Penjara Suci

Penjara Suci
PS2 40 - Pancingan Berbisa


__ADS_3

Setelah kami berbaikan di dalam kamar tiba-tiba aku ingin makan makanan yang asam-asam. Aku sering mendengar orang-orang mengatakan kalau orang hamil suka yang asam-asam, ini namanya ngidam. Sepertinya begitu. Aku tersenyum, ternyata begini rasanya meginginkan sesuatu di saat sedang hamil.


“Mas, aku mau buah yang asam.” kataku.


“Kamu mau apa?” tanya Mas Faiz.


“Aku mau, mangga muda sama kedondong.” kataku.


“Baiklah, Mas cari dulu ya.” kata Mas Faiz.


Mas Faizpun pergi keluar. Akupun turun ke bawah. Aku ingin mengobrol dengan Farha. Semoga saja Kak Ulfa pergi jadi kami tidak perlu berpapasan.


“Farha..” panggilku.


“Eh, iya, Mbak?” tanya Farha.


“Apa di kulkas ada buah?” tanyaku. “Aku ingin makan buah yang asam-asam segar. Mas Faiz sedang mencari namun aku tetap ingin bila di kulkas ada.” lanjutku.


Aku hendak pergi ke dapur untuk mengecek isi kulkas namun tiba-tiba perutku mual.


“Aku baru membeli nanas untuk membuat sambal. Nanasnya asam. Ada di kulkas!” seru Kaka Ulfa dari atas.


Mama sedang pergi bersama Papa kata Mama beliau ingin menjenguk kerabatnya yang sakit di rumah sakit. Aku maupun Kak Ulfa tidak mengenalnya jadi kami tidak ikut.


“Mbak mau Nanas?” tanya Farha. “Biar aku ambilkan.” lanjutkan.


“Mau, terima kasih ya Farha.” kataku.


Kak Ulfa pergi ntah ke mana, sepertinya kamar. Ternyata meski sering keradu mulut, Kak Ulfa tetaplah perhatian padaku. Dia tetaplah kakakku. Aku tersenyum dalam hati.


Akupun duduk menonton TV. Lalu tak lama kemudian Farha datang dengan sepiring Nanas yang sudah dipotong-potong kecil-kecil lengkap dengan garpunya.


“Terima kasih, Farha.” kataku.


Aku menusuk satu nanas lalu hendak memasukkannya ke dalam mulutku. Aku mengunyahnya. Enak sekali. Akupun menusuk satu lagi.


“An!” seru Mas Faiz. Dia berlari dan buru-buru merebut garpu yang masih menancapkan nanas itu padaku. Dan meletakkannya di atas meja.


“Ada apa, Mas?” tanya Mas Faiz.


Farhapun sama sepertiku, dia menatap Mas Faiz dengan tatapan bingung. Kami sama-sama bingung melihat bagaimana Mas Faiz terlihat sebegitu marahnya.

__ADS_1


“Jangan makan nanas. Kata orang bisa buat keguguran.” kata Mas Faiz.


JLEB!


Aku buru-buru ke westafel dan mencoba memuntahkan Nanas yang tadi aku makan. Tidak terlalu sulit. Mas Faiz mengikutiku. Lalu kami duduk lagi di depan TV.


“Apa kau yang memberikan istriku nanas ini?” tanya Mas Faiz dengan nada marah.


“Iya, Maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu.” kata Farha.


“Kak Ulfa yang memancing Mas. Farha benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia hanya ingin memberikan apa yang aku mau.” kataku.


Mas Faiz buru-buru bangkit. Aku tidak tahu dia hendak ke mana, namun naluriku berkata kalau aku harus mengikutinya. “Mas!” panggilku.


Mas Faiz tidak menoleh. Dia berjalan menaiki tangga. Akupun mengikutinya. Farha hanya terdiam di tempat tadi merasa bersalah padaku karena tidak sengaja hampir mencelakakan bayiku. Aku tidak tahu apakah makan nanas itu memang bisa menggugurkan kandungan atau tidak, atau bisa membuat kesehatan perutku terganggu atau tidak.


Ternyata Mas Faiz berjalan menuju kamar Kak Ulfa. Sesampainya di depan kamar Kak Ulfa, dia mengetuk pintu kamar Kak Ulfa.


Tok-tok-tok!


Tak lama kemudian Kak Ulfapun keluar. Melihat suamiku yang mengetuk pintu. Matanya berbinar-binar. Aku benar-benar merasa mual. Mual karena bawaan dan mual karena melihat binar mata yang ditunjukkan terang-terangan itu.


