Penjara Suci

Penjara Suci
PS2. 18 - Sang Penggoda


__ADS_3

Sesampainya di supermarket, aku dan Kak Ulfa turun. Mas Faiz tidak mau masuk. Akupun tidak mau memaksa Mas Faiz. Katanya dia lebih nyaman menunggu di dalam mobil ketimbang berkeliling. Lagi pula aku ditemani Kak Ulfa.


Aku senang sekali, benar-benar senang. Aku sangat merindukan keluargaku, melihat Kak Ulfa datang pun aku sangat senang, dan sekarang kami belanja berdua. Aku benar-benar senang. Aku merindukan masa-masa kita bersama.


“Kamu kenapa nangis?” tanya Kak Ulfa.


“Aku bahagia banget jalan sama kakak.” kataku.


“Lho memang kamu tidak bahagia jalan berdua dengan suamimu?” tanya Kak Ulfa.


“Bahagia, Kak. Hanya saja aku merindukan Kakak juga. Jalan-jalan seperti ini kan tidak setiap hari bisa kita lakukan.” kataku.


“Ada-ada saja kamu, bahagia pakai nangis segala.” kata Kak Ulfa mencibir.


Aku hanya terkekeh mendengar cibirannya.


“Kita mau beli apa, Kak?” tanyaku.


“Kamu mau aku ajari masak apa?” tanya Kak Ulfa.


“Jujur rasanya aku ingin bisa masak semuanya, Kak.” pataku.


“Yasudah beli saja semuanya.” kata Kak Ulfa, tertawa.


Akupun ikut tertawa. Aku benar-benar merindukan kebersamaan kami. Aku berdoa agar Kak Ulfa lekas mendapatkan suami yang baik, agar hubungan kami kembali membaik meski kami tidak bertengkar.


Aku mendorong troli, Kak Ulfa yang memasukkan barang-barang yang akan di beli. Kali ini kami ke tempat sayuran. Aku memperhatikan Kak Ulfa yang sedang memilih sayur selada.


“Bagaimana cara memilih sayuran yang baik, Kak?” tanyaku.


“Tentu saja yang segar, tidak layu atau keriput, dan perhatikan daunnya, biasanya sayur yang bebas pestisida itu bukan yang mulus, biasanya ada bolong-bolong bekas gigitan ulat kecil.” kata Kak Ulfa.


Aku mengangguk. Lalu Kak Ulfa memasukkan selada pilihannya ke dalam keranjang. Kamu menuju tempat daging.


“Kalau mau cari daging lihat warnanya, daging yang memiliki kualitas baik biasanya mempunyai warna merah yang masih sangat segar tidak pucat dan kotor, terus kamu lihat teksturnya. Kalau kamu tekan lalu dia balik lagi seperti semula berarti masih segar.” kata Kak Ulfa.


Aku mencoba melakukan apa yang dilakukan Kak Ulfa.


“Dan yang terakhir jangan pernah memilih daging yang lembek dan berair. Berair dengan berdarah itu berbeda ya, jadi kalau berdarah ya tidak apa-apa.” kata Kak Ulfa.


Aku mengangguk bersemangat. Aku benar-benar bangga pada Kak Ulfa. Kak Ulfa dan akupun kembali berkeliling. Kak Ulfa jug mengajariku cara mencari ayam dan ikan yang segar. Akupun mendengarkannya dengan baik. Aku benar-benar beruntung memiliki kakak seperti Kak Ulfa yang baik hati.


“Kamu mengerti kan semua yang kakak ajarkan, Dik?” tanya Kak Ulfa.


“InsyaAllah mengerti, Kak.” kataku. Dengan mata berbinar.


“Jangan lupa kamu katakan sama Gus Faiz kalau aku yang mengajarimu cara memilih semua bahan memasak itu.” kata Kak Ulfa.


“Maksudnya, Kak?” tanyaku tidak mengerti.


“Iya, yang mengajari kamu itu aku kan?” tanya Kak Ulfa.


Aku mengangguk.


“Yasudah katakan saja padanya kalau aku sudah berbaik hati mengajarimu cara memilih ini dan itu.” kata Kak Ulfa.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk.


Seusai belanja kamipun menuju kasir. Antrean di kasir begitu panjang. Mungkin karena ini adalah awal bulan jadi orang-orang memilih berbelanja bulanan.


“Kakak ke mobil duluan ya?” kata Kak Ulfa.


“Baik, Kak.” Kataku.


Sebetulnya aku menginginkan Kak Ulfa untuk tetap di sini membantuku, Namun, melihat antrean panjang ini aku tidak tega, mungkin juga Kak Ulfa sudah lelah mengajariku dan berjalan ke sana ke sini mencari bahan-bahan.


Setelah aku tidak lagi melihat Kak Ulfa ntah mengapa aku memikirkan Mas Faiz. Di mobil hanya ada Mas Faiz. Rasanya aku tidak rela melihat Mas Faiz dan Kak Ulfa berduaan di dalam mobil. Tapi aku tidak boleh seperti ini, aku tidak boleh cemburu tanpa alasan, lagi pula aku sangat percaya pada Mas Faiz. Mas Faiz tentu paham bagaimana seharusnya dia bersikap.


