Penjara Suci

Penjara Suci
PS 52 - Awal Perjalanan


__ADS_3

Dia berdiri di hadapanku. Lalu menatapku. Aku balas menatapnya, "Ada apa?" tanyaku.


“Inget perjanjian kita? Kalau lo setuju kabur sama gue berarti otomatis sekarang lo jadi pacar gue. Itu artinya lo harus turutin semua apa kata gue.” kata Aaron.


"Gue emang pacar lo. Tapi gue bukan babu lo ya." kataku protes.


"Terserah lo. Perjanjian bisa batal kapanpun gue mau." kata Aaron. Licik. Aku tak menyangka kalau Aaron bisa selicik ini.


Aku tak punya waktu untuk membantah Aaron. "Oke, oke! Gue bakal turutin semua apa yang lo mau." kataku sungguh-sungguh.


Dia membungkuk. Lalu menepuk punggungnya sendiri. Mengisyaratkan kalau aku harus baik ke punggungnya. Akupun mendekat.


“Awas aja lo kalo nyari-nyari kesempatan.” kataku, lalu mulai naik ke punggungnya.


Diapun berjalan. Tiba-tiba langkahnya terhenti.


“Kenapa?” tanyaku.


“Ada Gus Faiz. Kita harus puter arah. Lewat jalan muter.” katanya, lalu memutar arah.


Aku mengikuti arah pandangannya. Dan benar saja, ada Gus Faiz di sana. Untung mata Aaron awas.


Tak kusangka, jalan memutar yang di katakan Aaron adalah hutan. Seketika aku bergidik ngeri membayangkan apa yang akan kami lalui. Tak ada jaminan bila tak ada hewan buas di sana. Apa lagi di malam hari.


“Harus banget hutan?” tanyaku. Aku menoleh ke belakang.


“Nggak ada jalan lain.” kata Aron.


Akupun mengangguk. Langkah Aaron pun kembali dipercepat. Sampai akhirnya tak terasa kami sudah sampai di tengah-tengah hutan. Kali ini kurasakan langkah Aaron tak segesit sebelumnya. Dia pasti keberatan membawa aku di punggungnya. Meski dia laki-laki dia juga punya batas rasa lelah bukan?


“Turunin gue, Ron!” kataku.


“Kenapa?” tanyanya, sambil menurunkanku.


“Nggak usah sok kuat deh lo. Gue tau lo capek kan gendong gue?” kataku sambil mengejeknya.


Dia kini terkekeh. "Berat juga lama-lama." Katanya sambil memutar pinggangnya untuk melemaskan badannya.


KREKKK! Suara badan Aaron.


"Dasar. Sok kuat si lo. Hahaha." kataku menertawakannya.


“Hahaha ayo jalan lagi keburu subuh.” kata Aaron. Tas ranselku kini kembali berada di belakangnya.

__ADS_1


“Ron..” panggilku sambil berjalan di sampingnya.


“Kenapa?” tanyanya sambil menoleh ke arahku.


Melihat wajahnya, aku kembali merasa kalau wajah Aaron tidaklah asing di mataku. Namun aku tak tahu siapa dia. Apakah kami saling mengenal sebelumnya? Mengapa aku tidak ingat?


“Lo siapa sebenernya?” tanyaku.


“Kemana aja lo ampe baru nanya sekarang?” katanya. Ada sedikit rasa kecewa di sana.


Sebetulnya apa yang dikatakannya betul juga. Aku bisa menanyakan pertanyaan ini saat kami bertemu kemarin-kemarin namun aku justru menanyakannya hari ini.


"Ih, gue serius." kataku, sambil mengerucutkan bibir.


Dia berdiri di depanku. "Coba liat muka gue." katanya.


Aku menuruti apa permintaanya.


“Lo beneran nggak kenal gue?” tanyanya. Sambil menatap mataku.


Aku menggeleng lemah. Sepertinya terlalu banyak orang hanya numpang lewat di kehidupanku sehingga aku tidak bisa mengingatnya satu persatu.


"Jujur gue kecewa, lo gak kenalin muka gue. Tapi kayaknya gak penting juga si. O iya, lo lebih cantik pake kerudung gini, Nin.” katanya.


Kerudung? -batinku.


“Gombal.” kataku.


Aku mencoba melepas kerudung ini namun Aaron buru-buru menahanku. "Jangan di lepas!" katanya.


