
Untuk sampai ke pondok santri putra, mau tak mau aku harus melewati Ndalem Abah. Mungkin ada jalan pintas namun karena aku belum tahu area ponpes ini, jadi mau tak mau aku memilih jalur normal. Aku harus berhati-hati. Sesampainya di dekat sana, aku melihat Umi dan Abah.
Aku lekas bersembunyi. Bagiku keluarga Abah adalah keluarga paling sempurna yang pernah aku lihat. Contoh keluarga idaman yang benar-benar nyata. Abah selalu bijaksana dan sangat menyayangi keluarganya, terlebih Umi. Setiap melihat Abah menatap Umi dengan cinta, aku benar-benar mengharapkan suatu saat nanti bisa memiliki suami sebaik Abah.
Umipun tak kalah baiknya. Semakin dekat dengan Umi membuat aku tahu mengapa Abah terlihat begitu mencintai Umi. Umi adalah sosok wanita yang hampir sempurna. Umi adalah istri yang salihah. Umi sangat taat beribadah. Umi begitu cantik diusianya yang tak lagi tergolong muda. Umi begitu baik memperlakukan santri-santri yang datang ke rumahnya. Umi begitu terampil dalam memasak.
Andai aku adalah anak dari Umi dan Abah, aku pasti sangat bahagia.
Aku menunggu Umi masuk dan Abah pergi. Baru pergi dari tempat persembunyian. Akhirnya waktu yang kutunggu-tunggu datang. Akupun bergegas menuju kompleks santri putra.
Aku memilih jalan di belakang Masjid. Aku berjalan dengan penuh hati-hati. Takut ada yang melihat. Aku tak mau kena hukuman-hukuman lagi. Rasanya menyebalkan.
“Mau kemana?” tanya Gus Faiz, tiba-tiba.
Kenapa dia harus muncul di hadapanku? Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain lalu berjalan mendahuluinya.
"Ish.." kataku kesal. Sepertinya dia selalu ada di mana-mana.
Aku mulai berpikir mengapa kita terus bisa bertemu. Sepertinya karena jadwal kegiatan kita sama. Jadi, kita bisa tak sengaja bertemu ketika tidak ada kegiatan pondok. Tapi mengapa harus bertemu terus?
“Santri putri dilarang memasuki kompleks santri putra, An.” kata Gus Faiz. Menghalangi langkahku.
“Awas! Biarin gue lewat. Lo nggak bakal ngerti.” kataku. Namun Gus Faiz masih kekeh menghalangi jalanku.
“Kamu mau bertemu Aaron lagi?” selidik Gus Faiz.
“Apaan sih? Awas minggir!” teriakku.
“Saya tidak izinkan kamu masuk ke sana.” kata Gus Faiz.
__ADS_1
“Lo siapa berani ngatur-ngatur gue?” tanyaku kesal.
“Ayo, kembali ke kamarmu!” kata Gus Faiz.
Aku menatap wajahnya. Hatiku berdesir. Betul-betul bentuk wajah paling sempurna yang pernah aku lihat. Aku buru-buru tersadar.
“Gue nggak mau dengerin kata-kata pembohong kayak lo.” kataku.
Gus Faiz menghela nafas. “Saya minta maaf soal itu An, saya memang pembohong tapi..” belum sempat Gus Faiz menyelesaikan kata-katanya.
“Kalau aja maaf lo itu bisa ngerubah keadaan gue bakal maafinn elo, Gus, tapi semuanya gak semudah itu." kataku.
“Bukankah kalau kamu memaafkan akan ada perasaan lega meski sedikit?” kata Gus Faiz.
“Iya lo bisa ngomong gitu karena elo gak ngerasain jadi gue!” kataku.
Aku memejamkan mata sebentar. Dia diam saja. Lalu menarik nafas, “Lo tuh gak pernah tau rasanya di buang sama nyokap bokap lo, lo gak pernah ngerasain sakitnya elo pas kakak elo gak pernah belain elo, lo gak akan ngerasaan dikhianatin dan dibohongi sama orang yang lo sayang, lo gak pernah ngerasain dituduh maling kayak yang sekarang gue alami, dan lo gak gak pernah ngerasain kalo lo bener-bener ngerasa nggak ada orang yang tulus dan peduli sama hidup lo.” kataku tanpa jeda. Lagi-lagi aku mengatakan hal menyebalkan seperti ini. Benar-benar terlihat seperti mengadu.