Aku benar-benar tak mau memberikan kesan buruk pada Kak Ulfa hanya saja aku ingin mengutarakan sedikit kecemasanku. Ah, mungkin ini hanya benar-benar kecemasan tak beralasan. Namun, tak bisa dipungkiri aku semakin gelisah.


“An!” panggil seseorang.


Aku mendongak. Aku mendapati suamiku melambaikan tangannya di penghujung kasir, Aku tersenyum, dia pun membalas senyumku.


Hingga saatnya giliranku sampai di kasir dia mendekatiku.


“Pacarnya ya, Mbak?” tanya seorang petugas kasir.


“Suami.” kataku tersenyum malu-malu.


“MasyaAllah, serasi sekali, Mbak. Mbaknya cantik, Masnya tampan.” kata petugas kasir.


“Terima kasih.” kataku.


“Totalnya, Rp1.020.000, Mbak.” kata petugas kasir.


“Eh, Mas, kan aku masih ada.” kataku.


“Tidak apa-apa, kamu simpan saja.” kata Mas Faiz.


“Terima kasih, Mas.” kataku.


Melihat aku dan Mas Faiz petugas kasir tersenyum sendiri. Aku jadi salah tingkah. Selesai melakukan pembayaran kamipun mendorong troli belanjaan menuju mobil.


“Bagaimana acara belanjanya?” tanya Mas Faiz.


“Sangat menyenangkan, Mas. Kak Ulfa mengajariku cara memilih sayur, daging, ayam, dan ikan.” kataku.


“Syukurlah kalau kamu senang. Saya senang mendengarnya.” kata Gus Faiz.


Sesampainya di mobil, Mas Faiz memasukkan belanjaan ke bagasi mobil. Aku ikut membantunya. Tiba-tiba Kak Ulfa datang menghampiri kami.


“Biar aku bantu, Gus.” katanya.


“Tidak perlu, Kak. Sudah selesai.” kata Mas Faiz.


“Jangan panggil aku, Kak. Panggil Ulfa saja seperti biasanya, lagi pula kamu lebih tua satu tahun dariku.” kata Kak Ulfa.


“Saya telah menjadi suami adikmu, jadi sudah sepantasnya memanggilmu kakak.” kata Mas Faiz.


Mas Faiz melirikku.

__ADS_1


“Eh, aku kembalikan trolinya ya, Mas.” Kataku.


“Tidak usah, kamu dan Kak Ulfa masuk saja ke dalam mobil. Biar aku yang kembalikan.” kata Mas Faiz.


Aku dan Kak Ulfapun menurut.


“Dik, Kakak di depan ya?” kata Kak Ulfa langsung masuk lewat pintu depan mobil.


Aku tidak punya kuasa apapun untuk menolak. Jadi, aku mengangguk dan masuk, duduk di belakang. Toh hanya masalah tempat duduk bukan tempat di hati.


Tak lama kemudian Mas Faiz masuk ke dalam mobil. Dia yang menyadari Kak Ulfa bertukar posisi denganku langsung menoleh padaku meminta penjelasan. Aku mengeleng. Mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.


Tanpa berkata-kata lagi, Mas Faiz langsung melajukan mobil. Suasana di dalam mobil hening.


“Aku nyalakan radio ya, Gus.” kata Kak Ulfa.


“Silakan.” kata Gus Faiz.


Kak Ulfapun menyalakan radio, lalu dari radio itu terdengar penyiar akan memutarkan lagu Sang Penggoda yang dinyanyikan oleh Tata Jeneeta feat Maia Estianty.


Kau dulu pernah bilang


Aku ratu di hatimu sayang


Dan aku ratu di istanamu


Dan dulu kau pernah bilang


Takkan pernah tinggalkanku


Sumpah mungkin kau lupa


Aku diam saja mendengarkan. Begitu pula Mas Faiz. Dia tetap fokus mengemudi.


“Ini lagu kesukaan aku, Gus.” kata Kak Ulfa.


Mas Faiz tidak menanggapi.


Tidak aku sangka, tiba-tiba Kak Ulfa ikut bernyanyi. Suaranya bagus.


“Dan ku pernah jadi yang tersayang


Ku pernah jadi yang paling kau cinta


Mungkin kau lupa.” Kak Ulfa melirik Mas Faiz.


Aku diam saja di belakang. Tidak mungkin aku menegur Kak Ulfa hanya karena dia melirik suamiku.


“Dan disaat sang penggoda datang


Kau biarkan dia hancurkan istanaku


Ternyata kau lupa aku ratumu.” kali ini Kak Ulfa melirikku.


Aku beristigfar dalam hati menyingkirkan pikiran kalau Kak Ulfa sedang menyanyikan lirik itu untukku, dengan kata lain dia mengatakan aku sebagai Sang Penggoda. Semoga ini hanya lagu, semoga dia hanya menyanyikan lagi tanpa menyadari lirik yang dinyanyikannya, dan semoga tidak ada unsur kesengajaan.

__ADS_1


__ADS_2