“Lho. Aku tidak menyuruh istrimu memakannya.” kata Kak Ulfa.


“Dengar ya, Kak. Saya selama ini diam karena saya menghormati kakak sebagai kakaknya istriku. Tapi hari ini, setelah apa yang kakak lakukan, saya tidak akan tinggal diam lagi bila kakak melakukan hal-hal yang mencelakakan istri dan calon anakku di masa mendatang.” kata Mas Faiz.


Aku menatap suamiku. Aku baru kali ini melihat dia yang terlihat begitu marah pada seseorang.


“Tapi, Gus..” kata Kak Ulfa mencoba mencoba membela diri. Namun Mas Faiz buru-buru menyelanya.


“Kalau kakak melakukan semua ini karena menyukai saya. Saya tegaskan, kalau saya tidak memiliki rasa sedikitpun pada Kakak, bahkan jika di dunia ini seorang wanita hanya tinggal kakak, saya akan memilih melajang seumur hidup. Ingatlah itu, dan jangan pernah ganggu pernikahan kami lagi! Kalau kau punya moral, berhentilah melakukan hal-hal buruk.” kata Mas Faiz.


Mas Faiz membalikkan badan, dan membawaku pergi. Aku tidak merasakan ingin muntah untuk saat ini. Aku menoleh ke belakang. Kulihat Kak Ulfa mengepalkan tangan. “Awas kalian.” katanya marah.


Mas Faiz tidak memperdulikannya. Aku menatap wajah suamiku.


“Kita pulang, An.” katanya. Rahangnya mengeras.


“Iya, Mas.” kataku.


Setelah kami masuk ke kamar dan membawa tas, kamipun pulang, tentunya aku mengajak Farha. Buah yang dibelikan Mas Faiz pun aku bawa.

__ADS_1


...***...


Keesokkan harinya kami sarapan bersama. Farha yang memasak, aku hanya membantu mengambilkan bahan-bahan yang dia perlukan. Selain memasak, dia juga memintaku untuk mengamati cara dia memasak. Dia mengajariku dengan tulus. Aku bisa melihat Farha yang dulu dalam matanya. Aku bersyukur dalam hati, karena dia tidak terpengaruh oleh Kak Ulfa.


Setelah sarapan Mas Faiz pergi ke kantor, setelah makan, aku kembali memakaikan dasi suamiku itu dengan penuh rasa bahagia dan bangga. Mas Faiz memang lebih suka memakai dasi belakangan. Setelah selesai, aku mengantarkannya ke depan, lalu mencium tangannya, diapun mencium keningku. Aku bahagia sekali.


“Jaga dirimu baik-baik, An.” kata Mas Faiz.


“Iya, Mas juga hati-hati di jalan ya.” kataku.


“Iya. Assalamualaikum.” Mas Faiz memberikan salam.


“Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.” aku membalas salam suamiku dengan senyuman. Mas Faiz tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah menutup dan mengunci gerbang. Akupun masuk ke dalam menemui Farha. Dia sedang menyapu lantai.


“Farha, kamu duduk saja ya. Biar aku yang nyapu.” kataku.


“Tidak usah, Mbak. Biar aku saja. Lagi pula aku senang melakukannya karena sudah terbiasa.” kata Farha.


Karena tidak mau menyerahkan sapu itu padaku. Akupun berinisiatif mengambil sapu. Hari ini aku tidak merasakan mual sama sekali. Mungkin ini karena tidak ada Kak Ulfa.


“Kita seperti sedang ro’an ya, Far? Hahaha” kataku.


“Hahaha, iya, Mbak. Tapi bedanya kalau dulu satu kamar kalo sekarang kita hanya berdua.” kata Farha.


“Iya, aku betul. Tapi setidaknya aku ataupun kamu tidak sendirian.” kataku sambil tersenyum.


“Aku merindukan pondok, Mbak.” kata Farha.


“Iya, aku juga merindukan pondok.” kataku.


“Selamat ya, Mbak atas pernikahan, Mbak.” kata Farha.


“Terima kasih ya, aku juga mau ucapkan selamat atas pernikahanmu.” Kataku.


Tiba-tiba raut wajah Farha berubah. Aku benar-benar salah bicara. Aku mulai merutuki diri sendiri ketika melihat wajah Farha yang berubah menjadi sedih.


“Maafkan aku, Far. Aku tidak berniat menyinggungmu, sungguh.” kataku. Mencoba menjelaskan kepada Farha agar dia tidak salah paham pada kata-kataku.


Farha hanya mengangguk lemah.

__ADS_1


__ADS_2