
Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB.
Aku menghampiri Bi Darsih yang sedang asyik di dapur. Jujur, hari ini aku ingin sekali membawakan makan siang untuk suamiku. Rasanya aku sedang tidak ingin makan berdua bersama Bi Darsih seperti biasanya. Aku ingin makan berdua dengan suamiku.
“Bi Darsih..” panggilku.
“Eh, copot-copot!” seru Bi Darsih latah.
Aku terkekeh melihat bagaimana Bi Darsih latah karena kaget kepada aku yang tiba-tiba memanggilnya.
“Ya Allah, Bu. Saya kaget.” kata Bi Darsih.
“Maaf ya, Bi. Aku mengagetkan Bibi.” kataku.
“Iya, Bu. Tidak apa-apa. Bibi jadi malu.” kata Bi Darsih sambil terkekeh kecil. “Ada yang bisa saya bantu, Bu?” tanya beliau padaku.
“Aku ingin makan bersama suamiku di kantor, Bi.” kataku.
“Oh begitu, baik, Bu. Bibi siapkan makanan untuk Ibu bawa ya.” kata Bi Darsih.
“Terima kasih ya, Bi.” kataku.
“Lebih baik Ibu bersiap-siap pokoknya makanan nanti biar Bibi yang siapkan.” kata Bi Darsih.
“Oke, aku ke atas dulu ya.” kataku.
Akupun naik ke atas. Meski aku merasa sangat malas mandi, namun aku tetap memaksakan diriku untuk Mandi, lalu berhias di depan kaca. Aku ingin memiliki kesan yang baik di hadapan semua orang yang ada di kantornya.
Aku memakai gamis berwarna krem dengan perpaduan warna hitam. Lalu memilih kerudung hitam agar senada. Setelah kurasa sudah siap, akupun turun ke bawah untuk menemui Bi Darsih.
“Ibu, makanannya sudah siap. Ibu ke sana naik apa? Apa perlu Bibi antar?” tanya Bi Darsih.
“Tidak usah, Bi. Aku naik taxi online saja.” jawabku sambil tersenyum.
Aku mengambil ponselku lalu memesan taxi online melalui aplikasi yang ada di ponselku. Setelah memasan dan mendapatkan pengemudi akupun menunggu hingga pengemudi itu sampai di muka rumah.
“Ibu, betul berani ke kantor bapak sendiri?” tanya Bi Darsih.
“Iya, Bi. Tidak apa-apa. Bi Darsih tidak perlu khawatir.” kataku. “Eh, sudah datang Bi, taxinya, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum.” salamku pada Bi Darsih.
“Waalaikumsalam, eh Bu, ini makanannya ketinggalan.” kata Bi Darsih.
Aku terkekeh lalu kembali lagi mengambil rantang berisi makanan itu. “Makasih ya, Bi.” kataku.
“Iya, sama-sama, Bu.” kata Bi Darsih.
Melihatku keluar rumah, Mang Jarwo buru-buru melebarkan gerbang yang tadinya terbuka sedikit.
“Taxinya sudah datang, Bu.” kata Mang Jarwo.
“Iya, Mang. Terima kasih ya. Saya berangkat dulu, Mang. Assalamualaikum.” Salamku.
“Waalaikumsalam wa rahmatullahi wabarakaatuh. Hati-hati di jalan, Bu.” kata Mang Jarwo.
Akupun masuk ke dalam taxi tersebut, setelah memastikan aku sudah berada di dalam taxi tersebut, pengemudipun langsung melajukan mobilnya ke kantor suamiku.
Setelah membayar, berterima kasih, dan keluar mobil, akupun masuk ke dalam kantor. Aku menghampiri resepsionis yang bertugas menjaga meja tamu. Resepsionis itu berhijab.
“Ada yang bisa saya bantu, Kak?” tanya seorang resepsionis kepadaku.
“Saya ingin bertemu dengan Pak Faiz.” kataku.
