Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 55 - Kejujuran Arum


__ADS_3

Keesokkan harinya aku berniat meminta Arum untuk berangkat bersama Mas Faiz. Mas Faizpun menyetujuinya. Walau Arum awalnya sangat menolak karena dia sangat takut pada Mas Faiz. Itu yang dia ucapkan kepadaku.


Namun bila kupikir-pikir, Arum memang sangat takut kepada suamiku karena dulu saat di pondok dia pernah mengatakan kalau tatapan Mas Faiz itu tajam dan sangat menakutkan. Jadi, masih menurut perkataannya dia masih takut pada Mas Faiz hingga hari ini.


"Tidak apa-apa. Berangkatlah dengan suamiku." kataku meyakinkan Arum.


"Baiklah, Mbak." kata Arum pasrah.


Arum dan Mas Faizpun berangkat ke kantor. Aku tidak merasa khawatir sama sekali kepada Arum. Karena aku sangat tahu, diantara teman-temanku dia tidak pernah memiliki rasa pada Mas Faiz. Satu-satunya laki-laki yang bisa menarik perhatiannya hanyalah Aaron. Kakak Linda yang kini berstatus sebagai suami Farha.


***


Sepulang dari kantor seperti biasanya aku menyambut suamiku. Arumpun pulang bersama suamiku.


Kini kami, Aku, Mas Faiz, Arum, dan Bi Darsih duduk di meja makan. Aku meminta Arum dan Bi Darsih makan bersama kami setiap harinya.


"Bagaimana, Rum? Lancar?" tanyaku di meja makan seusai kami selesai makan.


"Alhamdulillah lancar, Mbak." kata Arum sambil tersenyum.


"Alhamdulillah kalau begitu." kataku.


"Terima kasih banyak Pak Faiz dan Bu Nindy karena telah memberikan Arum pekerjaan." kata Bi Darsih.


"Iya, sama-sama, Bi." kata Mas Faiz.


"Iya, Bi." kataku sambil tersenyum.


Selesai makan Arum menghampiriku kali ini suamiku sudah naik ke atas.


"Ada apa?" tanyaku.


"Eh, Mbak. Apakah aku boleh kalau besok berangkat sendiri saja?" tanya Arum.


Aku terkejut mendengat penuturan Arum. Aku mulai berpikir apa yang membuat Arum tidak mau berangkat bersama suamiku.


"Apa suamiku melakukan hal tidak menyenangkan?" tanyaku menyelidik.


"Eh, tidak Mbak. Tidak. Aku hanya tidak enak pada Mbak dan aku masih takut pada Pak Faiz yang dingin sekali." kata Arum.

__ADS_1


Aku tertawa.


Belum sempat aku mengatakan sesuatu Mas Faiz memanggilku. Aku buru-buru berpamitan pada Arum dan pergi meninggalkannya. Aku buru-buru menghampiri suamiku.


"Besok Arum berangkat bersama Rizki. Aku sudah menyuruh Rizki datang menjemputnya." kata Mas Faiz.


"Lho, memang kenapa, Mas?" tanyaku bingung.


"Aku tidak suka semobil dengan perempuan lain dan sepertinya temanmu takut kepadaku." kata Mas Faiz.


Aku terkekeh.


"Apa aku semenyeramkan itu?" tanya Mas Faiz.


"Tidak kok, Mas. Mas tidak menyeramkan." kataku.


***


Keesokkan harinya, seperti yang dikatakan oleh, Rizki datang membawa mobil. Rizki datang ke rumah untuk menjemput Arum. Arum awalnya menolak, namun aku meyakinkannya kalau dia harus ikut dengan Rizki. Dengan beberapa alasan.


Alasan pertama, dari rumahku ke kantor tidak ada angkutan umum hanya ada ojek/taxi online. Bila dia terus menggunakan ojek, uangnya nanti cepat abis sedangkan dia harus hemat.


Alasan kedua, bersama Rizki dia aman aku maupun Bi Darsih tidak akan khawatir karena Rizki adalah salah satu orang kepercayaan Mas Faiz.


Dengan tiga alasan itu, Arum tidak bisa menolak diapun menurut.


Lama kelamaan Arum terbiasa berangkat bersama Rizki. Arum tidak pernah lagi menolak berangkat bersama Rizki.


***


Enam bulan kemudian usia kehamilanku sudah tua. Bahkan dokter mengatakan bahwa perkiraan lahir anakku tinggal dua Minggu lagi.


