Penjara Suci

Penjara Suci
PS 15 - Mengorek Informasi dari Farha


__ADS_3

"Umi sudah telepon orangtua kamu. Mereka sedang ada di perjalanan menuju ke sini." kata Umi.


Aku menegang. Aku tidak mau melihat wajah mereka lagi. Aku tidak bisa menyalahkan Umi yang menelpon orangtuaku karena aku tahu mungkin itu adalah tindakan paling bijak baginya. Tapi untuk kali ini aku benar-benar sedih mendengar Umi mengatakan hal demikian. Lagi pula untuk apa sebetulnya mereka repot-repot ke sini?


"Umi, Nindy mau permisi ke kamar pondok." kataku. Semoga Umi tidak tau kalau aku menghindari percakapan tentang orang tua. Aku tidak mau melihat mereka. Mereka sudah membuangku ke sini, kalau hanya karena sedikit rasa rindu atas ketiadaan anak yang harus mereka marahi, aku akan membuat rasa itu semakin besar namun seiring berjalannya waktu akan hilang tanpa secuilpun tersisa. Yaitu dengan membuat diriku menghilang. Aku rela menderita kalau kalian bahagia dengan kehilanganku.


"Kamu masih sakit, jadi Umi tidak mau izinkan kamu ke pondok. Kamu di sini saja untuk sementara, ya?" kata Umi.


Aku menelan ludah. Bingung apa yang harus aku lakukan. Aku tidak boleh ada di sini. Aku tak mau mereka menemuiku. Aku tidak mau. Bagaimanapun aku harus cepat pergi. Aku memompa otakku agar lebih cepat berfikir.


"Ada sesuatu yang ketinggalan di pondok, Umi, Nindy harus ambil." kataku. Semoga meyakinkan. Dan diizinkan.


"Tapi Umi temani, ya." kata Umi.


"Jangan Umi, teman-teman Nindy pasti nanti iri. Nindy sendiri aja." kataku.


"Kalau begitu, biar Faiz yang temani kamu." kata Umi, yang membuat hatiku mencelos.


Apalagi Faiz, Umi. –Batinku.


"Gak usah Umi, kita kan bukan.." kataku menggantung, mengingat kata yang pernah diucapkan oleh Gus Faiz dulu. "Mah-ram. Iya, mahram Umi. maksud Nindy kita belum mahram." kataku. Semoga Umi percaya.


Umi mulai berpikir sambil memandangku dengan tatapan tidak yakin. Aku memasang tampang memelas.


"Umi suruh teman kamu saja ya untuk ambil barang kamu. Umi bisa telepon pondok kamu." kata Umi.

__ADS_1


Gubrag!


"Enggak usah Umi, nanti merepotkan. Nindy pergi dulu ya, Umi, Assalamu'alaikum." kataku lalu mencium tangan beliau.


Katakanlah aku tidak sopan tapi melihat Umi diam saja sepertinya beliau terpaksa mengizinkan. Lagipula aku yakin Umi takkan memarahiku, apalagi kondisiku sekarang masih ‘sakit’.


***


Aku berjalan menuju pondok. Aku masih bingung harus melakukan apa. Tangan kiriku masih terasa sangat nyeri saat tak sengaja tersentuh badanku sendiri saat aku berjalan. Bahkan, lebih sakit lagi saat aku releks menggerakkan tangan kiriku itu.


Aku mengusap tangan kiriku, kemudian meringis seperti orang bodoh. Aku rasa aku memang bodoh karena aku jelas-jelas tahu kalau tangan kiriku kini tidak bisa tersentuh apapun tapi aku justru mengusapnya.


Rasanya miris. Kalau saja Gus Faiz tidak menghantikan aksiku tadi, aku pasti sudah bahagia di sana bersama dia, sahabatku.


Aku berjalan lagi. Aku tidak mau ambil resiko dipandang sebagai orang gila oleh santri-santri yang bisa saja melihatku melamun di jalan sambil mencium gelang ini. Aku menegakkan bahu, lalu berjalan lagi. Tak ada alasan untuk berhenti walau hanya satu menit saja. Karena akan ada saatnya, di mana waktuku benar-benar berhenti.


"Ya Allah, Mbak dari mana saja?" tanya Farha berbisik tiba-tiba, dan ini sangat mengejutkanku. Aku terkejut setengah mati (Sekadar pemberitahuan ini contoh kalimat bermajas hiperbola, berlebihan, lebay, seperti kamu).


