
Baru saja aku dan Revan hendak ke ruangan Mas Faiz. Aku melihat Mas Faiz keluar dari sebuah ruangan. Dia terlihat berjalan mantap dengan tatapan dinginnya.
“Mas!” seruku.
Mendengar seruanku, Mas Faiz menoleh. Wajah tegangnya kini mencair setelah melihatku. Aku mempercepat langkahku, begitu juga dengan Mas Faiz. Sampai di depan Mas Faiz aku mencium tangannya.
“An? Kamu di sini?” tanya Mas Faiz.
“Aku ingin mengajakmu makan siang bersama.” kataku.
Belum sempat Mas Faiz menjawab pertanyaanku, seorang wanita berhijab datang menghampiri kami. Dia tidak memedulikan keadaanku, dia hanya terfokus pada suamiku. Hal ini membuatku kesal setengah mati.
“Pak Faiz, semua orang sudah menunggu bapak.” kata wanita itu, dia berbicara dengan suara sok imut.
“Sudah saya katakan, jangan mengubah suaramu seperti itu. Menjijikan. Saya tidak suka mendengarnya.” kata Mas Faiz dingin.
Aku tersenyum. Suamiku benar-benar terlalu jujur.
Kini kulihat wanita itu sedikit cemberut namun tetap memaksakan senyumnya, “Maaf, Pak.” katanya. Kini suaranya sudah kembali normal.
“Batalkan saja.” kata suamiku.
“Tapi, Pak..” wanita itu lagi.
“Mas, tidak apa-apa kalau kamu mau ada rapat.” kataku.
“Tidak apa-apa. Ayo, kita ke ruanganku.” kata Mas Faiz sambil memeluk bahuku.
Wanita itu menatapku dengan wajah iri.
Diam-diam aku melirik semua orang yang terlihat tidak percaya melihat aku dan Mas Faiz. Mas Faiz mengambil rantang makanan yang ada di tanganku. Dia seakan tidak mau aku membawa beban. Aku hanya bisa menggeleng melihatnya. Dia terlihat sangat senang melihatku datang.
“Mas, malu..” kataku.
“Tidak perlu malu.” kata Mas Faiz.
Aku dan Mas Faizpun menuju ruangan Mas Faiz. Sesampainya di sana kami berdua duduk.
“Apa kamu sudah makan, Mas?” tanyaku.
“Belum.” jawabnya.
“Makan sekarang ya?” tanyaku.
TOK TOK TOK!
Suara pintu di ketuk, setelah itu muncul Rizki membawa dua air minum untuk aku dan Mas Faiz. Selain itu dia membawa sebuah map. Berbeda dengan kebanyakan laki-laki tadi, Rizki tidak berani menatap wajahku, dia terus menunduk menghindari kontak mata denganku. Aku tersenyum dalam hati.
Rizki sepertinya laki-laki yang baik. Aku mulai berpikir untuk mengenalkan Rizki dengan Kak Ulfa bila dia benar-benar laki-laki yang baik. Aku harus menanyakannya pada Mas Faiz. Lagi pula wajah Rizki tampan sepertinya sangat cocok untuk Kak Ulfa.
“Terima kasih.” kataku sambil tersenyum.
Rizki mengangguk.
“An..” Mas Faiz memanggilku dengan nada tidak terdengar ramah. Ah, dia pasti cemburu.
“Saya permisi dulu, Pak, Bu.” katanya.
Rizki sepertinya tidak ingin mengganggu acara kami berdua. Dokumen yang ada di tangannya hendak di bawanya lagi.
"Letakkan dokumen itu di meja saya." kata Mas Faiz.
"Baik, Pak." kata Rizki. Diapun meletakkan dokumen itu di atas meja suamiku.
__ADS_1
“Riz, boleh saya meminta tolong?” tanya Mas Faiz.
“Boleh, Pak.” katanya.
“Tolong katakan pada Lusi untuk membawakan dua piring, dua sendok, dan dua gelas kosong ke sini!” kata Mas Faiz.
“Baik, Pak.” kata Rizki. “Saya permisi.” katanya.
Mataku mulai mengikuti punggung Rizki sampai Rizki keluar pintu. Tiba-tiba Mas Faiz memegangi pipiku dan mengarahkannya padanya yang sudah berada di sampingku.
“Ann.. Mas tidak suka melihatmu menatap pria lain.” kata Mas Faiz, dia terlihat marah.
“Maaf, Mas. Jangan cemburu seperti itu. Aku hanya melihatnya, sepertinya dia pria yang baik. Bukankah yang aku katakan betul, Mas?” tanyaku.
Mas Faiz melepaskan tanganku lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain, Mas Faiz terlihat kecewa kepadaku. Akupun menggeser tubuhku agar merapat pada suamiku, lalu kuraih tangannya dan kuusap.
“Mas, maafin aku ya? Aku hanya berpikir dia pria yang baik untuk Kak Ulfa, aku tidak suka padanya. Aku hanya mencintaimu.” kataku.
“Benarkah?” tanya Mas Faiz.
“Iya, aku tidak mungkin berbohong padamu, Mas.” kataku.
“Baiklah, Mas percaya padamu.” kata Mas Faiz.
“Bagaimana, Mas? Apa Rizki sudah menikah? Apakah dia adalah laki-laki yang baik?” tanyaku.
“Dia belum menikah, dan dia baik. Dia juga teman Mas saat di pondok, jadi karena kami sering bersama jadi Mas tahu kalau dia adalah orang yang baik.” kata Mas Faiz.