“Iya! Gue dituduh maling uang 400rb punya Si Supri. Emang gue semiskin apa sampai nyolong uang 400rb?” kataku.
Aku benar-benar seperti orang yang sedang mengadu. Aku kembali sadar dan mengambil jeda waktu untuk menjernihkan pikiranku. Aku mulai berpikir tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya pada Gus Faiz. Dia juga pasti tidak akan mendengarkanku. “Tolong biarin gue masuk ke kompleks itu. ” kataku, memelas.
“Tidak akan.” kata Gus Faiz.
Belum juga sempat aku membalas kata-kata Gus Faiz. Aku mendengar suara seseorang.
“Mbak Nindy! Ngapain di sana? Ayo, pulang, Mbak.” seseorang menghampiriku. Aku kenal betul itu suara Linda, Si Medusa. Dengan gaya sok centilnya dia hadir ditengah-tengah kami.
“Eh, Gus Faiz.” kata Linda. Dengan suara centil menjijikan sambil menundukkan kepalanya. Aku melihat Gus Faiz tak menjawab bahkan terlihat enggan melirik Linda.
__ADS_1
Makan tuh! -batinku.
"Ternyata benar ya, Gus, kata-kata Si Farha, katanya kalau ada laki-laki dan perempuan lagi berduaan pasti bakal datang setan. Mungkin model setannya kayak gini, nih!" kataku menunjuk Linda.
"Ya Allah, Mbak, kalau ngomong. Aku bukan setan, Mbak." kata Linda. Benar-benar diimut-imutkan.
"O, iya. Bukan." kataku.
"Nah, itu tau." katanya senang.
"Tapi iblis." kataku.
Aku melirik Gus Faiz. Dia terlihat sedang menahan tawa.
Linda langsung menatapku dengan tatapan kesal. Lalu dia memaksaku untuk kembali ke pondok. Aku mencoba meminta tolong pada Gus Faiz, namun sepertinya kali ini dia menyetujui tindakan Linda. Menyebalkan.
Akhirnya, paksaan nenek sihir ini membuatku masuk ke dalam kamar ini lagi. Dasar nenek lampir kalau saja dia dan Gus Faiz tidak datang aku pasti sudah bertemu Aaron.
Kalau dipikir-pikir wajah Aaron terlihat begitu familier di mataku. Apa aku mengenalnya? Mataku tertuju pada gelang pemberian Ilham. Lalu mengecupnya singkat. Aku membuka gelang itu, memperhatikan setiap inci ukiran abstrak yang ada pada gelang ini. Kalau dicermati dengan baik seperti ada huruf di sana. Tapi aku tidak bisa membacanya.
“Mbak, ayok ngaji.” ajak Farha.
“Males ah.” kataku.
Namun aku buru-buru berpikir. Kalau aku tetap di kamar, aku pasti kena hukuman lagi, dan kulitku yang belom merasakan perawatan sama sekali ini akan semakin rusak akibat keseringan dijemur ditengah lapangan sama seperti waktu itu saat aku tidak salat berjemaah. “Eh, yaudah deh ayo.” kataku.
Bagian aku dijemur karena tidak ikut salat jemaah memang sengaja tak aku ceritakan karena hanya akan memanjang-manjangkan cerita. Namun, jujur, aku akui hukuman-hukuman yang pernah aku terima selama ini benar-benar memberikan efek jera.
Sesampainya di kelas. Aku benar-benar kembali kepada saat aku setelah di hukum berdua Gus Faiz. Ini pasti gara-gara rumor bahwa aku mencuri uang Supri. Menyebalkan sekali. Rumornya cepat sekali menyebar.
__ADS_1
Kali ini, benar-benar tak ada canda tawa yang ditujukan untukku seperti biasanya. Tak ada yang menegur heboh saat aku lewat di hadapan mereka.
Aku hanya bisa menghela nafas mengabaikan mereka semua. Aku mulai berpikir mungkin santri-santri di sini berkelakuan baik karena memang takut hukuman yang akan diberikan. Terlebih hukuman batin datang tanpa diundang membuat dada merasa nyeri dan kapok untuk mencoba hal yang sama. Padahal aku tidak salah. Tapi...