Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 8 - Menata Masa Depan


__ADS_3

"Halo, Assalamualaikum.." salamku, membuka percakapan telepon.


"Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. An, saya tunggu di bawah ya?" tanya Gus Faiz.


"Baik, Mas, aku segera turun. Assalamualaikum." kataku.


"Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh." jawab Gus Faiz di seberang sana.


Aku pun menunggu Gus Faiz memutus sambungan telepon.


"Mbak-Mbak, terima kasih, saya pergi dulu ya." kataku.


Aku harus segera menemui suamiku. Akupun berniat mengucapkan salam. Namun Sumi mengatakan sesuatu sebelum aku berucap salam.


"Mbak, maaf saya ingin tanya, mengapa Mbak mengatakan kalau Mbak tidak membenarkan aktivitas gibah?" tanyanya.


Aku tersenyum. "Karena ketika kita gibah, kita sama saja seperti sedang memakan bangkai saudara kita yang telah meninggal. Naudzubillah min dzalik."


Sumi dan Bela pun terdiam. Seperti sedang mencerna kata-kataku. Aku pun mengangguk. "Assalamualaikum." kataku.


"Waalaikumsalam." Bela dan Sumi pun menjawab salamku.


Aku harus lekas pergi menemui suamiku. Aku tidak mau membuatnya lama menungguku.


Dari jauh aku melihat suamiku sedang berbincang dengan seorang perempuan cantik berjilbab lebar. Wajahnya begitu cantik hingga membuat dadaku panas.


Aku mulai menerka-nerka siapa perempuan cantik itu. Aku semakin mendekat. Mereka terlihat asyik sekali berbincang. Seketika kalimat Sumi dan Bela terngiang-ngiang di kepalaku.


Tidak. Tidak boleh. Gus Faiz adalah suamiku, aku tidak mau siapapun merebut dia dariku. Aku mempercepat langkah.


"Ekhm. Assalamualaikum." kataku. Saat tiba-tiba di tengah mereka.


"Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh." jawab Gus Faiz dan perempuan ini.


Melihat mereka yang kompak membuat hatiku sakit. Hatiku panas. Aku terus beristighfar dalam hati. Aku tidak boleh marah-marah.


"An, kenalkan, namanya Aisha. Anak Pak Kyai tempat saya pesantren dulu." kata Gus Faiz.


Aku terdiam. Dia seorang Ning, suamiku seorang Gus. Aku benar-benar ingin menangis rasanya. Dadaku terus berdenyut sakit. Aku tidak mau Gus Faiz berpaling ke lain hati.

__ADS_1


"Namaku Aisha." kata Aisha. Dia mengulurkan tangan.


Akupun menyambut tangannya. "Anindya, is-tri Mas Faiz." kataku, menekankan kata istri.


Dia menatapku dengan tatapan tak suka. Meski tidak suka padaku, dia tetap tersenyum padaku. Aku balas menatapnya dan tersenyum. Aku benar-benar tidak suka Aisha. Akupun meraih lengan tangan Gus Faiz.


"Bukankah kita harus pergi, Sayang?" tanyaku.


Tubuh Gus Faiz menegang mendapati aku yang tengah memeluk lengannya dan memanggilnya dengan panggilan sayang. Aku benar-benar tidak suka pada Aisha. Dia terlalu sempurna untuk dijadikan teman oleh Gus Faiz. Tidak, tidak boleh, kalau dia ingin berteman, berteman saja denganku, tidak perlu dengan Gus Faiz.


Gus Faiz mengusap punggung tanganku, lalu mengangguk, "Kami harus pergi." kata Gus Faiz.


Aku tersenyum penuh kemenangan. "Assalamualaikum." kataku dan Gus Faiz memberikan salam.


"Waalaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh." Aisha menjawab salamku.


Kami berduapun berlalu pergi. Aku tidak melepaskan tanganku dari lengan Gus Faiz. Gus Faiz pun tidak protes. Rasanya nyaman sekali memeluknya seperti ini.


"Apa kamu tidak malu berjalan seperti ini?" tanya Gus Faiz tiba-tiba.


Aku buru-buru melepaskan tangan Gus Faiz. "Apa, kamu tidak menyukainya?" tanyaku.


"Tentu saja saya senang, An." kata Gus Faiz, dia mengejarku.