“Wah, bagaimana dengan umur dan pekerjaan, Mas?” tanyaku lagi.
“Dia seumuran Mas dan dia merupakan direktur pemasaran.” kata Mas Faiz.
“Lho, kenapa tadi dia membawakan Minum?” tanyaku.
“Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka berdua?” tanyaku.
“Boleh. Tapi coba kamu tanya Kak Ulfa dulu, takutnya Kak Ulfa sudah memiliki calon suami.” kata Mas Faiz.
“Sepertinya belum, Mas.” kataku. “Diakan mencintai kamu.” kataku lesu.
Mas Faiz diam. Dari cara dia diam aku tahu kalau dia membenarkan kata-kataku. Aku hanya diam, tak ingin melanjutkan.
TOK TOK TOK!
Suara pintu diketuk dari luar. Lalu menyembullah wanita yang tadi berbicara dengan gaya sok imut. Dia membawa piring, sendok, dan gelas sesuai perintah Mas Faiz. Diapun meletakkan peralatan makan itu di atas meja.
“Oiya, An, kenalkan dia Lusi. Sekretarisku. Lusi ini istri saya.” kata Mas Faiz.
“I-istri?” tanya Lusi terkejut setengah mati.
“Ada yang salah?” tanya Mas Faiz.
“Eh, tidak, Pak. Saya Lusi, Bu.” kata Lusi mengulurkan tangannya.
“Nindy.” jawabku.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak, Bu.” kata Lusi.
Aku dan Mas Faiz mengangguk, lalu Lusipun keluar ruangan. Aku tidak tahu mengapa dia begitu terkejut mendengar kalau aku adalah istri Mas Faiz.
“Mas, apa karyawan di sini tidak ada yang tahu bahwa Mas sudah menikah? Sepertinya semua orang terkejut.” tanyaku karena sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
“Tidak ada yang tahu kecuali Revan dan Rizki.” jawab Mas Faiz.
__ADS_1
“Apa kamu malu memiliki istri seperti aku, Mas?” tanyaku sedih.
“Tidak, An. Mas justru bangga memiliki istri sepertimu. Mas hanya tidak mau banyak orang yang mencari informasi tentangmu.” kata Mas Faiz.
Akupun mengangguk mengerti. Aku mulai memindahkan nasi dan lauk pauk dari rantang ke piring kami berdua. Tentu aku menatanya dengan rapih.
Aku menyodorkan sepinggan makanan kepada Mas Faiz. Lalu kuambilkan air putih dari dispenser air yang ada di dalam ruangan untuk kami berdua.
“Aku ingin kamu menyuapiku.” kataku tak tahu malu.
Mas Faizpun terkekeh. “Aaa..” katanya.
Akupun memakannya dengan perasaan sangat senang.
“Jadi, kamu jauh-jauh ke kantor hanya untuk bisa kusuapi, An?” kata Mas Faiz.
Aku tersenyum dengan wajah tanpa dosa. Akupun menyendokkan makanan ke arah mulutnya, Mas Faizpun mememakannya. Kami makan sambil tersenyum.
Setelah makan, aku kembali membereskan makanan. Rantang kembali kususun, dan piring kotor kutumpuk dan kusingkirkan. Mas Faiz ikut membantuku.
“Tadi, kamu sedang apa bersama Revan?” tanya Mas Faiz.
“Oh, tadi saat aku ke sini, aku dibawa oleh laki-laki bernama Adam, dia mengira aku model baju terbaru perusahaan. Aku bahkan disuruh menunggu bersama Fatih. Saat aku meluruskan kesalahpahaman, mereka tidak ada yang percaya sampai akhirnya ada Revan. Dia yang membatuku.” kataku menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Mas Faiz tersenyum. “Aku tidak heran mendengar mereka mengiramu model kami, An. Bahkan, bila kubandingkan, kamu jauh lebih cantik.” kata Mas Faiz.
“Masss..” kataku tersipu malu.
"Kamu bilang bertemu Fatih. Bagaimana apa Mas lebih tampan dari pada dia?" tanya Mas Faiz penuh percaya diri.
Aku terkekeh. "Tentu saja. Tidak kamu jauh lebih tampan dari Fatih." kataku.
"Apa kamu tahu siapa itu, Fatih?" tanya Mas Faiz.
"Tidak tahu." kataku.
"Baguslah kalau begitu." kata Mas Faiz.
"Memang dia siapa?" tanyaku.
"Artis muslim yang sedang naik daun." kata Mas Faiz.
Aku hanya ber-oh ria. Pantas saja Fatih mengatakan kalau aku tidak pernah menonton TV.
“Lain kali tidak perlu make-up. Mas tidak mau punya saingan.” kata Mas Faiz.
“Apa kamu mau punya istri kucal, Mas?” tanyaku.
Mas Faiz terkekeh. “Aku tidak keberatan selama istriku kamu, An.” kata Mas Faiz.
“Aku yang keberatan, Mas. Aku tidak mau merusak reputasimu. Boleh ya? Lagi pula aku hanya mengoles bedak dan lipstick sedikit.” kataku.
“Baiklah.” kata Mas Faiz.
Aku tersenyum lalu memeluk lengannya singkat. “Aku pulang dulu ya?” kataku.
“Lho, kok pulang?” tanya Mas Faiz.
“Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu dan melihat kamu membatalkan semua acara rapat hanya karena ingin menemaniku.” kataku.
“Baiklah, tapi aku antar. Mas tidak terima penolakkan.” katanya.
Aku tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1