Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 20 - Semanis Ingatan Kita 1


__ADS_3

Aku berpikir. “Kamu pernah ke rumahku, saat aku kecelakaan 4 tahun lalu, saat melamarku, dan saat menikahiku. Bukankah baru 3x, Mas?” tanyaku.


“Kita pernah bertemu denganmu saat kita masih kecil. Saat itu usia Mas 7tahun, dan kamu 4tahun. Mungkin inilah mengapa kamu tidak mengingat pertemuan kita.” kata Mas Faiz.


***


“Ini anak-anakmu, Lukman?” tanya Abah pada Lukman sahabatnya.


“Iya, Mas. Salim sayang..” kata Lukman. Kepada kedua putrinya.


Putri Lukman yang berusia 4 dan 6 tahun itupun langsung mendekati Abah sambil mengulurkan tangan. Abahpun menyambutnya dengan sangat ramah.


“Nama saya Ndi.” kata anak Luman yang paling kecil. Dia memperkenalkan diri sebagai ‘Ndi’ karena belum bisa mengatakan namanya dengan sempurna.


“Aku Ulfa.” kata anak Lukman yang pertama. Karena dia sudah sedikit lebih besar jadi sudah bisa berkata dengan jelas.


“Panggil saja saya Abah ya, Anak Shalihah.” kata Abah.


“Sama Umi juga, Sayang.” kata Umi, ramah sekali.


Nindy dan Ulfapun mendekati Umi sambil mencium tangan Umi bergantian. Di samping Umi ada seorang anak laki-laki berusia 7tahun. Dia duduk bersembunyi di belakang Umi.


“Umi, pulang..” kata anak laki-laki Umi sambil berbisik.


“Lho, kok pulang, Nak? Kan baru sampai.” kata Umi.


Anak laki-laki itu hanya menggeleng.


Nindy yang penasaran langsung jalan ke belakang Umi. Penasaran dengan anak laki-laki itu.


“Saya Ndi.” kata Nindy sambil mengulurkan tangan.


Alih-alih menyambut uluran tangan Nindy. Anak laki-laki itu menggeleng. Dan menenggelamkan wajahnya di perut Umi.


“Faiznya malu, Nak.” kata Umi sambil terkekeh. Umi mengusap kepala anaknya dengan sayang.


“Kenapa halus malu?” tanya Nindy.


Anak laki-laki bernama Faiz itu kembali menggeleng. Malu.


“Itu, ditanya, Nak. Tidak apa-apa.” kata Umi.


“Anakmu pemalu ya, Mbak. Hahaha.” kata Rina, istri Lukman atau ibu dari Ulfa dan Nindy.


Umi yang mendengar kata-kata Rina mengangguk dan terkekeh membetulkan ucapan Rina.


“Mungkin ini karena dia terbiasa bermain dengan laki-laki di pondok, Rin.” kata Umi. Umi kembali terkekeh.


Usia Abah dan Umi lebih tua beberapa tahun dari Lukman dan Rina. Oleh karena itu, Rina dan Lukman memanggil mereka dengan sebutan Mas dan Mbak untuk menghormati.


Ulfa yang mengetahui wajah Faiz rupawan buru-buru menghampiri Faiz dan mengajaknya bermain.


“Ayo, kita main.” kata Ulfa.


Faiz kembali menggeleng. Dalam hatinya dia malu karena harus bermain dengan anak-anak perempuan. Lagi pula ini kali pertama mereka berkenalan, dia benar-benar merasa malu.

__ADS_1


“Faiz, tidak apa-apa, main saja sama Nindy dan Ulfa ya?” kata Umi.


Faiz mendongak, mencari kebenaran di wajah ibunya, diapun melirik Abah, Abah mengangguk dan tersenyum. Kali ini Faiz mengangguk.


“Ayo, main.” ajak Nindy menggemaskan.


Faizpun mengangguk. Nindy dan Ulfa mengajak Faiz bermain di taman belakang. Di sana Ulfa mengeluarkan semua mainan masak-masakannya.


Faiz yang bingung harus berbuat apa hanya bergeming dan terus mengamati. Sebetulnya dia mengamati Nindy, meski baru berusia 4 tahun, Nindy sangat menggemaskan.


“Ayo, Faiz.” kata Ulfa.


Ulfa menarik tangan Faiz. Faiz yang terkejut langsung menepis tangan Ulfa. Ulfa menatapnya dengan tatapan bingung.


“Tangan aku bersih.” kata Ulfa. Dia menunjukkan telapak tangannya pada Faiz.


“Kata Abah, laki-laki dan perempuan ndak boleh pegangan.” kata Faiz.


Nindy menghampiri Ulfa dan Faiz. Keingintahuan Nindy sangatlah besar, jadi dia merasa harus tahu apa yang kakak dan teman barunya itu katakan.


“Belpegangan?” tanya Nindy.


