cari eskrim dulu ya?" tanya Kak Ulfa
"Iya, Kak. Hati-hati di jalan." kataku.