
Aku mengabari Linda kalau Farha kini berada di rumahku. Namun, aku meminta Linda tidak menyuruh Aaron ke sini, karena sepertinya walau sudah sebulan lebih Farha pergi dia masih belum siap. Aku butuh berbicara dengannya. Sebulan bukanlah waktu yang sebentar. Aku tidak bisa membiarkan Aaron dan Farha terus-terusan seperti ini.
Suamiku belum pulang. Waktu masih menunjukkan pukul 14.00 WIB. Aku dan Farha sedang menonton TV di ruang tengah. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengatakan pada Farha.
“Far?” panggilmu.
“Iya, Mbak?” tanyanya.
“Hal apa yang paling kamu rasa sulit kamu lakukan saat di pondok dulu?” tanyaku. Memulai pembicaraan.
“Apa ya, Mbak?” tanyanya lebih kepada diri sendiri.
Aku menunggunya berpikir. Akhirnya kulihat raut wajahnya berubah. Kini dia menatapku. Dia sepertinya sudah menemukan jawabannya.
“Aku ingat, Mbak. Menghafal Nazam Alfiyah.” katanya sambil tersenyum. Matanya menerawang ke saat-saat di pondok.
Aku tersenyum. Aku jadi ikut teringat bagaimana kami menghafalnya setiap malam. Aku jadi teringat malam-malam di mana kami para santri selalu mencari pojok yang nyaman untuk menghafalkannya, terus menghafalkannya sampai terkantuk-kantuk, apa lagi setiap dekat waktu ‘setoran’.
“Aku dulu sering menyerah di beberapa kalimat yang sulit aku hafalkan karena banyak wazan yang mirip. Untungnya Mbak selalu menyemangatiku dan terus membantuku untuk menghafalnya. Padahal aku sudah lebih lama masuk pondok dari pada Mbak, tapi ajaibnya aku justru sangat kesulitan dibanding Mbak, yang harus mengafal sambil belajar membaca Al-Quran juga.” katanya sambil terkekeh.
Aku tersenyum. “Aku tidak membantu apapun, dirimu sendirimulah yang hebat karena niat kamu tulus karena Allah.” kataku.
Farha terdiam mendengar kata-kataku. “Aku jadi teringat Bapak, Mbak.” katanya. Wajahnya terlihat sangat sedih.
“Teringat bagaimana?” tanyaku.
“Dulu, saat aku diantarkan ke pondok, beliau mengatakan kalau meski awalnya hanya sebuah paksaan dari Bapakku, beliau memintaku untuk memperbaiki niat belajarku. Beliau memintaku untuk belajar dengan niat mencari keridaan Allah bukan karena keterpaksaan, bukan pula karena ingin membuat Bapak bangga. Bapak ingin niatku benar-benar karena Allah.” kata Farha.
“Kamu telah melakukannya, aku yakin Bapakmu sangat bangga kepadamu, Farha.” kataku.
“Aku selalu berharap demikian, Mbak. Aku juga berharap dengan aku menghafal Al-Quran, Allah akan memberikan mahkota dan jubah kemuliaan untuk orang tuaku di Surga-Nya.” kata Farha.
Aku menitikkan air mataku. Sangat terharu dengan apa yang disampaikan Farha. Dia benar-benar Farha yang aku kenal.
“MasyaAllah, Farha. Orang tuamu benar-benar beruntung memiliki anak salihah sepertimu,” kataku.
Aku memeluk Farha singkat.
“Bagaimana dengan Aaron?” tanyaku.
__ADS_1
“Ntahlah, Mbak. Aku tidak mau bertemu dengannya. Sejak bertemu dengannya, aku baru sadar ternyata ada yg lebih sulit dibanding menghafal nazaman.” kata Farha sedih.
“Farha, maaf sekali kalau aku membuatmu merasa tidak nyaman, tapi aku benar-benar ingin bertanya. Apa kamu tahu kalau mobil Aaron disabotase?” tanyaku.
Farha mengangguk. “Aku tahu, Mbak Linda, maksudku Linda sudah menjelaskannya kepadaku.” katanya lemah.
Mendengar Farha meralat panggilannya yang semula Mbak Linda seperti saat di pondok menjadi Linda, aku jadi yakin, jauh di dalam lubuk Farha, dia menerima pernikahan ini.
“Syukurlah kalau kamu memang sudah tahu, tapi ketika kamu sudah tahu, mengapa kamu tetap seperti ini?” tanyaku.
“Aku benar-benar bingung, Mbak. Aku tidak tahu bagaimana memulainya, aku benar-benar terus melihat wajah Bapak tiap kali melihat wajah Mas Aaron.” katanya sedih.
