
Kamipun berada di stasiun kereta api. Aaron buru-buru membeli tiket. Kata Aaron tujuan kami adalah Jogja. Aku menurut saja, tidak ingin protes. Lagi pula aku tak punya tujuan lain selain mengikutinya. Aku tahu Aaron sudah mempersiapkan segalanya. Jadi, aku hanya perlu mengikutinya saja.
Saat ini keadaan stasiun begitu sepi. Mungkin karena bukan hari libur atau karena stasiun ini jauh dari perumahan warga. Tapi keadaan ini benar-benar menguntungkan kami. Kami tak perlu menjadi bahan tontonan.
Mulai hari ini aku bisa mempercayakan semuanya pada Aaron. Dia adalah adik Ilham. Meski wajahnya tidak kembar identik dengan Ilham namun aku yakin kebaikannya sebelas dua belas dengan Ilham. Aku berjanji akan baik padanya. Bahkan Linda jika kita dipertemukan di kemudian hari. Aku tak punya alasan untuk membenci adik Ilham bukan? Ilham sangat baik. Aku menyayanginya. Jadi, akupun akan berusaha menyayangi adik-adiknya.
"Kereta datang jam berapa, Ron?" tanyaku.
"Jam 7, Nin." kata Aaron.
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Pikiranku kini dipenuhi Gus Faiz. Aku mulai menerka-nerka apa yang sedang dilakukan Gus Faiz di pondok. Menerka-nerka apakah dia tahu kalau aku pergi. Menerka-nerka apakah dia sedang mencariku.
Di sisi lain. Aku senang bertemu dengan Aaron. Bukankah tujuanku adalah pergi? Mengapa aku harus ragu jika memang pergi adalah jalan takdir yang mesti kuemban?
Kini otak dan hatiku perang besar-besaran. Di satu sisi aku merasa bersalah pergi begitu saja tanpa berpamitan pada semua orang namun di sisi lain aku tidak tahu alasan apa lagi yang bisa kugunakan untuk tetap di pesantren itu.
Aku benar-benar tak habis pikir. Tak pernah terpikirkan olehku kalau Gus Faiz adalah laki-laki yang dipercayai oleh Ilham untuk menjagaku. Seharusnya bila dia memang sahabat Ilham dia akan melakukan hal yang Aaron lakukan. Membawaku pergi dan bertekad membahagiakanku. Bukan malah semakin menyakitiku dengan menahanku dan membohongiku.
“Masih ragu?” tanya Aaron. “Mau balik ke pondok?” tanya Aron lagi.
“Udah nggak ada alasan buat gue balik ke pondok itu.” kataku.
“Ulfa?” tanya Aron.
“Dia lebih seneng gue pergi.” kataku.
“Apa buktinya?” tanya Aaron.
“Tanpa gue cerita, gue yakin lo udah tau, Ron. Lagian sampai hari ini dia masih ngeraguin gue. Gak percaya apapun yang gue lakuin.” kataku.
Aaron mengerti.
“Gus Faiz?” tanya Aaron.
Pertanyaan ini membuatku menoleh. Dalam hati aku bingung harus menjawab apa. Sebab aku tak punya jawaban atas pertanyaan itu.
“Dia bakalan hidup tentram sama keluarganya, lagian dia cintanya sama Kak Ulfa. Gue liat juga mereka cocok.” kataku.
“Kata siapa?” tanyanya. Pertanyaan yang menyebalkan.
“Kata gue barusan.” kataku.
“Ck.. Lo salah besar.” kata Aaron.
"Lagian gue juga gak bisa ngelurusin kalo gue salah besar." kataku.
"Padahal gue udah cerita kalau Gus Faiz itu temen Abang gue yang disuruh ngejagain lo." kata Aaron.
"Nahan gue di sana sampe ngebohongin gue itu bukan cara ngejaga, Ron." kataku.
__ADS_1
"Dia emang salah si di bagian itu. Tapi tetep aja Abang gue milih dia buat jagain lo." kata Aaron.
"Nah, makanya itu. Karena dia suruhan dia cuma ngelakuin perintah. Tanpa rasa. Udah ya, gue mohon. Gue gak mau ngomongin dia lagi." kataku.
“Ck.. susah ternyata ngomong sama lo." kata Aaron.
Tunggu! - batinku
"Eh, tunggu. Kalau Gus Faiz itu suruhan Ilham, jadi dia selama ini tau dong?" tanyaku.
Aaron mengangguk.
Mengingat Gus Faiz pernah memanggil nama lengkapku. Akupun yakin kalau dia benar-benar mengetahui siapa dan bagaimana hubunganku dengan Ilham. Yang jelas, dia tahu kalau orang yang diamanahkan Ilham untuk dijaganya adalah aku.
Mengingat Gus Faiz hanyalah penjaga tanpa rasa, hatiku berdenyut sakit.
"Tangan sama bahu lo masih sakit?" tanya Aaron.
Aku mengangguk.
"Sabar ya, tunggu sebentar lagi." katanya.
“Kapan keretanya dateng, Ron?” tanyaku.
Bahuku semakin sakit, kepalaku juga semakin pusing. Mungkin udara malam tadi dan pagi ini yang memperparah keadaanku hingga begini.
Matahari mulai muncul dari peraduannya. Tiba-tiba hatiku terasa ketar-ketir, aku mulai merasa rasa takut, aku takut kereta itu akan datang. Aku takut pergi dari sini.
Semua akan baik-baik aja. – gumamku dalam hati. Mencoba meyakinkan diri sendiri.