Di parkiran mobil, dia membuka pintu mobil dengan menggunakan remot dari jauh. Aku yang sampai duluan langsung membuka pintu mobil dan masuk. Diapun langsung melakukan hal yang sama, Gus Faiz buru-buru masuk dan duduk di bangku kemudi. Dia menatapku, aku mengalihkan pandanganku ke arah lain.


"Apakah istri cantikku sedang marah padaku?" tanya Gus Faiz.


Dadaku berdesir. Aku tidak mau menyahut. Aku menggeleng.


"An?" panggilnya.


Hatiku benar-benar kalut. Lidahku pun menjadi kelu. Mataku panas. Tapi tidak sampai menangis.


"Sayang.." Gus Faiz memanggilku sayang untuk pertama kalinya.


Sebutir air mataku lolos begitu saja. Ada rasa bahagia di dalam dadaku. Aku menoleh, lalu menundukkan pandangan. Aku tidak mau menangis.


"Sayang, maafkan saya. Jangan menangis seperti ini." kata Gus Faiz menyapu air mataku dari pipi.

__ADS_1


Gus Faiz memelukku. Akupun terisak di dalam pelukannya. Aku balas memeluknya, aku tidak mau kehilangan Gus Faiz. Benar-benar tidak mau. Ntah mengapa aku jadi gampang sekali menangis.


"Apa kamu cemburu pada Aisha?" tanya Gus Faiz.


Aku mengangguk dalam pelukannya. Gus Faiz melepaskan pelukan kami.


"Saya bahagia melihatmu cemburu seperti ini." kata Gus Faiz sambil terkekeh.


Aku mencubit pelan lengannya. Dia meringis sedikit lalu kembali terkekeh. Aku membuang pandanganku seraya tersenyum.


"Maafkan saya ya." kata Gus Faiz. "Dia hanya anak Abah Kyai di pondokku. Tidak lebih. Kamu tidak perlu cemburu." lanjutnya.


Aku mengangguk. "Maafkan aku, Mas. Aku hanya takut." kataku.


"Apa yang kamu takutkan?" tanya Gus Faiz.


"Melihat Aisha yang cantik, aku takut kalau kamu akan berpaling ke lain hati. Aku benar-benar tidak ingin dimadu atau kehilangan kamu." kataku jujur.


Gus Faiz terkekeh. "Kamu ingat syarat yang kamu ajukan sebelum aku menikahimu?" kali ini dia menatapku serius.


Aku mengangguk. Aku tentu mengingat syarat itu. Aku mengajukan satu syarat yang harus dia penuhi bila ingin menikahiku. Syarat itu adalah syarat untuk tidak menduakan aku. Aku hanya ingin dia hanya menikahiku saja. Bila suatu saat nanti dia benar-benar ingin memiliki istri lagi, aku meminta untuk dicerai sebelum pernikahan itu berlangsung. Aku benar-benar tidak mau dimadu.


"InsyaAllah, sampai kapanpun saya akan memenuhi janji itu. Saya hanya akan menjadikanmu satu-satunya istri saya. Percayalah, hanya kamu yang ada di dalam hati saya, kemarin, hari ini, bahkan selamanya." kata Gus Faiz.


"Benarkah?" tanyaku. "Meski kamu bertemu dengan ribuan gadis cantik?"


Gus Faiz mengangguk mantap. "Kamu tidak perlu khawatir, wanita paling cantik di mata saya hanya kamu. Tidak ada yang lain." lanjutnya.


Aku merasakan pipiku hangat. Gus Faiz yang gemas terlihat mendekatiku, seperti ingin mencium keningku, namun di tengah jalan dia berhenti. Dia menarik tubuhnya kembali. Aku merasa begitu sedih. Sepertinya Gus Faiz takut kalau aku tidak akan mau meresponnya. Padahal dalam hati aku sudah menanti. Aku sudah siap.


Melihat dia yang kembali ke tempatnya aku buru-buru mendekatinya dan mencium pipi kirinya. Dia menoleh. Wajahnya memerah. Akupun begitu.


"Bolehkah?" tanyanya.


Aku mengangguk.


Cup!


Gus Faiz mencium keningku.

__ADS_1


Kamipun menuju Monas. Di Monas kami pun berjalan dari parkiran menuju pintu masuk.


__ADS_2