“Damailah dengan masa lalu, Far. Mungkin semua adalah takdir yang telah ditakdirkan untukmu. Bukankah selalu ada hikmah di balik semua kejadian. Mungkin Bapakmu memintamu menikah dengan Aaron karena Bapakmu tahu kalau Aaron bisa membahagiakanmu.” Kataku.
Farha terdiam, dia kembali mencerna kata-kataku. Aku sangat bersyukur bisa berbicara empat mata dengannya tanpa ada ganggguan siapapun.
“Lagi pula terlepas dari apa yang terjadi, bukankah kamu sudah menjadi seorang istri? Seorang itri harus taat kepada suami, bukan?” kataku.
Farha mengangguk lemah.
“Kembalilah, Farha. Aku memang tidak tahu bagaimana perasaanmu, namun damailah dengan masa lalu, kembalilah pada suamimu. Pelan-pelan saja. Aaron orang yang baik, aku bisa menjamin itu.” kataku.
“Kalau Mas Aaron adalah orang baik, mengapa Mbak lebih memilih Gus Faiz?” tanya Farha.
Farhapun mengangguk.
“Jadi, maukah kamu kembali? Eh, tapi mohon jangan disalahartikan aku mengusirmu ya, sungguh, aku hanya bertanya. Kamu tentu boleh di sini selama apapun yang kamu mau.” kataku.
Farha mengangguk. “Aku mau kembali, Mbak. Tapi bolehkah aku di sini beberapa hari lagi?” tanya Farha.
“Tentu saja boleh.” kataku.
***
Waktu menunjukkan Pukul 19.30 WIB. Waktunya suamiku pulang. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku menunggu suamiku di depan rumah. Menunggu mobilnya datang.
“Mbak, sedang apa di luar?” tanya Farha.
“Menunggu suamiku pulang, Farha. Biasanya Mas Faiz pulang jam segini.” kataku.
__ADS_1
“Oh seperti itu.” Katanya.
Aku mengangguk.
Tak lama kemudian, akupun melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahku. Namun, tidak membunyikan klakson seperti biasanya.
“Pasti itu suamiku.” kataku.
Akupun berjalan menuju pintu gerbang dan membukakan gerbang. Lampu mobil yang menyala membuat mataku tidak bisa memastikan mobil itu. Setelah ku buka. Mobil itupun masuk. Aku buru-buru menutup gerbang itu lagi.
Aku membalikkan badan dan betapa terkejutnya aku mendapati mobil yang masuk bukanlah mobil Mas Faiz. Farha yang masih berada di depan rumah pun membeku. Seseorang dari dalam mobil itu keluar.
“Aaron?” tanyaku tak percaya dengan apa yang aku lihat.
Farha yang melihat Aaron datangpun langsung masuk ke dalam rumah. Tanpa memperdulikanku, Aaron langsung berlari menuju Farha.
Kini aku bingung harus melakukan apa. Di sela-sela kebingunganku, aku mendengar suara klakson mobil, kali ini aku bisa memastikan kalau mobil tersebut adalah mobil suamiku. Aku kembali membuka pintu gerbang. Mobil itupun masuk. Aku buru-buru menutup dan mengunci gerbang.
Aku membalik badan, dan benar saja, mobil itu milik suamiku. Aku buru-buru menghampiri pintu kemudi. Menunggu suamiku keluar dari mobil.
Mas Faizpun keluar dari mobil. Aku buru-buru mencium tangannya. Mas Faiz menatap mobil yang yang ada di samping mobilnya.
“Siapa yang datang, An?” tanya Mas Faiz menyelidik.
“Maafkan aku, Mas. Aku tahu kalau aku tidak boleh membiarkan orang lain masuk tanpa seizinmu, tapi aku tidak tahu kalau mobil Aaron yang datang bukan mobil mas.” kataku mencoba menjelaskan.
“Iya, tidak apa-apa. Di mana Aaron?” tanya Mas Faiz.
“Di dalam, Mas.” kataku.
Mas Faizpun mengajakku masuk ke dalam. Dan betapa terkejutnya aku melihat Aaron dan Farha yang sedang beradu mulut. Aku benar-benar sedih melihat Aaron datang. maksudku, aku senang Aaron datang menjemput Farha, namun nanti kalau Farha sudah benar-benar mau pulang.
“Aku tidak mau pulang sekarang!” seru Farha.
“Kamu harus pulang sekarang!” kata Aaron.
“Aku tidak mau!” seru Farha.
“Aku suamimu, kau harus menuruti kata-kataku. Ayo, pulang!” seru Aaron.
__ADS_1
Aku memijit kepalaku, Aaron benar-benar tidak mengerti cara membujuk Farha. Aku kembali merutukinya yang datang saat ini.
Aaron, kamu salah langkah! –batinku.