“Pak Faiz? Apa maksud Kakak CEO perusahaan kami?” tanya resepsionis.
“Iya, betul.” kataku.
“Apakah sudah membuat janji sebelumnya?” tanya resepsionis.
Belum sempat aku menjawab seorang laki-laki menghampiri kami. Dia tersenyum ramah kepadaku. Dia mengulurkan tangan. Umurnya sepantaran Mas Faiz, bila boleh kutaksir. Aku meyatukan tanganku di depan dada.
__ADS_1
“Saya Adam.” katanya.
“Nindy.” kataku.
Adam mengamatiku dari atas sampai bawah. Aku mengikuti arah pandangannya. Aku mulai berpikir jangan-jangan ada yang salah dengan pakaianku. Namun, setelah kuamati baik-baik sepertinya tidak ada.
“Din, biar saya yang mengantarkannya ke dalam.” kata Adam.
“Baik, Pak.” kata resepsionis.
“Mari, Kak. Saya antar ke dalam.” kata Adam.
Aku hanya mengangguk. Dan mulai mengekorinya. Menyadari aku hanya jalan mengekor di belakang, Adam melambatkan laju jalannya agar bisa sejajar denganku.
“Kami sudah lama menunggu, Kakak.” kata Adam.
“Sudah lama?” tanyaku.
“Tidak lama juga sih. Tapi intinya kami menunggu Kakak.” kata Adam sambil terkekeh.
Aku hanya tersenyum menanggapi.
“Saya ingin bertemu dengan Pak Faiz.” kataku.
“Iya, Kak. Bapak sebelumnya sudah mengontak saya untuk menyambut Kakak karena beliau sedang sibuk.” kata Adam.
Aku sedikit sedih mendengarkan Mas Faiz yang sibuk. Namun, aku tidak boleh protes karena Mas Faiz itu memang orang penting. Meski sedih, aku tetap tersenyum.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum sopan. Aku tentu harus menjaga citra suamiku.
“Adli! Siska! Sini!” seru Adam.
Seseorang yang dipanggil Adli dan Siskapun menghampiri. Adli menatapku tak percaya dan Siska hanya menatapku dengan tatapan malas.
“Oh, ini? MasyaAllah memang tidak salah pilih, dia cantik sekali.” kata Adli. “Saya Adli.” katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku menyatukan tangan di dada, “Nindy.” kataku sambil tersenyum sopan.
“Maaf ya, Nin. Siska memang seperti itu.” kata Adli. “Duduk saja dulu ya.” kata Adli. Menyilakanku duduk tak jauh dari tempat kami.
“Kami tinggal dulu sebentar ya, Kak.” kata Adam.
“Baik.” kataku menurut.
Setelah duduk, aku melihat Siska yang datang membawa dua minuman, lalu meletakkan di atas meja. Wajahnya masih saja memandangku tidak suka. Tak lama kemudian ada seorang laki-laki tampan menggunakan baju koko datang. Wajah Siska langsung berubah. Aku sepertinya tahu apa dari sikap Siska.
“Kak Fatih, silakan duduk, ini minuman untuk Kak Fatih dan Kak Nindy.” katanya ramah.
Siska meminta laki-laki yang bernama Fatih itu duduk di seberangku.
“Terima kasih.” jawab Fatih sambil tersenyum. Melihat senyum itu wajah Siska terlihat memerah. Aku jadi teringat bagaimana tiap kali Mas Faiz tersenyum padaku.
Siskapun mengangguk dan masuk ke dalam ruangan tadi.
“Hai, saya Fatih, kamu mengenalku bukan?” tanyanya sambil tersenyum. Dia menyodorkan tangannya kepadaku.
“Saya Nindy. Dan saya tidak mengenalmu.” kataku. Sambil menyatukan tangan di depan dada.
“Kamu benar-benar tidak mengenalku?” tanyanya tak percaya.
“Bukankah ini pertemuan awal kita?” tanyaku.