Aku heran pada Farha. Ini bukan kali pertama dia mengejutkan aku. Bayangkan saja saat aku sedang berjalan sambil melamun tiba-tiba ada seseorang menghampirimu sambil berbisik. Reaksimu pasti tak akan jauh berbeda denganku. Oiya, Farha itu selalu berbisik saat berbicara, volume suaranya selalu kecil, sepertinya aku belum pernah melihat dia berteriak. Tunggu saja, suatu saat aku pasti akan membuat Farha berteriak. Aku bisa pastikan itu. Tunggu saja tanggal mainnya.


Mata Farha tertuju pada tangan kiriku yang sedang dipegangi tangan kananku. Aku buru-buru melepaskan. Aku bersikap seperti tak ada yang terjadi, biasa saja. Meski rasanya tak sebiasa sikapku ini, makin sakit. Tapi tenang, aku bukanlah anak cengeng. Aku memang sering putus asa, namun tak ada dalam kamusku sifat cengeng apalagi manja.


"Astaghfirullah, tangan Mbak kenapa?" tanyanya panik. Dia hendak menyentuh tanganku tapi dengan kasar aku tampik dengan tangan kananku agar dia tidak bisa menyentuh tanganku. Dipegang sendiri aja sakit apa lagi dipegang Farha.


"Gue gakpapa." kataku.

__ADS_1


"Tangan Mbak diperban, pasti parah ya?" kata Farha. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, bak seorang ratu dugem.


Otak cemerlangku mulai membayangkan kalau Farha benar-benar ratu dugem. Kubayangkan dia menggunakan bikini namun tetap memakai kerudung lalu bergoyang-goyang. Kalau benar adanya kupastikan dia mendapatkan kontroversi di masyarakat, lalu viral di Instagram. Membangyangkan wajahnya akan dijadikan stiker-stiker dan meme di media social membuatku ingin tertawa. Sungguh. Katakanlah aku jahat. Namun, bukankah kata Farha ‘senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah?’


Biar ku perjelas. Saat ini, saat ku bayangkan bagaimana penampilan konyol Farha meski aku tertawa dalam hati, namun tetap tersenyum padanya, berarti aku mendapatkan pahala kan? JANGAN TIRU KELAKUANKU YA! Kini aku tak bisa menahan tawaku lagi karena senyum tak cukup untuk menyalurkan emosi, jadi akupun tertawa. Lalu cepat diam lagi, lalu memaksakan tersenyum pada Farha. Sedangkan, Farha kebingungan. Dari ceritaku ini terbukti bukan, bahwa otakku ini bisa di katakan memiliki keistimewaan, selalu merekam dengan cekatan apapun yang aku dengar. Dalam hal menghafal cepat, aku cukup unggul.


"Lho kok Mbak malah senyum-senyum ke aku, Mbak?" tanya Farha. Dengan kening berkerut.


"Kata lo kan kemarin senyummu dihadapan saudaramu adalah sedekah. Yaudah gue senyum ke elo. Nih!" kataku. Dalam hati menertawai Farha abis-abisan.


"Oh iya yaa, maaf ya, Mbak, aku lupa hehe." katanya. Sambil membalas senyumanku. Yang membuatku ingin meledak saat ini juga. Tapi aku bisa tahan.


"Gue perhatiin bahasa Indonesia lo udah lancar." kataku.


"Heheh iya, Alhamdulillah, Mbak, inikan karena main sama, Mbak. Makasih ya Mbak, udah ajarin aku." kata Farha tulus.


"Dih? Otak lo geser ya? Apa sakit?" kataku, sambil memegang dahi Farha. Dia bersemu merah karena malu, ntah karena apa. Aneh. Dan tawaku meledak seketika. "Aneh lo dasar hahaha." kataku, dan tawaku semakin menjadi-jadi.


"Mbak, ndak boleh tertawa seperti itu. Kita itu perempuan, kalau ada yang liat kan malu, Mbak. Malu itu sebagian dari iman." kata Farha, berceramah lagi.


"Hahahahhaha," aku tak mempedulikannya. Lalu seketika aku mengingat sesuatu. Akupun menatapnya, "kata lo kemarin kebersihan sebagian dari iman. Gimana si lo? Gak konsisten amat." lanjutku lagi.


"Malu juga, Mbak, bukan kebersihan saja." kata Farha. Yang lagi-lagi mampu mengocok perutku. Dia menggunakan kata 'saja'. Baku betul.


"O iya Far, kalo keluar dari pondok lewat mana?" Tanyaku.

__ADS_1


__ADS_2