Nindy terlihat berpikir. Dia tidak tahu bagaimana bentuk aktivitas yang di sebut berpegangan itu. Faiz mengamati waut wajah Nindy yang bingung, lalu menghampiri Nindy.


Faiz mengangguk. “Iya, berpegangan seperti ini..” kata Faiz mengambil tangan Nindy.


Nindy mengamati tangannya. Lalu mengangguk. Dia mencoba mengingat kata itu dalam memorinya.


“Saya mengelti.” kata Nindy.


“Tapi Mama aku dan Papa aku sering pegangan tangan.” kata Ulfa.


“Karena mereka sudah menikah.” kata Faiz.


Ulfa mengangguk, dia sudah mengerti apa itu menikah. Sedangkan Nindy tidak mengerti. Dia bahkan bahkan baru kali ini mendengar kata menikah.


“Apa itu menikah, Kakak?” tanya Nindy.


“Menikah itu tinggal satu rumah. Kamu seperti itu saja tidak tahu.” kata Kak Ulfa mendengus.


“Diakan masih kecil.” bela Faiz.


Nindy hanya mengerucutkan bibirnya dan menggerakkan wajahnya lucu. Faiz terus memperhatikan pergerakan Nindy yang menggemaskan.


“Yasudah kamu menikah saja sama aku.” kata Ulfa.


“Aku ndak mau. Aku masih kecil.” kata Faiz.


“Nanti kalau sudah besar.” kata Ulfa.


Faiz menggeleng, “Ndak mau juga.” kata Faiz.


“Kenapa?” tanya Ulfa.


“Kamu pemarah, aku ndak suka.” kata Faiz.

__ADS_1


Ulfa mengerucutkan bibir. “Yasudah kamu tidak boleh main sama aku.” kata Ulfa. Ulfa menghampiri mainannya.


“Saya?” tanya Nindy.


Faiz menggeleng.


“Huaaaaa Mamaaa! Hiks hiks hiks.” Tiba-tiba Nindy menangis. Meski dia tidak mengerti apa yang diucapkannya, namun dia tetap merasa ditolak. Satu-satunya jalan untuk melampiaskan kesedihannya hanya menangis.


“Eh?” Faiz mulai panik.


Nindy menjatuhkan dirinya dan tangisnya semakin kencang. Nindy terus menendang-dendang rumput di depannya.


Faiz yang takut dimarahi karena menyebabkan Nindy menangis. Langsung menghampiri Nindy dan menutup mulut Nindy dengan tangannya.


“Jangan menangis ya. Iya nanti kalau aku sudah besar aku akan menikahi kamu.” kata Faiz.


Nindy diam dan menatap Faiz. Faiz yang merasa Nindy sudah aman dan tidak akan menangis lagi, langsung melepaskan tangannya yang digunakan menutup mulut Nindy.


“Biarkan saja Faiz, dia memang cengeng. Wooo, cengeng!” seru Ulfa.


Nindy yang merasa di kompor-kompori Ulfa pun langsung menangis lagi. “Mamaaaa! Huaaaa Mama! Hiks-hiks.”


Mendengar teriakan anaknya, Rina menghampiri Nindy dan mengangkatnya.


“Ulfaaa, tidak boleh seperti itu ya sama adiknya.” kata Rina.


Rina memang sudah afal dengan tingkah Ulfa yang suka membuat adiknya menangis. Faiz hendak mengatakan kalau dia yang membuat Nindy menangis, namun dia mengurungkan niatnya karena tangisan Nindy yang kedua disebabkan oleh Ulfa. Toh, dia sudah menenangkan Nindy di tangisan pertama.


“Memang adik cengeng.” kata Ulfa.


“Ulfa..” panggil Rina penuh penekanan.


Karena takut akan intonasi ibunya, Ulfapun menangis. “Huaaaaa..” dia menjatuhkan tubuhnya ke rumput sama seperti Nindy tadi. Faiz diam saja, bingung harus berbuat apa.


“Sini, Rin. Biar Nindy sama aku.” kata Umi.


Rinapun mengangguk dan memberikan Nindy pada Umi.


“Maaf ya, Mbak. Mereka kebiasaan, antengnya hanya sebentar.” Kata Rina.


“Namanya juga anak-anak.” kata Umi.


Rina pun mengangkat Ulfa. Ulfa terus meronta-ronta dalam pelukan Rina.


“Liat, Papa yuk sayang.” kata Rina membujuk Ulfa.


“Aku tinggal dulu sebentar ya, Mbak.” kata Rina.


“Iya, tidak apa-apa.” kata Umi.


Rina pun pergi membawa Ulfa.


Nindy masih menangis.


“Nindy Sayang, anak baik tidak boleh menangis ya. Nindy mau kan jadi anak baik?” tanya Umi.

__ADS_1


Kini Nindy duduk di pangkuan Umi. Mendengar kata-kata Umi, Nindy terdiam lalu mengangguk, meski sudah dian namun isak tangisnya masih keluar begitu saja.


__ADS_2