Dia terkekeh. Aku tidak memperdulikannya. “Sepertinya kamu tidak suka menonton TV.” katanya.
Aku tersenyum singkat. Singkat sekali. Aku benar-benar tidak ingin mengobrol dengannya. Aku hanya ingin bertemu dengan Mas Faiz.
Aku mengeluarkan ponsel, berniat untuk menghubungi suamiku. Namun, aku mengurungkannya karena teringat kata-kata Adam yang mengatakan kalau suamiku sedang sibuk.
“Kutebak usiamu 20tahun?” tanya Fatih.
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Punya pacar?" tanya Fatih.
"Tidak." jawabku singkat.
Aku betul, Bukan? Aku tidak memiliki pacar tapi aku memiliki suami. Aku malas menanggapi atau menjelaskan. Aku kembali diam.
“Kamu tidak penasaran denganku?” tanyanya.
“Tidak.” kataku. Aku sibuk membolak-balik ponselku.
“Nindy, pakaiannya sudah siap. Kamu tinggal ganti baju saja ya, lalu kita mulai sesi pemotretannya.” kata Adli.
“Pemotretan?” tanyaku bingung. “Saya ingin bertemu Pak Faiz.” kataku.
“Sudahlah tidak perlu berbelit-belit, ayo ikut denganku!” seru Siska, wajahnya tidak ramah padaku.
“Ta-pi..” kataku.
“Sudah ayo..” kata Siska menarik tanganku.
“Tidak, saya tidak mau. Saya mau bertemu dengan suami saya, Pak Faiz.” kataku.
“Ck, kalau kamu istri Pak Faiz, aku kekasih gelapnya.” kata Siska asal-asalam.
Aku benar-benar tidak suka pada Siska. Dia kembali menarik tanganku, aku memberontak. "Tidak mau.." kataku.
"Kamu tidak boleh kasar padanya." kata Fatih.
“Lho, Bu Nindy?” kata seseorang.
Aku menoleh aku mendapati Revan yang kini mendekat. Aku terselamatkan. Sepertinya mereka salah paham padaku.
“Revan, tolong saya.” kataku.
“Hei, lepaskan Bu Nindy.” kata Revan.
Siskapun melepaskan tanganku. “Mohon maaf Pak Revan, saya hanya ingin membawa Nindy berganti pakaian agar proses pemotretan bisa segera di mulai.”
Pada saat itu juga Adam datang menghampiri kami.
“Dia istri Pak Faiz, bukan model.” seru Revan.
“Bukankah Kak Nindy itu model untuk produk terbaru kita, Pak?” tanya Adam.
“Kamu salah orang. Coba saya tanya, siapa nama model terbaru kita?” tanya Revan.
“Tidak tahu, Pak.” kata Adam.
“Lain kali, ditanya dulu. Agar tidak salah orang.” kata Revan.
“Mohon maaf sekali Pak Revan, lain kali saya akan lebih teliti dan berhati-hati lagi.” kata Revan.
“Maafkan saya, Bu Nindy. Ibu sangat cantik jadi saya mengira kalau Ibu model yang kami tunggu.” kata Adam sangat menyesal.
“Maafkan saya juga, Bu.” kata Adli.
Aku hanya mengangguk.
“Bu Nindy, saya minta maaf, maafkan saya, Bu. Saya tidak tahu kalau ibu istri Pak Faiz. Tolong maafkan saya, Bu. Saya menyesal dengan kata-kata dan sikap saya, Bu.” kata Siska. Memegangi tanganku.
Aku tersenyum melepaskan tangannya. "Lain kali, ramahlah kepada orang. Jangan ulangi hal yang sama pada orang lain." kataku.
"Baik, Bu. Maafkan saya sekali lagi, Bu." kata Siska.
“Iya, tidak apa-apa.” kataku pada Siska dan pada semuanya.
“Mari, Bu. Saya antar ke ruangan Pak Faiz.” kata Revan.
__ADS_1
“Permisi semuanya.” kataku sambil tersenyum.