Penjara Suci

Penjara Suci
PS 71 - EPISODE SPESIAL TERAKHIR


__ADS_3

Kini aku berada disebuah kamar pengantin yang telah di desain dengan sangat baik. Aku menatap wajahku di depan cermin. Rasanya aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Jantung ini masih terus berdebar. Kebahagiaan tiada tara menghampiriku.


Allah terima kasih atas segalanya. Terima kasih atas kebahagiaan ini. -batinku.


Aku mematut diri lagi di depan cermin rias yang memang didesain dengan ukuran besar.


Sejak Gus Faiz maksudku sejak seseorang yang kini menyandang menjadi suamiku ini melamarku, kami belum pernah mengobrol. Terakhir kami mengobrol adalah pada saat dia melamarku, selepas itu kami kembali putus berkomunikasi.


Aku memandangi kamar ini lewat cermin. Kami tak pernah mengobrol. Lalu, apakah yang harus kami bicarakan nanti?


Aku menggeleng, menghilangkan pikiran-pikiran anehku. Biarlah itu menjadi urusan nanti.


Aku mulai mencoba membuka kerudungku yang kini penuh dengan hiasan dan jarum. Setengah jam berlalu, perjuanganku tak sia-sia. Aku berhasil melepaskan aksesoris yang ada di kepalaku. Lalu kubuka kerudungku hingga terlihatlah rambutku.


CKLEKK..


Suara pintu berderit. Aku yang baru saja melepaskan kerudungku langsung menyambar kerudung itu lagi dan memakainya dengan asal-asalan.


Ternyata Gus Faiz. Aku berdiri dari depan kaca rias dan merapatkan tubuhku ke tembok saat melihatnya berjalan ke arahku. Aku menunduk. Aku tidak biasa dengan keadaan ini. Sejak 4tahun lalu, berdekatan dengan laki-lakipun aku tidak pernah berani. Lalu ini bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


Gus Faiz tersenyum. Dia meraih tanganku. Tapi dengan refleks aku menepisnya. Aku merutuki tindakan refleksku dalam hati.


"Aku suamimu, An." kata Gus Faiz. Memberitahuku. Seraya tersenyum lembut. Dia meraih tanganku lagi. Dan kali ini aku tidak menolak.


Mata kami bertemu. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku ke arah lain. Namun, Gus Faiz buru-buru membelai pipiku dan mengarahkan wajahku untuk kembali menatapnya. Aku menunduk.


"Lihat aku, An!" kata Gus Faiz.


Mau tak mau aku mulai memandangi wajahnya. Kini, mataku benar-benar menatapnya. Mengingat kami sudah sah menjadi sepasang suami-istri. Aku menitikkan air mata. Aku seperti sedang bermimpi.


"Jangan menangis." kata Gus Faiz. Dia mengusap air mataku dengan sangat lembut.


Tiba-tiba Gus Faiz memelukku. Reaksi yang membuat kerudungku jatuh ke lantai dengan sangat miris.


"Aku merindukanmu!" kata Gus Faiz. Kalimat ini sangat indah di telingaku. Lagi-lagi aku seperti terkena sengatan listrik.


Aku mengangguk. Aku ingin sekali membalas pelukannya namun aku masih ragu. Mengingat Gus Faiz yang kini sudah resmi menjadi suamiku, akupun balas memeluknya.


Pelukan Gus Faiz semakin erat dan lembut membuat jantungku semakin berdegup kencang. Dadaku kembali berdesir. Dan hatiku merasa hangat dan bahagia.

__ADS_1


***


Kini aku dan Gus Faiz berada di pemakaman. Kami berjongkok di samping batu nisan bertuliskan nama Muhammad Ilham Ramadhan. Dia adalah Ilham sahabatku. Maksudku, sahabat kami.


Setelah berdoa, kamipun tak lekas pergi. Kami memilih masih di sini untuk sebentar lagi.


"InsyaAllah saya akan menjaga dan selalu membahagiakannya." kata Gus Faiz.


Aku tersenyum. Lalu mengusap batu nisan Ilham.


Ilham, terima kasih. Karena telah mengirimkan seorang Gus Faiz untuk menjaga dan membahagiakanku. -batinku.


***


...***...


...SELESAI...


...***...

__ADS_1


__ADS_2