Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 61 - Kelahiran Haidar


__ADS_3

Aku bersyukur karena melewati masa persalinan dengan cara normal tidak Caesar. Akupun bersyukur memiliki suami seperti Mas Faiz yang sangat perhatian, peduli, dan terus berada di sampingku selama persalinan.


“Anak kita laki-laki, Sayang. Doamu terkabul. Maksudku doa kita.” kata Mas Faiz.


Aku mengangguk.


“Di mana anak kita?” tanyaku pada Mas Faiz.


“Kamu mau menggendongnya, Sayang?” tanya Mas Faiz.


Aku mengangguk. Mas Faizpun keluar ruangan. Tak lama kemudian Mas Faiz masuk dengan seorang bayi di tangannya. Di belakang Mas Faiz, aku melihat ada Mama, Papa, dan Kak Ulfa. Aku sangat senang.


“Mama.. Papa.. Kak Ulfa. Kalian di sini?” tanyaku senang.


“Tentu saja, Sayang.” kata Papa sambil mengusap kepalaku.


Aku memandangi seorang bayi mungil yang ada di gendongan Mas Faiz. Air mataku seketika turun. Aku sangat bersyukur pada Allah SWT yang telah menganugerahi aku dan Mas Faiz seorang bayi laki-laki.


Kalau biasanya aku dan Mas Faiz hanya bisa melihat pergerakan bayi kami saat USG melalui monitor. Kali ini aku melihat bayiku secara langsung. Air matakupun menderas seiring Mas Faiz mendekat.


Mas Faiz duduk di sebelahku. Lalu memberikan anakku padaku.


Allah.. aku telah menjadi seorang ibu. Terima kasih. – batinku.


Aku mencium kening anakku lembut.


“Anak Mama..” kataku.


Mas Faiz memperhatikan aku dan bayiku. Lalu memelukku dari samping dan kembali mencium pucuk kepalaku. Aku merasakan kebahagiaan ada di wajahnya.


“Kamu sudah memikirkan nama untuk anakmu, Nak?” tanya Mama.


“Sudah, Ma.” kataku.


“Siapa, Nak?” kali ini Papa yang bertanya.


“Muhammad Haidar Al-Ghifari.” kataku sambil tersenyum.


“Nama yang bagus, Dik.” kata Kak Ulfa.


Aku mengangguk.


Tiba-tiba seorang suster masuk ke dalam ruangan.


“Permisi, saya akan periksa dahulu kondisi ibu Nindynya.” kata Suster.


“Baik, Sus.” kata Mas Faiz.


Mas Faiz mengambil Haidar dariku dengan lembut. Mama meminta Haidar untuk di gendong beliau. Mas Faizpun memberikan Haidar pada Mama.


Pemeriksaanpun selesai.


“Pak, Bu, mohon biarkan Bu Nindy istirahat dulu ya. Satu orang saja yang menunggu.” kata Suster.


“Baik, Sus.” jawab Mas Faiz.


“Kami di luar ya, Nak. Nak Faiz kamu di dalam saja ya.” kata Mama.


“Baik, Ma.” kata Mas Faiz.


Mama, Papa, Kak Ulfa dan Susterpun keluar ruangan. Mas Faiz duduk di sampingku. Dia terus menatapku dengan mata bahagia.


“Mas, aku mau minum..” kataku.


“Sebentar Mas ambilkan.” kata Mas Faiz.


Mas Faizpun mengambilkan air mineral dan memberikannya kepadaku. Akupun meminum sedikit.


“Kamu makan ya? Mas suapi.” tanya Mas Faiz.

__ADS_1


Aku mengangguk. Meski tidak lapar, aku tidak tega menolak permintaan suamiku yang telah menjagaku. Aku tidak boleh jauh merepotkan suamiku. Kasihan, dia sudah lelah, aku tak boleh menambah beban.


Setelah menyuapiku. Mas Faiz duduk di kursi di samping tempat tidurku. Wajahnya terlihat sangat lelah meski dia tidak mengatakannya secara langsung padaku, namun aku bisa melihatnya secara jelas.


“Mas, lelah?” tanyaku.


“Tidak. Mas senang.” kata Mas Faiz.


Aku mengusap pipinya. Dia mencium telapak tanganku.


Tak lama kemudian ntah bagaimana ceritanya Mas Faiz tertidur. Dia duduk sambil duduk dan kepalanya berada di tepian ranjangku.


Aku mengamati wajah suamiku lama.


“Kamu pasti sangat lelah.” kataku sambil mengusap kepalanya. Dia tidak bangun.


Satu jam kemudian seseorang mengetuk pintu dan menyembullah dari sana Linda, Farha, Arum, Rizki, dan Aaron. Mereka membawa bingkisan.


Untung aku setelah tersadar aku sudah memakai kerudung. Jadi aku tidak mencemaskan bisa ada laki-laki lain masuk.


“Mbak Nindy!” seru Arum, Farha, dan Linda memanggilku.


Saat mereka masuk aku meletakkan jari telunjuk di depan bibirku, memberi isyarat kepada mereka agar tidak berisik karena suamiku sedang tidur.


Mas Faiz membuka mata.


“Eh, Mas sudah bangun?” tanyaku.


Mas Faiz mengangguk, lalu bangun, dan mencari sumber suara.