Mama memintaku untuk tinggal di rumah Mama sampai anakku lahir, karena mama sangat mengkhawatirkan aku yang sendirian di rumah. Alasan Mama memintaku datang adalah karena jarak dari rumah mama sangatlah dekat jadi bila sudah tiba waktunya untuk melahirkan, lebih mudah. Lagi pula di rumah mama ada Mama dan Kak Ulfa yang akan selalu menjagaku selama di rumah.


Enam bulan ini Kak Ulfa tidak berbuat sesuatu yang jahat. Kak Ulfa justru sangat baik kepadaku. Meski aku masih merasakan sedikit mual saat berada di dekatnya namun itu semua tidak terlalu parah. Tidak separah saat-saat awal kehamilanku. Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku masih mual bila bertemu Kak Ulfa. Karena aku tidak mau Kak Ulfa salah paham, dan mengatakan kalau aku belum memaafkannya. Padahal, aku sudah memaafkan dan hampir melupakan segala kejahatan yang telah dilakukan Kak Ulfa kepadaku.


"Kamu serius ingin tinggal di rumah Mama? Bagaimana kalau kamu bertemu Kak Ulfa? Apa kamu sudah tidak mual? Maksud Mas. Mas bersedia di rumah terus untuk menemani dan menjagamu." kata Mas Faiz.


"Iya, Mas, aku sangat serius. Aku ingin tinggal di rumah Mama. Aku sudah tidak mual lagi kalau bertemu Kak Ulfa. Dan aku tidak mau kamu terus menerus mengesampingkan pekerjaan kamu hanya karena aku." kataku.

__ADS_1


Aku sangat paham kalau Mas Faiz sangat ingin menjagaku dan selalu ingin bersamaku. Dia tidak mau meninggalkanku dan lebih rela meninggalkan perusahaan untuk sementara waktu. Namun, aku tidak mau suamiku menelantarkan perusahaan. Meski dia bisa bekerja di rumah namun rasanya itu sangat menyulitkan. Aku tentu tidak mau ada apa-apa dengan perusahaan karena banyak karyawan yang mencari nafkah di sana. Jadi, aku merasa kalau aku tidak boleh egois.


"Apa menurutmu ini yang terbaik?" tanya Mas Faiz.


"Iya, Mas. Aku mohon, boleh ya aku tinggal di rumah Mama?" tanyaku pada Mas Faiz.


"Baiklah, tapi bila ada apa-apa dengan kamu, kamu harus memberitahuku." kata Mas Faiz.


"Apa kamu masih belum percaya pada Kak Ulfa, Mas?" tanyaku.


Mas Faiz diam. Aku tahu dia bingung harus menjawab apa. Aku bahkan paham kalau Mas Faiz masih belum percaya kalau Kak Ulfa sudah berubah sejak 6 bulan lalu.


"Maafkan Mas." kata Mas Faiz yang melihatku diam.


"Mas, percaya sama aku. Kak Ulfa tidak akan menjahatiku. Dia sudah berubah menjadi kakak yang sangat baik." kataku.


"Tapi, An.." kata Mas Faiz. Dia masih saja tidak percaya pada Kak Ulfa.


"Yasudah aku tidak mau makan." kataku sambil mengerucutkan bibirku.


Aku menggeser tempat dudukku menjauhi Mas Faiz sebagai bentuk protesku kepadanya.


"Kamu marah pada Mas, Sayang?" tanya Mas Faiz.


"Tidak." kataku berbohong.


"Baiklah-baiklah. Kita pindah ke rumah Mama ya.." kata Mas Faiz.


"Benarkah, kamu mengizinkan kita tinggal di sana?" tanyaku memastikan.


"Iya. Tapi kamu jangan marah lagi pada Mas. Mas tidak mau melihat kamu marah pada Mas." kata Mas Faiz.


Aku mengangguk. "Aku tidak akan marah lagi. Makasih ya, Mas." kataku lalu mencium pipinya.


Mas Faiz mengacak rambutku.


Kamipun mengemasi barang yang akan kami bawa. Kami tidak memerlukan banyak baju, karena di kamarku yang di rumah Mama baju kami ada di sana. Aku hanya menyiapkan pakaian kantor suamiku saja karena di rumah Mama hanya ada satu atau dua pakaian kantor Mas Faiz saja. Aku tentu tidak mau melihat suamiku memakai pakaian kantor yang itu-itu saja selama berhari-hari.


Bi Darsih, Arum, dan Mang Jarwo tinggal di rumah. Aku dan Mas Faiz sudah berpamitan dan meminta mereka menjaga rumah dengan baik.

__ADS_1


"Assalamualaikum." kami berdua memberikan salam kepada Mama dan Papa.


"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Masuk, Nak. Masuk." kata Mama dan Papa.


__ADS_2