Kereta pun tiba. Hatiku makin ketar-ketir. Keraguan kini mulai menyelimuti tubuh dan jiwaku. Meski ragu. Pikiranku selalu menyemangatiku untuk terus melangkah karena memang tak ada lagi alasan untuk ragu.
“Gus Faiz!” seru Aaron. Matanya menengok ke arah belakang.
Saat aku mengengok ke belakang benar saja. Gus Faiz sedang berlari ke arahku. Aku buru-buru berdiri dan menarik Aaron untuk berlari. Namun, Aaron tetap bergeming di tempatnya.
“Enggak, kenapa lo harus lari? Orang yang lo tunggu dari tadi udah dateng.” kata Aaron. Dia benar-benar tak bergerak.
Gus Faiz berada di luar stasiun. Semakin mendekat dan mendekat.
Belum sempat aku menjawab perkataan Aaron aku merasakan seseorang mencekal tanganku dari belakang. Ternyata ada Gus Faiz di sana. Dialah yang mencekal lenganku.
Penampilan Gus Faiz amat kacau. Sarung yang dipakainya kotor, baju kokonya berantakan dan peci yang selalu ada di kepalanya ntah kemana, dia penuh dengan keringat, dan terengah-engah. Keadaanya memprihatinkan.
“Jangan pergi!” katanya. Lagi-lagi dia menyentuhku, walau ada baju yang memisahkan kulitnya dengan kulitku. Tetap saja aku merasakan tangannya.
“Kali ini gue mohon, Gus. Demi semuanya.” kataku. Memegang tangannya agar mau melepaskan tanganku.
“Tidak. Saya mohon. Jangan pergi!” teriak Gus Faiz. Tubuh kami dibatasi pagar besi stasiun yang tinggi.
__ADS_1
Ini adalah kesempatanku untuk pergi. Aku tak mau hanya karena Gus Faiz kesempatanku pergi kembali sirna. Betul kata Aaron. Aku yakin bisa menemukan kebahagiaan jika pergi dari sini, pergi dari semua orang-orang settingan ini.
"Lepasin gue, Gus." kataku.
"Tidak, Ann. Saya tidak akan melepaskanmu." kata Gus Faiz.
Aku meronta-ronta minta dilepaskan namun Gus Faiz semakin kuat menahanku. Aku menatap Aaron meminta pertolongan namun Aaron tak mencoba melepaskan.
"Gue mohon lepasin gue!" teriakku pada Gus Faiz. Kini di belakang Gus Faiz masih sangat jauh kulihat Kak Ulfa, Arum, Farha, Abah, dan Umi berlari mendekat. Aku makin takut.
Cekalan Gus Faiz begitu kuat. Aku tak bisa melepaskannya. Mungkin bukan tak bisa. Aku hanya tak tega melihatnya kacau seperti itu. Aku mendekatinya.
Masih dengan tanganku dalam cekalannya, aku mengusap wajah Gus Faiz. Satu air matanya jatuh di sana. Dia menangis melihatku.
"Gue mohon Gus lepasin gue. Gue cuma pengen menyesap sedikit kebahagiaan dengan pergi." kataku.
"Kamu tidak akan mendapatkan kebahagiaan itu jika pergi dari saya, Ann. Percaya pada saya, saya mohon. Jangan pergi. Saya berjanji akan membahagiakan kamu seumur hidup saya. Saya hanya perlu kamu di sini. Di sisi saya!" seru Gus Faiz.
Aku menggeleng. Aku tak boleh luluh dengan kata-kata Gus Faiz. Aku takut dia membohongiku lagi. Air mataku kini deras kembali mendengar kata-kata Gus Faiz. Aku tak tahan lagi.
"Aaron gue mohon. Lo bilang sendiri kalo lo bakal ngelakuin apapun biar hidup gue bahagia. Gue cuma mau bahagia ikut sama lo, Ron, gue mohon." kataku.
Mendengar kata-kataku, Aaron mendekat.
"Lo yakin?" tanya Aaron.
Aku mengangguk mantap. Aku menatap Gus Faiz. Dia menggeleng. Air matanya mengalir.
"Sorry, Gus!" kata Aaron melepaskan tanganku dari Gus Faiz.
"Tidak! Saya tidak rela kamu membawanya pergi!" teriak Gus Faiz. "Aaron! Aaron! Aaron saya mohon!" teriak Gus Faiz.
Aku dan Aaron bergegas menuju kereta karena kereta akan melaju.
"Aaron, saya mohon kembalikan Anin kepada saya. Saya akan mengabulkan apapun permintaan kamu! Apapun akan saya berikan! Asalkan kamu mau kembalikan Anin kepada saya!" teriak Gus Faiz.
Aaron tak menanggapi. Menoleh ke arah Gus Faiz. Dia menatapku frustasi. "Ann, saya mohon, beri saya kesempatan!" katanya.
"Ayo, Nin!" kata Aaron seperti membangunkanku dari keraguan.
Akupun mengabaikan suara Gus Faiz meski air mataku tak kunjung berhenti menangisinya.
"Saya mencintaimu, An." kata Gus Faiz.
Mendengar kalimatnya. Sontak aku berhenti dan menoleh. "Saya benar-benar mencintaimu, An!"
"Bohong!" kataku.
"Demi Allah saya tidak bohong. Saya benar-benar mencintaimu dengan sepenuh hati saya. Saya tidak ingin kamu pergi jauh dari saya. Saya mohon, An. Kembalilah pada saya. Hanya kamu gadis yang saya cintai selain Umi. Saya mohon! Kembalilah pada saya! Saya mohon!" kata Gus Faiz sambil memukul-mukul pagar.
__ADS_1