"Kenapa?" tanyaku tak mengerti.


"Sekarang udah malam. Kalo lo lepas kerudung, nanti lo masuk angin." katanya.


Aku mengiakan. Ternyata Aaron orang baik. Semua perintahnya adalah demi kebaikanku. Mampukah aku mencintainya setelah ini?


Fikiranku kini tertuju pada Gus Faiz, rasanya kaki ini berat sekali diajak untuk berjalan. Semakin lama aku semakin merasa ada yang menahanku untuk terus berada di pesantren. Terus menyeruku untuk kembali


Kini, di kepalaku bayangan wajah Gus Faiz tersenyum seperti beberapa jam lalu terlintas. Aku mulai merasakan sedikit keraguan.


Selain wajah Gus Faiz. Kini pikiranku berkelana pada Linda. Lebih tepatnya pada kata-kata Linda. Tadi, Linda sempat mengatakan kalau Kak Ulfa juga mendekati Gus Faiz. Meski Linda begitu membenciku namun aku tahu dalam hal yang menyangkut Gus Faiz dia mengatakan hal yang sesungguhnya.


Kata-kata Linda membuatku bepikir, mungkin memang Kak Ulfa juga menyukai Gus Faiz. Tak ada yang bisa menolak pesona anak Abah itu. Jika dilihat mereka berdua sangat cocok. Gus Faiz yang tampan, cerdas, sopan, dan hampir mendekati sempurna. Dengan Kak Ulfa yang juga cantik, baik, cerdas dan kesopanannya yang memikat hati setiap orang yang melihatnya. Setidaknya, aku melihat ini dari sudut pandang orang-orang.

__ADS_1


BUG!


Aku menabrak sesuatu. Sesaat aku merasakan dejavu. Mungkin karena aku sering menabrak Gus Faiz. Aku menoleh ke belakang. Lalu ke depan melihat siapa orang yang aku tabrak.


Aaron berhenti di depanku. Kembali menatapku.


“Kenapa? Lo ragu?” tanya Aaron. Ada sedikit rasa kecewa di matanya.


Aku buru-buru menggeleng. "Enggak.” kataku.


“Terus kenapa? Mikirin kejadian di Gang Sempit?” tanya Aron. Aku menatapnya. Aaron se


“Maksudnya?” tanyaku pura-pura bodoh.


Aku mulai berpikir kalau Aaron mengetahui semua yang ku lakukan dengan Gus Faiz.


“Gus Faiz. Lo ragu karena dia kan?” tanya Aaron.


Telak. Kalau dia benar-benar mengetahui segalanya. Aku rasa tak ada gunanya aku berbohong.


“Keraguan gue cuman buat sementara.” kataku.


Tak terasa kita sampai di sebuah jalan. Ternyata benar kata Aaron bila kita bisa melintasi hutan yang mirip labirin ini, kita akan bertemu dengan jalan besar. Kamipun duduk. Menunggu ada mobil yang mau mengangkut kami.


“Gue tebak lo udah cinta mati sama Gus Faiz. Gue heran kenapa semua cewek suka sama Gus Faiz.” kata Aaron.


Aku menoleh ke arah Aaron.


“Maksudnya?” tanyaku padanya. Aku tidak mengerti apa yang sedang diucapkannya.


Aku sangat tahu kalau semua perempuan normal pasti akan tergila-gila pada Gus Faiz, Linda adalah contoh konkretnya. Tapi apa maksud yang akan disampaikan Aaron padaku?


Aaron terkekeh. “Emang nggak ada pertanyaan lain ya?” tanyanya.


“Siapa aja emang yang suka sama Gus Faiz?” tanyaku.


“Lo nanya beginian sama pacar lo sendiri? Hebat..” kata Aaron. Ada nada tak suka di dalam kata-katanya.


“Gue serius.” kataku lagi.


"Serius udah bubar." kata Aaron bercanda.


Aku memutar bola mata. "Candaan lo udah kayak bapak-bapak, Ron, Ron." kataku. "Gue seriusss." kataku lagi pada Aaron.

__ADS_1


“Oke-oke. Sebenarnya gue gak masalah kalau dia bisa ngerebut hati cewek-cewek yang pernah ketemu sama dia. Tapi sayangnya gue gak rela ketika dia berani ngerebut hati adik gue dan hati cinta pertama gue.” katanya, memberikan penjelasan.


Ada kemirisan dalam ucapannya.


__ADS_2