“Eh, Ron, Ki.” kata suamiku langsung berdiri melihat Aaron dan Rizki.


Linda, Arum, dan Farha menghampiriku dan berdiri di sampingku.


“Lelah sekali kelihatannya Papa baru.” kata Aaron sambil terkekeh.


Mas Faiz langsung terkekeh. Menangapi.


“Terima kasih.” kata Mas Faiz langsung menyambut uluran tangan Aaron.


“Selamat ya, Pak.” kata Rizki sambil mengulurkan tangannya.


“Terima kasih, Riz. Sudah saya katakan panggil nama saja bila tidak menyangkut urusan pekerjaan.” kata Mas Faiz sambil menjabat tangan Rizki.


“Baiklah, Gus.” kata Rizki.


“Nin.. Selamat ya!" seru Aaron tersenyum padaku.


"Terima kasih." kataku sambil tersenyum.


Mas Faiz langsung berdiri di depan Aaron. "Istriku lelah. Lebih baik kita mengobrol di luar. Kata Mas Faiz sedikit memaksa.


"Lho, tapi mereka bagaimana?" tanya Rizki.


"Mereka tidak akan mengganggu istriku." kata Mas Faiz.


"Maksudmu aku pengganggu?" tanya Aaron.


"Aku tidak mengatakannya. Sudah ayo ke luar."


Ntah mengapa Mas Faiz sangat takut kalau Aaron mendekatiku. Dia tidak pernah seperti itu bila dengan pria lain. Sepertinya dia sangat mudah cemburu pada Aaron.


Aku dan teman-temanku tertawa. Hanya Farha yang hanya tersenyum. Aku jadi sedikit tidak enak pada Farha.


"Selamat ya, Mbak. Aku udah lihat bayimu." kata Linda.


"Iya selamat ya, Mbak. Bayinya ganteng kayak ayahnya." kata Arum sambil terkekeh.


"Selamat ya, Mbak. Lucu sekali bayainya." kata Farha.

__ADS_1


"Terima kasih semuanya ya. Aku senang sekali kalian datang." kataku.


"Iya, Mbak. Sama-sama." kata mereka.


"Rum, kalau mata anakku sama seperti Mas Faiz, apa kamu akan takut juga pada anakku?" tanyaku sambil bercanda.


"Tidak bisakah matanya mengikutimu saja, Mbak?" kata Arum sambil terkekeh.


Linda dan Farha tertawa.


"Jangan bilang kamu masih takut pada Gus Faiz?" tanya Linda.


Arum hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ada-ada saja kamu, Rum, Rum." kata Farha pada Arum.


"Apa kamu takut pada semua laki-laki, Rum?" tanyaku.


"Tidaklah, Mbak. Dia terlihat tidak takut pada laki-laki yang tadi datang bersamanya." kata Linda menggoda Arum.


"Mbak Lindaaa.." kata Arum memeringati Linda agar tidak meneruskan kata-katanya.


Pipi Arum memerah. Seketika aku bisa mengerti keadaan. Arum sudah bisa kembali jatuh cinta. Namun, siapa pria yang dimaksud Linda?


"Laki-laki yang mana?" tanyaku.


"Itu, Mbak. Yang tadi ke sini bersama Mas Aaron." seru Farha.


"Rizki?" tanyaku.


"Iya, Mbak." kata Farha.


Pipi Arum bersemu merah.


Akupun tertawa. Ternyata secara tidak langsung aku sudah mendekatkan Arum dengan Rizki. Untunglah aku belum menyampaikan niatku pada Kak Ulfa.


Kak Ulfapun sudah memiliki Dimas. Jadi, meski sedikit menyayangkan pilihan Kak Ulfa, aku tetap menerimanya. Biarkan dia memilih kalau kata Mas Faiz. Tugas kita hanya memberitahu, Kak Ulfa yang berhak menentukan jalan hidupnya karena dia yang akan menjalaninya bukan aku.


"Oh, Rizki?" tanyaku dengan wajah menggoda.


"Bukan begitu, Mbak. Kami hanya teman." kata Arum. Wajahnya kini merah bagai tomat.


"Teman tapi menikah." celetuk Linda.


Farha dan Aku tertawa melihat bagaimana Linda dan Arum saling melotot bercanda.


"Mbak, nanti dia dengar." kata Arum pada Linda.


"Lho, memang kenapa? Bukankah justru bagus kalau dia dengar? Dia bisa cepat-cepat melamarmu." kataku.


Aku ikut menggoda Arum.


"Cie, cinta lokasi." kata Farha.


"Ampun Mbak, ampun.." kata Arum.


Aku, Farha, dan Linda tertawa melihat salah tingkah Arum yang sangat jelas terlihat. Semoga Rizki adalah jodoh Arum.


"Mbak, apa anak Mbak sudah diberikan nama?" tanya Arum.


Aku sangat tahu kalau ini adalah upaya Arum untuk mengalihkan topik pembicaraan. Namun, biarlah. Aku juga kasihan melihat wajahnya yang sudah sangat merah itu.


"Sudah." kataku.


"Siapa namanya, Mbak?" tanya Farha.


"Muhammad Haidar Al-Ghifari." kataku.


"Wah, bagus sekali namanya, Mbak." kata Linda.

__ADS_1


"Panggilannya siapa?" tanya Arum.


"Haidar." kataku sambil tersenyum.


__ADS_2